Part 24 - Kebohongan dan Kebebasan

1048 Kata
"Kita dimana, Cle?" tanya Lily dengan matanya yang terbelalak. Wajahnya sesekali melihat ke kanan dan kiri. Memastikan dirinya memang benar-benar sudah berada di dunia yang berbeda. "Aku masih napak tanah. Aku masih hidup!" lanjutnya bergembira. "Aish... ada-ada saja kau! Yaiyalah masih hidup! Sepertinya cara Cleon berhasil. Lihatlah di sana!" ucap Rosy sembari menunjukkan sebuah pemandangan berbeda di depan mata mereka bertiga. Dari kejauhan, asap mengepul gelap. Langit bahkan seperti tak memiliki warna birunya. "Itu pabrik apa? Apa kita pernah mengenalnya?" tanya Lily semakin terheran. "Entahlah. Lalu kita harus kemana?" "Sebentar. Lihatlah tak jauh dari sekitar kita apa? Lihatlah seksama," tutur Cleon sembari meminta Lily dan Rosy melihat benar-benar apa yang ada di sekitar mereka. Aneka tanaman padi dan tanaman pertanian lain tumbuh. Sementara, tak jauh dari hal itu, sebuah pabrik mengepulkan asapnya. "Bagaimana ini bisa terjadi? Sebuah pabrik dengan pencemaran udara yang sangat tinggi, berada di area persawahan petani?" gumam Lily heran. "Itulah tugas kita! Menyelidikinya kenapa bisa seperti ini. Pasti ada yang gak beres!" seru Cleon nampak bersemangat. "Lalu kita harus kemana?" "Disini ada pertanian. Pasti tak jauh dari sini, ada pemukiman warga. Kita jalan saja. Ikuti jalan ini," Cleon menunjukkan arah untuk berjalan kaki menelusuri apa yang ditujunya. Sebuah perkampungan warga. "Kamu yakin, Cle?" tanya Lily ragu. "Aku sangat yakin. Bukankah padi tak mungkin tumbuh sendiri? Pasti ada yang menanamnya. Pasti tak jauh dari sini juga ada pemukiman warga," jelas Cleon. "Iya sih logisnya gitu." Duaarr!!! Sebuah tembakan dari arah tak terduga hampir saja mengenai lengan Lily. Untung saja, tangan Cleon sigap mendekapnya. "Ayoo! Kita lari!" Cleon mendekap Lily yang masih cemas dan ketakutan. Rosy awalnya terdiam dengan apa yang terjadi. Seperti biasanya, dari wajahnya seolah tanpa ekspresi. Entah apa yang benar-benar dirasakannya. Ia justru berdiri mematung sendiri. Melihat dengan mata kepalanya, Cleon dan Lily berlarian bersama seolah tak memedulikannya. "Hah? Apa ini?" gumam Rosy. Cleon dan Lily terus berlari mencari tempat bersembunyian yang aman. "Kalian berdua kabur? Kenapa tidak hadapi saja? Hei, siapa kalian!! Keluaaar!!" pekik Rosy. Duaarr!! Kembali, sebuah tembakan dilayangkan. Kini, hanya tembakan ke udara. Rosy sepertinya juga yakin, orang yang menembak itu mencurigainya. "Keluar!! Jangan jadi pengecutt!!" pekik Rosy kembali berteriak. "Aku punya kekuatan mematikan yang bisa melumpuhkan usia seseorang. Kalau kalian tak kunjung muncul, aku tak tahu kekuatanku akan dengan sendirinya keluar atau bisa kutahan," ungkap Rosy berusaha menakut-nakuti. "Aku hitung mundur sampai tujuh. Tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, sa... !" Begitu suara hampir satu, keluarlah dua orang laki-laki bertubuh kurus dan tinggi. Mereka berdua memegang senapan lengkap dengan pakaian keamanannya. Mata mereka tajam seakan selalu bersiap sedia mematikan siapa pun yang mengancamnya. "Siapa kamu!!" pekik salah seorang dari keduanya. "Saya... saya hanya lewat kesini," ucap Rosy dengan sedikit ragu. "Di sini wilayah kami. Harus dengan penjagaan ketat. Kamu tidak boleh masuk!" "Tapi... saya hanya ingin ke kampung sana, saja. Ada... oh ya, ada saudara saya yang sakit," ucap Rosy terbata agar tak diketahui kebohongannya. Sesekali memastikan wajahnya masih tegap berdiri. Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain berusaha menjaga diri. Sementara Cleon dan Lily sudah tak meninggalkan jejak kaki. Bahkan, bayangannya pun sudah tak ada di mata Rosy. "Kamu yakin hanya akan menjenguk?!" tanya salah seorang dari penjaga itu. "Ya." "Lantas, siapa dua orang temanmu yang lari, tadi?!" "Uhm, mereka? Saya juga tak tahu. Saya... Saya bukan temannya. Hanya kebetulan bertemu di ujung jalan ini dan saling menyapa. Itu saja," jelas Rosy menutup kebohongan pertamanya. "Kamu yakin?! Mereka berarti orang asing?!" Rosy menganggukkan kepala. Sempurna sudah kebohongannya ia buat hari itu. "Yasudah, silakan lewat. Kami akan mengejar dua orang itu!" Rosy kembali hanya menganggukkan kepala. Ia selamat dari ancaman senapan dua orang penjaga wilayah itu. "Jaman sekarang, masih ada penjagaan di perbatasan kampung? Bukannya aneh? Ada apa ini sebenernya?" gumam Rosy. Kedua penjaga yang menyeramkan itu segera berlari. Mereka mengikuti penjelasan Rosy. Mulai mencari Cleon dan Lily yang dianggap orang asing dan perlu diwaspadai. Bagaimana bisa Rosy memutuskan untuk mendustakan persahabatan? Bahkan, ia terus menutupi kebohongannya dengan kebohongan lain. Seolah tak peduli bagaimana nasib Cleon dan Lily. "Aku tak peduli denganmu, Ly!" gumam Rosy. "Salah kalian juga meninggalkanku! Rasakan!" Lanjutnya kesal. Sejenak, ia pandangi pemandangan di penghujung desa itu. Masih cukup banyak pepohonan rindang. Mulai dari pohon kayu jati sampai, pohon pisang, sampai tanaman bunga aneka rupa. Semilir angin dan kupu-kupu yang bertebaran cukup jadi pertanda. Daerah itu setidaknya masih belum sepenuhnya tercemar. "Capung?! Lama sekali tak melihat capung," ucap Rosy berhenti di salah satu tanaman yang dihinggapi capung. Ia mendekati capung itu. Bola mata capung yang seperti bola kaca mini itu pun seakan memandang balik Rosy. Rambutnya yang lupa diikat itu, tak sengaja menyentuh ranting dimana capung itu hinggap. Tangannya yang menangkap capung itu, hampir saja kalah cepat dengan kemampuan terbang capungnya. "Akhirnya! Aku menangkapmu! Lucu," ucap Rosy memandangi capung yang dipegangnya. "Bagaimana rasanya bisa terbang dengan sayap terlihat rapuh seperti ini, capung?" Rosy bertanya begitu saja dengan capung yang dipegang di tangan kanannya. Matanya jeli memerhatikan bagaimana tubuh capung itu pun terlihat rapuh. Ia mungkin bisa bebas terbang kemana saja. Namun, ia tak pernah menjamin aman di mana saja. Buktinya, saat itu ia malah ditangkap tangan Rosy. Kebebasan, keinginan untuk terbang lebih tinggi, merasai hal-hal yang belum kita gapai, apakah sebegitu menariknya bagi manusia? Beberapa orang memilih keluar dari zona nyamannya hanya untuk merasai kebebasan. Ada pula yang mengutuk kebebasan, atas nama buat apa bebas kalau hakikatnya tak pernah ada bebas? Bebas adalah batas itu sendiri. Kebebasan akan senantiasa membutuhkan batas sebagai bingkai yang wajar dibutuhkan. Termasuk kebebasan yang dibutuhkan manusia. "Bebas. Satu kata yang membuatku sampai di sini. Apakah sekarang aku akan mendapatkan makna kebebasan itu?" gumam Rosy. Ia masih pandangi tubuh capung yang dipegangnya. Seolah seperti perempuan yang sedang bercermin. Melihat diri lama sekali. Entah apa yang sedang dipastikan oleh ingatan dan matanya itu. Apakah ia merindukan dirinya dari masa lalu? Apakah Rosy memiliki hal atau tujuan tertentu saat pergi dan sampai kini di tempat berbeda? Apa yang sebenarnya Rosy inginkan dengan kebohongan yang kini ia ciptakan? "Hari ini. Ya, kali ini akan kubuat kebebasan itu kembali nyata!" ucapnya sembari melepaskan capung itu terbang bebas di hadapannya. "Bebas! Ya, aku akan membuatnya kali ini!!" Lanjutnya tersenyum, untuk tak lama kemudian kembali dengan wajah tanpa ekspresinya. *** Apa yang sebenarnya Rosy ingin lakukan dengan yang ia buat hari itu? Apakah ia merencanakan kebohongan lain lagi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN