Part 8 - Gelang (Misi) Mulia

1036 Kata
"Bumi tempat kita tinggali ini, awalnya hijau. Segalanya ada sebelum manusia ada. Pohon-pohon nan hijau lebat itu, bisa jadi usianya lebih dulu dari kita manusia," tutur Kakek mulai menjelaskan panjang. Tak berapa saat kemudian, Kakek berdiri. Menatap rindang pepohonan di depannya. Suara air terjun samar-sama terdengar. Matanya yang sayu tapi teduh itu turut melihat luasnya pemandangan di depannya itu. Sesekali suara burung melintas di hamparan langit dan ranting-ranting pepohonan. Menambah syahdunya. Ketika orang-orang modern sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sebagian dari mereka memanfaatkan untuk bisnis lain. Yakni, hiburan. Mereka para pemilik modal, akan membangun wisata dengan berbagai konsepnya. Aneka wisata pun ditawarkan pada orang-orang kota. Seolah sebuah makanan pokok yang begitu dibutuhkannya. Ramai-ramai dibangun berbagai wahana, sampai kadang-kadang menggerus lahan pedesaan. Apa yang benar-benar dibutuhkan mereka? Sementara orang pedesaan, tak mengenal hiburan dalam makna yang konseptual berlebihan. Bagi masyarakat desa, pagi pergi ke ladang, sore bermain bersama cucu itu saja sudah hiburan. Lalu, bagaimana dengan pertanian—lahan petani tempat dimana lahan pekerjaannya diambil alih fungsi? "Nak... di masyarakat pedesaan itu tak mengenal gedung, tapi sebagian tahu. Akan tiba masanya lahan pertanian menjadi gedung-gedung tinggi menjulang," tutur Kakek setelah berdiam cukup lama. "Masyarakat kota pergi kedesa untuk berlibur. Sebagian mereka mulai berbisnis ke pedesaan. Atas nama mengembangkan sumber daya, dibangunlah pabrik-pabrik." "Lahan pertanian terputus. Tidak ada lagi penerus. Bahkan, yang masih punya sawah saja bingung, siapa yang akan meneruskannya. Apalagi, yang sudah tidak punya lahan." "Apalah artinya uang puluhan juta, kalau tidak tahu akan dikelola untuk apa? Apalah artinya diganti uang ratusan juta sekalipun? Kalau hanya untuk rebutan warisan anak-anaknya?" Lily, Cleon, dan Rosy termenung mendengarkan petuah Kakek. Lily mendengarkan Kakek dengan duduk bersilah. Sesekali tangannya menopang dagu. Seolah begitu serius sekali mendengarkannya. Beda halnya dengan Rosy. Ia terlihat tanpa ekspresi. Wajahnya yang cenderung bulat, ia sandarkan pada pohon tak jauh dari tempat duduknya. Sesekali menegakkan tubuh begitu mendengar kata menarik dari Kakek. Lain halnya Cleon, ia begitu nampak antusias mendengar setiap perkataan yang keluar dari Kakek. Seperti seorang cucu yang begitu rindu dengan Kakeknya. "Apa kalian paham apa yang Kakek bicarakan, Nak?" tanya Kakek menengok ke belakang. Melihat Lily, Cleon, dan Rosy. Lily menganggukkan kepala. Begitu juga Rosy. Disusul dengan Cleon. "Kalian masih mau mendengarkannya?" Ketiganya kembali menganggukkan kepala. Tak ada satu katapun keluar. Seolah sudah masuk alam bawah sadarnya. Hanya penasaran dan penasaran yang terus dicarinya. "Bisa dikatakan, pohon adalah nenek moyang kita, bangsa manusia. Tapi apa yang kita lakukan belakangan ini? Kita tak punya sopan santun dengan para pohon itu." "Sebagian manusia yang hanya mementingkan keuntungan pribadinya, melihat pohon hanya sebagai kayu yang bisa ditebang dan dijual semaunya." "Mereka terus menebang kawasan hutan, tak peduli apapun efeknya. Tanpa penghijauan. Tanpa memikirkan tata krama pada sesepuhnya." "Padahal, pohon itu selain yang kita pahami sebagai faktor bersihnya udara, barangkali ia juga rumah bagi hewan lainnya." "Ada burung-burung yang menitipkan sarang dan anaknya pada ranting lebatnya. Ada lebah dan serangga lain yang juga makan darinya." "Tak luput, ada manusia sederhana yang sekadar memanfaatkan sebagiannya untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup saja." "Tapi mereka, para manusia yang serakah itu... dengan segala kelicikannya, membuat banyak sekali kerusakan." "Kalau pohon-pohon itu bisa menangis dan bicara, pasti suaranya akan membuat merinding telinga manusia." "Sayangnya, pohon tak bisa bicara seperti kita. Tapi, mereka langsung bicara dalam bentuk lain." Kakek itu menjedakan ceritanya. Karena dibuat penasaran, Lily dan Cleon mengajukan pertanyaan bersamaan. "Maksudnya, Kek?" Serempak, hal itu membuat mereka berdua saling salah tingkah. Kakek hanya tersenyum. Sementara Rosy, tanpa ekspresi. Entah, apa yang dirasakannya saat itu. "Maksudnya... pohon itu bicara lewat banjir, longsor, itu contohnya. Bukankah itu salah satu bahasa mereka? Ketika banjir, sebagian manusia menyalahkan kepala daerahnya, dsb." "Tapi.... mereka tak sadar, mereka juga sangat turut andil dalam berbuat kerusakan itu. Membuang sampah sembarangan, sungai-sungai yang mestinya jadi sahabat pohon, tak bisa mengalir sempurna, dan banyak hal lainnya." "Kurang lebih itulah kenapa warna gelang ini jadi hitam. Simbolik dari kerusakan yang diperbuat manusia itu sendiri." "Sekarang, ambillah. Kenakan di tangan kalian." "Ini buat kami, Kek?" tanya Cleon masih tak begitu percaya. "Iya. Itu untuk kalian." Dengan wajah yang penuh tanya, perlahan tangan Cleon yang mengambilnya. Ia menyerahkan kedua gelang lainnya pada Lily dan Rosy. Detik itu juga, mereka bertiga telah menggunakan gelang yang sama. "Gimana rasanya?" tanya Kakek itu dengam tersenyum ramah. "Seneng, Kek. Tapi lebih banyak bingungnya. Kenapa kami harus pakai gelang ini, Kek? Sebenernya buat apa?" "Apa ini ada efeknya untuk keberadaan kita sekarang?" "Apa dengan gelang ini, kita harus mengalahkan manusia rakus itu?" "Apa dengan itu, misi akan segera selesai?" cecar Lily. "Kamu tanya apa maksa? Bawel banget," ledek Cleon. "Biarin!" "Sudah-sudah. Ndakpapa. Itu pertanyaan yang bagus. Sederhananya, gelang itu akan membantu kalian dalam perjalanan nanti ke depan," jawab Kakek itu dengan tenang. "Kalian akan pergi jauh ke negeri seberang sana. Sebuah negeri dengan kekayaan alam yang luar biasa melimpah. Segala sesuatu biji dan batang yang ditancap atau dibuang begitu saja pun bisa tumbuh." "Kenapa kita harus kesana, Kek? Bukankah itu tandanya negeri itu subuh?" sangkal Cleon. "Sebentar, Nak." "Ya, benar. Negeri itu sangat subur. Tapi manusia yang Kakek ibaratkan tadi, tinggal di sana. Kalian, sebagai generasi muda harus berbuat sesuatu di sana." "Misi memberbaiki bumi?" celetuk Lily. "Ya. Sebuah misi yang terlihat sederhan, tapi nanti kalian bisa merasakan sendiri bagaimana." "Negeri itu... juga sangat berpengaruh di tempat Kakek tinggali sekarang ini. Jika alam mereka kian rusak, lihatlah tanah yang tadi kalian lewati, sangat gersang 'kan?" "Itulah cermin dari kondisi negeri itu." "Menyedihkan. Kenapa manusia begitu jahat?" gumam Lily. "Dari dulu manusia juga jahat. Hei, Lily... bukankah awal kamu ke hutan juga karena itu? Karena mengira manusia jahat bukan? Orangtuamu, yang kau kira jahat 'kan?" Tiba-tiba, suara Rosy keluar begitu saja. Hal itu membuat Lily terdiam seketika. Ia tak bisa menjawab dengan satu katapan. Matanya seketika menunduk. Entah, memikirkan apa. Apakah dia teringat orangtuanya? Ataukah, dia merindukannya? "Lily....," ucap Cleon dengan nada lembut seraya menepuk pundaknya. "Jangan sedih. Apapun alasan kamu berada disini, kita bertiga sudah berada disini. Barangkali, dengan adanya kita disini, kita bisa lebih baik nantinya di dunia nyata. Iya kan, Kek?" Kakek itu tersenyum, seraya mengangguk dan bertutur lembut, "iya, benar. Kalian bertiga adalah pemuda terpilih yang dipercaya mengemban misi mulia ini. Jadi, berbanggalah." "Tegakkan wajahmu kembali, Nak. Bersiaplah dengan rintangan ke depan." Lanjut Kakek itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN