- 14 -

1444 Kata
Segala jenis pasar yang beroperasi di malam hari sudah dikunjungi oleh Regal dan Ayla, namun mereka tetap tidak menemukan rok sepan yang Ayla cari. Toko-toko yang menjual rok sudah tutup, pedagang kaki lima yang masih buka, tidak ada yang menjual rok sepan kantor. Waktu sudah hampir tengah malam, motor Regal terhenti di salah satu warung di pasar yang sudah hampir sepi penjual serta pembeli. Sambil membeli minuman untuk meredakan rasa haus di tenggorokan, mereka turut berpikir untuk mengunjungi pasar mana lagi yang kira kira masih buka jam segini, serta menjual rok sepan yang Ayla butuhkan. Regal berdecak pelan, jika mengingat keteledoran Ayla yang ketiduran sampai semalam ini, dan juga kebiasaannya yang mencari barang barang perlengkapan sekolahnya di waktu yang sangat mepet. Padahal, jika dari kemarin kemarin Ayla mencarinya, tidak akan sesulit ini dan masih banyak waktu juga jika tidak ketemu dalam satu malam. Jika sekarang, yang merupakan malam terakhir mereka untuk bisa mencari rok tersebut, karena besok harus di pakai, membuat segalanya menjadi rumit. Yang mana rok tersebut mau tidak mau, ada tidak ada, harus ketemu malam ini juga. Tapi pertanyaannya, cari di mana lagi? Apa mereka harus mengetok pintu setiap rumah warga untuk menanyakan mereka memiliki rok sepan pendek atau tidak, untuk sekadar meminjamnya dua hari saja – yang merupakan waktu mereka pergi ke Bandung untuk keperluan sekolah itu. Tentu saja itu gak mungkin, dan Ayla juga gak bakal mau melakukan hal memalukan seperti itu. Padahal cewek itu sendiri yang membuat masalah hingga segini panjang dan membingungkan. "Cari kemana lagi, Ay?" Tanya Regal sambil meminum ale-ale yang barusan dibelinya. ia berharap Ayla bisa memberikan ide, sebab yang membutuhkan rok itu adalah Ayla, bukan dirinya. Ia hanya menemani Ayla untuk mencari keperluannya itu. "Gak tau." Ayla menjawab tenang. Raut wajahnya tidak terlihat bingung sama sekali, bahkan Regal curiga bahwa Ayla tidak terlalu berpikir harus mencari rok sepan pendek itu ke mana lagi, dan hanya mengikuti arus saja. Dan Regal tidak habis pikir, sementara dirinya bingung harus mencari rok sepan kemana lagi, Ayla masih tetap terlihat tenang. Regal benar-benar curiga Ayla ini keturunan vampire. Atau Ayla ini sejenis manusia robot yang tidak punya perasaan, dan tidak terlalu menganggap segala sesuatu penting. Cewek normal pada umumnya pasti akan heboh jika ada keperluannya yang tidak bisa di temukan, sementara besok barang tersebut harus di pake untuk keperluan sekolah. Tapi Regal tau, bahwa Ayla bukan lah cewek seperti pada umumnya. Cewek itu terlalu luar biasa, dan Regal sangat mengakui hal tersebut.   “Oh iya, nyokap gue kan punya toko baju ya.” Regal baru terpikirkan akan hal itu, Ayla yang mendengarnya seketika menoleh. Oh s**l, Regal ternyata terus memikirkan jalan keluar untuk permasalahan Ayla ini, yang bahkan cewek itu tidak pusing pusing amat memikirkannya. Sebenarnya siapa yang lebih membutuhkan rok di sini?   “Berarti di rumah lo banyak baju?” Ayla menoleh, alih alih tersenyum sumringah karena merasa memiliki jalan keluar, cewek itu justru melontarkan pertanyaan balik pada Regal terkait toko baju yang di miliki ibunya itu.   “Eh, yaa enggak. Bajunya di tokonya lah, di Tanah Abang. Tapi malem-malem gini gedung di Tanah Abangnya dikunci, Ay.” Jawab Regal menjelaskan terkait toko baju ibunya. Bukan kah artinya itu percuma saja, untuk apa di ucapkan segala. Dan setitik harapan yang tersisa sudah sirna. Ayla juga tidak mau membayangkan berjalan di Tanah Abang tengah malam gini. Tanah Abang memang terkenal ramai di pagi sampai sore hari, tapi saat malam, tempat itu juga terkenal akan kriminalitasnya.   Ayla kembali terdiam. Wajahnya masih tetap tenang, tak terlihat sedang berpikir – hal yang seharusnya cewek itu lakukan bukan untuk menemukan jalan keluar dari masalahnya saat ini. Ayla hanya menatap sekeliling, memandang pasar malam yang ada di dekat rumahnya ini, yang mana masih ada beberapa pedagang kaki lima yang beroperasi hingga tengah malam. Namun, beberapa dari pedagang tersebut sudah mulai membereskan barang barang dagangannya dan bersiap untuk pulang. Ada juga yang masih melayani beberapa pelanggan yang masih berlalu lalang di jalanan pasar malam ini. Hingga mata Ayla menangkap sebuah objek yang menarik perhatiannya. Cewek itu terdiam sejenak, berusaha berpikir terlebih dahulu sebelum mengatakan ide yang terlintas di pikirannya. Beberapa menit cewek itu terdiam, lalu akhirnya mengangguk yakin dengan keputusannya setelah mengingat beberapa hal yang memang di butuhkan untuk idenya itu. “Di seberang ada tukang jahit.” Ucap Ayla kemudian, melihat di seberang jalan ada tukang jahit yang sedang membereskan peralatannya dan bersiap untuk tutup. “Re, ayuk nyebrang.” Ayla menarik tangan Regal untuk menyebrang, meninggalkan motor Regal yang terparkir di depan warung. Regal menatap cewek yang kini berjalan di depannya itu dengan bingung. Regal tidak mengerti kenapa Ayla mengajaknya ke tukang jahit pinggir jalan, dan sudah mau tutup pula. Apa yang terlintas di kepala Ayla, hingga memutuskan untuk menghampiri tukang jahit tersebut? Apakah Ayla mau membeli bahan sendiri, lalu membuat rok di tukang jahit tersebut? Tapi ya gak mungkin, waktunya mana keburu. Sementara rok harus di pakai besok pagi. Mereka pun sampai di seberang jalan, tempat sang tukang jahit menjajakan meja dan mesin jahitnya itu, tepat di depan sebuah toko baju yang sudah tutup. Ya, kalau masih buka, Ayla sudah membeli rok di sana, tanpa harus pergi ke tukang jahit begini. Ini adalah opsi alternatif, di banding dirinya harus berursan dengan guru BK lantaran tidak memakai rok yang sudah di tetapkan pihak sekolah itu. “Permisi, Pak. Udah mau tutup ya?” Tanya Ayla sopan. Seorang bapak-bapak berusia sekitar 40 tahun, menenggak, melihat Ayla yang berdiri di depan mesin jahitnya. “Iya, Neng. Mau jahit?” “Kalo potong rok sepan panjang dijadiin rok sepan pendek, bisa pak?” “Lah, kita mau cari rok panjangnya kemana lagi, Ay?” alih-alih bapak tukang jahit yang menjawab, Regal segera menyela ucapan Ayla. Ini sih namanya menambah masalah baru, yang pendek aja gak ketemu, sekarang pake segala mau cari rok panjang dan di potong ke tukang jahit. Malah bikin kerjaan dua kali gak sih. Ayla tak menanggapi ucapan Regal, ia lebih memilih untuk memfokuskan perhatian pada tukang jahit di hadapannya itu, yang tengah berpikir sejenak. “Bisa sih, Neng. Tapi rok nya udah ada atau mau cari dulu? Bapa udah mau tutup soalnya.” “Udah ada, Pak. Tapi di rumah. Tunggu bentar yaa, Pak. Lima belas menit saya balik lagi deh. Udah malem soalnya, saya butuh banget buat besok.” Ayla tidak mempedulikan pertanyaan Regal, ia berusaha meyakinkan tukang jahit untuk menunggunya. Tukang jahit tersebut tampak berpikir, waktu sudah hampir jam dua belas, ia pun sudah lelah untuk menjahit lagi karena hari ini banyak orderan. Lalu ia bertanya lagi pada Ayla. “Emang buat apa rok nya?” “Buat acara sekolah, Pak. Mau dipake besok pagi.” Ayla menjawab dengan nada rendah, tidak terdengar dingin seperti saat berbicara dengan Regal atau pun teman temannya. Regal justru takjub melihat hal tersebut, ternyata Ayla bisa memposisikan sikapnya untuk ke siapa saja. Bapak itu tak langsung membantah atau pun menyanggupi. Ia pun berpikir sejenak untuk menimbang permintaan Ayla itu. Bapak itu juga memiliki seorang anak yang masih sekolah, seketika ia teringat akan anaknya. Bayangan jika anak perempuannya kesulitan untuk mencari keperluan sekolah di malam hari begini, membuat hati bapak tersebut seketika terketuk untuk membantu Ayla, meski separuh barang barangnya sudah di bersekan pertanda bapak tersebut sudah mau pulang. Namun, demi menolong anak perempuan di hadapannya ini, yang tampak sudah kebingungan untuk mencari keperluannya ke mana lagi dan menjadikannya sebagai satu satunya harapan dari permasalahan itu. Lalu ia pun menyetujui untuk menunggu Ayla yang mengambil rok ke rumahnya terlebih dahulu. ia bisa menundak jam pulangnya sejenak, untuk menolong gadis muda itu, yang tampak tersenyum lega dan penuh rasa syukur saat bapak itu mengangguk untuk menyetujui permintaan Ayla. Pulang terlambat sedikit jelas tidak masalah, asalkan ia bisa membantu orang lain yang sedang kesusahan dan membutuhkan bantuannya. Ia pun berharap anaknya bisa menemukan orang baik di luar sana jika sedang kesulitan. Mengingat hal tersebut, sang bapak jadi teringat anaknya yang ada di rumah, yang kemungkinan besar sudah tidur atau mungkin sedang mengerjakan tugas sekolahnya hingga larut malam. Di jalan, Regal masih tidak mengerti rok apa yang akan dibawa Ayla. Masih penasaran, ia pun kembali bertanya, memastikan, “Lo gak bakal motong rok item yang hari jum’at kan, Ay?” “Yaa enggaklah. Mama gue ada rok, tapi panjang, jadi mau gue potong aja daripada nyari rok gak ketemu.” “Ohh, kenapa gak dari tadi, sih? Kan gak perlu muter-muter keliling pasar dan nanyain tiap tukang dagang.” Keluh Regal yang juga gemas karena informasi Ayla yang sangat telat. "Baru kepikiran."  Besok pagi mereka harus berada di sekolah jam enam pagi, sedangkan saat ini sudah jam dua belas malam, dan mereka belum menyelesaikan urusannya. Regal hanya mampu berdoa, semoga besok ia tidak bangun kesiangan dan ketinggalan bis. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN