Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Kelas XI Pemasaran 2 sudah kosong sejak lima menit lalu. Hanya tersisa dua orang disana. Ayla yang menatap sekeliling kelasnya yang lumayan luas dengan pandangan datar, serta Regal yang menunggu Ayla pulang.
Jadwal piket di sekolahnya tidak dilakukan di pagi hari, mengingat mereka memulai pelajaran jam setengah tujuh, dan jarang sekali ada yang rajin datang pagi untuk melaksanakan piket. Rutinitas para siswa di pagi hari lebih banyak yang mengerjakan PR daripada membereskan kelas, jadi jadwal piket di sekolahnya lebih sering dilakukan sepulang sekolah.
Minggu lalu, Ayla tidak piket, dan sanksinya adalah minggu ini ia piket sendirian. Sendirian menyapu dan mengangkat bangku yang jumlahnya 40 di kelas ini. Belum lagi para siswa di kelasnya tidak ada yang menjaga kebersihan, meski ada yang piket tiap hari, tapi jam istirahat tetap saja buang sampah di kelas semaunya.
“Elo Cuma nungguin gue, apa mau bantuin?” Tanya Ayla, menoleh pada Regal yang duduk disampingnya.
“Nungguin ajalah, kan yang gak piket minggu kemaren elo.” Saut Regal, yang dibalas dengusan oleh Ayla.
Regal tertawa kecil melihat ekspresi Ayla. Lalu cewek itu berdiri, memulai piketnya hari ini. Sementara Ayla sedang mengangkat bangku, Regal dengan setia menantinya sambil bermain game di ponselnya, seolah tidak mendengar bahwa suara Ayla yang menaikan bangku ke meja begitu keras, kode keras minta dibantuin.
“Semangat, Ay. Baru satu barisan tuh. Gue setelin lagu deh ya, biar makin semangat?”
“Ahh..”
Regal baru saja mau memutar lagu di ponselnya, saat mendengar suara rintihan Ayla. Regal menoleh ke barisan belakang, tempat Ayla berdiri. Saat menoleh, ia menemukan Ayla sudah berjongkok sambil memegangi perutnya.
Regal pun bangkit, berjalan menghampiri Ayla, ikut berjongkok mensejajari posisi Ayla. “Kenapa, Ay? Lo sakit? Makanya minta gue bantuin dong, lo diem-diem ajasih.”
Mendengar ucapan Regal, Ayla yang tadi merintih kesakitan kini melotot. Harusnya saat mengangkat bangku tadi, Ayla melempar salah satu ke Regal.
“Eh, serius. Ini lo kenapa?” kali ini Regal benar-benar bertanya karena khawatir melihat Ayla yang masih meringis sambil memegangi perutnya.
“Gue lagi dapet.” Jawab Ayla pelan.
“Hah? Dapet apa?”
“PMS , tolol.”
Oke. Regal tau. Mulut Ayla emang gak pernah manis.
“Terus kenapa? Apa hubungannya PMS sama sakit perut?” Regal masih bertanya, tidak mengerti dengan jawaban Ayla.
“Lo belajar IPA gak sih di SMP? Ada Bab tentang Sistem Reproduksi manusia, kan?”
“Itu Bab favorit gue malahan.” Regal malah nyengir.
“Kalo cewek lagi PMS tuh suka sakit perut. Tolong beliin gue kiranti dong di kantin.” Ayla mengeluarkan uang dari saku seragamnya yang disambut Regal.
Regal kemudian berdiri, meski sebenernya malu buat beli kiranti ke kantin. Namun ada hal yang akan membuatnya lebih malu lagi, jadi ia berbalik terlebih dahulu, memastikan. “Ay, lo gak bakal nyuruh beli roti yang bersayap juga, kan?”
Ayla berpikir sebentar dengan pertanyaan Regal. “Enggak.” Jawabnya singkat. Regal sudah bernafas lega, lalu Ayla melanjutkan. “Beliin yang gak bersayap aja.”
Regal menyesali pertanyaannya barusan. Tapi ia tetap pergi dengan wajah masam.
Ayla tersenyum kecil ketika Regal sudah keluar kelas, ia duduk di bangkunya yang belum ia angkat ke meja. Ponsel Regal tertinggal disana, berniat untuk menghidupkan hotspot, Ayla mengambil ponsel Regal. Saat baru terbuka dari kunci layar, yang tampak di ponsel Regal adalah bbm. Ayla tak berniat membaca obrolan bbm di ponsel Regal, tapi nama-nama di ruang obrolan bbm Regal membuatnya penasaran.
Ayla berdecak. Ia bahkan tidak dapat menghitung ada berapa banyak cewek yang berada di obrolan bbm Regal. Tak lama Regal datang dan melihat Ayla yang masih membuka chat ponsel Regal. Regal tersenyum. "Ciyee mulai posesif." Ledek Regal, yang membuat Ayla terkejut karena tidak tau dengan kedatangan Regal.
"Apasih. Mau nyalain hotspot." Ayla menoleh pada Regal, menerima kantong plastik berisi pesanannya. Ia mengeluarkan botol kiranti dan meminimnya dalam sekali teguk. "Bantuin dong, Re. Kalo sampe gue pingsan gara-gara capek piket sendirian, elo harus tanggung jawab!"
"Lah, kok gue jadi harus tanggung jawab. Nyentuh lo aja gue belom berani, Ay."
Ayla hanya mendengus. Jalan pikiran Regal memang absurd. Lalu ia berdiri, melanjutkan pekerjaannya. Regal hanya tertawa melihat tingkah Ayla. Regal pun berdiri dan berjalan ke belakang pintu kelas, mengambil sebuah sapu. Lalu menghampiri Ayla dan memberikan sapu tersebut, "nih, lo nyapu aja. Biar gue yang angkatin bangku."
Tanpa banyak komentar, Ayla menyambut sapu tersebut, dan menyapu lantai kelas yang banyak sampah. Diam-diam Ayla tersenyum. Regal ternyata berguna juga.
***
Ayla terbangun dari tidurnya, hal pertama yang ia lakukan adalah melihat ponselnya untuk mengecek jam. Pukul sebelas malam. Celaka. Setelah sholat magrib tadi Ayla ketiduran. Padahal ia sedang mengemas barang-barang yang dibutuhkan untuk ke Bandung besok pagi. Dan sialnya, Ayla masih belum memiliki rok sepan kantor yang harus dipakai untuk acara table manner.
Ayla keluar dari kamarnya dan menemuka Ibunya sedang menonton televisi. Ayla duduk di sebelah Anita, Ibunya, sambil merebut remote televisi dan mengganti channel.
"Kok dipindah sih, La? Lagi seru itu acara dangdut." Protes Anita yang merasa diganggu oleh Ayla.
"Dangdut mulu, bosen." Jawab Ayla, ia mengganti tayangan dangdut dengan tayangan misteri tentang beberapa daerah, yang mau tak mau kini ditonton juga oleh Anita. Lalu Ayla teringat akan rok sepan yang dibutuhkannya. "Mama ada rok sepan pendek gak? Besok Ayla mau table manner ke Bandung, lupa belom beli rok sepannya."
"Yaa enggak ada, Mama kan kerja pake kerudung. Masa pake rok sepan pendek. Kalo yang panjang banyak."
"Keselimpet yang ada pake rok sepan panjang."
"Lagian ke Bandungnya besok, kenapa baru disiapin malem-malem gini sih? Dari tadi ngapain aja?"
"Ketiduran."
Anita hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak tau Ayla ini mirip dengan siapa, begitu tidak peduli dan mengentengkan segala sesuatu. Bahkan disaat mendesak seperti ini saja, Ayla tetap terlihat santai dan menikmati acara misteri yang ia tonton.
"Terus besok gimana?" Tanya Anita.
"Ini mau cari, lagi nunggu temen jemput." Jawab Ayla kalem.
"Emang ada apa tukang rok malem-malem gini?"
Ayla mengangkat bahunya, "gak tau. Cari aja dulu."
"Assalamualaikum, Ayla." Terdengar suara dari luar rumah Ayla, membuat Ayla segera berdiri.
"Ayla cari rok buat besok dulu ya, Ma. Pintunya jangan dikunci, takut pulang kemaleman." Ayla menyalami Anita lalu berjalan membukakan pintu dan keluar rumah.
Anita lagi-lagi menggelengkan kepala, tidak habis pikir, kok ada saja teman Ayla yang rela disuruh menemani anaknya untuk mencari rok sepan malam-malam seperti ini?
***