"Kau syok? Mau memastikan lagi cermin itu? Pejamkan matamu lagi. Bayangkan tentang ayah dan ibumu," pinta Dokter itu.
Lily hanya menurut saja. Perlahan, ia pejamkan kembali matanya. Beberapa saat kemudian, ia membuka mata. Cermin refleksi itu kembali hadir di hamparan langit itu.
"Ibu?" Gumam Lily.
***
"Gunakan pembatas buku ini saat kamu ingin kembali ke DUNIA LILY."
Satu pesan yang muncul dan mengganggu pikiran Lily.
"Pembatas buku?" "DUNIA LILY?"
"Kira-kira apa maksudnya? Apakah buku itu yang dimaksud? Tapi saat membukanya, bukankah tak ada pembatas buku?"
Lily segera menata tempat tidurnya kembali. Bersiap diri ke sekolah. Meninggalkan sejenak pertanyaan atas mimpinya. Mimpi yang cukup mengganggunya.
"Bu, Ibu pernah lihat Lily kemarin bawa pembatas buku nggak?"
"Pembatas buku? Ibu lihat kamu bawa buku aja, hampir gapernah."
"Ibu maaah, Lily serius."
"Ibu juga serius, sayang."
"Jadi Ibu gak liat Lily kemarin bawa pembatas buku?"
"Emang kamu nyari pembatas buku seperti apa, Nak? Ada yang hilang?"
"Ehm, enggak si. Lily agak lupa aja. Kemarin... ehm, kemarin pembatas bukunya temen kebawa Lily. Yah, punya temen."
"Ouh punya temen. Yaudah, coba nanti Lily tanya ke temennya. Siapa tau, emang sudah dikembaliin."
"Ehm, iya, deh Bu. Ayukk, berangkat." Lily terpaksa berbohong. Ia tak ingin membicarakan tentang mimpinya. Apalagi bercerita tentang buku DUNIA LILY itu.
"Kamu hari ini keliatan semangat sekali, Nak. Ibu seneng liatnya."
"Iya, dong. Kan bukannya kata Ibu mesti semangat belajar?"
Ibunya tersenyum bangga. Merapikan kembali tatanan rambut Lily. Memastikannya rapi dan sempurna.
***
Sesampainya di sekolah, Lily duduk di bangku paling depan. Saat mengeluarkan buku tugasnya, sesuatu terjatuh darinya.
"Hah? Apa ini?" Lily mengambil benda yang terjatuh dari bukunya.
"Pembatas buku DUNIA LILY?"
"Apa ini yang di mimpi semalam?"
"Darimana pembatas buku ini? Kenapa bisa di buku tugasku? Aneh."
"Selamat pagi, anak-anak." Tiba-tiba seorang guru masuk dan mulai menyapa anak-anak di kelasnya Lily.
Karena kaget, Lily langsung mengambil dan menyimpannya di tempat alat tulisnya.
"Lily, sedang apa, Nak?"
"Gapapa, Bu. Tadi cuma ada yang jatuh."
***
Siang menjelang, Lily menunggu Ibunya menjemput.
"Ibu, sekarang jadi jemputnya pake motor trus?"
"Iya. Gapapa kan? Lily gak suka?"
"Nggak ko, Bu. Lily suka. Jadi lebih cepet pulangnya." Lily ceria.
Mulai hari itu, Darren dan Daisy memutuskan untuk lebih menjaga Lily. Salah satunya dengan menjemput Lily dengan sepeda motor. Semata, agar lebih memastikan Lily selamat.
"Nak, gimana tadi di kelas? Masih gak nyaman?"
"Ehm, baik-baik aja ko, Bu."
"Lho? Beneran? Bukannya kata Lily kemarin sudah gak betah? Pengin pindah? Yang gak ada temen-temennya?"
"Ehm, iya si. Tapi kalau Lily pindah... kasian Ayah dan Ibu. Nanti repot nyariin."
"Nak... setiap orangtua pasti pengin yang terbaik untuk anaknya. Ibu pengin kamu tetep belajar dengan perasaan gembira. Tidak tertekan."
"Lily nggak papa, Bu."
"Beneran, sayang? Kamu baik-baik aja?"
Lily mengangguk.
***
Sampailah di rumah Lily. Ia begitu ceria, setelah menemukan pembatas buku itu. Entah, rasa penasaran seperti apa yang membuatnya terasa begitu bahagia.
"Bu, Lily masuk ke kamar dulu, ya."
"Nanti kalau sudah matang, makan ya, Nak."
"Iya, Bu. Daaah."
Tanpa berlama-lama, Lily segera mengambil pembatas buku itu. Pembatas yang disimpannya di tempat alat tulis. Sebuah pembatas buku berwarna coklat, dengan gambar perpaduan buku yang terbuka, berisi hutan dan anak kecil yang memasukinya.
"Sebenernya darimana pembatas buku ini? Kalau benar gunanya bisa sampai ke hutan seperti di mimpiku kemarin, aku mesti coba! Ya!"
Lily teringat mimpinya. Di mimpinya, ia tak lagi pergi ke rumah di tengah hutan itu lewat pekarangan rumahnya. Namun, dengan menaruh pembatas buku itu buku bertema filsafat. Apa saja. Sejenak, Kumala teringat Ibunya.
Ia pun segera turun dari kamar, dan meminjam salah satu buku bacaannya.
"Bu..."
"Ya, sayang? Kenapa?"
"Ibu ada buku filsafat 'kan?"
"Ada. Emang buat apa, Nak? Kamu masih terlalu dini untuk baca buku begitu." Sabrina heran.
"Nggak papa, Bu. Lily cuma penasaran aja bukunya kaya gimana. Boleh lihat, Bu?"
"Ehm, aneh. Boleh. Sebentar, ya. Ibu ambilkan."
Beberapa saat kemudian, Daisy keluar. Ia membawa buku novel bertema filsafat.
"Ini, Nak. Beneran pengin lihat?"
"Iya, Bu. Lily penasaran aja. Boleh dibawa ke kamar Lily 'kan?"
"Boleh, sayang."
"Makasih Ibuuu."
Lily segera berlari menuju kamarnya kembali.
"Hati-hati sayang. Jangan lari."
"Aneh sekali. Tumben nanya buku." Lirih Daisy.
"Kenapa, sayang?" Darren mengagetkannya.
"Eh, Mas. Tak kirain siapa. Itu, Lily..."
"Lily kenapa?"
"Aneh banget, Mas. Tiba-tiba nanya buku tentang filsafat. Padahal, usianya baru belasan tahun. Gamungkin kan, dia baca filsafat?"
"Ehm, iya juga. Dia kan paling anti sama buku dan sastra. Trus kamu kasih?"
"Iya. Katanya buku apa aja yang filsafat. Yaudah, aku kasih aja novel yang temanya filsafat, Mas."
"Yasudah, mungkin dia emang lagi tahap penasarannya yang tinggi. Rasa ingin tahu. Siapa tahu dia denger kata filsafat, dan begitu penasaran 'kan?"
"Ehm, iya si."
"Semoga aja ini awal dari proses Lily bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Gak protes lagi dengan nama bunga di identitasnya."
"Aamiin. Makasih ya, sayang."
"Iya. Kamu yang tenang, ya."
***
"Nah, akhirnya dapat buku filsafat."
"Di mimpi itu, aku taruh pembatas buku ini ke dalamnya. Dan bisa masuk ke hutan. Ok, aku coba aja ah."
Lily menaruh buku filsafat di meja belajarnya. Segera ia taruh pembatas buku itu di lembaran acak bukunya.
"Hah? Ini bukannya di hutan? Aku beneran sampai ke hutan?" Lily memperhatikan seluruh tubuhnya sendiri. Memastikan apa yang terjadi. Iapun mencubit tangannya sendiri.
"Aaw! Sakit. Berarti emang beneran ini di hutan. Bukan mimpi!"
"Tapi, kenapa bisa begini? Apa memang pembatas buku itu yang mengantarkanku kesini?"
"Sebenernya apa ini?"
Kebingungan yang melanda Lily, segera ia alihkan dengan melangkah pelan. Ia mendekati rumah yang mirip perpustakaan itu. Tak sampai puluhan langkah, rumah itu sudah berada di hadapannya.
"Rumah ini. Rumah ini lagi. Aku harus segera masuk dan membuka lagi buku DUNIA LILY. Siapa tau ada petunjuk lain di sana!"
Rambut Lily dibiarkannya tergerai. Ia segera masuk ke rumah itu. Sampai ke ruang tengah dimana buku DUNIA LILY ditaruhnya kemarin.
"Nah, ini bukunya. Lho, ko pindah di bagian bawah? Bukannya kemarin aku taruh di rak bagian tengah? Aneh." Lily heran. Lalu terdiam.
"Ehm, kalau buku DUNIA LILY ini bisa berpindah, berarti ada yang mindah. Apa mungkin, emang rumah ini sebenernya ada yang jaga?"
"Halooo.... apa ada orang di sini?" Lily mencoba memanggil ke seluruh ruangan. Memastikan rumah itu sepi atau berpenghuni.
"Halo... apa bener ada orang di sini?" Lily kembali sedikit berteriak. Memanggil ke seluruh isi ruangan rumah itu.
Lily tak mendengar jawaban dari siapapun. Ia kembali dipenuhi rasa penasaran. "Sebenernya, apa maksud dari semua ini? Kenapa aku jadi terus kesini? Pembatas buku itu, apa emang yang mengantarkanku kesini? Mengapa?"
Srrrtt. Sekilas, cermin refleksi itu kembali hilang.
***
"Apa maksud cermin kali ini, Dok? Apakah memang aku akan baik-baik saja saat kembali nanti?" tanya Lily penasaran.
Dokter di sampingnya hanya tersenyum. Tanpa menjawab apapun.