Part 9 - Nasihat Mengejutkan Kakek

1009 Kata
Tak berapa saat, Lily pun mulai menegakkan wajahnya kembali. Ia berusaha membuat garis senyum, yang entah apa maknanya. "Terima kasih, Kek. Cleon. Maaf, kalau aku tiba-tiba bersedih. Aku hanya keinget ayah dan ibu." "Ndakpapa. Wajar. Yakinlah, suatu saat nanti kamu bisa bertemu kembali pada ayah dan ibumu, Nak." "Tidak, Kek. Lily gak pengin ketemu ayah dan ibu." "Kenapa, Lily?" Cleon terlihat begitu penasaran. Ia menunggu apa yang akan diucapkan perempuan berkuncir satu itu. "Tidak apa, Cleon. Aku hanya belum siapa ketemu ayah dan ibu," tutur Lily seraya kembali menegakkan kepalanya. "Tenanglah. Semua akan baik-baik aja. Yakan, Rosy?" "Hah? Iyah." Rosy nampak bingung. "Ada satu hal penting tentang gelang itu," Kakek kembali menjelaskan. "Apa, Kek?" "Kalian lihat warna hitam di butiran-butirannya itu?" "Ya, Kek? Warnanya akan berubah menjadi putih, setiap kalian berhasil berbuat baik. Menyelesaikan masalah, dan bumi beserta kehidupannya lebih baik," lanjut Kakek. "Lalu, Kek? Apalagi?" "Kalian harus membuatnya berubah putih bercahaya, seperti mutiara." "Kalau kita gagal, Kek?" "Satu butiran penyusun gelang itu akan menghilang sendirinya. Itu seperti kesempatan kalian akan kembali lagi ke dunia nyata." "Maksudnya?" tanya Rosy bingung. "Berarti, kita harus berhasil menyelesaikan misi, sebanyak butir penyusun gelang ini, Kek?" "Ya." "Gimana?" tanya Cleon terlihat kebingungan melihat ekspresi Lily. "Gapapa. Aku siap!" "Aku juga siap!" susul Rosy. "Tentu aku juga siap, Kek!" "Bagus. Kakek percaya kalian pemuda yang bersemangat. Kakek titip nasib kedepan di kalian. Yah?" "Tapi... kita harus pergi ke arah mana, Kek? Kira tak tahu apa-apa." "Kalian pergi ke arah timur lagi. Tak jauh dari sini. Nah, carilah gua yang tersembunyi dibalik dua pohon besar yang berdampingan." "Dua pohon yang berdampingan?" "Ya. Kalian akan menemukannya sendiri, nanti." "Disana ada apa, Kek?" "Kalian masuk dan berteduh saja dulu ke gua itu. Nanti akan paham sendiri perjalanan kalian selanjutnya." "Terima kasih, Kek. Kami pergi sekarang?" "Hati-hati, Nak." Tak berapa saat, setelah mendapat nasihat dan petunjuk, Cleon, Rosy, dan Lily pun pergi. Mereka bertiga bersalaman pamit pada Kakek. Wajah Kakek terlihat seolah penuh rasa kelegaan sekaligus kawatir. Surban putihnya pelan tersapu angin. Senyumnya yang berusaha dikembangkan itu... lebih terasa betapa pilunya. Ketika mereka bertiga berjalan pergi, Kakek menggilnya kembali. "Nak Cleon!" "Iya, Kek? Ada apa?" "Kesini sebentar. Kemari, Nak." Cleon pun berbalik arah dan mendekat ke Kakek. Ia berjalan perlahan sambil melihat Kakek. Seperti seorang cucu yang akan meninggalkan Kakeknya, ada gurat kekawatiran juga yang tergambar dari Cleon. Wajahnya yang tegas, tak biasanya terlihat cukup murung. Cleon berjalan perlahan mengikuti langkah kakinya. Semilir angin dan dedaunan kering turut menyampaikan salamnya. Kakek menyingkirkan dedaunan kering yang menempel di rambut Cleon. Sambil tersenyum, Kakek menundukkan wajahnya sejenak. Ia seperti sedang mencari sesuatu atau menata apa yang akan benar-benar dikatakannya. Tak berapa saat kemudian, Kakek mulai merendahkan tubuhnya di depan Cleon. "Kek, jangan begitu. Ada apa, Kek?" tanya Cleon panik. Sembari berusaha mengangkat tubuh Kakek agar kembali berdiri. "Apa yang sebenarnya akan Kakek katakan, Kek?" Kakek hanya diam, menatap lama mata Cleon. Entah, apa yang dipikirkan Kakek. "Ada yang ketinggalan, Kek?" Kakek menggelengkan kepalanya. "Lalu? Apa Cleon ada salah, Kek? Kenapa, Kek?" cecar Cleon penasaran. Apalagi melihat gestur tubuh Kakek yang tak biasanya. "Ada satu hal yang belum Kakek ceritakan padamu, Nak," tutur Kakek mulai bicara. "Apa, Kek? Ceritakan saja. Mumpung Cleon dan teman Cleon belum jalan. Apa, Kek?" Kakek tersenyum tipis. Tangannya yang keriput, tapi tetap kokoh itu menepuk pundak Cleon. "Kamu harus jaga diri baik. Nanti banyak sekali rintangan yang tak terduga," ucap Kakek. "Pasti, Kek. Cleon akan jaga diri baik," jawab Cleon mantap. "Sebenarnya, ada yang perlu Kakek tau, tapi itu kembali padamu." "Apa itu, Kek?" "Kamu sudah tahu masa lalu kedua teman barumu itu? Siapa orangtuanya? Kenapa mereka berdua sampai disini? Apa penderitaan dan masa lalu mereka?" "Perlu Cleon tanyakan ke mereka sekarang, Kek?" "Tidak. Kamu hanya perlu tahu. Suatu saat di perjalanan nanti. Kamu perlu beberapa langkah lebih peka dan harus lebih mengetahui mereka. Terutama masa lalu dan penderitaannya," jelas Kakek. "Kenapa, Kek? Apakah begitu perlu?" "Ya. Manusia itu seperti waktu. Ada masa lalu dan masa depan. Bedanya, manusia punya kehendak, punya keinginan." "Tidak ada satu manusiapun yang bisa sepenuhnya melepaskan segala ingatan buruk masa lalu dan penderitaannya. Pun, tidak ada manusia yang tau pasti bagaimana nasib masa depannya." "Lalu? Maksudnya, Kek?" "Dengan kamu berusaha memahami masa lalu kedua temanmu itu, kamu akan lebih mudah memahami perasaan dan kehendak mereka masing-masing," tutur Kakek. "Lalu? untuk apa, Kek? Kalau Cleon tau dan tidak?" "Mereka berdua perempuan. Bagaimanapun, kamu laki-laki yang harus lebih memahaminya. Untuk bisa memahaminya, kamu perlu tahu masa lalu dan penderitaannya, Nak. Kamu belum tau sama sekali, bukan?" Cleon menggelengkan kepala dan terdiam di depan Kakek. Tak berapa saat kemudian, Cleon menegakkan tubuhnya kembali. Menurunkan kedua tangan Kakek seraya tersenyum. "Sekarang Cleon paham maksud Kakek. Cleon akan coba belajar perlahan untuk memahami mereka dalam perjalanan ini. Begitukah?" Kakek tersenyum mendengar suara tegas Cleon. "Syukurlah kalau kamu mengerti, Nak. Kakek senang mendengarnya." "Makasih, Kek. Cleon juga senang mendengar nasihat ini." "Sekarang, ada lagi, Kek? Apa yang perlu Cleon ingat dan perhatikan lagi? Sebagai bekal perjalanan nanti?" tanya Cleon penasaran. Ia seolah lebih sigap dari semula. "Ada." "Apa itu, Kek? Katakan saja. Cleon akan berusaha semampu mungkin." "Kakek cuma mau ingatkan sekali lagi. Kamu laki-laki di sini. Jaga mereka baik-baik. Jangan sampai setelah misi selesai, kalian tidak lengkap," ucap nasihat Kakek. "Kalian harus kembali ke dunia nyata lengkap bertiga." Lanjutnya. "Baik, Kek. Cleon siap menjaganya." "Satu hal lagi." "Kalian bertiga masih muda. Rentan emosi dan salah paham. Jangan sampai perasaan yang bergejolak, jadi penghalang terburuk nantinya," Kakek kembali menuturkan nasihatnya. "Maksud Kakek?" "Selalu dengarkan ketenangan hatimu. Cinta, itu sesuatu yang berharga dari anak muda sepertimu bukan?" "Maksudnya, Kek? Cleon tidak mengerti." "Haha, tidak apa. Kamu akan mengerti sendiri, Nak. Jaga mereka, yah?" "Siap, Kek!" "Cleon pamit, yah?!" Kakek menganggukkan kepala. Ia melihat langkah mereka bertiga kian jauh dari mata. Kekawatiran, barangkali serupa memandang akan ketidakyakinan. Apakah dengan menyerahkan gelang itu, kakek memang yakin misi yang akan mereka emban berhasil? Atau justru sebaliknya? Kakek itu ingin menjebaknya? *** Simak perjalanan mereka bertiga di part selanjutnya, ya. Saya mencoba belajar menulis fantasi, nih. Boleh saran dan kritiknya, ya. Terimakasih
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN