Ruang Cahaya

1211 Kata
Brugg!! Rosy jatuh tersungkur. Sementara, Lily mulai terlelap. Hanyut kembali dalam mimpi-mimpi. Lily masuk ke sebuah ruangan penuh cahaya. Tak ada gelap dari benda apapun di sana. Semuanya terasa seperti merasa adil atas pembagian cahaya. Namun, dari raut wajah seorang perempuan itu berbeda. Ada sedih yang tak tergambar mata. Matanya mengeja setiap kedipan mata dari seorang laki-laki di hadapannya. Laki-laki itu berbeda. Namun, berbeda bukan karena keinginannya sendiri. Bukan seperti ketika kita masuk sebuah toko, lantas memilih pakai baju berbeda. Atau, ketika perut sedang lapar, mampir ke warung makan dan kau memilih menu berbeda. Bukan, ini bukan menjadi berbeda sebab demikian. Perbedaannya sungguh tak pernah dipilihnya. Tak ada pilihan bagi hidupnya, kecuali terus mengedipkan mata kirinya. Karena hanya dengan itu, ia bisa bersuara. Menyampaikan maksud apa yang tersirat dari hati dan pikirannya. Perempuan yang duduk di sampingnya itu memiliki wajah yang penuh sabar. Jemarinyalah saksinya. Ia berkali-kali menunjukkan kepada seorang laki-laki yang tak berdaya—yang hanya mampu berkata lewat kedipan mata. Pernah kita membayangkan betapa sulitnya? "Ya Tuhan, orang itu kenapa bisa begitu?" Lily cemas melihat dari balik kamarnya. "Kenapa itu semua bisa terjadi? Sebenernya siapa orang itu?" "Kenapa begitu susahnya untuk menulis satu kata?" Suara cemasnya tak bisa terdengar mereka. Iapun terheran. Namun, Lily terus pandangi seorang laki-laki yang hanya berkata lewat kedipan mata kirinya. Ia melihatnya lekat-lekat. *** Lily kini di ruangan berbera. Ia tertidur begitu saja di ruang tengah. Sebuah gulungan kertas penuh tanda tanya tersimpan di saku baju hijaunya. Rambutnya tergerai panjang. Ikat rambutnya terlepas percuma. Seakan bosan di jerat-jerat rambutnya yang panjang. "Kamu! Kamu siapa? Kenapa di dekatku? Kenapa tahu namaku?" "Adik? Aku bukan adikmu! Aku putri satu-satunya dari orangtuaku. Ya, itulah aku." "Bukan, Nak. Kamu bukan anak mereka." Perempuan paruh baya itu berkata lembut dan sedikit batuk. "Tidak! Mereka memang orangtuaku! Kamu yang siapa? Ibu ini siapa?" "Kamu Lily Natalie kan? Kamu sendiri siapa?" "Apa kamu pernah bertanya kamu ini siapa anak manis?" Tutur perempuan paruh baya itu. "Heh! Tunggu!! Kamu siapa?" Lily terus mengejarnya. Perempuan paruh baya. Mengenakan baju kebaya. Dan, caping itu... itu bukankah perempuan yang menjatuhkan korek? Apakah benar, dia? "Tunggu!! Kamu siapa?" Ia terus berusaha mengejarnya. "Heh!! Tunggu!!" Napasnya terengah-engah mengejarnya. Perempuan yang dikejarnya akhirnya berhenti. Tanpa menoleh. Ia hanya berhenti. Pun, tanpa melepas capingnya. Ia hanya berhenti. "Kamu siapa? Dan... kenapa bilang aku bukan anak ayah dan Ibuku?" Deretan tanya keluar begitu saja. "Kamu pasti akan mengetahuinya, bocah manis." "Maksudnya? Kamu sendiri siapa? Heh!" Perempuan itu kembali berlari. Menjauh pergi. Seolah hilang begitu saja. Tanpa permisi. "Apa maksud perempuan itu?!" "Heh!! Lari kemana?!" Lily setengah kesal dibuatnya. Antara penasaran dan kesal. Kesal dan penasaran. Brugg!! Sebuah buku berwarna coklat menimpa tubuhnya yang terbaring. "Aduh!! Hah? Aku dimana?" Lily terheran. Ia baru sadar. Ternyata perempuan bercaping yang ditemuinya tadi hanya mimpi. Keringat mengucur deras di dahinya. Rambutnya yang tergerai panjang turut basah oleh keringat. "Tapi, perempuan yang di mimpi itu? Kenapa mirip sekali dengan perempuan bercaping yang membawa korek api sore tadi? Apakah ia perempuan yang sama?" Ia bertanya pada entah siapa. Lily mencari jam—tapi tak ada. Ia pun lupa tak membawa jam tangan. Tapi, agaknya sudah menjelang pagi. Kicau burung mulai terdengar. Aroma dingin tak begitu terasa. "Buku? Apa buku dari rak buku itu? Kenapa jatuh?" Kumala mendekati buku yang jatuh di sekitar tubuhnya. "DUNIA LILY. Hah, Namaku? Ah, ini cuma kebetulan." Ucapnya. "Buka atau tidak, ya? Ah, ngapain baca buku. Kurang kerjaan. Aku benci buku!!" Ditaruhnya kembali buku yang tergeletak itu. Bahkan, menaruhnya di rak pun ia enggan. Dibiarkannya buku bersampul coklat bertuliskan DUNIA LILY itu. "Ah, pasti Ayah Ibu mencemaskanku. Tapi, kalau aku pulang? PR Bahasa Indonesia itu. Ish, menyebalkan. Kenapa di dunia ini harus ada sastra dan buku-buku?" "Kenapa Ayah dan Ibu menamaiku Lily Natalie? Memangnya mahal mengganti nama, hah?" Ia kembali merutuki dirinya sendiri. Melemparkan tanya-tanya pada dinding kayu yang catnya layu. Pada beberapa rak buku dengan deretan buku berbagai rupa. "Tapi aku harus pulang dulu. Tapi... aku masih penasaran. Siapa perempuan bercaping itu? Kenapa ia mengatakan aku bukan anak ayah dan Ibu? Apa maksudnya? Aku akan kesini lagi besok sore. Siapa tahu bisa ketemh lagi dengan perempuan bercaping itu!" Tegas Lily. Ia pun merapikan rambutnya yang tergerai. Ikat rambut yang dicarinya entah menghilang kemana. Tak mau ambil pusing, ia langsung keluar gubuk yang lebih mirip rumah baca itu. "Aaaah, sejuknya. Indah sekali rupanya. Aku suka tempat ini. Siapa, ya yang ngebangun tempat seunik ini. Di tengah hutan pula. Tunggu aku lagi besok, ya! Aku mau ke sekolah. Daah!!" Lily seakan berbicara dengan makhluk bernyawa. Padahal, ia bicara dengan dirinya sendiri. Bermalam di rumah yang tak dikenalinya, seakan tak ada bekas raut wajah takut padanya. Padahal, ia masih anak-anak. Kenapa bisa seberani itu? Ia terus melangkah. Sandalnya yang terlepas, pun lupa dibawanya. Mungkin, terlalu semangat. Entahlah. "Sebentar, aku dimana? Kalau tadi aku mimpi, bukankah seharusnya sudah kembali bersama Rosy dan Cleon?" gumam Lily. "Ah, aku dimana?" Lanjutnya bingung. *** "Gimana mainnya? Seru?" "Seru banget! Nanti Lily pengin main lagi." "Yaudah, nanti main lagi. Tapi mesti tambah rajin belajarnya. Ok?" "Oh, ya. Lily baru inget. Ada PR dari Bu Guru." "PR apa sayang?" "Ehm, eh nggak ada. Gausah dikerjain aja. Males." "Eh, baru aja suruh rajin belajarnya. Kenapa males, Nak?" "Habisnya masa Lily aja yang dikasih PR. Temen Kumala lainnya nggak?" "Lo ko gitu, sayang?" "Iya. Kata Bu guru biar Lily rajin nulis. Padahal Lily kan gasuka. Enakan main." "Kamu dihukum?" Dia mengangguk. Aku kembali menanyakannya, "nggak ngerjain PR lagi?" Dia kembali mengangguk. "Kenapa nggak bilang, Nak? Lily kan bisa minta tolong sama Ibu." "Lily nggak suka pelajaran Bahasa Indonesia. Isinya ngebosenin. Cuma baca, nulis, baca, nulis. Kumala nggak suka!" "Naaak... ," "Lily nggak suka, Bu!" Ia berlari ke kamarnya meninggalkan boneka mainannya. "Hmm, masih saja kamu begini, Nak. Ya Allah, apa aku salah?" Lirih Ibunya. "Lily mana, sayang? Kok nggak ada?" "Tadi sore ngambek lagi, Mas." "Lo? Kenapa?" "Dia kesel karena cuma Lily yang dikasih PR sama gurunya." "Kok bisa? Bahasa Indonesia lagi?" "Iya, begitulah... anak kita selalu tak senang mendengar kata Bahasa Indonesiapun nampak sangat risih." "Padahal, PRnya cuma menulis. Menulis satu kalimat yang diulang dua puluh lima kali. Itu saja." "Apa aku salah ya, Mas?" "Ssst, udah. Jangan pesimis. Coba kamu bujuk lagi di kamarnya. Jangan bahas PRnya dulu. Yah?" Perintahnya lembut. "Baik, Mas. Aku coba bujuk untuk turun makan malam." "Naak... turun yuk, sayang. Sudah ada ayah yang nungguin Lily." "Nggak mau! Lily nggak mau ngerjain PR!" Teriaknya kesal. "Nggak sayang. Ayah nunggu Lily makan bareng. Kasian, tuh... ayah nunggu. Apa Lily tega liat ayah kelaperan?" Dia membuka pintunya. Seraya berkata, "tapi setelah makan, gausah ngerjain PR yah?" Ibunya mengangguk. Setuju. Atau lebih mirip pura-pura setuju. "Nah, anak ayah. Sini, makan bareng. Jangan ngambek terus. Nanti cantiknya luntur." Candanya. "Lily nggak mau nulis!" Ingatan Lily berlompatan begitu saja. Bagaimana ia ingat kejadian sebelumnya. Ia teringat saat marah kepada Ibunya, karena tak suka mengerjakan PR menulis. Betapa kesal sekali. "Mengapa harus menulis?" "Lily nggak mau nulis!" Teriakan itu memenuhi matanya. Mata yang melihat seseorang berusaha menulis satu huruf demi huruf dengan kedipan matanya. Bulir mata pun menetes dari Lily. "Laki-laki itu... kini di hadapanku kembali. Dia lumpuh total dan hanya dengan kedipan matanya mau menulis, sementara aku?" Gumamnya. "Ah, sebenarnya aku di mana? Kenapa tak ada Rosy dan Cleon di sini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN