Part 14 - Menata Niat

1038 Kata
Siang yang tak begitu terik. Daun-daun berguguran di tepian jalan. Berteman dengan angin yang menyapa ramah. Orang-orang berlalu dan menunggu. Menunggu dan berlalu. Beberapa orangtua di bayangan Lily menunggu di halte. Dan beberapa bus kota, turut berhenti beberapa kali. Kini giliran menunggu. Halte bus bercat biru. Biru, seperti warna langit. Namun, bukankah tak hanya berwarna biru? Terkadang, langit juga menyuguhkan warna kelabu. Terkadang jingga, pun terkadang merah merona. Seperti seorang kekasih yang merah pipinya, karena begitu senang bertemu kekasihnya. Pun, tak jarang langit juga menyuguhkan merah api. Begitu menyala. Orang-orang memilih menunggu sebab keyakinannya. Dan sebab keyakinan pula, tak jarang orang-orang rela menjaga dari segala cemasnya. Pun, barangkali dengan Lily. Terkadang ia begitu merasa yakin dengan yang selama ini ini dijaga. Tak lain adalah keinginannya bebas dan pergi dari orangtuanya. Namun bersamaan, tak jarang keyakinan itu dipertanyakan oleh waktu. "Sampai kapan aku menyembunyikan segala ragu?" "Apa warna yang akan kutunjukkan saat memang aku harus pergi dari sini?" "Apakah setenang langit biru? Setabah langit jingga? Atau semarah langit merah berapi?" Berbagai tanya menyelimutinya. Untung saja hanya di benaknya. Lily seakan sibuk membaca pikirannya sendiri. Sampai aku terkaget dengan teriakan kecilnya. "Heh!! Gadis bawel!!" celetuk Cleon menepuk pundaknya. "Hah?!" "Cleon?!!" Lily setengah tersadarkan diri. "Heh, kenapa? Kok kayak orang linglung gitu? Laper? Haus?" Lily hanya menggelengkan kepala. "Heh... kamu kenapa? Sakit? Tidurnya kurang? Mau kita tungguin lagi?" tanya Cleon dengan suara lebih merendahkan diri. Kembali, Lily hanya menggelengkan kepala kembali. "Lalu? Ada apa? Kamu kepikiran apa?" Cleon terlihat mulai cemas melihatnya. Wajahnya yang tegas dan matanya yang tajam seakan tiba-tiba lebih teduh dari biasanya. Ia pandangi Lily seksama. Kawatir. Memang bukanlah kesalahan. Bahkan, dalam hubungan mereka bertiga, saling kawatir wajar adanya. Kalau orang-orang membahasakan kekawatirannya dengan berbagai rupa, Cleon tidak. Ia langsung saja menunjukkan sikapnya. Cleon dekati Lily. Kini, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. "Ly, kamu kenapa sebenarnya? Katakan. Bagaimanapun, kita satu tim di sini. Harus saling terbuka," tutur Cleon memancing Lily cerita. Lily yang sepertinya belum sepenuhnya percaya dengan Cleon, memandangnya sekilas. Sesekali menundukkan wajah dan ditegakkannya kembali. Melihat laki-laki yang selalu memicunya emosi itu, barangkali perlu banyam hal untuk membuatnya percaya. Terlebih, apa yang dialaminya, belum tentu ia akan mau untuk cerita, tak terkecuali meskipun itu hanya persoalan mimpi. "Ly... please, ceritakan. Kamu kenapa?" "Ada yang bisa aku bantu, Ly? Wajahmu terlihat panik dan begitu cemas." Lily kembali pandangi mata Cleon. Ia seolah ingin memastikan bahwa laki-laki di depannya memang serius ingin mendengar san peduli padanya. "Baiklah, aku cerita," ucap Lily mengawali. "Aku kepikiran Ayah dan Ibu, Cle. Gimana kalau... ," bibirnya terjeda dengan sendirinya. "Ssstt, udah. Kamu tenang, ya. Kamu kan juga sudah tau sendiri. Kita semua juga pasti kembali. Yah? Perjalanan belum dimulai. Kamu masih mau memulainya bukan?" Cleon paham arah bicara Lily. Ia terpaksa memotong arah pembicaraan itu, karena kawatir Lily akan terus kepikiran. "Sudah... kamu cuma kecapean dan ketiduran. Makanya begitu," Cleon berusaha menjelaskan dengan tenang. "Kamu yakin perjalanan ini nggak bakal kenapa-napa?" Lily dengan raut wajah penuh kawatirnya tak henti bertanya pada Cleon. Ia seolah kehilangan kepercayaan dirinya setelah bangun dari tidurnya Bukan Cleon namanya kalau tidak mau mengerti orang lain. Bahkan, tak peduli apa yang sedang dirasakannya. Meskipin, saat itu ia sedang sakit, pilu, terluka, tapi ketika melihat ada orang lain terluka di depannya ia pasti akan mementingkan orang lain itu. Barangkali, hal itulah yang membuat Kakek percaya pada Cleon untuk menjaga Lily dan Rosy dalam misi mulia ini. Sebuah misi yang tak semua orang akan menjalaninya, bahkan untuk mau mengerti. "Maaf, Ly aku boleh katakan sesuatu padamu?" tanya Cleon dengan santunnya. "Apa, Cle? Kenapa jadi agak canggung gini? Katakan saja. Tak perlu meminta ijin padaku. Tanpa disadari, angin cukup kencang membawa ranting-ranting kayu kecil yang jatuh dan daun-daun kering. Beberapanya, jatuh dan mempel di rambut Lily. Seketika, kepala perempuan bermata bulat itu, seperti ratu pohon. Penuh dengan dedaunan dan ranting-ranting kecil. Refleks, awalnya Cleon berusaha melindunginya. Namun, begitu angin berhenti, sesuatu menjadi berbeda. Cleon memandang Lily yang cukup berantakan. Sesekali ia membuang ranting dan dedaunan kering yang menempelnya. "Aish... ada-ada aja anginnya. Datangnya tiba-tiba kroyokan lagi," celetuk Lily sembari mengibaskan rambutnya. Membuat sebuah gerakan yang membuat mata Cleon tak berkedip. Lily melepaskan ikat rambutnya. Sejenak, niatnya membuang dedaunan dan ranting-ranting yang menempel itu pun seperti menaruh visual tersendiri dalam mata bening Cleon. "Cle? Hallo?" ucap Lily mengagetkan Cleon. "Aku yang mestinya tanya. Kamu ada apa? Kenapa bengong?" "Ouh, bengong? Aku nggak bengong, kok. Cuma tadi mau bersihin rambut kamu, tapi kamu malah," tutur Cleon setengah gugup dan ragu. Tangannya kini refleks menggaruk kepala, padahal tidak ada gatal yang tampak dari rambutnya. Masih rapi dan terlihat bersih. "Hm, yaudah. Oh ya, tadi mau ngomong apa?" "Begini, Ly. Aku justru kawatir kalau kamu begini cemasnya. Padahal, kita belum memulainya. Semua yang akan kita lakukan, niat kita harus yakin dulu. Itu yang paling penting," tutur Cleon dengan nada bijaknya. "Bagaimana kita yakin akan mengalahkan musuh di depan sana? Kalau kita sendiri tak yakin dengan diri sendiri? Hum? Iya 'kan?" "Maafin aku, Cle. Aku gak bermaksud." "Sssttt, kamu ndak salah. Udah, ya. Sekarang minum. Tenangin diri. Kamu pasti capek 'kan?" Lily mengangguk. Mengambil minuman yang diberikan Cleon untuknya. Lily sedikit menoleh ke arah Cleon. Ia tampak melihat sisi Cleon yang berbeda sekarang. *** Matahari mulai menenggelamkan dirinya. Bersiap pamit, berbaju merah merona. Sore itu langit tampak kemerah-merahan. Tak seperti biasanya. "Gimana? Udah siap lanjut?" seru Cleon. "Udah, yah. Ayoo!! Nanti kesorean." Lily nampak lebih bersiap diri. "Hati-hati ya, Cle." "Tenang." "Sini... mau aku gendong?" Cleon menawarkan punggungnya pada Lily. "Apaan sih! Gajelas deh mulai!" "Kali aja masih ngelantur lagi mimpinya. Biar tak jagain tapi tetep jalan," goda Cleon. "Nggak! Udah sadar kok. Nyawanya udah kumpul!" "Syukurlah. Beneran udah siap lanjut, nih?!" "Iya. Udah siap, ko. Jalan kaki lebih enak," pintanya. "Yasudah, ayo. Berangkat!!" "Ayoo!!" "Eh, Rosy?" "Rosy di depan tadi. Kayaknya dia terlalu bersemangat." "Kejar, Cle!" "Gausah. Gapapa. Mending kejar kamu aja," goda Cleon. "Apaan sih! Mulai deh!" "Ly!" panggil Cleon dengan nada lembut. Ia berjalan mendekati Lily. Satu per satu langkahnya kian mendekatkan diri dengan Lily. Pandangan mata tak dapat dihindari. "Cle, ada apa Cleon?" "Aku mau bilang sesuatu." "Hum? Apa lagi?! Aku udah gak cemas, ko. Sedang belajar menata niat juga." "Uhm, bukan itu." "Lalu, apa?" Tanya Lily mengernyitkan dahi. Penasaran tak henti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN