Asap kendaraan mengepul keluar dari knalpot kopaja, teriakan-teriakan pengguna jalan yang merasa terganggu terdengar di sana-sini, suara klakson kendaraan, kondektur kopaja, penumpang yang berlarian mengejar angkutan umum, atau derap langkah kaki yang terdengar nyaring di jembatan penyebrangan demi mengejar transjakarta agar tidak tertinggal, serta pedagang asongan yang menawarkan barang dagangannya pada kendaraan yang berhenti di lampu merah.
Suasana yang begitu ramai di kota paling sibuk di Indonesia ini, Ibu Kota Jakarta. Jalanan yang sudah padat sejak pagi hari, udara sejuk yang sudah ternodai dengan knalpot-knalpot kopaja, keadaan ini sudah menjadi rutinitas pagi Jakarta, tapi khusus hari ini, Regal ataupun Ayla merasa kesal dan gerah dengan kemacetan pagi ini.
Tinn.. tinnn..
Berulang kali Regal membunyikan klakson motornya, membuat kendaraan di depannya menyingkir karena merasa tidak nyaman, Regal berusaha memacu kecepatan motornya, menyalip kendaraan-kendaraan yang menghalanginya, namun hari ini perjalanan menuju sekolahnya terasa begitu jauh.
"Jam berapa sekarang, Ay?" Tanya Regal, ketika motornya berhenti karena lampu merah.
"Jam tujuh kurang lima menit."
Kekhawatiran Regal semalam, benar-benar jadi kenyataan. Mereka berdua telat bangun.
"Coba tanya Chica bis nya udah berangkat apa belom."
"Hape gue lobet, semalem lupa ngecas."
Regal mendesis, karea ponselnya pun ia taruh di ransel dan akan sulit mencarinya. Mereka benar-benar tidak tau keadaan di sekolahnya, apa bis rombongan kelasnya sudah berangkat atau belum.
Setelah dua puluh menit yang terasa seperti lima jam, akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolahnya. Sepi. Tidak ada bus-bus yang terparkir di depan gerbang. Suasana di sekolah pun tampak tenang karena siswa kelas sepuluh dan dua belas tetap melakukan proses belajar mengajar.
Regal berjalan menuju pos satpam, bertanya pada satpam yang berjaga, sementara Ayla menunggu dekat motor Regal. Ayla tidak dapat mendengar percakapan Regal dan Pak Satpam, tapi melihat Regal yang berjalan ke arahnya dengan wajah tidak bersemangat, Ayla sudah tau jawabannya.
"Jadi, kita gak usah ke Bandung?" Tanya Ayla ketika Regal sudah di dekatnya.
"Dan gak naik kelas."
Ayla berdecak. Ancaman para guru memang tidak main-main. Jika mereka tidak mengikuti acara ini, mereka tidak naik kelas.
"Gue telpon Azrial dulu." Regal kemudian mencari ponselnya yang tadi ia masukan ke dalam tas.
Regal segera mencari nomor Azrial di kontaknya dan menghubunginya. Setelah nada sambung ke dua, suara Azrial dengan nada tinggi segera menggema disana.
"Elo kemana sama Ayla, t***l!"
Regal terkejut, ia sampai menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Selaw dong, Yal. Gue di sekolahan nih sama Ayla, ketinggalan bis."
"Yaiyalaah! Orang disuruh ngumpul jam enam, jam enam lewat dua puluh bis berangkat. Lo gak punya jam ya?" Kini suara Chica yang terdengar, sepertinya Azrial menspeaker panggilannya.
"Kalo gue sama Ayla gak ikut ke Bandung, gimana?"
"Gak naek kelas lah. Bu Rini kan udah bilang." Suara Azrial kembali lagi.
"Kan gue udah bayar."
"Semua yang duduk di bis ini juga udah bayar. Kata Bu Rini, lo berdua di suruh nyusul apapun caranya. Mau pake serbuk apalah itu dan ngilang lewat perapian juga gapapa."
"Kalo gitu gue daftar dulu jadi murid Hogwarts." Regal segera mematikan ponselnya. Lalu ia menatap Ayla.
"Nyusul naek apa? Duit gue gak cukup kalo naek kereta. Lagian, tiket kereta juga belom tentu ada." Meski panggilan Regal dengan Azrial tidak di speaker, Ayla masih dapat mendengar jelas informasi dari Azrial.
"Naek motor? Gue udah ada SIM sih, pernah juga waktu ke Bandung naek motor."
"Gila. Remuk p****t gue."
Tapi tidak ada pilihan lain. Naik bus ke Bandung pun, uang mereka tidak cukup.
***
Mereka benar benar menyusul ke Bandung menggunakan motor. Meski Ayla awalnya tidak menyetujui dan berusaha mencari cara lain, dan tidak ketemu juga cara lainnya, akhirnya cewek itu menyerah. Ia mengikuti Regal untuk duduk di boncengannya, harus tahan menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, karena mereka menggunakan motor dan tidak bisa melewati tol.
Jalanan pagi hari di Jakarta sudah mulai ramai di padati kendaraan, baik roda dua, tiga, empat, atau pun roda roda yang lebih banyak. Kota ini selalu sibuk setiap harinya, dari mulai pelajar, pekerja, hingga banyak profesi lainnya yang sejak pagi sudah turun ke jalan untuk melakukan aktivitas dan kegiatannya demi mencari sesuap nasi.
Ayla duduk di boncengan Regal tanpa banyak bicara, ia turut merasa bersalah karena ketelatan hari ini di sebabkan oleh dirinya yang semalam mencari rok sepan demi acara hari ini, yang mana malah membuat mereka ketinggalan bus, yang mana juga menyeret Regal dalam insiden hari ini.
Namun, Regal tampak tidak marah, atau tidak mengatakan bahwa dirinya marah. Tapi kali ini Ayla sungguh merasa tidak enak. Alhasil, Ayla pun memajukan tubuhnya untuk berbicara pada Regal agar suaranya dapat terdengar.
“Re!” panggilnya, dengan suara yang lebih di keraskan, agar tidak kalah oleh suara suara lain yang ada di jalanan.
“Iya, Ay?” Regal segera menyahut tanpa menoleh, dan hanya fokus ke jalanan di hadapannya.
Ayla terdiam untuk beberapa saat, memikirkan ucapannya terlebih dahulu. Sebelum akhirnya cewek itu berkata. “Sori,” ucapnya pelan.
Regal tidak terlalu jelas mendengar ucapan Ayla, hingga cowok itu kembali bertanya. “Kenapa, Ay? Gak kedengeran.”
Ayla menarik napasnya, lalu kembali berkata, “Sori, gara gara gue lo jadi ikutan telat gini, jadi harus capek capek bawa motor sampe ke Bandung.” Ayla akhirnya kembali mengatakannya dengan lebih jelas. Tidak hanya sekadar satu kata dengan suara yang sangat pelan.
Regal tersenyum mendengar ucapan Ayla. “Gak papa kok, Ay. Gue malah seneng, jadi bisa berduaan gini sampe Bandung sama lo. Kapan lagi kan.”
Ayla berdecak mendengar ucapan Regal, tapi tak ayal cewek itu tersenyum pelan menanggapinya.
Motor Regal terus melaju, melewati puluhan lampu merah yang menghadang, serta berbagai macam kemacetan yang mewarnai ibu kota. Asap kendaraan dan suara klakson tampak riuh, menjadi pemandangan rutin di setiap paginya, dan kini mereka harus melalui hal tersebut sampai Bandung.
Setelah menempuh nyaris dua jam perjalanan, motor Regal sudah melewati perbatasan kota Jakarta. Jalanan sudah tidak terlalu ramai saat memasuki Bekasi, sebab hari sudah semakin siang, dan para karyawan sebagian besar sedang bekerja. Regal menjadi bisa mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke hotel yang menjadi tempat di selenggarakannya acara table manner itu.
Pemandangan di kanan kiri jalan kini di penuhi dengan bangunan bangunan besar yang merupakan pabrik, sebab mereka mulai memasuki kawasan industri. Hawa panas mulai terasa karena hari yang sudah semakin siang, sementara matahari semakin naik dan memancarkan cahayanya yang terik dan panas. Jalan raya di penuhi dengan mobil mobil besar pengangkut material untuk di distribusikan pada pabrik yang berada di kawasan ini.
“Ay!” panggil Regal, saat Ayla tengah berusaha menutupi wajahnya yang kepanasan karena teriknya sinar matahari.
“Hm,” sahutnya yang hanya berupa gumaman.
“Lo bisa naik motor gak?”
“Bisa.” Ayla menjawab seadanya, ia memang bisa naik motor, tapi karena tidak punya motor jadi jarang terlihat mengendarai motor.
“Punya SIM?” Regal bertanya lagi.
“Ya enggak lah, motor aja gak punya, ngapain punya SIM.” Ayla menjawab dengan suaranya yang senantiasa dingin dan jutek.
Regal tertawa pelan, mendengar perubahan nada suara Ayla. “Yaa siapa tau gitu. Gue juga gak punya mobil, tapi punya SIM A.” Regal menimpali, dengan menjadikan dirinya perumpamaan.
“Yaa bokap lo punya mobil kali, makanya lo bikin SIM A.”
“Iya sih.”
“Kenapa emang?” Ayla mengembalikan ucapannya pada pertanyaan awal Regal, yang menanyakan perihal dirinya yang bisa mengendarai motor atau tidak. “Mau gantian?”
Wow, this girl indeed something.
Regal sungguh menyukai setiap ucapan Ayla yang ceplas ceplos, tidak banyak basa basi, dan langsung to the point. Ia sudah terlalu sering melihat para cewek lebih banyak tersenyum dan menjaga sikap di hadapannya, ketimbang cewek seperti Ayla yang bermulut tajam dan terkesan jauh dari kata ramah. Hal tersebut justru malah membuat Regal gemas hingga menyukai cewek ini.
“Iya, niatnya gitu. Pegel juga bawa motor sampe sini.” Regal menyahut lagi, menyampaikan niatnya yang ingin meminta Ayla untuk bergantian membawa motor, sebab tangannya terasa sudah pegal. Begitu juga dengan punggungnya yang terasa nyaris remuk. “Tapi gak usah deh kalo lo gak punya SIM.”
“Sini.” Ayla berkata kemudian. “Berhenti aja, sini gantian.”
Regal kebingungan dengan ucapan Ayla. Padahal dirinya sudah mengatakan tidak usah.
“Kalo ada polisi ya mingir dulu, tinggal gantian lagi.” Ayla menyahut santai, seolah hal tersebut bukan masalah besar.
Sebenarnya bagi Regal juga bukan masalah besar sih, baginya SIM memang hanya untuk menghindari polisi yang sering razia saja. Toh ia pun membuat SIM tidak mengikuti serangkaian tesnya yang panjang itu, hanya membayar jasa calo yang dikenalnya dari teman temannya. Sepertinya hal tersebut sudah menjadi rahasia umum bagi pengendara kendaraan di negeri ini.
“Yaudah, nanti deh abis lampu merah depan.” Regal akhirnya menyetujui untuk bergantian membawa motor dengan Ayla.
Cowok itu pun masih mengemudikan motornya hingga sampai melewati lampu merah yang jaraknya sudah tidak jauh, sebab tanggung jika berhenti sampai sini. Sesuai dengan ucapannya tadi, akhirnya Regal menghentikan motornya di depan sebuah warung yang berada di pinggir jalan.
Ayla pun turun dari motor, begitu juga dengan Regal. Cewek itu bersiap untuk pindah ke depan, untuk mengemudikan motor Regal.
“Ini kopling loh, Ay. Lo bisa?” Regal menatap Ayla ragu, sebab motornya memang bukan matic. Dan sepengetahuannya, cewek itu jarang ada yang bisa menaiki motor kopling.
“Motor Fahlan juga kopling, gue pernah bawa.” Ayla menjawab santai, lalu naik ke atas motor Regal, bersiap untuk membawanya.
Regal masih menatap cewek itu ragu. “Beneran?”
“Kalo gak percaya, lo gue tinggal,” kata Ayla seraya menoleh ke belakang, dan mendapati Regal yang belum naik ke boncengan lantaran masih meragukan kemampuannya membawa motor satria ini. Tangannya sudah memutar kontak motor dan bersiap untuk membawa motor Regal pergi.
Ketika Ayla sudah berhasil menyalakan mesin motor Regal, di situ lah akhirnya Regal mempercayai cewek itu lalu segera naik ke atas boncengan motornya, dengan Ayla yang membawa motor tersebut.
Motor Regal pun kembali melaju melewati kawasan industri yang panas dan gersang, dengan Ayla yang mengemudikannya dengan santai. Regal yang duduk di belakangnya tampak turun ke bawah sehingga nyaris menempeli punggung Ayla.
“Duh, munduran dong!” keluh Ayla, karena merasa risih dengan sosok Regal yang terasa di belakang tubuhnya.
Regal mengeluh pelan, seraya bergera untuk memundurkan tubuhnya agar tidak terlalu menempeli Ayla. “Ya gimana, merosot mulu gini.”
“Ya makanya, nih motor emang kurang ajar! Sengaja kan lo beli beginian, biar cewek cewek pada merosot dan nempel ke lo?”
“Tapi lo gak pernah sampe nempel.” Regal menyahut, mengingat sosok Ayla yang jarang terasa mepet ke depan.
“Keseimbangan gue bagus, dan gak rela nempelin d**a ke punggung lo!”
Regal tertawa geli, mendengar ucapan Ayla yang begitu jujur dan frontal. Benar kan apa yang ia katakan, cewek ini sungguh luar biasa, dan Regal sudah kehilangan kata kata lain untuk memujinya saking Ayla terlihat begitu keren di matanya.
Dengan wajah manis dan sinis, perpaduan yang membuatnya semakin yakin bahwa ia sangat tertarik dengan Ayla. Serta ucapan ucapan tajamnya juga, yang terkadang terdengar lucu dan menggemaskan. Regal belum pernah menemukan ini di antara banyaknya cewek cewek yang ia dekati selama ini, belum lagi hubungannya dengan Ayla yang terbuka begini. Tanpa status, tapi bisa bersama dengan cewek ini dalam melakukan kegiatan sehari hari. Bukan kah itu menyenangkan? Di sisi lain, Regal tetap bisa memiliki hubungan dengan cewek lainnya pula.
Sebut saja Regal berengsek, tapi toh Ayla tahu tentang hal ini dan tidak keberatan juga. Cewek itu juga tak pernah menganggap kedekatan mereka serius. Toh mereka hanya menjalani hari hari bersama, tidak lebih dari itu.
“Dari sini masih jauh?” tanya Ayla yang baru membawa motor selama lima belas menit.
Regal berdecak pelan, sepertinya Ayla sudah mulai bosan. “Lumayan, masih tiga jam lagi.”
Ayla tak lagi menyahut, dan hanya fokus untuk mengemudikan motor Regal, menyusuri jalan yang hanya lurus saja – berdasarkan arahan Regal tentunya, sebab Ayla tidak tahu jalan. Dengan cahaya matahari yang semakin terik, Ayla yakin sesampainya di Banding pasti kulitnya sudah berwarna coklat matang karena terus terjemur selama perjalanan, tangannya juga pasti akan belang lantaran membawa motor begini.
Regal dapat merasakan tubuh Ayla yang mulai bergerak gerak, setelah membawa motor selama setengah jam. Dari gelagat Ayla, cewek itu seperti sudah mulai kelelahan membawa motor, sesekali kepalanya juga tampak bergerak untuk melemaskan otot otot lehernya.
“Ay!” panggil Regal, seraya memajukan tubuhnya ke depan agar Ayla dapat mendengarnya.
“Apa?” Ayla menyahut singkat, dengan tangannya yang masih bergerak menggas motor Regal menyusuri jalanan lurus yang nyaris tidak berujung.
Sesekali Ayla menekan klakson, saat merasa ada kendaraan lain yang menghadang dan membuatnya kesulitan untuk melintas. Tak sekadar kendaraan, bahkan orang nyebrang pun di klakson oleh Ayla, hingga Regal takjub sendiri melihatnya. Sangat tidak etis untuk menekan klakson bagi orang yang menyebrang, sebab akan membuat mereka kaget, tapi Ayla mana paham hal hal seperti itu, ia hanya tau motornya bisa jalan terus.
“Berhenti dulu yuk, makan atau apa kek gitu. Capek juga p****t gue duduk mulu gini.” Kata Regal, yang juga merasa mulai pegal karena sudah menempuh lebih dari dua jam perjalanan, yang artinya mereka sudah menempuh setengah dari perjalanan menuju ke Bandung.
“Yuk.” Ayla tak membantah, dan menyetujui ucapan Regal untuk berhenti sejenak. “Mau berhenti di mana? Mau makan apa?” tanya Ayla, yang tidak tahu harus menghentikan motornya di mana, karena itu lah ia masih mengendarai motor tersebut selagi Regal berpikir untuk menentukan pilihannya.
“Lo mau makan apa?” tanya Regal.
“Apa aja.”
Oke, saat Ayla mengatakan hal tersebut, tentu saja itu tidak seperti cewek cewek lain yang tengah melemparkan bara api pada cowok. Alias serba salah. Tapi Ayla sungguh sungguh mengatakannya, dan menyerahkan keputusan pada Regal, dan Ayla bisa makan apa saja yang di pilihkan Regal.
Ayla memang sesantai itu, karena itu lah Regal menyukainya.
“Cari kafe atau restoran fast food aja yuk, Ay. Bair ada AC nya. Panas banget ini di jalanan.” Regal mengarahkan tempat untuk mereka kunjungi.
Ayla pun menyetujuinya.
Maka, Ayla mengarahkan motornya untuk mencari gerai fast food terdekat yang mereka lewati. Hingga mereka melintasi SPBU yang juga ada rest area bagi pengguna kendaraan yang melintas. Ayla pun segera memarkirkan motornya di depan gerai fast food yang tidak terlalu ramai itu, sebab ini bukan hari libur atau pun waktunya liburan, sehingga tidak banyak yang melintas di jalan sana.
Regal turun terlebih dahulu, di susul Ayla. Cewek itu membuka helm dari kepalanya lalu menyangkutkannya di spion motor Regal.
Mereka berdua pun melangkan memasuki restoran fast food yang ada di hadapan mereka. Bayangan udara sejuk yang menguar dari pendingin ruangan yang ada di restoran membuat keduanya merasa senang, karena hawa panas yang mereka rasakan dari hasil menjelajah jalanan dari Jakarta hingga ke tenpat ini. Meski berikutnya mereka harus menempuh perjalanan yang masih panjang untuk sampai di Bandung, setidaknya mereka ingin menikmati hawa sejuk untuk sesaat di dalam restoran ini.
***