Part 10 - Sebuah Ancaman

1085 Kata
"Li... ," panggil Cleon. "Kenapa?" "Kamu percaya dengan khasiat gelang ini ndak?" "Maksudnya? Kamu ngeraguin ucapan Kakek?" "Bukannya kamu sendiri yang meminta kami berdua kesana?" cecar Lily terlihat kesal. "Bukan gitu maksudku. Hanya saja... aku sedikit ragu." "Ragu?" "Ya. Aku ragu bisa menyelesaikan misi ini." Lily menghentikan langkahnya berjalan. Disusul Rosy yang sedari tadi diam, dan ikut berhenti. Ia hanya memerhatikan Lily dan Cleon berdebat. Entah, apa yang dipikirkan gadis itu. Alis Lily mengernyit. Kedua matanya seolah ingin bersisian. Wajah muram sekaligus kesal kini berpadu padan di wajahnya. "Apa yang membuatmu ragu, hah? Ehm, atau jangan-jangan kamu sudah pernah mendapat gelang itu?" Lily tak henti-hentinya menginterogasi Cleon. "Bukan! Bukan itu maksudku, Ly! Tapi...," ucap Cleon setengah ragu dan yakin. "Lalu apa, hah? Apalagi? Kamu ini sebenernya berani apa ndak, sih? Kalau gak berani jangan jadi sok pahlawan deh!!" pekik Lily semakin kesal. "Aih... harus bagaimana? Bukan itu maksudku." "Lalu apa hah? Apa? Kamu sendiri yang mengajak kita berdua ke Kakek. Seolah kamu paling tahu perjalanan kita ke depan. Sekarang saat kita bertiga sudah mendapat petunjuk, kamu ragu. Gimana itu?" "Hah? Gimana? Kamu itu aneh, Cle!! Aneh!" "Ly... bukan maksudku," tutur Cleon semakin bingung menanggapi perempuan berkuncir satu di depannya itu. "Apalagi, hah??!!" "Heiihh... sampai kapan kalian ribut kayak anak kecil!?!" sanggah Rosy. "Dia tuh!! Aneh!! Sudah mau jalan pake acara ragu. Kalau ragu ngapain? Bukannya itu menyebalkan? Hah?! Ngeselin!!" Cleon akhirnya memilih diam sejenak. Ia biarkan Lily untuk bicara semaunya. Namun, malah sebaliknya. Ia ikut terdiam. Sesekali memeriksa ekspresi Cleon. Entah, apa yang kini dipikirkan dan dirasakannya. "Sudah, nih? Gak ada debat lagi?!" ucap Rosy yang kini mulai kesal. Mereka bertiga akhirnya terdiam beberapa saat. Hanya diam dan suara burung yang berkicauan yang turut memeriahkan perjalanan itu. Kraaaaasss Suara seperti semak-semak terinjak, terdengar telinga mereka. Menjedekan sejenak perdebatan itu. "Kalian dengar suara itu?" tanya Cleon sembari matanya memeriksa sekeliling. "Ya. Mungkin saja binatang liar yang bertengkar," jawab Lily cuek. "Aku seperti pernah mendengarnya." "Yakin mendengarnya atau malah ragu?" sangkal Lily yang masih saja emosi dengan Cleon. "Aku serius, Ly. Tolong, tahan emosimu dulu. Aku serius seperti pernah mendengarnya." "Lalu? Kamu ingin kita mencari siapa itu?" Cleon terdiam. Ia balikkan badan sejenak. Memeriksa semak-semak dan pepohonan yang lebat. Sesekali melihat ke atas, seolah hendak memastikan ada sesuatu yang mengancam mereka. "Heh! Apa yang sedang kamu cari? Ngeles? Nyari alasan lain dari keraguanmu tadi yang menyebalkan?!" cecar Lily. Cleon menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Membentuk isyarat permintaan pada Lily untuk diam sejenak. Membiarkan ia mendengarkan dan memerika lebih jeli apa itu suara yang baru didengarnya. Beberapa menit kemudian, Lily tak tahan lagi. Ia sudah terlihat kembali emosi. Ingin pergi meninggalkan Cleon beserta tingkah anehnya yang menurutnya cukup menyebalkan. "Sudah? Sudah gak ada lagi kan yang perlu dibicarakan?!" tanya Lily. Namun, Cleon tak menjawabnya. Laki-laki berwajah tegas itu malah terus melihat sekelilingnya. Sesekali berjalan sejenak ke arah bebatuan dan memeriksa apa di baliknya. Tak hanya itu, ia juga berjalan ke arah semak-semak tak jauh dari tempat awal mereka bertiga. Matanya yang tajam semakin terlihat tajam begitu ia satu per satu memastikan tak ada bahaya dan sesuatu yang mencurigakan di baliknya. Cleon pun memeriksa ranting-ranting pohon tak jauh dari mereka berdiri. Matanya seolah memiliki teropong untuk memastikan hal-hal yang membahayakan sampai atap langit. "Gak ada apapun 'kan? Kamu hanya buang-buang waktu saja, Cle!" ucap Lily. "Tunggu! Jangan pergi dulu!" pinta Cleon dengan ekspresi begitu serius. Tak ada wajah meragukan dari ekspresinya kini. Lily pandangi dan berusaha terdiam sejenak. Ia mengembuskan napas panjang. Seolah mencari udara kebebasan dan kesabaran tertentu menghadapi tingkah aneh laki-laki di hadapannya. Cleon kini sedikit menunduk. Ia berjalan dengan penuh hati-hati. Memeriksa semak-semak di belakang Lily dan Rosy berdiri. "Kalian tetap di sini! Jangan kemana-mana," pinta Cleon. Lily mendengus kesal. "Apaan sih maksudnya?" Cleon masih berhati-hati memeriksa apa yang tersembunyi di balik semak-semak itu. Ia arahkan pandangannya penuh curiga. "Sudahlah. Ayo, kalau tak ada lagi yang perlu diributkan, kita jalan lagi!" seru Lily. "Tunggu, Li." "Apalagi?" "Lily! Awaaas!!" pekik Cleon dan berlari menyelamatkan Lily. Lily pun hampir jatuh terkena kilatan pedang yang tiba-tiba menyambarnya. "Kamu tidak apa-apa, Ly?" "Aku gakpapa. Apa itu tadi, Cle?" "Ancaman bahaya! Tolong, turuti pintaku. Yah? Aku takut kamu kenapa-napa," tutur Cleon lembut. "Maaf, Cle." "Gapapa. Ayo, kita jalan." "Beneran sudah gapapa?" "Iya. Itu kilatan pedang dari makhluk gaib yang bisa menyerang tiba-tiba. Mereka pandai memanfaatkan situasi. Sekali kamu terkena kilatan pedang itu, bisa sangat bahaya." Lily mendengarkan seksama. Mereka pun sudah berjalan cukup lama. Akhirnya, dari kejauhan terlihat sebuah gubug sederhana di depan mata. Berdiri dengan cukup unik. Kalau orang biasanya memilih mencari tempat dataran yang aman, jauh dari jurang, tebing tinggi, dsb berbeda dengan yang dilihatnya. Terlihat di mata Cleon, halaman belakang gubug itu, hanya berkisar sekitar dua meter terdapat sebuah jurang. Jurang yang menghubungkan dengan air terjun yang terkenal cadas dan tinggi. Tak ada yang mengetahui dengan pasti, kenapa ada orang mau mendirikan tempat tinggalnya di sana. Sedikit berbeda, sekitar gubug kakek ditanami berbagai tanaman obat. Tumbuhnya yang rindang, cukup membuat mata sejuk. "Kamu lihat itu, Ly?" tanya Cleon. "Apaan?!" "Disana terlihat seperti gubug! Apakah ini pertanda baik?!" "Gubug? Aku tak melihatnya!" "Aku masih takut, Cle. Apa benar bahaya tadi tidak akan menyerang lagi?! Bagaimana kalau itu kembali lagi? Sementara, kilatan itu begitu misterius," tutur Lily kembali cemas. "Sudahlah. Aku yakin kita sudah berhasil melewatinya. Bahkan, tanpa bantuan gelang ini. Ya'kan?" "Tapi... aku masih ragu, Cle." "Sudahlah. Aku akan menjagamu di sini. Jangan kawatir. Yah?!" "Aku tak begitu yakin sekarang. Itu tadi... cukup membuatku panik." "Lihatlah di sana! Sepertinya itu benar-benar ada gubug di sana!" Kembali, Cleon menunjukkan sesuatu. "Tidak ada apapun di sana! Aneh kamu!" "Bukan aku yang aneh tahu!" Sangkal Cleon pada Lily. "Aneh!" "Nggak!" "Aneh! Aku tak melihat apapun!!" sangkal Lily. "Bagaimana denganmu, Ros? Apa kamu melihatnya?!" "Ya. Aku pikir di sana ada gubug!" "Tuh, kan. Kamu aja yang gak lihat!" "Nggak! Aku yang benar!" "Aku!!" "Aku!!" "Husst diamm!! Kalian berisik tau!!" Seru Rosy yang tiba-tiba bersuara keras. "Kalian kesini mau berantem terus apa nyari solusi, hah? Pusing tau!" "Maaf, Rosy. Aku gak bermaksud," tutur Lily dengan suara rendah. "Sudahlah. Itu sepertinya di belakang gubug ada asap. Mungkin, memang petunjuk yang kita cari ada di belakang sana," jelas Rosy sembari menunjukkan arah belakang gubug itu. Rosy berlarian sendirian. Ia pergi jauh. Seolah begitu bosan mendengar Cleon dan Lily. Bosan mendengar percakapan mereka berdua, Rosy akhirnya berjalan sendirian. Lily pun bersiap segera menyusulnya. "Rosy! Tunggu! Kamu memang yakin di sana ada gubug?! Kenapa aku tak melihatnya?!" seru Lily. Namun, Rosy sudah melesat jauh meninggalkan Lily dan Cleon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN