Kisah Haru tentang Tekad dan Mimpi

1139 Kata
Karena menangis, seseorang bisa sedikit lega. Karena menangis pula, tak jarang justru kian tak reda sedihnya. Lily teringat sikapnya. Sebuah sikap yang begitu benci dengan menulis. Sebab kebenciannya, ia bisa marah kepada Ibu. Bisa membantah dengan Ibu guru di sekolah. Dan bisa membolos, pergi sendirian, ke hutan, dan sampailah ke dunia yang membuat menangis hari ini. "Apa aku begitu bersalah? Aku bukannya membenci menulis. Aku hanya tak tahu, begitu kesal saat teman-teman selalu meledek namaku. 'Namanya aja lembut, tapi gabisa nulis. Aneh!' Dan segala kucilan mereka." "Ibu di rumah tak pernah tahu. Pun juga ayah. Juga Ibu guru di sekolah. Aku tak pernah mengadu sedikitpun. Aku luapkan itu dengan marah. Marah dan kesal semua yang berkaitan dengan nama belakangku." Tik... tik... Suara keyboard dari pendamping laki-laki yang hanya memiliki mata untuk berkata itu tak terhitung sabarnya. Sudah berapa kali ia menunjuk setiap huruf di keyboard untuk tahu maksud dari apa yang ingin dikatakan laki-laki tersebut? Tapi pendampingnya tak pernah protes. Tampak tak ada gurat kecewa dalam wajahnya. Pun raut penyesalan, sedikitpun tak ada. Yang ada seperti air yang jernih. Membuat siapa saja di dekatnya, merasakan sejuknya. Laki-laki yang terbaring itu menjedakan kedipan mata kirinya. Lily tak tahan lagi melihatnya. Iapun berlari terburu. Berbalik arah, berlari secepatnya. "Awggh! Maaf, Pak." Tak sadar, ia menabrak seorang dokter yang sedang berjalan ke arah kamar laki-laki yang lumpuh total itu. "Adek darimana? Kenapa buru-buru?" Tanyanya sopan. "Eh... egh... enggak darimana-mana, Pak Dokter." Jawab Kumala gugup. "Habis dari sana, ya?" Dokter itu menunjuk arah kamar laki-laki yang baru saja ditemui Lily. Lily mengangguk. "Mau ikut Pak Dokter sebentar? Ada yang perlu Adek lihat lagi." "Kemana, Dok?" "Nanti saja. Nanti bakal tau sendiri." "Oh ya, nama adek ini siapa? Darimana?" "Nama... ehm nama saya Li... . Tidak, nama saya Lily, Pak Dokter." "Ouh, Lily. Nama yang cantik." Lily tersenyum. Baru kali ini ia mendengar pujian dari orang asing, setelah perkenalan namanya. Biasanya saat perkenalan, ia akan mendapati semacam penagihan-penagihan janji. Yang Lily sendiri tak pernah menjanjikan apa-apa. Seperti, "Wah, pasti suka bunga ya? Namanya begitu lembut?" Padahal, Lily tak merasa berjiwa lembut. Ia lebih suka memberontak dan ingin bebas. *** "Pak Dokter, emang ada apa di tempat sana nanti, Pak?" tanya Lily penasaran. "Ada hal yang pengin Pak Dokter sampein ke Nak Lily. Siapa tau Lily senang." "Waaah apa ya." Lily kian penasaran. "Naaah, disitu tempatnya. Gimana?" "Sejuk. Ada pohon tabebuya kuningnya. Lucu." "Nak Lily bisa duduk di kursi di bawah pohon sana. Ayo!" Pak Dokter yang tak menyebutkan namanya itu kian bersemangat. Semakin bersemangat saat melihat Lily begitu riang melihat tempat itu. Lily tampak senang sekali. Sebuah bukit dengan pemandangan laut. Di tempat ketinggian itu, ia bisa merasa bebas. Dan saat menghadap ke belakang sana, lautan terbentang begitu luasnya. Senada lautan sabar yang siap menerima segala apa. "Indah sekali. Cantik." "Nak Lily suka?" "Suka Pak Dokter. Ini baru Lily lihat laut dari ketinggian. Indah sekali." Rambut Lily yang semula dikuncir kuda, selalu terlepas begitu saja. Tinggallah, tergerai bebas. Diterpa angin. Meliuk-liuk dingin. "Naak... " "Iya, Pak Dokter?" "Nak Lily tau laki-laki yang tadi di ruang sana siapa? Yang baru dilihat." "Tidak, Pak Dokter. Lily juga bingung kenapa ada di sini." "Dia redaktur majalah terkenal, Nak." "Redaktur itu apa?" "Nak Lily tau penulis?" Ia mengangguk. "Kalau jurnalis?" Lily seperti memikirkan sesuatu. Lalu mengangguk lagi. "Apa?" "Penulis itu... yang suka sama buku. Jurnalis itu... yang suka sama buku juga. Tapi sering ngobrol sama laptopnya. Seperti Ayah." "Ayah Lily seorang Jurnalis?" "Kata orang-orang sih iya. Ibu Lily penulis. Ayah Lily Jurnalis. Tapi Lily gak suka dua-duanya." "Lho, kenapa?" "Gapapa. Gasuka aja." Ia seperti berusaha memendam sesuatu. "Redaktur itu... kepala. Pemimpin penulis dan jurnalis, sayang." "Berarti lebih hebat dari Ayah dan Ibu?" Pak Dokter mengangguk. "Lebih tinggi posisinya." "Lalu, kenapa jadi begitu?" "Bukannya jadi gak bisa nulis lagi?" "Seperti yang Dek Lily lihat. Dia tetap bisa menulis. Meski hanya lewat kedipan mata kirinya." "Dokter, perawat di sini sangat menyayanginya. Karena kegigihannya menulis. Kami ingin membantunya sekuat tenaga." "Kenapa begitu ingin menulis? Kenapa gak pengin sembuh cepat-cepat saja?" "Dia ingin menulis buku." "Hah?" "Karena itu dia terus menulis. Ia yakin, bisa terus menulis." "Sebenernya, yang Nak Lily lihat hanya cermin." "Maksud Pak Dokter?" "Iya. Yang tadi Nak Lily lihat adalah masa lalu seorang redaktur majalah terkanal. Sebelum ia meninggal." "Namanya Jean-Dominique Bauby. Sini, Nak. Biar Bapak ceritakan kisahnya." Dokter yang tak menyebutnya siapa namanya itu menunjukkan sebuah tablet. Ia memperlihatkan sebuah video, dengan dirinya yang terus bernarasi. "Tahun 1995, Bauby terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang disebut locked-in syndrome, kelumpuhan total yang disebutnya seperti pikiran di dalam botol." "Memang ia masih dapat berpikir jernih tetapi sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kirinya." "Jadi itulah cara dia berkomunikasi dengan para perawat, dokter rumah sakit, keluarga dan temannya." "Walaupun kondisinya sulit, Bauby tidak bisa berbicara ataupun menulis, dia punya tekad yang sangat besar. Dia ingin menulis buku yang berjudul 'The Diving Bell and the Butterfly' dengan cara berkedip." "Asistennya akan menunjukkan padanya secara lambat alfabet dan dia akan berkedip pada huruf yang dipilihnya. Bauby mengarang dan mengedit buku dengan dibantu oleh Claude Mendibil yang menyusun huruf alfabet untuk memudahkan Bauby." "Huruf demi huruf dirangkai, kata demi kata dijalin menjadi memoar hidupnya. Hasilnya adalah 173 halaman buku yang diberi judul 'The Diving Bell and the Butterfly'. Bukunya dipublikasikan di Perancis pada tanggal 7 Maret 1997." "Dia mendiktekan pengalamannya selama dia mengalami sakitnya. Dia mengatakan bahwa betapa sulitnya bagi dia walaupun hanya untuk menelan ludah. Tapi buku itu bukan hanya berisi kisah sedihnya tetapi juga ada sukacitanya." "Dia ingin pembacanya tahu bahwa dia tetap bisa merayakan hidup dan melakukan sesuatu untuk orang lain." "Ada juga bagian yang menyentuh yaitu saat Fathers Day, dia mengatakan bahwa anaknya tinggal beberapa inci di depan wajahnya, dia ingin menyentuh rambut anaknya dan ingin memeluknya tetapi dia tidak bisa. Mengharukan. Bauby meninggal dunia dua hari kemudian setelah bukunya diterbitkan akibat penyakit pneumonia." "Tahun 2007 film tentang kehidupannya dirilis dengan judul yang sama dengan bukunya "The Diving Bell and the Butterfly" dan dibintangi aktor Mathieu Amalric sebagai Bauby." "Film ini mendapatkan penghargaan dan nominasi termasuk the Best Director Prize di Cannes Film Festival dan di Golden Globe Award untuk Best Foreign Language Film & Best Director, dan mendapatkan 4 nominasi Academy Award." "Nak... kamu kenapa?" Dokter yang tak menyebutkan namanya itu melihat Lily terdiam. "Gapapa, Pak Dokter. Lily cuma keinget Ibu. Lily pernah kesal sama Ibu, cuma karena gamau ngerjain PR tentang menulis." "Kamu kangen Ibu, Nak?" Lily mengangguk. "Mari, sini... berdirilah. Lihat laut luas sana. Perhatikan ombaknya." "Rasakan Ibu Lily menjemput Lily dengan bahagia. Pejamkan matanya, sayang." Lily hanya menuruti perintah Dokter yang tak dikenalnya itu. *** Apa yang akan terjadi pada Lily selanjutnya? Akankah dia langsung kembali ke gua atau justru kehidupan nyata? Atau... ia akan menjumpai hal lain di alam mimpinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN