Part 11 - Tolong!!

1009 Kata
"Gapapa." Lily segera beranjak dari dekapan Cleon. "Maaf. Aku tak bermaksud," ucap Cleon sedikit terbata. "Iya, gapapa. Eh, Rosy kemana? Kamu liat?" Cleon memandang ke beberapa arah. Memastikan keberadaan Rosy. "Aku tak liat. Aku fokus tadi ada nyerang kamu." "Kamu lihat orangnya?" "Entahlah itu berwujud apa. Yang pasti itu bahaya, tapi tak ada apapun di sini." "Aneh, bukan?" "Iya. Aku juga merasakan hal yang sama." "Lalu, gimana?" "Sudahlah. Kita lupakan. Yang penting kamu sudah selamat. Yah?! Ayo, kita coba kesitu." "Tolooong!! Tolong aku!!" Terdengar suara teriakan perempuan. "Kamu dengar, Cleon? Ada suara minta tolong. Ayo segera kita temui!!" ajak Lily. "Iya. Sepertinya dari arah sana!" Cleon menunjukkan ke arah yang dimaksud. "Baiklah. Ayo cepat!" "Rosy?! Cleon! Disini!" "Hah?" "Tolong, cepat!! Aku terperosok! Aku takut! Tolong!!" pekik Rosy sembari berpegangan pada ranting akar pohon. Sesekali melihat ke bawah, dan seketika keringat kian membasahi dahinya. Entah apa yang membuatnya terperosok di sana. Wajahnya memerah ketakutan. Keringat sangat mengalir deras di wajahnya. Terlebih, ia tak menguncir rambutnya. Membuatnya sangat terlihat memilukan. "Tolong! Cepat tolong aku!! Aku takut jatuh!" pekik Rosy. "Sebentar. Kami cari cara. Gimana, Cleon?!" Lily panik. Baru saja ia selamat dari ancaman bahaya kilatan pedang itu, kini ia sudah melihat hal bahaya lagi. Meskipun bukan ia yang menghadapinya, tetap saja kekawatiran nampak jelas di wajahnya. "Sebentar. Aku cari sesuatu," ucap Cleon. "Kamu disini saja, Ly. Biar aku yang menolongnya." "Cepat, Cle! Aku takut kenapa-napa! Cepatlah!" pinta Lily. Cleon mencari cara. Ia berlari sebentar mencari sesuatu yang bisa menolong Rosy. Ia setengah bingung dan panik, tapi berusaha tetap tenang. Akhirnya, ia menemukan tali yang tergeletak begitu saja. Seperti sebuah tali bekas dipakai untuk membawa hasil pertanian. "Ini tali siapa? Ah, biar kupakai saja!" Tanpa berpikir panjang, Cleon segera kembali. "Rosy. Kamu pegang tali yang kuulurkan! Kamu dengar bukan?" pekik Cleon. "Ya. Cepatlah!! Aku takut! Cepatlah!!" "Sebentar... peganglah. Aku akan menariknya dari atas sini." Rosy mulai melepaskan satu tangannya yang semula di akar pohon. Berlanjut tangan satunya kini sudah memegang tali itu. Kekawatiran kian mencuat begitu akar itu ternyata lebih rapuh dari yang Rosy pikirkan. Tubuhnya sempat tersungkur ke bawah. Semakin turun dan menurun. Rosy mulai panik bukan main. Tali yang dipegangnya semula pun tertinggal di atas. Untungnya, masih ada akar pohon yang sempat diraihnya. Matanya sejenak melihat ke bawah jurang, ia lantas memejamkan kembali matanya itu. "Jangan melihat ke bawah, Rosy!! Fokus lihat tali yang diulurkan Cleon!" teriak Lily. Tak ada suara. Lily yang berada di dekat Cleon kini bertambah panik. "Gimana, Cle? Mana Rosy? Kenapa tak keliatan dari sini?" "Sepertinya ia terperosok ke bawah, tapi tenanglah..." pinta Cleon. "Tenang? Tenang bagaimana? Rosy di ujung sana! Bagaimana aku bisa tenang, Cle?" "Bagaimanapun juga, dia... dia orang pertama yang kutemui saat aku di hutan itu. Sebelum sampai di sini. Ya, meskipun sampai saat ini, aku belum sepenuhnya mengerti tentangnya," tutur Lily menundukkan wajahnya. "Heh! Jangan nangis! Sudah, bantu aku! Bantu aku mengulurkan tali ini. Pastikan Rosy masih memegangnya. Yah?" Lily menganggukkan kepala. "Tenang, ya. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Kamu sayang pada Rosy, kan? Meskipun kamu belum sepenuhnya memahami bagaimana dia?" Lily kembali menganggukkan kepalanya. Cleon tersenyum. "Kenapa tersenyum?" "Nggak. Udah, ayo terus ulurkan lagi." "Hum. Aneh." "Rosy!! Kau dengar suaraku?!" pekik Lily. "Ya! Cepatlah kau tarik aku. Aku sudah siap!" "Akhirnya.... aku mendengarnya. Cle! Cepatlah, Cle! Ayo tarik!!" pinta Lily begitu bersemangat. Refleks ia memegang tangan Cleon. Cleon pun begitu tersenyum bahagia melihat sisi kelembutan Lily. Meskipun ia orang yang selama ini kerap emosional dan selalu memancingnya berantem. Perlahan-lahan, Cleon agaknya mulai memahami. Ia pun seolah ingin benar-benar menuruti nasihat Kakek untuk belajar memahami sebenarnya tentang Lily dan Rosy. Memahami perempuan. Bukankah satu hal yang terdengar sederhana, tapi begitu rumitnya? Atau justru... terdengar rumit tapi aslinya sederhana? Cleon masih belum sepenuhnya mengerti bagaimana caranya ia bisa dapat memahami kedua perempuan itu. Namun, ia percaya memahami perlahan dengan ketulusanlah caranya. "Rosy! Kamu masih aman?!" seru Lily. Keringat kini kian mengucur di dahinya. Cleon melihat hal itu. Kini, wajahnya dan wajah Lily amat dekat. Ada perasaan yang tiba-tiba berdegup, tapi ia tak tahu apa. "Cle, fokus!!" seru Lily. "Oh iya! Ayo! Kita tarik bersama!" "Ya!" "Kamu baik-baik saja? Aman?!!" Kembali, Lily berteriak memastikan keadaan Rosy. "Kalau tanahnya bisa dipijak, mulailah merangkak naik. Sebentar lagi kamu aman!" seru Cleon. "Baiklah." Setelah usaha yang dilakukan Cleon dan Lily, beberapa saat kemudian, Rosy akhirnya berhasil naik. Namun, begitu sudah di hadapan Cleon ia menginjak kerikil dan hampir jatuh kembali. Cleon pun refleks mendekapnya. Mata mereka saling beradu pandang. Seolah mencari sesuatu yang dirindukannnya. Terutama Rosy. Cleon segera menarik kembali tubuh Rosy. "Kamu gapapa 'kan?" tanya Cleon. Rosy menganggukkan kepala. "Aku gapapa. Makasih." "Rosy...." Lily mendekapnya gembira. "Gapapa. Udah, Ly." "Kenapa kamu bisa sampai jatuh? Apa ada yang mendorongmu?" cecar Lily kawatir. "Mulai deh paniknya," ledek Cleon. "Hih! Aku kan cuma kawatir. Gimanapun Rosy orang pertama yang aku temui. Kita sahabat ya 'kan?" Rosy hanya tersenyum tipis. Tidak menganguk dan tidak menggelengkan kepala. Namun, matanya malah memerhatikan punggung Cleon. "Rosy? Kamu haus? Lapar?" "Sedikit." "Cleon! Kita istirahat dulu." "Baiklah nona!" "Apaan!" "Tapi aku penasaran juga, kamu jatuh kenapa? Beneran terperosok aja atau ada orang lain, Ros?" tanya Cleon. "Yee... taunya situ juga kepo," ledek Lily. "Aku juga gak tahu pasti. Yang aku inget, ada gubug lalu tiba-tiba ada bayangan hitam sekelebat aja lewat di belakangku. Begitu aku menengok. Bayangan itu pindah ke depanku. Sampai akhirnya, aku tak sengaja terperosok," tutur Rosy. "Ehmm... ini mencurigakan," gumam Cleon. "Gimana nih? Kita mau lanjut?" "Menurutmu?" "Ya menurutmu?" "Ya menurutmu gimana?" "Ish! Kamu emang nyebelin!" Cleon menahan tawanya. Sesekali menegakkan wajah seolah berbangga bisa mengerjai Lily. "Sudah deh. Kalian kenapa ribut mulu si? Heran!" "Tau, nih! Cleon ngeselin!" gerutu Lily. "Ngeselin apa ngeselin? Ati-ati, lo... ntar malah suka!" ledek Cleon. "Apaan? Ogaah banget suka sama kamu hih! Ngeselin! Aneh! Gajelas!" "Masa? Apalagi? Apalagi? Ganteng? Tampan? Gigih? Pinter? Berani?" cecar Cleon sengaja menggodanya. "Ihhh pedeee!!" "Kalau iya kenapa?" *** Apakah mereka bertiga akan melanjutkan perjalanan misi suci itu? Bagaimana rintangan yang akan mereka lewati menuju gua yang dicari? Simak selengkapnya, ya. Silakan kalau ada saran dan kritiknya. Sampaikan dengan sopan. Terimakasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN