Cermin Refleksi

1150 Kata
Sesaat setelah Lily memejamkan matanya, ia melihat bayangan dirinya di langit. "Itu aku?" tanya Lily pada Dokter yang tak dikenalinya itu. "Ya. Itu cermin refleksi. Dimana saat pulang nanti, bisa jadi kau akan seperti itu." "Bisa jadi?" "Ya, itu hanya kemungkinan peluangnya. Kamu pernag belajar matematika 'bukan?" "Segala hal punya kemungkinan." Seperti anak kecil yang mencari panutan di hutan rimba. Tangisnya tak pernah terdengar kita. Lebih sering terdengar, oleh dedaunan dan gemerisik angin. Mungkin, sebab itu ia memilih bisu. Menajamkan telinga. Membuka mulut hanya untuk bicara dengan mereka: pohon dan bunga-bunga. Anehnya, seseorang mencecar, "Dasar, anak kecil menyedihkan!" Dia seperti tak punya mata untuk melihat diri, "Apa yang paling menyedihkan dari orang dewasa yang tak punya kepedulian pada orang lain?" Dialah yang paling menyedihkan. Tak jarang, Lily memikirkan itu. Ia merasa seperti tak dipedulikan sekitarnya. Terutama teman-temannya. Sebab itu, di sekolah ia sangat pendiam. Lebih memilih tak berkomentar apapun. Saat sudah tak kuat, ia akan memberontak, lalu pergi entah kemana. Seperti kemarin hari. Saat ia tak mengerjakan tugas menulis, dan Ibu gurunya menagihnya. Karena ia sudah amat kesal, jadilah pergi sendiri. Entah kemana. *** "Lihatlah bagaimana cermin refleksi itu, Nak. Lily." Tutur Dokter itu. Lily hanya menganggukkan wajah. Ia terus menyaksikan bagaimana cermin refleksi itu memutarkannya. "Hah? Aku harus segera pulang! Ibu dan Ayah pasti nyariin aku!" Pekik Lily dalam cermin refleksi. Lily segera menutup buku DUNIA LILY yang dipegangnya. Dan menaruhnya di rak buku semula. Sepanjang perjalanan, ia bertanya-tanya. "Sebenernya apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ke tempat laki-laki yang menulis dengan kedipan mata itu? Bertemu Pak Dokter yang bijak, dan sekarang kembali ke hutan? Apa aku hanya mimpi?" Lily setengah berlari. Kian berlari menuju jalan pulang rumahnya. Di teras rumah, Ibunya sudah cemas menantikannya. "Ibu...," Lily setengah berteriak. "Nak, kamu darimana saja? Ayah nyariin kamu belum ketemu daritadi." "Kata Ibu guru di sekolah, kamu bolos, Nak?" Lily mengangguk. "Gapapa. Ayo, masuk. Kamu pasti capek. Maafin Ibu ya sayang." Lily malah heran. Kenapa Ibunya malah meminta maaf. Ia sudah takut bukan main akan dimarahi. Namun, malah sebaliknya. Ibunya tetap rama kepadanya. "Kamu bersih-bersih dulu, ya. Ibu tunggu di sini." Lily menuruti perintah Ibunya. Ia segera ke kamar mandi. Membersihkan diri. Tak lama kemudian, ia menemui Ibunya kembali di ruang makan. "Bu, ayah dimana?" "Ayah tadi nyariin kamu kemana-mana, Nak. Mungkin, sekarang masih di sekolah." "Ibu telepon dulu ya?" Lily mengangguk. "Yahh... ganyambung." Kekawatiran kini menyelimuti Daisy. "Bu, maafin Lily. Gara-gara Lily yah dan Ibu jadi cemas." Mendengar anaknya berkata nan lembut, Daisy menjedakan teleponnya yang terus memanggil. Dipeluknya anak satu-satunya itu. "Sayang... maafin aku anak kita belum... " Ayahnya tiba-tiba membuka pintu masuk. Ia tak jadi melanjutkan kalimatnya. "Anak Ayah. Kamu darimana saja, hah? Bikin ayah pusing saja." Ia berlagak sambil bercanda. "Maaf, ayah." "Kalau Lily nggak betah sekolah di sana, bilang sama Ayah. Sama Ibu. Biar kamu bisa belajar di tempat lain." "Hah? Emang boleh, yah?" "Ya boleh dong." "Kumala pengin sekolah yang gak ada temennya!" Lily setengah berteriak. Begitu semangat. "Hah? Kamu di sana kenapa, sayang? Kenapa pengin sekolah yang begitu?" "Lily... ehm, lebih nyaman belajar sendiri aja. Lebih enak." "Kamu beneran pengin sekolah yang kegitu aja, Nak?" Daisy menyakannya. Meyakinkannya. "Iya, Bu. Dari dulu Lily pengin banget." "Pengin belajar yang gausah ada temennya. Kalau ada juga sedikit aja." "Biar?" "Biar gak trauma." "Hum?" "Semakin banyak temennya, kemungkinan temennya jahat lebih banyak. Lily gak pengin punya temen kaya gitu. Mending gapunya temen sekalian." "Nak, kamu baik-baik aja?" "Lily cuma kesel, Bu." "Iya. Ibu tahu. Yaudah, sekarang makan dulu ya. Biar nanti ayah dan Ibu yang carikan sekolah yang Lily inginkan. "Beneran, Bu? yah?" Yang ditanya mengangguk. "Yeeey!! Aku pindah sekolah." Cerianya. "Yaudah, kamu pasti laper. Makan yang banyak, ya." "Iya, Bu. Lily lapeeer banget." "Ikan? Ayam?" Ibunya menawarkan. "Ayam gorengnya aja, Bu." *** "Mas, aku kawatir sama Lily. Satu sisi aku pengin ngasih yang terbaik. Tapi sisi lain, dia tampak susah dan menderita karenaku. Apa aku salah, Mas?" "Sssst, sekarang bukannya waktu untuk menyalahkan diri. Kita orangtuanya. Saat ada apa-apa dengan anak kita, itu tanggung jawab kita berdua. Sekarang, adalah saatnya memilih tempat belajar baru untuk anak kita." "Iya, Mas. Tapi dimana?" Darren, Ayah Lily terdiam. Memikirkan sesuatu. "Gimana, Mas? Kamu ada jalan lain untuk sekolahnya Lily?" "Kita ambil homescholling aja. Daripada dia gak betah di sekolah. Lebih kawatir lagi kalau kejadiannya kayak kemarin 'kan?" "Iya, Mas. Aku juga kawatirin itu. Tapi kalau homescholling, bukannya nanti dia jadi gapunya temen beneran?" "Lebih baik gapunya temen daripada membiarkan anak kita batinnya tersiksa." "Mas... kamu yakin?" "Iya, sayang. Kamu percaya kan sama keputusan Mas?" Daisy mengangguk. Hari itu juga, berbagai kontak homescholling dihubunginya. *** "Membosankan. Rasanya udah gasabar keluar dari sekolah ini. Aku pengin ke dunia lain lagi. Ya, buku itu apa kabarnya? Kalau aku kesana, apa akan kembali lagi?" "Apa bisa kedua kali aku masuk ke dunia lain yang entah dimana?" "Apa pulang sekolah aku kesana lagi?" "Iya. Aku harus kesana lagi!" "Tapi, gimana? Pasti Ayah dan Ibu gak bakal ngijinin aku kesana." Setelah pulang sekolah, seperti biasa ia dijemput Ibunya. "Nak, nanti langsung tidur siang, ya. Kamu kemarin entah darimana. Pasti capek. Jadi jaga diri yang baik. Istirahat ya. Pas nanti pulang ke rumah. Langsung istirahat. Ok?" Lily mengangguk. "Gimana caranya ngomong sama Ibu?" *** "Assalamualaikum Ayah..." Lily menyapa ayahnya yang sedang duduk di teras. Seperti biasa, ia sedang bersama laptop dan beberapa buku di sampingnya. Entahlah, sepertinya ayah sangat menyukai udara luar dan kebebasan. Padahal, sebagian orang lebih suka mengerjakan sesuatu di dalam ruangannya sendiri. Namun, tidak dengan ayah. Ia seringkali membawa keluar laptopnya. Dan beberapa buku. Entah, apa yang dikerjakannya. "Ayah, Ayah sibuk yah?" Lily menyapa ayahnya, setelah ia sudah tak berseragam sekolah. "Ada apa sayang? Mau kemana?" "Tapi ayah jangan marah, ya?" "Emang ayah pernah marahin Lily?" "Ehmm, sering!" "Hum?" "Nggak ding. Boong. Hehe. Ayah gapernah marahin Lily." Lily mendekat ke ayahnya. Ia berbisik di telinganya. "Sebenernya, Lily pengin banget ke hutan lagi, yah. Tapi Kumala bingung. Takut Ibu marah. Kumala juga disuruh tidur siang tadi." "Kamu beneran mau kesana, Nak?" "Iya, yah. Disana tuh seru." "Yaudah, sekarang kamu tidur siang dulu. Nanti ayah bangunin. Gimana?" "Beneran, yah? Nanti kalau Ibu nanya gimana?" "Ya tinggal bilang aja." "Naak... sini." Lily mendekat ke ayahnya. "Lily sayang sama Ibu?" Ia mengangguk. "Sama ayah?" Kembali mengangguk. "Lily janji gabakal ninggalin ayah dan Ibu?" "Janji. Lily sayang sama Ayah dan Ibu. Mana mungkin Lily ninggalim Ayah dan Ibu?" "Syukurlah. Begitu juga Ibu, sayang. Saat Ibu cemas, atau agak marah, itu karena sayang sekali sama Lily. Saat Lily kemarin belum pulang, Ibu paling kawatir sama kamu, sayang. Jagain Ibu, ya. Jangan bikin sedih." Lily mengangguk. "Lily bakal selalu ada dekat Ayah dan Ibu." Srrrttt Sebuah bunyi yang menutup cermin refleksi itu. Seketika, langit berubah biru seperti sedia kala. *** "Ayah? Ibu?" Gumam Lily. "Sekarang kamu sudah lihat 'kan, Nak? Apa yang kamu kawatirkan, belum tentu benar. Ayah dan Ibumu sangat menyayangimu," tutur Dokter itu lembut. "Tidak!! Tidak!!" Pekik Lily.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN