Melarikan Diri

1008 Kata
"Nggak! Tuh ikat rambutmu hampir jatuh lagi," ucap Cleon menarik ikat rambut Lily dan menaruh di tangannya. "Heh! Cepet!! Jangan berdiri aja disitu! Jangan bilang mau dikuncirin!" "Hih! Ngeselin!" Mereka berjalan kian menjauh dari hutan sebelumnya. Langit yang memerah, tak diperhatikannya. Entah memakna apa sebuah warna merah di langit. Apakah serupa wajah yang memerah marah pada manusia? Wajah kesal Lily melihat Cleon menjahilinya, kini semakin terlihat jelas. Sebenarnya, Cleon mungkin hanya sedikit ingin menghiburnya. Memastikan dia tidak terlalu cemas dan kawatir lagi. *** Sementara, Rosy berjalan jauh sendirian. Cukup jauh dari Lily dan Cleon. Gadis yang agak misterius itu memang lebih suka berjalan sendirian agaknya. Setiap kali melihat Lily dan Cleon bercakap-cakap atau berantem kecil, ia baru mulai menunjukkan ekspresi kesalnya. Ujungnya, ia akan lekas membuat keputusan untuk menjauh dari mereka berdua. Rosy. Gadis tanpa ekspresi yang sangat tak menyukai hal-hal yang menurutnya tak penting dan sangat berisik untuk dibicarakan. Langkah kakinya agaknya tak bergetar, meskipun ia berjalan dan berhenti sebentar. Sesekali melihat ke belakang. Memastikan Lily dan Cleon juga di belakangnya. "Apa-apaan sih mereka berdua? Lagi kondisi begini, sempat-sempatnya bercanda sok manis!" gerutu Rosy sendiri. "Aku benci Lily! Aku benci semua orang di dunia ini!" kesalnya. "Aku benci keributan! Aku benci semua orang di dunia ini! Kecuali... kecuali ayah dan ibu. Ayah, Ibu, apakah kalian bahagia di surga?" Gumam Rosy seraya menitikkan bulir mata dan jatuh ke pipi. Ia berjalan sambil sesenggukan. Menahan tangisnya sendiri. "Kenapa dunia ini penuh dengan orang-orang menyebalkan? Emang gaada manusia lain? Kenapa harus bertemu mereka? Kenapa mesti ada aku di sini? Lily! Aku sama sekali gak suka! Benci!!" Gerutunya. Melihat berbagai binatang berlalu lalang, turut memenuhi kebingungannya. Matanya melihat ke kanan dan kiri jalan hutan, ia kembali berjalan. Sepatunya mulai akrab dengan debu. Pun angin yang membelai lembut rambutnya yang terurai begitu saja. "Kenapa aku tiba-tiba di sini?" gumam Rosy terlihat kebingungan. "Aku mau kemana? Aku gak bisa pulang. Lagian, pulang kemana?" celetuknya. "Oh, ya! Mending aku ke hutan di sebelah sana aja. Siapa tahu di sana sepertinya ada rumah." "Aku bisa istirahat sepuasnya. Yey!" Raut wajahnya seperti menemukan cahaya yang dirindukannya. Dihapusnya rintik air mata yang sempat membasahi pipinya. Sinar matahari yang sayup-sayup hangat, menerpa tubuhnya yang kurus tinggi. Tak jauh dari tempat dimana ia berdiri, tak ada yang tahu bahaya atau tidak yang mengintainya. "Aku harus cari jalan lain, biar mereka berdua galiat aku ke sini. Oh, ya lewat sana!" Rosy mencari celah jalan lain. Ia menerka. Membaca sekitar, yang sekiranya tak kan bisa dilihat Lily dan Cleon. Langkahnya mengendap-ngendap. Seolah berjalan di lorong gelap. Mendiamkan berbagai suara. Hanya kicau burung yang sibuk bernyanyi sesuka ria. Kresss!! Suara dedaunan kering yang diinjaknya, membuatnya cemas. Matanya sesekali melihat ke belakang. Memastikan tak ada seorang pun yang mengikutinya. Pun tak ada orang yang melihatnya. Keringat mulai mengucur dari perempuan itu. Kini, ia terlihat begitu yakin dengan pilihannya. "Aku harus segera kesana! Ya! Aku harus kesana!" Rosy sedikit berlari.Sesekali mengendap. Melihat kembali ke belakang, ia merasa sudah cukup jauh dari rumah. Deretan bambu yang gemerisik diterpa angin menyambutnya. "Ahh, akhirnya sampai juga." Ia segera masuk ke rumah itu. Sebuah rumah yang berhasil membuatnya penasaran. Meski di dalamnya cukup berdebu. "Kenapa rumah ini seperti aku pernah melihatnya? Tapi, dimana?" gumam Rosy. "Apa ada orang di dalam?" Rosy mengetuk pintu dan bertanya. Tapi tak ada satupun suara yang menjawabnya. Hanya burung-burung yang kian berkicau dengan riangnya. "Ahh, kayaknya emang gaada orang. Aku masuk aja deh. Rosy numpang istirahat di sini, ya." Ia berbicara pada dirinya sendiri. Tali sepatunya mulai lepas. Tak ia sadari, sepanjang perjalanannya, sudah cukup membuat keringat kian tak terhenti. Ia masih teringat dengan rasa kesalnya pada Lily dan Cleon. "Aku sebenernya dimana?" Rosy mulai heran. Wajahnya penuh bingung melihat sekelilingnya. Matanya menoleh ke kanan dan kiri. Yang ada sebuah tembok penuh nada bisu. Sunyi. "Rumah buku? Buku? Buku?" gumam Rosy mengulang kata buku dari benaknya. Seolah sedang memastikan sesuatu hal di ingatannya. "Kenapa aku harus melihat buku? Sesuatu yang membuatku teringat hal itu. Yah, gudang, ibu tiriku. Ah, itu sudah sangat cukup menyesakkanku. Bagaimana bisa aku di sini saja harus melihatnya?" tutur Rosy terheran sendiri. Beberapa orang, bisa mengatakan sembuh pada dirinya, saat berhasil atau setidaknya merasa berhasil dengan apa yang selama ini diusahakannya. Sementara, dari orang-orang itu... ada juga yang berbeda. Mereka bukan hanya memerlukan waktu satu atau dua hari. Melainkan berminggu, bulan, bertahun, atau bahkan selama hidupnya. Perihal maaf dan memaafkan diri dari segala kepedihan memang tak mudah. Kita tak bisa membandingkan kepedihan yang kita alami dengan kepedihan yang dialami orang lain. "Kenapa? Kenapa, Tuhan?!" gumam Rosy. Rambutnya yang tergerai, ia biarkan tersapu angin begitu saja. Ia tak begitu memedulikan tata rambutnya. Pun, tak begitu memedulikan apa yang kini dipakainya. Semuanya, barangkali memang wajar, tapi bukan dianggap sepele. "Bagaimana bisa aku tetap di sini? Aku bingung. Kenapa tempat ini juga mengingatkanku dengan hal itu?! Siaal!!" pekiknya. Kembali, Rosy berjalan perlahan menyusurinya. Tak ada harapan atau keinginan berlebihan barangkali itulah Rosy. Entah, hidupnya kini untuk apa. Apakah ia memutuskan sepenuhnya hilang dari dunia nyata? Rosy berhenti sejenak. Kepalanya ia dongakkan sejenak. Sesekali menengok ke kanan dan kiri. Memastikan tak ada lagi ancaman atau bahaya yang menghampiri. "Ini tempat apa? Aku dimana? Apakah aku tidak apa-apa bersembunyi sejenak dari mereka berdua? Sungguh aku sangat muak!!" Kesalnya. Terdengar suara mesin tik dari sebuah ruangan. Karena penasaran, Rosy mencari darimana suara itu. Disusul sebuah suara perempuan setelahnya. Matanya yant begitu antusias, seakan memacu langkahnya untuk pergi dan perlahan mengendap lekas. Tak ada yang tahu misteri apa di hadapan dunia ini. Bahka, untuk satu detik pun kita tak ada yang pernah tahu. Rosy kian penasaran. Apa sebenarnya yang sedang ia lihat? Langkahnya mengendap. Mencari-cari sumber suara. "Hah? Dia siapa? Aku sebenernya dimana?" Rosy kaget. Melihat ada seorang perempuan di sana. Craak!! Ia tak sengaja menjatuhkan vas keramik. "Siapa itu?!" pekik suara perempuan sedikit parau. Rosy seperti ketakutan, ia pun tak jadi berteduh di sana. Sekonyong-konyong, langkahnya berlari sejauh mungkin. Menjauh sejauh-jauhnya rumah itu. "Hah? Apakah aku sudah aman?!" gumam Rosy membungkukkan diri. Mengatur napasnya yang tersengal. "Heh!" Sebuah suara dan tangan seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN