Restoran fast food di dalam SPBU yang mereka kunjungi tampak sepi, sebab hari ini memang bukan hari libur atau pun waktu liburan. Hanya terlihat beberapa pengunjung yang datang untuk mengantre di kasir, serta beberapa pengunjung yang mengisi meja meja kosong di dalam restoran.
Suasana yang tidak begitu ramai, membuat musik yang berputar di pengeras suara yang ada di restoran ini terdengar jelas. Lantunan musik dari maroon 5 terdengar memenuhi seisi restoran, menemani para pengunjung menikmati makanan yang sudah di pesannya. Beberapa dari mereka tampak ikut menyanyikan lirik dari lagu tersebut, atau pun hanya sekadar ikut bersenandung saja.
Ayla memilih meja di dekat kaca yang menampilkan jalanan pantura yang diwarnai mobil mobl besar pengangkut material pabrik, debu debu tampak terlihat meski dari dalam restoran, tak terbayang sudah seberapa tebal debu debu itu menempel di wajahnya. Ia yakin pasti wajahnya sudah kumal sekali, bahkan saat Ayla menempelkan tisu di wajahnya saja langsung berubah warna menjadi kecoklatan.
Beberapa menit menunggu, Regal akhirnya datang dengan membawa nampan dan pesanan mereka. Cowok itu pun duduk di hadapan Ayla, sembari meletakkan nampan di atas meja yang mereka tempati.
Menu nasi ayam crispy beserta minumal soda menjadi pesanan mereka untuk makan pagi menjelang siang ini, Regal juga memesan kentang goreng dan beberapa camilan lainnya untuk mereka nikmati saat ini atau pun di perjalanan nanti.
“Dari sini masih lama ya?” tanya Ayla, seraya melihat jam yang tertera di layar ponselnya. Sambil berharap bahwa jawaban Regal adalah tinggal 1 jam lagi, sebab ia sudah lumayan kelelahan di perjalanan.
“Lumayan. Nanti kita berhenti lagi aja, Ay. Biar lo gak kecapekan banget.” Regal menyahut sambil menyuapkan ayam crispy ke dalam mulutnya, lalu menyeruput minuman soda yang tadi di pesannya.
Di lihatnya wajah Ayla yang memang tampak kelelahan karena perjalanan yang sudah mereka tempuh, yang memang sudah lumayan jauh. Mereka bahkan sudah melewati tiga kota, yang jaraknya lumayan juga. Belum lagi macet macetan selama di Jakarta tadi, debu yang mulai tebal sejak memasuki kawasan Bekasi yang banyak container, serta asap kendaraan yang turut memperkeruh kondisi jalanan. Terik matahari yang semakin siang semakin membakar kulit juga turut membuat hawa lelah semakin terasa, dan menguras energi mereka.
Rasanya, sesampainya di Bandung nanti mereka ingin segera mandi dan berendam di air dingin, lalu mengisitirahatkan tubuh di kasur hotel yang empuk. Yang sayangnya tidak mungkin terwujud sebab mereka memiliki serangkaian aktivitas dari sekolah yang harus mereka ikuti. Harapan untuk beristirahat pupus sudah sebelum terlaksana.
“Oke. Yang penting kita dateng kan, isi absen, mau telat atau gimana gak ngaruh kayaknya.” Ayla berkomentar, memikirkan tentang kehadiran mereka di acara sekolah itu.
“Bukan absen doang, Ay. Kalo Cuma absen tertulis mah gak meyakinkan, harus menongolkan muka depan guru, biar keliatan. Soalnya mereka udah tau kalo kita telat, udah pasti di tandain kalo tiba tiba ada di absen,” kata Regal berkomentar soal ucapan Ayla, tentang kehadiran mereka yang di ragukan oleh guru guru jika hanya sekadar mencekliskan nama mereka di dalam daftar absen, lantaran tadi pagi mereka sudah diketahui telat datang.
“Padahal, guru guru juga gak kenal kenal amat sama gue. Emang ngaruh apa kalo gue keliatan atau enggak.”
“Kenal deh kayaknya kalo lo bareng sama gue gini.” Regal nyengir, seolah mengatakan bahwa dirinya memang terkenal.
Ayla hanya berdecak, seraya mengalihkan pandangannya pada sudut lain di restoran ini, lalu mengambil sebuah kentang goreng yang tadi di pesan Regal.
“Tapi, Ay. Guru guru pemasaran tuh pada perhatian, rata rata mereka kenal sama semua murid loh, meski gak pernah manggil.”
“Saking sering bikin masalah ya, makanya pemasaran dapet perhatian lebih.” Ayla berkomentar sinis.
“Gak setuju sih gue, guru aja pada negative thinking duluan. Padahal kita gak sering sering amat bikin masalah, lebih sering di salahin buat masalah yang sebenernya bukan salah kita sih. Cuma gara gara image anak pemasaran yang udah jelek aja dari dulu.” Regal menyanggah ucapan Ayla, tentang prodi mereka yang sering dikaitkan sebagai biang masalah.
Prodi pemasaran memang prodi dengan nilai paling kecil di banding prodi prodi lainnya yang ada di sekolah mereka, karena itu lah kebanyakan anak yang masuk ke prodi tersebut sering di kaitkan sebagai biang masalah. Akarnya sih sejak dulu, katanya rata rata yang masuk ke prodi itu memang badung. Tapi berikutnya, semua guru seolah mengenralisir setiap angkatan prodi pemasaran itu bermasalah sehingga lebih sering mendapatkan perhatian khusus. Bahkan, secara spesial wali kelas mereka saja guru guru BK.
Padahal, jika di lihat dari masalah masalah yang sering muncul , keseringan anak pemasaran justru di jadikan tumbal untuk masalah masalah yang ada. Misal ada masalah antar jurusan, sudah pasti yang di nilai salah anak pemasaran, tanpa di selesaikan secara objektif.
Jlika Ayla sudah berdamai dan memilih menerima saja apa yang sudah terjadi secara turun temurun itu – atau lebih tepatnya Ayla tidak terlalu peduli sih. Regal justru masih tampak membela prodi tempatnya berada di sana. Sebab Regal sering di salahkan juga, padahal ia tidak ikut ikutan membuat masalah, hanya karena Regal mudah bergaul dengan siapa saja termasuk anak anak biang masalah di kelasnya – yang menurut Regal mereka asik kok.
Berbeda dengan Azrial dan kawan kawan, yang jarang terlibat masalah yang ada di dalam kelas dan memilih untuk taat pada peraturan. Yaa, Regal juga taat peraturan kok, masa Cuma gara gara temenan sama mereka yang di anggap nakal, Regal ikut ikutan di salahkan. Kadang kadang orang dewasa memang terlalu menyamaratakan para remaja tanpa menilai dengan objektif.
Ayla membuka ponselnya saat mendengar ada notifikasi pesan masuk, di lihatnya nama yang terpampang pada kolom pop up di depan layar ponselnya, yang menampilkan nama Satrya di sana.
Ayla pun membaca pesan tersebut, yang ternyata hanya sekadar menanyakan posisi mereka sudah sampai mana.
“Satrya nanyain, kita udah sampe mana.” Ayla berkata pada Regal, karena ia tidak tahu jalan, dan tidak tahu saat ini mereka tengah berada di mana. Yang ia tahu, kini tengah berada di dalam KFC yang berada di SPBU entah di daerah mana.
Regal menoleh sejenak, sambil mengunyah nasi dan ayamnya, lalu berpikir sejenak kini mereka sudah berada di mana.
“Oh, Karawang. Bentar lagi masuk Purwakarta,” kata Regal, menjelaskan tentang daerah yang sedang mereka tempati saat ini berikut dengan rute yang akan mereka lewati untuk sampai ke Bandung.
Ayla mengangguk, lalu mengetikkan balasan pesan untuk Satrya. Cewek itu pun menaruh makanan yang tadi tengah di pegangnya pada meja, agar bisa mengetikan pesan di ponselnya untu Satrya, yang kemungkinan besar juga hanya sekadar mewakilkan pertanyaan dari teman temannya yang lain, yang khawatir dengan keberadaan mereka yang tertinggal.
Ayla : Udah sampe Karawang
Ayla : Kata Regal, sebentar lagi masuk Purwakarta
Begitu lah kira kira yang di ketik oleh Ayla untuk Satrya, lalu cewek itu pun kembali meletakkan ponselnya di atas meja, dan memilih untuk fokus dengan makanannya lagi agar cepat habis lalu selesai. Sehingga mereka bisa melanjutkan perjalanan mereka lagi, setelah tertunda beberapa menit di tempat ini lantaran demi mencharges energi yang terkurasi seharian ini. Meski ini bahkan belum lewat tengah hari sih.
Tak lama, ponsel Ayla berdering lagi, menandakan ada balasan pesan dari Satrya. Cewek itu pun melirik sebentar pop up di ponselnya, membaca sederet pesan masuk dari Satrya.
Satrya : Bus sekolah kita baru sampe hotel nih
Satrya : Hati hati di jalan, La. Bilangin Regal jangan mampir dulu ke hotel lain
Ayla hanya berdecak membaca isi pesan dari Satrya, yang mengarah pada hal hal tidak benar. Ia tak membalas pesan tersebut dan membiarkannya terbaca begitu saja, lalu memilih untuk melanjutkan makannya lagi. kentang goreng dan nugget di meja tersebut masih terlihat meminta untuk di habiskan, sehingga Ayla memiliki kegiatan untuk di lakukan saat ini juga, dan tak sempat untuk meladeni chat dari Satrya yang tidak penting.
“Kenapa, Ay? Kata Satrya apa?” tanya Regal, lantaran Ayla tak lagi membacakan isi pesan dari Satrya seperti saat pertama tadi, hal tersebut rupanya memancing rasa penasaran Regal yang sejak tadi ingin tahu apa isi percakapan mereka berdua.
“Mereka udah sampe di hotel.” Ayla menjawab singkat dan seperlunya, sesuai dengan isi pesan dari Satrya. “Teurs, kita jangan mampir dulu ke hotel lain.” Lanjutnya, yang juga menyampaikan bercandaan dari Satrya tadi.
Regal tertawa pelan mendengarnya. “Tapi boleh juga tuh, mampir dulu kali yuk. Pegel juga di perjalanan, tiduran bentar di hotel lumayan lah.”
Ayla tak menjawab ucapan Regal, karena malas menanggapi ucapan ucapan tidak penting seperti itu, yang mana tidak mempengaruhi kelangsungan hidup nya sama sekalu. Namun, cewek itu justru malah fokus terhadap hal lainnya.
“Lo bawa duit berapa sih, sampe bisa buat bayar hotel?” Ayla menatap Regal penasaran.
Regal tahu, sebenarnya hal hal seperti ini lumayan sensitif bagi sebagian orang, tapi Ayla justru merasa penasaran dengan hal tersebut, dan menanyakannya tanpa malu malu atau pun ragu. Maka, tak ingin berkelit Regal pun hanya menjawabi pertanyaan cewek itu.
“Yaa, cukup lah buat bayar sekamar hotel buat satu hari.” Regal menjawab tanpa menyebutkan nominal uangnya, hanya sekadar menjelaskan bahwa uang yang di bawanya memang cukup untuk membayar sewa hotel barang sehari saja.
“Tau gitu, lo bayarin gue naik kereta aja sekalian, dari pada capek capek kayak gini.” Ayla mengeluh karena tragedi yang terjadi hari ini. Yang membuatnya harus berboncengan dengan Regal, untuk bisa sampai ke Bandung.
“Gak bisa, Ay. Pesen tiket kereta bandung tuh udah kayak mau war konser, susah banget, dan langsung penuh dalam sekejap.” Jelas Regal, saat Ayla menyinggung soal tiket kereta ke Bandung yang memang selalu ludes dalam waktu satu jam. Bahkan mungkin kurang.
Ayla hanya mengangguk pelan, tanpa menyahuti ucapan Regal lagi. cewek itu benar benar fokus untuk menghabiskan makanannya, agar bisa cepat cepat keluar dari sini dan melanjutkan perjalanan lagi yang sempat tertunda, lalu mereka bisa cepat cepat sampai ke Bandung dan mengikuti serangkaian acara sekolahnya. Dan yang paling penting dari semua itu, mereka akan bertemu dengan kasur yang empuk dan nyaman, lantaran telah mengikuti serangkaian acara sekolah yang wajib itu. Sebab acara malam memang opsional untuk di ikuti dan hadiri, meski guru guru berbusan bahwa materi yang akan di sampaikan itu penting sekali. Tentu saja para siswa lebih memilih untuk menghabiskan waktunya sendiri di Bandung, kota yang memiliki banyak cerita itu.
Makan Regal dan Ayla pun akhirnya selesai. Mereka pun buru buru beranjak dari sana, untuk melanjutkan perjalanan mereka yang masih panjang lagi. tinggal beberapa jam lagi dan mereka bisa sampai ke acara sekolah ini, sehingga mereka bisa menunaikan tugas tugasnya untuk keperluan sekolah. Lalu pilihat utama dan satu satunya yang selalu mereka sukai, tentu saja segera tidur setelah melalui hari yang melelahkan ini.
***