Part 12 - Rindu?

1037 Kata
"Lanjut aja. Kita harus sampai di gua yang dimaksud Kakek," ucap Rosy dengan suara yang melemah. "Kamu gapapa, Ros?" tanya Lily panik. "Gapapa, ko. Aku pikir, gubug tadi hanya ilusi. Aku dan Cleon yang terkena ilusi itu. Aku hanya terperosok di jurang. Untung saja selamat," jelas Rosy. "Mulai sekarang, kita harus lebih berhati-hati. Ini sudah dua kali ancaman bahaya." "Benar, Cle." Jawab Rosy. "Yaudah, yuk lanjut!" ajak Lily. Musim apa yang mendatangkan cinta? Pernahkah kamu bertanya, mengapa orang bisa merasakan jatuh cinta? Dan saat ditanya kenapa engkau jatuh cinta? Orang itu tak bisa menjawabnya. Hanya tergugu. Kelu. Seakan baru belajar bicara. Yang keluar hanya kata, "Aku juga gak tau." Orang-orang berkata jangan pernah menasehati dua hal di dunia ini. Kalau kamu tak ingin capek hati. Satu, orang orang patah hati dan kedua orang yang jatuh cinta. Entahlah, kenapa hal itu jadi semacam nasihat turun temurun. Sedangkan... barangkali kita juga merasakannya. "Ada apa, Ros?" Cleon kembali bertanya setelah merasa dia dipandangi Rosy. "Gapapa. Aku cuma gak percaya masih hidup. Aku pikir, tadi akhir hidupku. Aku sangat cemas. Bagaimana bisa gubug yang kukejar tadi adalah jurang?" "Aku sama sekali tak menyangka dengan yang terjadi barusan. Aku tak percaya masih bisa selamat dari maut di depan mata." "Udah... gausah dipikirin. Yang penting, sekarang selamat 'kan? Kita bisa kembali sama-sama selesaikan misi ini," tutur Lily sembari menggandeng tangan Rosy. "Yuk! Jalan! Tunggu apalagi?" "Tumben bener!" celetuk Cleon. "Apaan!" "Aku duluan aja, ya!" Cleon tiba-tiba berjalan cepat meninggalkan Lily dan Rosy. "Aih, anak itu kenapa lagi? Bukannya bantuin malah ngeloyor!" ucap Lily kesal. Tubuhnya yang tinggi terlihat sedikit gontai. Langkahnya sedikit menunduk lalu ditegakkannya kembali. Terik matahari yang mulai tenggelam membasuh jingga di wajah Cleon. Jaket semi wol dipakainya. Topi biru segera dipasangkan di kepalanya yang terkadang kian membatu. "Mah, kenapa aku tiba-tiba inget Mamah? Mamah apa kabar?" "Apakah aku terlalu egois bersikap pergi begitu saja, Mah?" Gumam Cleon. Namun, ia tak begitu pedulikan. Meskipun ketidakpedulian bisa bermakna kesungguhannya untuk peduli. Bagaimana manusia bisa memastikan menebak perasaannya sendiri? Saat bersamaan, katanya perasaan mudah sekali berubah dalam waktu sekian dan sekian. "Aku rela Mamah bahagia, bahkan jika itu tanpa aku, Mah. Maafkan aku yang payah ini." Bersamaan dengan ucapannya, Cleon berjalan kian lebih cepat di depan LiLy. Jalanan yang licin dengan bebatuan kecil tak begitu dihiraukannya. Angin yang kian terasa berisiknya ternyata tak lebih berisik dari isi kepalanya. Cleon terus berjalan mendahului Lily dan Rosy. Seolah membiarkan kedua teman perempuannya sendirian. Mata tajam Cleon memandang ke depan dengan fokusnya. Namun, ia hilang kendali. Sesuatu hal tak terduga, kembali terjadi. Braaak!!! Sebuah lubang di jalan, tak terlihat olehnya. Ia jatuh tersungkur. Kakinya masuk ke lubang itu. Untungnya, tak ada pohon atau batu berat yang menghantamnya. "Nak... gakpapa?" Seorang bapak tiba-tiba muncul dan memapahnya. Ia membawa pikulan dengan beberapa tali di dalam keranjang yang dibawanya. "Tali itu?" gumam Cleon. "Kenapa, Nak?" "Ndakpapa, Pak. Makasih." Ucap Cleon singkat. "Kalau capek, mending istirahat dulu, Nak. Jangan dipaksain. Mari mampir ke gubug kami." Bapak itu menawarkan. "Terima kasih, Pak. Tapi-" "Jangan dipaksain, Nak. Bahaya. Atau lagi ada yang nungguin? Mending dikabarin aja biar yang nungguin juga paham posisinya." "Kok Bapak tahu?" "Saya juga pernah muda, Mas. Hehe." Cleon sedikit tersenyum dan menahan sakit di lutut dan sikunya. "Maaf, Pak. Benar dari sini ada gubug?" "Ouh... saya tahu maksudnya. Kalian tadi habis dari jurang sana ya?" "Kok Bapak tahu?" "Orang-orang yang melewati daerah sini akan teralihkan oleh jurang itu, memang. Kadang menjelma jadi sesuatu yang begitu diinginkan. Seperti kalau orang capek, jurang itu jadi gubug atau tempat istirahat," tutur Bapak itu. "Namun, aslinya hanya ilusi. Kalian harus lebih berhati-hati. Jangan terlalu terbawa emosi. Energi negatif sangat suka dengan aroma kemarahan manusia." Lanjutnya. "Begitukah, Pak?" "Ya. Kalian harus lebih berhati-hati." "Bapak sendiri di sini sebagai petani?" "Ya. Bisa disebut begitu. Ini habis nyari singkok dan mau kembali ke rumah." "Tali yang bapak bawa di keranjang ini, sepertinya tadi saya nemu di sana, Pak. Apa punya Bapak?" "Tali?" "Mirip sekali dengan ini. Maaf, kalau itu punya Bapak. Tadi saya gunakan untuk menolong teman saya yang terperosok ke jurang." "Bapak sebenernya gak begitu paham. Tapi anggap saja itu jalan yang diberikan Tuhan karena masih ingin melihat kalian ini selamat dan tetap melanjutkan perjalanan kalian." "Sini. Biar barang bawaannya saya yang bawa. Masnya masih sakit?" "Ndak ngerepotin, Pak?" "Ndakpapa. Ayok." Cleon pun mengikuti arahan Bapak yang belum mengenalkan namanya itu. Di perjalanan, Bapak itu seperti berusaha menghibur Cleon dengan berbagai ceritanya. "Untung Masnya pakai jaket dan topi lengkap. Jadi masih mendinglah kenanya jaket. Dulu saya, Mas. Lebih parah," bapak itu mengajaknya sambil ngobrol. "Oh ya, Pak?" "Iya. Saya nakal dulu, Mas. Ngapain pake topi? Kepala juga kepala saya. Haha dulu gitu. Bandel emang. Padahal ya namanya hutan. Bisa aja buat melindungi kepala." "Haha." Tak sadar, Cleon juga mulai mengikuti obrolan itu. "Oh ya, Pak. Maaf, saya baru ingat. Saya ada dua teman. Mereka pasti nungguin. Saya mesti kabarin dulu. Sampai di sini dulu saja, Pak. Saya ndakpapa. Cuma kesleo dikit," tutur Cleon pamit. "Beneran? Jangan melamun." "Iya, Pak. Makasih, ya. Sekali lagi, makasih sudah menolong." "Baiklah. Saya lanjut cari kayu dulu, ya?" "Ndak jadi pulang, Pak?" "Baru keinget juga kayu bakar di rumah sudah habis. Nanti kena omel istri," tuturnya ramah. "Baik, Pak. Sekali lagi makasih, ya." Bapak itu pun berjalan cukup cepat, dalam waktu beberapa detik, hanya tinggal bayangan saja. Bahkan, bayangannya pun sudah tiada. *** "Heh! Cle! Kemana aja?" sapa Lily. "Hehe aku di sini nungguin kalian, kok." "Serius? Kenapa tadi buru-buru? Kamu nggak habis nangis, 'kan?" cecar Lily. "Udah deh. Gak usah bawel! Ayo kita jalan lagi. Aku janji gak akan kek tadi. Kalian duluan yang jalan. Aku pantau dari belakang." "Hum. Aneh. Yaudahlah." Sebuah musim tak pernah menunggu kotanya siap sedia. Kota itu sendirilah yang harus selalu siap sedia. Apapun musimnya yang menyapa. Hari itu, seperti sebuah musim semi. Dimana bunga-bunga mekar indah. Pun harum mewangi, dari berbagai bunga yang dikenali ataupun belum diketahui. Langkah mereka bertiga berjalan pelan. Mata Lily melihat sekitar pohon-pohon lebat. Rerumputan liar, yang entah bagaimana seperti pagar hutan. Tumbuh begitu lebatnya. Sebuah jeda kembali Rosy lakukan. Ia tiba-tiba menengok ke belakang. Menatap Cleon dengan penuh senyuman. Apa maksud senyuman itu? Apakah seperti bunga yang mulai bermekaran? Adakah perasaan mulai tumbuh di antara ketiganya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN