Part 23 - Manusia dan Waktu

1056 Kata
"Dok, Dokter!! Mau kemana?!" pekik Lily melihat Dokter itu berjalan menjauhi Lily. Meninggalkannya sendiri. "Dok, tunggu!!" "Ly... sadar, Ly. Bangun!" ucap Cleon membangunkannya dari terlelapnya. "Cle? Kita dimana?" "Kita masih di gua. Kamu mimpi apa? Minum dulu, nih!" Cleon memberikan botol minuman pada Lily yang masih berusaha menata kesadarannya. Lompatan ingatan mimpi dan kenyataan, agaknya cukup menguras energinya. Keringat mengucut begitu saja di dahinya. "Kamu siap-siap. Kita akan segera berangkat!" "Berangkat? Kemana?!" "Aku sudah mendapat petunjuknya," ucap Cleon. "Petunjuk?" "Ya." "Apa?" "Kita akan masuk lagi ke dalam gua. Aku mendapat petunjuk di mimpiku kita harus masuk," jelas Cleon. "Kamu yakin, Cle? Di sana ndak berbahaya?" "Aku yakin. Dan... aku juga percaya nasihat Kakek." "Baiklah. Ini, makasih, ya." Lily menyerahkan botol minuman itu. "Kamu mimpi apa tadi? Mau cerita? Siapa tahu lebih tenang," pinta Cleon seraya duduk di samping Lily. "Ehm, gapapa. Cuma mimpi, ko." "Kamu yakin?" Lily menganggukkan kepala. "Kalau ada yang mengusik pikiran dan hatimu, cerita saja. Bukan maksud gimana-gimana. Anggaplah kita sedang satu tim. Aku harus tahu kondisi tiap tim," tutur Cleon dengan nada lembutnya. "Makasih, Cle. Aku gapapa, ko." "Syukurlah. Kita berangkat sekarang?! Pencahayaan juga sudah cukup baik. Sudah agak siang." "Tunggu. Dimana Rosy?" "Oh iya. Kamu liat?" "Kamu kan tau sendiri, aku baru bangun. Kamu kan yang dari tadi sudah bangun duluan?" "Uhm, iya. Tapi aku gak liat." "Gimana dong? Kalau hilang gimana?" ucap Lily panik. "Tunggu. Sabar, dulu. Tenang, yah?" "Gimana bisa tenang, Cle. Kalau Lily hilang gimana?" "Percayalah. Dia pasti baik-baik saja." "Aaaah!! Tidaaak!" pekik sebuah suara dari arah dalam gua. "Kamu dengar suara itu?! Tidak ada orang lain di sini selain kita bertiga. Ayo, Ly!" ajak Cleon seraya menggenggam tangan Lily perlahan. Refleks begitu saja. Wajah Lily nampak kaget. Matanya kian membulat begitu tangannya dipegang laki-laki berwajah tegas itu. Ia seolah kelu mau bicara apapun. Cleon membawa Lily sesekali berlarian. Berjalan sejenak memastikan, lalu lari kecil. Begitu bergantian. Begitu Cleon berhenti, Lily melihat sesuatu yang tidak semestinya. Ia seperti merasa ada yang aneh dari Cleon. "Cle... maaf," ucap Lily seraya menundukkan wajahnya ke tangan Cleon. "Ouh, maaf! Aku refleks tadi. Aku kawatir, uhm. Maaf, Ly. Maaf, ya," ucap Cleon terbata dan gugup. "Ndakpapa. Aku paham." "Lihatlah! Rosy di sana!" "Dia kenapa duduk sendirian di sana?!" "Ayo! Kita dekati dia!" Lily mengikuti arah Cleon. Berjalan perlahan di belakang laki-laki yang terkadang begitu ia benci, sekaligus kagum pada saat lainnya. "Ros, kamu kenapa duduk sendirian di sini?!" ucap Lily menyapa Rosy yang duduk memeluk lutu. Seolah begitu takut. "Disana!! Aku seperti melihat monster!" Rosy menunjuk ke arah dinding gua dengan wajah yang masih ia telungkupkan. "Ros... kamu melihat apa?" "Monster!! Monster itu datang lagi! Aku takut!" ucapnya. "Apa yang kamu maksud monster, Ros?" "Dia, perempuan yang membuatku bertemu denganmu!" Lily diam sejenak memikirkan apa yang dimaksud Rosy. "Apa maksudnya adalah Ibu angkatmu?" Rosy menganggukkan kepala. Ia masih duduk dengan menenggelamkan wajahnya. Memeluk lutut. Lily mendekati Rosy. Ia dekap tubuh Rosy. Seolah ingin menenangkannya. Bahwa dunianya kini baik-baik saja. "Tenanglah, Ros... di sini ada aku, ada Cleon. Kita akan lalui bersama. Kita semua barangkali punya masa lalu menyakitkan. Terlepas apapun itu," tutur Lily dengan lembutnya. "Kamu gak rasain, Ly!" "Aku tahu. Aku gak bisa rasain. Tapi kamu masih ingat alasanku ke hutan yang membuat kita sampai di tempat ini sekarang?" "Itupun tak lain karena aku capek dengan kehidupanku. Aku meminta sendiri pada Tuhan untuk berlari. Untuk menjauh. Untuk merasakan kebebasan yang aku sendiri tak tahu apa itu kebebasan hakiki," jelas Lily. "Tapi aku tahu. Aku mulai paham. Setiap manusia barangkali selalu menjadi menarik tersebab mereka mampu mengolah rasa dari masalalu, kehendak, dan masa depannya," lanjutnya. Rosy akhirnya mengangkat wajahnya. Ia memandang Lily sejenak. Ia dekap Lily, tak lama kemudian dilepaskannya kembali. "Makasih, Ly." Ucapnya. "Maaf, Ros. Apa yang sebenarnya kamu lihat? Apa kamu melihat cermin? Atau cahaya?" tanya Cleon tiba-tiba. "Ya. Aku melihat cermin yang sangat bercahaya di sana! Tapi anehnya, begitu aku mendekat, cermin itu justru memutarkan masa lalu dengan Ibuku," ucapnya takut. "Cermin masa lalu?" gumam Lily. "Ada apa, Ly? Kamu keinget sesuatu?" "Ya. Sepertinya aku teringat sesuatu. Aku pun bermimpi tentang cermin. Tapi, bukan masa lalu. Lebih ke prediksi," tutur Lily. "Prediksi?" "Ya. Di sana saat aku memejamkan mata, aku melihat aku dan orangtuaku hidup damai. Tidak ada pertengkaran. Kata Dokter, itu adalah peluang kejadian saat aku kembali nanti ke dunia nyata," jelas Lily. "Dokter?" "Aku juga gak tahu dia siapa. Tapi di mimpiku, seorang Dokter menjelaskan berbagai macam hal. Termasuk tentang cermin itu." "Waktu. Ini seperti hakikat manusia dan waktu," gumam Cleon. "Maksudmu, Cle?" "Barangkali petunjuk itu bernama cermin waktu! Rosy melihat masa lalunya, sementara kamu, Ly. Melihat prediksi masa depan," tutur Cleon menjelaskan dengan begitu semangatnya. "Lalu, maksudnya?" Lily seolah tak paham arah pembicaraan Cleon. "Manusia itu bukan sekadar segumpal daging bernama. Tapi ia punya masa lalu, kehendak, dan masa depannya. Bukankah itu hakikat hubungan manusia dan waktu? Aku pikir inilah jawaban awal perjalanan misi kita!" "Oh ya, Ly. Saat di mimpi itu, bagaimana cara kamu melihat prediksi masa depan itu?" "Aku? Aku memejamkan mata sambil berharap tentang masa depanku." "Kalau kamu, Ros? Sebelum kamu melihat masa lalumu, apa yang kamu lakukan?" "Aku? Aku sebenarnya ingin ingin tidur lagi. Aku masih cukup ngantuk saat itu. Aku pejamkan mata sambil teringat saat-saat sebelum aku kesini," jawab Rosy. "Pejamkan mata dan bayangkan kehendak tentang misi kita. Ok, aku sekarang paham!" "Paham apa, Cle?" "Kemari. Aku yakin, cermin itu bisa muncul saat kita menyatukan niat kita di misi ini. Kalian masih ingat nasihat Kakek 'kan?" "Kakek yakin kita pemuda yang bisa menyelesaikan misi ini. Itu artinya, kita harus yakin terlebih dahulu. Hilangkan segala niat buruk dan penyakit hati lainnya," Cleon kembali mulai menjelaskan. "Lalu?" "Kita pejamkan mata bersama. Bayangkan kita akan menyelesaikan apapun rintangannya. Semata demi alam semesta ini. Itu saja. Aku yakin, kita akan memulai masuk ke dunia yang dimaksud Kakek," lanjut Cleon. "Kamu yakin, Cle?" Lily bertanya setengah ragu. "Percayalah. Kita akan baik-baik saja." "Baiklah. Kita harus pejamkan mata sekarang?" tanya Rosy. "Gelang, masih 'kan? Aman?" Cleon memastikan. "Masih." Jawab Lily dan Rosy bersamaan. "Itu alat berharga untuk kita bertempur dengan misi ini. Jangan sampai hilang." "Ayo, kita mulai sekarang!!" *** Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah mereka bertiga berhasil masuk memulai ke dimensi lain yang dimaksud misi suci itu? Apa saja yang akan mereka temui? Simak selanjutnya, ya. Silakan saran dan kritik, sampaikan dengan sopan. Terima kasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN