Mereka kembali melanjutkan perjalanan, dengan Regal yang kembali membawa motor sedangkan Ayla duduk di boncengan lagi. Setelah mengisi amunisi di resto ayam tadi, setidaknya mereka lebih memiliki energi untuk bisa sampai ke Bandung, yang mana masih menempuh perjalanan kurang lebih dua atau tiga jam lagi.
Regal dapat merasakan beberapa kali kepala Ayla menyentuh punggungnya. Pertanda bahwa kepala itu terjatuh karena mengantuk, tapi cewek itu buru buru tersadar dan kembali mengangkat kepalanya. Hal tersebut terus di lakukan berkali kali, dan Ayla terus terusan berusaha untuk terbangun lagi dan lagi meski rasa kantuk serasa menguasai cewek itu.
Kepalanya juga pasti sudah lelah dan ingin sekali bersandar, tapi Regal tahu, Ayla pasti enggan untuk bersandar ke punggungnya begitu saja. Pertahanan diri Ayla begitu tinggi dan tidak mudah roboh, meski Regal sudah berusaha mendobraknya. Yaa, usaha Regal emang gak total sih, kalo total Regal gak bakalan pacaran sama orang lain, dan memilih Cuma fokus sama Ayla saja. Tapi kan, jiwa mudanya memberontak dan ingin mencoba dekat dengan segala macam cewek, mana bisa satu aja, ya kan?
“Nyender aja, Ay. Kalo ngantuk.” Regal akhirnya bersuara, seraya melihat sosok Ayla dari kaca spionnya.
Cewek itu pun seketika menegak, padahal beberapa saat lalu sudah terlihat menunduk lesu. Ayla buru buru membenarkan posisinya dan memalingkan wajah, agar Regal tak bisa melihatnya dari kaca spion.
“Enggak kok,” kilahnya karena tak mau terlihat mengantuk.
“Nanti lo tidur malah ngejengkang ke belakang loh, Ay.” Regal berbicara lagi, membayangkan jika Ayla mengantuk dan memilih untuk tidak bersandar ke punggungnya, yang ada malah terjatuh ke belakang. Dan hal tersebut sangat mengerikan, mengingat kini mereka berada di jalan utama yang sering di lalui mobil mobil besar, yang bisa membuat tubuh yang tiba tiba jatuh itu terlindas truck yang melintas.
Ayla merinding sendiri membayangkannya.
“Nyender ke punggung lo juga bukan berarti gak bakal jatoh kok.” Ayla menyahut, membantah ucapan Regal, yang menyarankan untuk menyender di punggungnya, yang mana tidak menjamin bahwa dirinya tidak akan terjatuh.
“Yaa, peluangnya lebih kecil lah, di banding lo berusaha tegak gitu terus tau tau ngantuk.” Regal membelokan arah motornya pada jalanan yang ada di depannya itu. Lalu tiba tiba ia terpikirkan sesuatu. “Gue bawa sarung, Ay,” kata Regal kemudian.
Ayla mengerutkan keningnya, pertanda tidak mengerti. Ya terus apa? Emang kenapa kalo Regal bawa sarung, hubungannya dengan perkara ini apa?
“Gue iket lo ke badan gue maksudnya, biar gak bakal jatoh ke belakang.” Regal menjelaskan, saat menangkap raut kebingungan di wajah Ayla.
“Hah? Di iket gimana?”
“Yaa, badan lo di iket pake sarung, biar nempel ke badan gue. Jadi kalo misal lo oleng, gak langsung jatoh.” Regal menjelaskan lagi, terkait teknis ide yang tercetus dalam kepalanya itu. “Sebenernya, lebih gampang kalo lo pegangan pinggan gue. Tapi pasti lo ngeyel kan, gak bakal mau. Jadi, mending di iket aja deh pake sarung.” Regal menambahkan, tentang hal yang tidak mungkin Ayla pilih itu lantaran harus membuatnya berpelukan di sepanjang jalan, dalam rangka Ayla yang mengantuk dan membutuhkan sandaran untuk memejamkan mata barang sejenak selama di perjalanan ini.
“Oh.” Ayla bergumam pelan, seraya berpikir. Hingga beberapa saat kemudian, cewek itu pun akhirnya bersuara. “Oke, boleh deh.” Ayla akhirnya menyetujui usul Regal, untuk mengikatkan tubuhnya menggunakan sarung pada tubuh Regal, sebab kepala Ayla memang rasanya sudah berat sekali dan butuh tempat bersandar. Ia hanya berharap agar perjalanan ini bisa segera selesai, meski nyatanya masih membutuhkan waktu beberapa jam lagi untuk sampai ke tujuan.
Regal pun menghentikan motornya di pinggir jalan sejenak, untuk mencari sarung yang ada di ranselnya. Ia sedikit membongkar isi tasnya , lantaran keberadaan sarung yang berada di bagian bawah. Setelah menemukan benda tersebut, Regal pun segera mengeluarkannya, lalu merapikan kembali isi tasnya ke tempat semula.
Ayla menatap cowok itu yang kini tengah mengatur posisi sarungnya, lalu Regal kembali duduk pada jok motor dan menyuruh Ayla menyiapkan posisi agar ia mudah untuk mengikatkan dirinya dan Ayla menggunakan sarung ini.
Regal memasukan bagian sarung yang melingkar itu ke tubuhnya dan Ayla secara bersanaan, lalu setelah keduanya berada di dalam satu lingkaran, ia pun mengukur luas yang di butuhkan agar Ayla tidak jatuh, dan juga tidak mengikat terlalu kencang.
“Segini, kesempitan gak, Ay?” tanya Regal, saat hendak mengikat sarungnya, dan mengukur jarak yang tersisa untuk dirinya dan Ayla.
“Longgarin dikit.” Ayla menyahut, merasa bahwa jaraknya terlalu sempit.
Regal pun melonggarkan jarak tersebut. “Segini ya?”
“Dikit lagi.” Ayla menjawab lagi.
“Jangan kelonggaran dong, Ay. Sama aja, nanti lo jatoh.”
“Terus, ngapain lo nanya kalo protes?” Ayla menyahut galak, merasa kesal dengan ucapan Regal, yang bertanya tapi malah tidak terima saat ia jawab.
Regal nyengir pelan, lalu hanya menuruti ucapan Ayla. “Iya iya, udah kan nih?” Regal memastikan lagi.
Ayla akhirnya mengangguk, yang kemudian ia menyadari bahwa Regal tidak melihat ke arahnya karena menghadap ke depan. Lalu cewek itu pun menjawab. “Iya, udah.”
Regal pun mengangguk, lalu bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanannya menuju Bandung. Di rasa semuanya sudah aman, Ayla pun sudah tampak terikat dengan tubuhnya, sehingga jika cewek itu mengantuk atau pun bergerak, tidak akan langsung jatuh karena di sangga oleh tubuhnya menggunakan sarung yang mengikat ini.
Motor Regal kembali berjalan, melewati jalanan yang masih lurus terus entah hingga kapan. Di kanan kiri tampak warung warung atau pun perumahan warga yang mengelilingi, ia berharap bisa segera sampai ke tujuan karena ia pun sudah sama lelahnya seperti Ayla.
Perjalanan mereka kini sudah memasuki kawasan Purwakarta, yang mana melewati kawasan seperti hutan dan perkebunan. Beruntung saat ini masih siang hari, sehingga tidak terlalu menyeramkan. Regal pernah melintasi daerah ini di malam hari bersama teman temannya dengan mengendarai sepeda motor, dan ia bersumpah tidak akan melewati wilayah ini lagi di malam hari karena seramnya bukan main.
Kawasan ini di malam hari sangat sepi, di d******i oleh pepohonan dan jalan yang tidak terlalu besar, serta jalanannya pun bukan aspal. Meski ini bukan hutan, tapi kawasan ini sungguh seperti hutan. Terlebih lagi tidak ada lampu jalan, sehingga kawasan ini benar benar gelap total dan hanya bisa mengandalkan pencahayaan dari lampu kendaraan. Saat ini ia bersama temannya dan berjumlah dua motor, terbayang sepi nya seperti apa, di tambah suasana yang mengerikan itu.
Di siang hari ini, kawasan ini masih bisa di katakan wajar karena banyak warga yang beraktivitas di sini. Mungkin jika Regal harus melewati kawasan ini di malam hari lagi, ia lebih memilih untuk memutar lewat Puncak atau lewat mana pun asal bukan lewat sini, karena saking seramnya.
Ia juga tidak tahu akan seperti apa reaksi Ayla jika memasuka kawasan yang segitu sepi dan menyeramkan, apa Ayla akan ketakutan? Memang cewek itu memiliki rasa takut? Regal tertawa pelan, membayangkan sosok Ayla yang wajahnya jarang menunjukan ekspresi berlebihan akan ketakutan. Kira kira, hal apa ya yang bisa membuat cewek itu takut?
“Ay!” panggil Regal, saat hendak mengajak ngobrol Ayla untuk membunuh rasa bosan yang mulai menghampirinya saat melintasi kawasan yang di d******i oleh pepohonan di kanan kiri jalan itu.
Regal kini merasakan kepala Ayla mulai terjatuh di punggungnya, lalu punggungnya mulai merasa berat lantaran menopang tubuh Ayla. Rupanya Ayla sudah tertidur. Tangan nya tampang menggantung begitu saja, beruntung ada kain sarung yang mengikat tubuh itu sehingga tidak terjatuh. Rupanya Ayla benar benar mengantuk.
Regal merasakan tubuh Ayla mulai bergerak karena oleng, ia pun segera mengantisipasi dengan menarik kedua tangannya. lalu Regal pun mengarahkan agar kedua tangan itu melingkar di pinggangnya, dengan ia masukkan kedua tangan Ayla ke dalam saku sweter yang ia gunakan.
Ayla tidak mengelak sama sekali karena sudah terlelap, ia tidak terlalu merasakan gerakan Regal yang memindahkan tangannya untuk memeluk cowok itu. Maka, Ayla hanya terus tertidur dengan menyandarkan kepalanya di punggung cowok itu. Napasnya yang teratur menjadi pertanda bahwa ia memang sudah kelelahan dan membutuhkan istirahat. Perjalanan yang mereka tempuh memang sudah lumayan panjang, tepatnya sudah lebih dari setengah perjalanan. Sebentar lagi mereka akan sampai di tujuan, kemungkinan satu jam lagi jika jalanan menuju Bandung lancar dan tidak terlalu macet. Harusnya memang tidak macet karena saat ini bukan hari libur.
Selama sisa perjalanan itu pun Regal membiarkan Ayla beristirahat dengan menyandarkan kepala di punggungnya itu. Tangan Ayla terus berada di saku sweaternya, agar mengunci tubuhnya untuk tidak jatuh. Ayla pun tidak berontak karena memang tidak sadar.
Beberapa kali tubuh itu bergerak, tapi beruntung tertahan oleh ikatan sarung yang mereka buat tadi, sehingga tubuh Ayla bisa bertopang dengan tubuh Regal yang tersadar dan menjaga keseimbangan mereka di atas motor. Ide ini ternyata cukup efektif untuk di gunakan saat perjalanan jauh menggunakan motor, meski sepertinya Regal harus mempertimbangkan hal tersebut, untuk tidak akan jalan jalan jauh lagi menggunakan motor karena lelah. Lebih baik ia rental mobil sekalian, hingga tidak terlalu melelahkan di perjalanan.
Tapi jika jalan jalannya bersama Ayla, mau naik motor atau pun sepeda, atau berjalan kaki sekali pun. Sepertinya Regal tidak masalah dengan hal itu.
Ia menyukai perjalanannya kali ini yang hanya di isi oleh mereka berdua, perjalanan kurang lebih lima jam yang mereka tempuh untuk sampai ke Bandung, membuat keduanya semakin akrab. Melihat berbagai macam ekspresi Ayla, bahkan mengetahui bahwa cewek itu ternyata bisa mengendarai motor miliknya yang mana jarang bisa di kendarai oleh cewek cewek, membuat Regal semakin takjub dengan cewek itu.
Regal tidak tahu sebutan apa yang tepat jika level perasaannya kini sudah di atas rasa tertarik. Apakah ini sudah pantas disebut bahwa ia menyukai Ayla?
***