Sejarah?

1006 Kata
"Apa, Cle?!" "Biar aku periksa dulu. Kalian berdua tunggu di sini. Yaah?!" pinta Cleon. Ia berjalan menyusuri gua. Senter yang sudah disiapkannya pun turut menemaninya. Matanya jeli memerhatikan setiap sudut yang ditemui. Stalagtit dan stalagmit mulai terlihat di mata Cleon. "Aman! Ayo kemari!" pekik Cleon. "Ayo, Ros!" "Masih kuat jalan?!" Lily mengulurkan tangan untuk membantunya. Namun, seketika ditampik Rosy. "Ros? Kau marah padaku?" Tak ada jawaban. Rosy melaju begitu saja meninggalkan Lily sendirian. "Ros! Kamu kenapa?!" "Sudah! Bisa diem nggak?! Aku capek!" keluh Rosy. "Sudah-sudah. Kita istirahat di sini," ucap Cleon sembari menunjukkan area gua yang nyaman untuk beristirahat. "Aku mau sendiri!" pinta Rosy. "Baiklah. Tapi harus tetap dalam jangkauan. Kita tak tahu pasti ada apa aja di dalam gua ini. Yah?" Rosy mengangguk perlahan saja di depan Cleon. Sementara, Lily dibuat bingung oleh tingkahnya. "Sudah, nggakpapa." Cleon menepuk pundak Lily. "Sudah sana istirahat!" "Hum." Hanya embusan napas kecil yang dijawab Lily. Membuat Cleon bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya mengusik Lily. "Kenapa eh? Kok manyun?" tanya Cleon. "Heh?! Mau ngobrol dulu? Kita duduk di sini," ucap Cleon. "Duduklah. Ada apa?! Hum?!" "Uhm... aku bingung Cle. Kenapa tingkah Rosy seperti tak menyukaiku? Apa aku berbuat salah padanya?" "Kamu merasa bersalah?" "Nggak tahu. Tapi sepertinya tidak." "Kalau begitu, lupakan. Jangan terlalu dipikirin. Yah?!" "Tapi..." Lily menjedakan ucapannya. Cleon memegang tangan Lily dan menenangkannya. "Ly... kita tak bisa mengatur arah hati manusia, tapi kita mengatur ritme arah hati kita sendiri. Jadi, jangan terlalu memberatkan diri. Yah?!" tutur Cleon lembut. "Ish... sejak kapan kamu bisa bersikap manis seperti ini?!" "Kamu aja yang baru nyadar. Lagian, jangan galak-galak. Kamu itu juga aslinya manis," celetuk Cleon. "Apa?!" "Enggak. Nggakpapa." "Apa tadi?!" "Kamu tuh udah galak jelek lagi! Wee!" ledek Cleon. "Ish... Cleon!!" "Bisa diem nggak?!" pekik suara Rosy. "Sssst..... ada monster," bisik Cleon. "Cle, nggak boleh gitu. Kamu malah....," ucap Lily perlahan. "Haha." "Lagian kamu." "Eh, apa yang sebenarnya akan kita lakukan di sini, Cle? Selain istirahat?" "Aku juga belum tahu pasti. Tapi yang penting kita yakin dulu aja, awal dari perjalanan misi itu adalah di sini." "Ya kan? Kamu masih yakin perkataan Kakek 'kan?" "Yaps. Kakek Marimba. Akhirnya kita tahu namanya." "Iya. Aku juga baru tahu." "Apalagi aku." Perbincangan cukup hangat malam itu. Sementara, Rosy berusaha menutup telinga dan matanya dari percakapan keduanya. Entah, apa yang sebenarnya dirasakannya. Bagaimana mengatur arah hati orang lain? Benar juga kata Cleon. Kita tak bisa mengarahkan arah hati orang lain. Mereka akan marah, sedih, terluka, gembira, dan lainnya bukanlah tugas kita. Pun, bukan sesuatu yang harus kita pastikan. Namun, cukup pahami saja. Ya, bagaimana memahami bahwa hati orang lain bisa saja mudah berubah-ubah. Tidak ada sesuatu yang benar-benar pasti dari segumpal darah itu. Sesuatu yang pasti adalah ketidak pastian bahwa memang segalanya mudah berubah. Tanpa pernah kita kenali sebelumnya. Kemana arah hati Rosy? Apa pula yang akan Lily lakukan untuk mencoba berdamai dengannya? Masih jadi misteri. *** Perjalanan sebenarnya bukan pada sejauh kaki melangkah, tapi bagaimana kita mengambil makna dari sejarah. Sejarah leluhur, budaya, dan termasuk sekeliling kita. Jika bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarah, pantas saja menjadi gaung yang tetap digemakan dimana saja. "Ly, kau mau istirahat?" tanya Cleon. "Aku belum ngantuk." "Oh ya, Cle. Apa kau menemukan tanda-tanda di gua ini?" "Tanda?" "Ya. Biasanya gua itu pernah disinggahi orang terdahulu sebelum kita. Apakah kamu merasakannya? Atau... melihat sesuatu yang ganjil?" cecar Lily penasaran. "Kenapa kau bisa bertanya seperti itu?" "Tidak mengapa. Saat dulu aku di sekolah, aku sangat suka pelajaran sejarah. Mungkin, hanya itu satu-satunya alasan aku tetap sekolah," tutur Lily mulai membuka diri. "Kenapa begitu?" "Aku melihat dunia yang berbeda. Sebuah dunia yang kita mungkin impikan atau bahkan kita banggakan, ternyata bukan apa-apa," Lily masih saja bercerita. "Maksudnya, Ly?" "Lewat sejarah, kita diajak mengerti. Memahami bahwa sebelum kita, kemungkinan orang yang lebih hebat sangat besar. Seperti sebuah peringatan untuk tidak berlagak sombong!" ucap Lily sambil mengucap kata terakhir itu ke wajah Cleon. "Lo? Kenapa sombongnya ke aku?!" "Kamu kan suka berlagak sok!" ledek Lily. "Jadi?" "Jadi... aku pikir ada sesuatu yang bisa kita jadikan petunjuk dari gua ini deh. Aku yakin banget. Pasti ada tanda lainnya." "Bagaimana bisa?" "Jangan menyerah. Kita akan coba nyari besok. Gimana?!" Cleon mengangkat bahunya ragu. Sesaat menggelengkan kepala. "Ayolah, Cle. Kamu pernah mendengar candi?" "Candi?" "Ya. Bangunan peninggalan zaman tertentu yang masih bisa dilihat manusia modern," jelas Lily. "Ya. Aku pernah denger. Kenapa emang?" "Candi itulah salah satu bentuk betapa orang terdahulu juga tidak sembarangan, Cle. Bisa membuat mahakarya begitu hebat. Pasti bukan orang bodoh 'kan?" "Bahkan... orang sekarang juga belum tentu bisa membuatnya." "Kamu benar juga. Terus hubungannya apa?!" "Intinya kita harus cari tanda itu! Aku yakin banget misi kita akan dimulai setelah mendapatkan petunjuk itu!" "Sudah malam, Ly. Ayo, tidur," pinta Cleon. "Yah, tidur! Kamu benar, Cle. Aku harus tidur. Siapa tahu petunjuk itu datang lewat mimpi." Lily segera bergegas ke arah Rosy. Tak jauh darinya, ia mulai menempatkan diri. Mencari area sandaran dan bersiap memejamkan mata. "Aish... cepat sekali itu anak larinya!" celetuk Cleon. "Tapi benar juga kata Lily. Gua dengan berbagak keindahannya seperti ini. Pasti sebelumnya sudah ada yang kesini. Gak mungkin tidak. Aku juga harus cari tahu petunjuk apa yang dimaksud Kakek!" Lanjutnya bertekad. Tak berapa lama kemudian, pagi mulai menyapa. Rosy sudah terbangun lebih dahulu. Melihat Lily masih terlelap, ia tak menghiraukannya sedikit pun. Tubuhnya yang tak begitu tinggi itu sedikit membungkuk. Berjalan menyusuri arah gua yang belum sepenuhnya ia jamah. Sesekali terdengar bunyi tetesan air. Namun, ia terus berjalan. Rosy terus berjalan. Sesekali menjedakan langkahnya. Diedarkannya arah pandang mata kemana saja. Stalagtit dan stalagmit, bunyi tetesan air, sampai bunyi yang tak diketahuinya itu apa, tapi ia terus berjalan. Tangannya memegangi dinding gua. Kakinya yang tak begitu jenjang seolah tak kenal lelah untuk menjamah setiap area gua. "Ini sebenarnya gua apa? Kenapa tak ada air? Bukankah tadi kudengar bunyi tetesan air?" gumam Rosy. "Aih... air... mana? Aku haus. Aku sangat haus!" Lanjutnya dengan suara melemah. Apa yang sebenarnya dicari Rosy sepagi itu? Kenapa pula tak membangunkan Lily dan Cleon agar bersamaan mencari yang dicarinya itu? Simak terus perjalanan mereka bertiga, ya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN