"Dok, aku masih belum percaya!" seru Lily.
"Masih belum percaya cermin refleksi itu?"
Lily menganggukkan kepala.
"Cobalah pejamkan matamu untuk ketiga kalinya. Lalu buka."
Lily menuruti saja apa kata Dokter di sampingnya itu.
Cermin refleksi kembali menampilkan layar filmnya.
***
"Sebenernya aku dimana? Siapa dia? Kenapa aku gak ketemu Pak Dokter yang tak menyebut namanya itu?"
Lily merasa bosan. Ia sudah letih. Namun, ia tak kembali. Tak juga kembali.
Lily berjalan ka arah rumah. Sebuah rumah dengan buku-buku. Dan keluarga yang sangat suka membaca. Sangat jelas tergambar di setiap sudut ruangannya.
"Hah, Pak Dokter?? Bapak dimana?" Kumala berteriak, tapi percuma.
Kehadirannya di rumah itu pun tak terlihat. Ia yang bisa melihat semuanya. Tapi orang-orang yang dia lihat, sama sekali tak bisa melihatnya balik.
Beda jauh saat sebelumnya. Masih ada Pak Dokter yang tak menyebut namanya itu. Lily pun teringat memori itu. Seorang laki-laki yang menulis dengan kedipan matanya.
"Ibu? Ayah? Lily kangen Ibu dan Ayah. Lily pengin balik aja. Di sini gak ada siapa-siapa yang bisa lihat Lily." Ia tersedu di salah satu pojok ruangan.
***
"Nak... turun, yuk. Kita makan bareng."
"Sayang...," panggil Daisy, Ibunya Lily.
"Mas, Lily, Mas." Daisy kian cemas.
"Kenapa, sayang?"
"Lily kok daritadi Ibu panggil gak nyaut ya, Mas."
"Kamu udah coba ke kamarnya, sayang?"
"Belum, Mas."
"Ayok." Darren segera mengecek Lily di kamarnya.
Tok.. tok.
"Nak... Sayang, kamu di dalam?"
Tak ada suara apapun yang menjawabnya.
Darren pun mendobrak pintunya.
"Naaak."
Sepi. Tak ada Lily di sana.
"Sayang... Daisy... sini."
"Ya, Mas? Gimana, ada?"
"Kamu yakin tadi Lily gak pergi main?"
"Ndak, Mas. Kan sebelumnya pinjem novel filsafatku. Aku juga cerita sama kamu 'kan?"
"Iya, si. Aku masih inget. Tapi kenapa sekarang gak ada?"
"Atau... dia emang pergi sama temennya mendadak?"
"Daritadi, kamu di dapur kan?"
"Iya. Tapi cuma sebentar. Masa pergi main gak ijin?"
"Gimana ini, Mas? Gimana kalau Lily hilang lagi? Apa mungkim dia ke hutan lagi 'Mas?"
"Gimana? Aku gak tau kalau dia hilang lagi. Aku takut, Mas. Aku takut."
"Sssttt... kamu tenang dulu, ya. Aku cari keluar rumah. Kamu tunggu di rumah aja, ya."
Darren segera keluar rumah. Ia pergi ke beberapa teman terdekat dari rumahnya. Tapi tak ada. Iapun menanyakan pada guru Lily. Namun, kembali tak ada jawaban. "Kamu dimana sih, Nak? Bukannya kamu sudah membaik? Kamu sudah tak marah lagi kalau di sekolah sana?" Ucap Darren.
Karena buntu, Darren kembali ke rumahnya.
"Gimana, Mas? Kamu sudah ketemu Lily?" Daisy—Ibu Lily kian cemas. Melihat suaminya tak pulang bersama Lily.
"Gimana ini, Mas? Ini sudah malam. Lily tidur dimana? Gimana kalau ada apa-apa?"
"Bukannya dia kemarin gapapa? Bahkan saat kita ajak pindah ke sekolah, dia dengan ceria menolaknya. Lantas kenapa dia pergi, Mas?"
"Ssstt... kamu yang tenang, ya. Pasti dia baik-baik saja."
"Baik-baik saja gimana? Dia perempuan, Mas. Dan sampai malam gini belum juga pulang. Gimana gak kawatir? Apa aku salah? Apa aku terlaku memaksa dia tetap sekolah di sana?"
"Iya, aku tahu. Tapi bahaya juga kalau sudah malam gini."
"Kamu gak salah, sayang. Aku lihat kemarin juga dia tampak ceria. Bahkan menolak sendiri saat kita sudah menemukan sekolah pengganti. Itu pertanda dia baik-baik saja 'kan?"
"Aku gatau lagi, Mas. Kenapa dia bisa hilang lagi. Apa salahku, Mas? Aku sayang Lily." Daisy terisak.
"Aku benci nama itu, Mas. Kalau memang itu jalan terbaik bagi Lily yang dari dulu ingin mengganti namanya, aku menyerah, Mas."
"Kok jadi membenci namanya? Nama itu kan pemberian kita berdua. Bukan cuma pemberian. Tapi amanat besar. Kamu masih ingat 'kan?" Darren menenangkan Daisy. Menyandarkannya pada bahu kirinya.
"Dia itu anak yang spesial. Pemberani. Pasti dia baik-baik saja. Kamu yakinlah. Tenang." Lagi, Darren menenangkan istrinya.
"Sekarang kamu masuk lagi, ya. Besok pasti dia sudah pulang. Oh ya, buku yang kemarin aku cari, sudah ketemu?"
Daisy mengangguk.
"Kamu memang paling bisa diandelin urusan mencari buku. Dimana? Mau buat referensi jurnalku."
"Di rak buku kamarku, Mas. Paling atas. Ambil saja."
"Mas, aku masih kawatir sama Lily. Aku takut dia kenapa-napa."
"Sudah, dia pasti baik-baik saja."
"Kita terlalu berlebihan gak si, jadi orangtua?"
"Berlebihan? Berlebihan gimana?"
"Iya, berlebihan. Kenapa tak mengganti namanya saja. Begitu kan langsung menyelesaikan masalah? Bukannya hanya itu permintaan Lily, Mas?"
"Mengganti nama itu mudah. Tapi pesan dan amanat dibalik nama itu yang kita jaga. Kamu ingat 'kan?" Darren membaca wajah istrinya. Seakan memastikan sebuah amanah—yang mirip rahasia besar itu masih teringat oleh istrinya.
"Semoga Lily baik-baik aja di sana, ya."
***
"Bu, Yah... Lily kangen sama Ibu." Gadis berambut lurus panjang itu masih tergugu. Duduk memeluk lutut dan rindu.
"Bu... Ayah... Lily pengin pulang." Tangisnya kian membasahi pipi.
Seperti anak kecil yang mencari panutan di hutan rimba.
Tangisnya tak pernah terdengar kita. Lebih sering terdengar, oleh dedaunan dan gemerisik angin. Mungkin, sebab itu ia memilih bisu. Menajamkan telinga. Membuka mulut hanya untuk bicara dengan mereka: pohon dan bunga-bunga.
Anehnya, seseorang mencecar, "Dasar, anak kecil menyedihkan!" Dia seperti tak punya mata untuk melihat diri, "Apa yang paling menyedihkan dari orang dewasa yang tak punya kepedulian pada orang lain?"Dialah yang paling menyedihkan.
Tak jarang, Lily memikirkan itu. Ia merasa seperti tak dipedulikan sekitarnya. Terutama teman-temannya. Sebab itu, di sekolah ia sangat pendiam. Lebih memilih tak berkomentar apapun. Saat sudah tak kuat, ia akan memberontak, lalu pergi entah kemana.
Seperti kemarin hari. Saat ia tak mengerjakan tugas menulis, dan Ibu gurunya menagihnya. Karena ia sudah amat kesal, jadilah pergi sendiri. Entah kemana. Namun, ia sudah tak begitu memedulikannya lagi. Ia tak lagi takut tak punya banyak teman yang mengertinya.
"Bu, Yah... Lily kangen sama Ibu." Gadis berambut lurus panjang itu masih saja tergugu. Duduk memeluk lutut dan rindu.
***
Beberapa waktu kemudian. Lily sudah kembali ke rumah yang mirip perpusatakaan itu.
"Hah? Aku harus segera pulang! Ibu dan Ayah pasti nyariin aku."
Lily segera menutup buku DUNIA LILY yang dipegangnya. Dan menaruhnya di rak buku semula.
Sepanjang perjalanan, ia bertanya-tanya.
"Sebenernya apa yang terjadi?"
Lily setengah berlari. Kian berlari menuju jalan pulang rumahnya.
Di teras rumah, Ibunya sudah cemas menantikannya.
"Ibu...," Lily setengah berteriak.
"Nak, kamu darimana saja? Ayah nyariin kamu belum ketemu daritadi."
"Kata Ibu guru di sekolah, kamu bolos, Nak?"
Lily mengangguk.
"Gapapa. Ayo, masuk. Kamu pasti capek. Maafin Ibu ya sayang."
Lily malah heran. Kenapa Ibunya malah meminta maaf. Ia sudah takut bukan main akan dimarahi. Tapi malah sebaliknya. Ibunya tetap rama kepadanya.
"Kamu bersih-bersih dulu, ya. Ibu tunggu di sini."
Lily menuruti perintah Ibunya. Ia segera ke kamar mandi. Membersihkan diri. Tak lama kemudian, ia menemui Ibunya kembali di ruang makan.
"Bu, ayah dimana?"
"Ayah tadi nyariin kamu kemana-mana, Nak. Mungkin, sekarang masih di sekolah."
"Ibu telepon dulu ya?"
Lily mengangguk.
"Yahh... ganyambung."
Kekawatiran kini menyelimuti Daisy.
"Bu, maafin Lily. Gara-gara Lily yah dan Ibu jadi cemas."
Mendengar anaknya berkata nan lembut, Sabrina menjedakan teleponnya yang terus memanggil. Dipeluknya anak satu-satunya itu.
"Sayang... maafin aku anak kita belum... " Ayahnya tiba-tiba membuka pintu masuk. Ia tak jadi melanjutkan kalimatnya.
"Anak Ayah. Kamu darimana saja, hah? Bikin ayah pusing saja." Ia berlagak sambil bercanda.
"Maaf, ayah. Lily tadi bosan di kamar. Makanya tadi pergi sendiri."
"Kamu yakin, Nak, gapapa?"
"Aku masih punya banyak stok gapapa, Yah." Ucap Lily.
Srrrtttt. Cermin refleksi menghilang.
***
"Dok? Apakah ini benar? Apakah jika aku kembali nanti, aku akan disambut baik oleh Ayah dan Ibuku? Bukankah mereka hanya peduli pada pekerjaannya?" tutur Lily.
Lagi, Dokter itu tak menjawab apapun. Seakan membiarkan Lily menemukan jawabannya sendiri.
"Nak... Pak Dokter cuma berpesan, lanjutkan perjalananmu. Apa yang belum terjadi, cukup kita berprasangka baik," jelas Dokter itu.
"Biar apa? Saat kamu melanjutkan perjalananmu nanti, hatimu tenang. Itu bekal utama untuk perjalananan misimu." Lanjutnya.
"Jadi, Pak Dokter paham tentang misiku?" Lily terheran mendengarnya.