Ancaman Dua Penjaga

1027 Kata
"Heh!" "Hah?! Kamu siapa?!" seru Rosy panik. Ia menutup telinganya dan memejamkan mata. Seraya berteriak. "Tolong, jangan sakiti aku. Tolongg!!" "Heh! Ros! Ini aku, Lily. Kamu kenapa?!" ucap Lily setengah menahan tawanya. "Hah? Lily? Kenapa ada disini? Aku dimana?!" ucapnya linglung. "Semestinya kami berdua yang nanya, kamu kenapa? Kamu habis darimana?" tutur Lily. "Kita berdua nyariin kamu lo, eh taunya di sini. Habis darimana sih?" Lanjutnya. "Ceritanya panjang, Ly." "Yaudah, kamu duduk dulu, ya. Ini minum," sapa Cleon yang dari tadi hanya mencoba mendengarkan penjelasan Rosy. "Makasih, Cle." "Sama-sama." Cleon memerhatikan arah dimana Rosy ketakutan. Ia seperti mengingat sesuatu tapi tak dikatakan apapun. "Gimana, Cle? Sudah petang. Mau lanjut atau gimana?!" tanya Lily kebingungan. "Ros, maaf nih. Berhubung sudah petang, kamu masih kuat jalan ndak? Nanti dibanti Lily. Yah?" "Bukan apa-apa. Kalau udah petang gini dan kita belum sampai di gua itu, aku takut ada hal yang gak diinginkan," tutur Cleon. "Maksudnya, Cle?" Lily terlihat mulai kawatir. "Binatang buas atau hal-hal yang kita tak bisa duga sama sekali, biasanya menyerang saat petang sampai malam. Kita harus segera temui gua itu," jelas Cleon. "Aku yakin kita hampir sampai." Lanjutnya. "Baiklah. Aku juga udah gapapa. Cuma panik aja tadi," ucap Rosy. "Syukurlah. Ayo, aku papah, Ros." Lily menawarkan diri. Ia membantu Rosy berjalan. "Makasih, Ly." Lily tersenyum dan berlanjut jalan. "Kalian berdua jalan di depan aja. Aku yang kawal. Aku takut kalian kenapa-napa," pinta Cleon sembari memerhatikan kondisi sekitarnya. "Baik. Ini lurus aja?" "Iya, Ly. Lurus aja." "Ok." "Hati-hati kalau ada yang mencurigakan. Jangan melamun." "Iya, Cle." "Ayo, Ros. Kita harus segera ketemu gua itu. Biar kita bisa istirahat dulu," ucap Lily. "Kamu masih kuat jalan 'kan?" tanyanya pada Rosy. Rosy menganggukkan kepala. Cleon berjalan di belakang mereka berdua. Sesekali menengok ke arah kiri jalan. Melintas binatang lewat. Ia abaikan. Sesekali menengok ke arah kanan. Rimbun pepohonan dengan angin yang cukup berdesir dinginnya. Langit sudah mulai memudarkan merahnya. Gelap sudah mulai jadi atap mereka bertiga. "Gimana Cle? Sudah ada tanda-tanda pohon yang dimaksud Kakek?" tanya Lily. "Oh iya. Kalian masih ingat 'kan?" "Masih. Kata Kakek, gua itu ditutupi dua pohon besar yang nampak kebar. Benar?" ucap Lily nampak bersemangat. "Ya. Ingatanmu bagus juga rupanya." "Iya, dong. Lily!" "Cle! Liat, Cle!" seru Lily. "Apasih?!" "Itu bukan? Itu bukan pohonnya? Dua pohon besar berjejer yang seperti kembar. Lihat deh. Perhatiiin bener. Iya kan?!" Lily menunjukkkan ke arah depannya. Nampak dua pohon besar di sekeliling pohon yang tak begitu lebat. Keduanya memang seperti kembar. Mulai dari ranting, struktur batang, dan daun-daun yang rimbun. "Oh My God! Ini pohon seperti hidup. Aku baru pernah lihat pohon seperti ini," ucap Cleon kagum. "Iya. Indah sekali." Bersamaan dengan Lily dan Cleon yang memerhatikan pohon itu, tiba-tiba dari arah tak terduga, muncul dua orang tak dikenal. "Kalian siapa?!" ucap kedua orang itu serempak. Seraya berjaga dengan pedangnya. "Maaf, saya Cleon. Ini dua teman saya Lily dan Rosy. Kami berdua diminta Kakek dari timur sana untuk kesini," tutur Cleon. "Kakek dari timur?! Apa maksud kalian datang kesini?!!" seru kembali dua orang yang berpakaian seperti pasukan perang itu. "Kami dipercaya Kakek dari timur itu untuk menyelesaikan misi suci. Kami tidak ada niat jahat apapun. Ijinkan kami berteduh sementara ke gua di sana," lanjut Cleon menjelaskan. "Kalian benar utusan Kakek Marimba?!" Cleon terdiam sejenak. Selama ini memang Kakek tak menyebutkan namanya. Ia menyembunyikan identitasnya. Cleon tak menjawab. "Kenapa kalian diam, hah?! Kalian coba bohongi kami yah?!" "Tunggu! Tunggu dulu. Biar saya yang jelaskan," ucap Lily. "Begini. Kami bertiga memang tak mengenal nama Kakek itu. Kami hanya dari timur dan hanya kenal satu Kakek di sana. Kami pikir, tak ada alasan kalian menuduh kami berbohong," jelas Lily meyakinkan. "Sudah banyak yang mengaku seperti itu. Gua yang kalian mau masuki itu bukan sembarangan! Kami harus meyakinkan kalian benar-benar utusan Kakek Marimba!!" hardik dua orang penjaga itu. "Gimana, Ly? Kamu punya ide?!" bisik Cleon. "Sebentar. Aku saja yang bicara." "Kami semua punya buktinya!" ucap Lily begitu bersemangat dan yakinnya. "Apa?!!" "Nih! Kami semua punya tiga gelang yang sama. Kalau kalian mengenal Kakek Marimba, pasti tahu makna gelang ini. Dan Kakek gak mungkin ngasih sembarangan," jelas Lily. "Asal kalian tahu, Kakek sendiri yang memberikan ini pada kami. Jadi, tak ada alasan kalian menahan kami. Atau... mau kami balik ke gubug Kakek, dan bilang kalian tidak sopan pada kami, hah?!!" Lily balik menghardiknya. Dua orang penjaga itu menarik kembali pedangnya. Wajahnya terlihat terburu-buru dan salah tingkah. Mereka saling beradu pandang. Seolah membisikkan sesuatu. "Gimana, ini, Ly? Gimana kalau gak berhasil?!" ucap Rosy. "Tenanglah, Ros. Aku yakin mereka akan mengerti." Jawab Lily menenangkannya. "Baiklah. Kami berdua ijinkan kalian masuk! Tapi dengan satu syarat!!" ucap kedua penjaga itu. "Syarat? Apa maksudnya?!" "Kalian harus yakin akan menyelesaikan misi suci Kakek Marimba! Gua ini bukan tempat main-main. Seperti misi yang akan kalian emban. Gua ini pun gua suci," tutur salah satu penjaga itu. "Gua ini bukan gua sembarangan. Tidak boleh untuk melakukan hal yang merusak alam, atau berbuat tidak baik. Kalau tidak, kalian akan merasakan sendiri akibatnya." Lanjutnya. "Baik. Kami bertiga mengerti. Sekarang, bolehkah kami melanjutkan ke sana? Teman kami sedang melemah dalam perjalanan. Perlu istirahat," tutur Lily berusaha menjelaskan apa adanya. "Jaga diri kalian baik. Selesaikan misi itu!" Seru kedua penjaga itu. Lily menganggukkan kepala. Mereka bertiga pun mulai berjalan lagi. Masuk dan melewati dua pohon besar yang nampak kembar itu. "Li, kamu hebat!" seru Cleon. "Lagian kamu gamau ngadepin! Malah bisik-bisik!" sangkal Lily. "Bukan gitu. Biasanya lebih mudah kalau yang ngejelasin perempuan. Tau sendiri kan tadi? Pas awal aku jelasin gimana? Mereka malah menodongkan pedangnya," ucap Cleon. "Halaaah alasan aja. Bilang aja takut. Ya kan?!" ledek Lily. "Nggak lah! Kalau aku takut, dari tadi gamungkin aku kawal kalian!" "Halaaah bilang aja takut 'kan?" Lily terus saja meledeknya. Hal itu membuat Rosy melepaskan tangan Lily yang sedari tadi membantunya berjalan. "Aku sudah bisa jalan sendiri." Ucap Rosy tiba-tiba melepaskan tangan Lily dan berjalan ke arah gua sendiri. "Ros, tunggu! Kamu gaboleh sendirian!" pekik Lily seraya mengejarnya. "Aih... anak itu selalu memulai sendiri. Nanti kalau hilang lagi, aku yang repot lagi," gumam Cleon. "Ros, tunggu, Ros. Awass!!" Pekik Lily. *** Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka bertiga setelah sampai di gua yang dimaksud? Apa yang akan ditemuinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN