"Ah, perasaan baru jalan sebentar, kenapa capek gini?" gumam Rosy.
Ia tepat berhenti di depan sebuah pohon jati. Cukup teduh untuk bersandar di bawahnya. Tanpa berpikir lama, Rosy duduk bersandar. Angin sepoi-sepoi meninabobokan lelahnya. Ia pun tak lama kemudian, terlelap dalam tidurnya.
***
"Hahaha... kamu memang anak pembunuh!! Kamu harus dikurung disini!" ucap Ibu tirinya.
Perempuan itu menyeret Rosy ke sebuah gudang di Villa. Pintu dikunci. Rosy berteriak meminta tolong. Namun, tak ada yang mendengar selain ibu tirinya.
"Hahah... terus saja meminta tolong! Hanya ada tikus yang akan menemanimu di sana! Nikmatilah!"
Ibu tirinya itu meninggalkan gudang. Membawa kunci pintunya.
"Sekarang tempat tinggalmu di sana, anak pembunuh!! Rasakan!!" ucapnya dengan penuh amarah.
"Ibu... aku juga anakmu. Aku bukan pembunuh ayah! Tolong, Ibu."
Rosy terus mengucapkan meminta tolong. Berharap Ibunya berubah dan berhati baik seperti yang ia kenal. Namun, saat itu sudah berubah. Ia sudah berubah seperti sebuah monster.
"Ibu... buka pintunya!! Rosy yakin Ibu masih di luar!! Ibu!!" teriak Rosy.
"Ibu... kenapa Ibu jadi begini?" Rosy meratapi nasibnya yang malang.
Sebuah ruangan gudang tak terurus, kini jadi tempat tinggalnya. Rosy tak menyangka nasibnya akan seburuk itu. Padahal, ia pun sama sekali tak ingin ayahnya mati. Namun, takdir berkehendak lain.
"Kenapa Ibu tak bisa memahami? Apa karena aku bukan anak kandungnya?" lirih Rosy.
Rosy duduk di balik pintu. Memegangi kedua lututnya. Ia pandangi setiap detail ruangan gudang itu. Sarang laba-laba dimana-mana. Debu yang cukup tebal menutupi sofa dan kamarnya.
Rosy mencoba merapikannya. Membersihkan satu per satu agar sedikit lebih layak. Rosy buka gorden penutup jendela ruangan itu. Lalu ia buka juga jendelanya. Angin segar perlahan masuk lewat celah-celahnya.
"Uhukkk... uhuk...," Rosy batuk. Namun, ia tak bisa diam dengan ruangan sekotor itu.
Malam ini mau tak mau ia tidur di sana. Sebuah ruangan gudang yang lama tak diurus. Untungnya, lampu ruangan masih menyala normal.
"Aww!!" seekor tikus mengagetkan Rosy.
"Oh... kenapa aku bisa jadi begini? Ibu... Ayah... kenapa waktu cepat sekali berputar membalikkan kebahagian dan kesedihan?"
"Ayah... aku rindu ayah."
Rosy masih membersihkan tiap detailnya. Sampai suatu ketika ia sedang membersihkan sebuah rak yang ditutup kain. Rosy penasaran. Ia buka rak yang tertutup kain itu.
"Kenapa rak besar yang kelihatannya masih bagus ini bisa di gudang?" Rosy heran.
Rosy tarik kain yang menutupinya. Betapa kagetnya Rosy saat melihat isi raknya.
"Menakjubkan!! Sebuah rak buku! Waah....," ucap Rosy.
Rosy menyentuh satu per satu buku yang ditata rapi di rak itu. Banyak sekali buku bacaan. Mulai dari buku anak-anak sampai buku-buku dengan tema berat khas orang dewasa.
"Sebenarnya ini punya siapa? Apa punya Ayah?" Rosy heran. Rosy membuka salah satu buku di rak itu. Tertera sebuah nama. Adiwira Pandhega.
"Ayah? Ini semua punya ayah? Kenapa ditaruh di sini?" Ucap Rosy heran.
"Oh... sekarang aku tahu kenapa rak ini ditutupi kain. Biar buku-bukunya tetap terjaga." Lanjut Rosy.
Memang hanya rak buku itu benda yang cukup terjaga di ruangan gudang. Sekalipun ada debu yang menempel di buku, itu hanya sedikit.
"Ayah... Ayah seperti menjelma dalam bentuk lain. Aku akan baca seluruh buku Ayah. Meskipun Rosy tak tahu apakah bisa mengertinya." Ucap Rosy.
"Tapi... bukankah yang lebih penting adalah tidak kehilangan selera untuk senantiasa belajar?"
Rosy duduk di sebuah sofa bekas yang sudah ia rapikan. Ia membaca sebuah novel karya Sayaka Murata.
"Ayah ternyata suka novel jepang juga. Ayah... andai Ayah masih hidup. Ayah bisa temenin aku baca semua buku ayah."
"Tapi... kenapa ayah menyembunyikan semua buku ayah di sini? Kenapa sebenarnya? Padahal Villa ini cukup besar dan masih banyak ruang kosong. Kenapa Ayah menaruhnya di gudang yang kotor?" Gumam Rosy.
"Rosy!! Cepat makan anak pembunuh!!" ucap Keira, biasa dipanggil Kei. Ya, itulah nama Ibu tirinya Rosy. Ia mendatanginya lagi.
Kei membawakan makanan untuk Rosy. Untungnya, Rosy sigap menutup rak buku itu dengan kain. Ia juga menyembunyikan buku yang sedang dibacanya.
"Selamat malam pembunuh!" Ucap Kei meninggalkan Rosy dengan makanannya.
"Mulai besok, akan ada orang yang akan mengantarkan makan dan minum untukmu di sini."
"Ya! Di sini. Kalau ada apa-apa, kamu tinggal panggil dia. Tapi awas! Jangan pernah keluar dari Villa ini!!"
"Kalau berani keluar... kamu akan tahu sendiri akibatnya!" ancam Kei.
"Mengerti?!!" tanya Kei.
"Iya, Bu. Rosy mengerti."
Kei memperkenalkan seorang penjaga bernama Mei. Seorang perempuan yang bertugas memberi makan dan menjaganya di Villa.
Rosy diperbolehkan keluar dari gudang, tapi dengan akses terbatas. Ia hanya boleh keluar dari gudang saat akan mandi, dan sebagainya. Selebihnya, ia tetap harus tinggal di gudang.
Kei meninggalkan Mei dan Rosy.
"Mei!! Kamu tungguin anak ini sampai habis makannya. Kalau sudah, bawa piring dan kembali kunci pintunya. Paham?"
"Paham, Bu."
Kei meninggalkan ruangan gudang. Meninggalakan Villa dan bicara ke satpam baru yang disewanya.
"Pak... tolong jaga Villa ini dengan baik. Jangan sampai Rosy keluar dari Villa ini," ucap Kei.
"Memangnya kenapa, Bu?"
"Dia terkena virus menular. Paham?" Kei berbohong.
"Siap, Bu!"
"Mobil ini nanti biar saya suruh orang untuk ngambilnya. Kamu tolong jaga ya, Pak!" ucap Kei pada satpam barunya.
"Siap, Bu!"
Kei pun pergi bersama taksi yang sudah di depan Villa.
Sementara, di ruangan gudang Rosy enggan makan. Mei berusaha terus membujuknya.
"Nona... saya Mei. Saya tahu Bu Kei berbohong kan? Kamu bukan kena virus menular kan? Jadi tolong makanlah," ucap Mei. Perawat baru yang disewa Kei untuk menjaga Rosy di dalam Villa.
"Virus menular? Ibu bicara begitu ke kamu?"
"Iya, Nona. Bu Kei bilang kalau Nona Rosy terkena virus menular. Makanya diasingkan ke sebuah ruangan. Biar tak menyebar virusnya."
Rosy menunduk. Namun, segera ia bangkitkan kembali wajahnya.
"Aku sehat. Aku tak terkena virus menular apapun," tegasnya.
"Iya. Saya percaya. Tapi sementara biarkan kita berpura-pura saat ada Bu Kei kesini. Setuju? Saya tetap akan mengunci ruangan ini. Tapi tenang, ini buat Nona Rosy," Mei memberikan sebuah smartphone pada Rosy.
"Apa ini? Kalau Ibu tahu gimana?"
"Sudah... jangan dipikirkan. Cuma dengan begini kamu bisa tetap melihat dunia luar. Kamu bisa bermaim sosial media, asalkan jangan menggunakan nama asli. Yah? Biar Ibu Kei tak curiga."
"Selebihnya... kamu bisa cari tahu apapun lewat smartphone ini. Kamu suka apa? Biar nanti kalau ada apa-apa bilang saja ke saya, ok?"
Rosy tersenyum. Ia merasa beruntung karena masih ada perawat yang ternyata berpihak padanya. Dialah Mei.
"Saya tahu tindakan saya menentang Bu Kei. Tapi saya tidak tega melihat seperti ini. Jadi kalau ada apa-apa bilang saja, yah?"
Rosy mengangguk.
"Ayo, sekarang makanlah..."
Rosy beranjak dari sofanya. Saat ia berdiri, sebuah buku pun jatuh.
Rosy segera mengambilnya lagi.
"Oh... kamu suka baca buku? Dapat darimana buku ini?" tanya Mei.
"Tapi jangan kasih tahu Ibu yah?"
"Iya. Sekarang dan seterusnya saya berpihak pada kamu, Rosy. Tenanglah."
"Jadi saya tak sengaja menemukan ini," Rosy menarik sebuah kain yang menutupi rak buku yang cukup besar itu.
"Wow! Menakjubakan!"
"Iya. Sepertinya punya Ayah. Setidaknya, dengan buku-buku ini aku tak akan kesepian lagi," ucap Rosy.
"Sabar, ya. Yakinlah. Semuanya pasti akan ada jalan keluarnya. Kamu habiskan dengan apa yang kamu suka. Bacalah semua buku ini. Kalau butuh bacaan baru, kabari saya. Ok?" tutur Mei.
Rosy tersenyum setuju. Wajahnya memancarkan terangnya sendiri.