"Ketika yang lain pergi tiba-tiba kamu datang dan dengan
senang hati untuk membantuku, Dapatku pastikan jika kamu itu baik"
-Meira putri adiwiguna-
•••
Di koridor saat ini aku sedang berjalan gontai, pasalnya hari ini aku sangatlah sibuk menagih uang untuk membeli baju seragam angkatan. Ada berbagai macam alasan dari teman seangkatannya ketika di mintai uang itu, ada yang lupa lah, ada yang belum dapat transfer an lah, dan lain sebagainya.
"Huft capek banget dah, padahal cuma mintain uang doang tapi capek nya luar biasa" gumam ku yang tengah duduk sendiri di kursi koridor. Saat ini kondisi kampus sedang sepi, sebagian mahasiswa sudah pulang duluan karena tidak ada lagi jam kuliah.
Universitas tempat aku kuliah hanya jurusan kedokteran saja yang wajib tinggal di asrama selama 4 semester, untuk mempermudah jika ada praktek atau materi tambahan pada malam hari.
"Hei kok kamu sendirian sih" ucap diva yang sudah duduk di sampingku.
"Eh diva, enggak kok tadi cuma duduk bentar. Capek banget baru sudah mintain uang buat baju seragam kita"
"Oh kirain kamu kenapa, aku belom bayar kan? Maaf Tadi aku ada urusan jadi gak ada di kelas" tanya diva sembari mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu.
"Iya gak apa-apa kok div, gue ambil kembaliannya dulu" jawabku yang mencari dompet dalam tasku.
"Eh bentar-bentar, dompet aku kemana ya. Perasaan tadi aku taruh di dalam tas deh" gumama ku ketika tidak menemukan dompetnya.
"Kamu Serius? Coba cari lagi mungkin keselip" ucapnya.
"Serius div, gak ada," akupun mengeluarkan seluruh isi tas.
"Kayak nya jatoh deh Ra, coba kita cari mungkin ada di sekitar sini" umpat diva lalu dengan teliti mencari dompetku di setiap lantai koridor.
"Dompet kamu warna apa Ra?" Tanya diva.
"Warna pink gambar unicorn", diikuti dengan anggukan diva. Kami pun berpencar mencari dompet itu agar mudah cepat ketemu.
Setelah sekitar 20 menit mencari di penjuru sudut koridor kampus aku menyerah karena tidak bisa menemukan dompetku, tapi diva belum juga muncul. Aku terduduk lesu di kursi koridor btempat semula kami tadi.
"Gimana kalo diva gak ketemu dompet itu, aku mau ganti uang nya pakai apa" lirihku.
"RA" panggil seseorang yang membuatku seketika mendongak.
"Ketemu gak div?" Tanyaku dnegan sangat berhati-hati. Takut jawabannya tak sesuai ekspektasi.
Diva menunjukkan raut wajah sedih, seakan-akan dia juga gagal menemukan dompetku.
"Yaudah gak apa-apa div, nanti biar aku ganti aja" ucapku dengan sedikit kecewa.
Seketika diva tersenyum manis dan saat itu pula aku merasa heran, "kok ketawa sih div".
"Kamu ternyata tanggung jawab juga ya, jarang aku ketemu sama orang yang bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri" ucapnya sambil mengelus pundak ku.
"Ya emang itu udah jadi resiko dan kewajiban aku div, mau gimana pun aku harus tanggung jawab"
Diva pun mengeluarkan dompet yang berada di saku almamaternya, "yang kaya gini kan dompet nya" tanya diva yang menunjukkan dompet pink gambar unicorn sama persis seperti punyaku .
"Wah terima kasih banyak loh div, aku gak tahu gimana caranya ganti uang ini kalo beneran hilang. Soalnya ATM aku juga ada di dompet ini", ucapku yang kegirangan seketika memeluk tubuh diva.
"Iya sama-sama Ra" diva pun ikut memeluk tubuh mungil ku.
"Eh maaf udah lancang meluk kamu" aku yang tersadar langsung melepaskan pelukannya.
Ia pun kembali tersenyum, "iya no problem kok".
Sudah sering ku katakan entah yang keberapa kali nya aku di buat nya tersipu berkat senyum andalannya itu.
"Balik bareng yok" tawarku agar tak terasa canggung.
Diapun mengangguk setuju, entah mau seperti apa aku mengilustrasikan perasaan ku saat itu. Aku sudah tak punya kata-kata lagi, semua perasaan itu sangatlah sulit jika harus diungkapkan dengan kata-kata. Intinya aku bahagia
•••
Semua orang di kamar menatapku heran karena melihat ku senyum-senyum sendiri, aku pun heran sejak Tatapan pertama itu membuat ku senyum-senyum tak karuan. Mau dianggap gila terserah deh, karena Meraka gak ngerasain apa yang aku rasakan sekarang tanggapku santai ketika orang berpendapat negatif tentang diriku.
"Eh loh kesambet apaan Mei, datang-datang senyum kayak orang gila" cetus Apria.
"Iya tuh tumben amat loh bahagia, biasanya murung tuh muka karena mau pulang ke rumah" timbal Della.
"Ih pada iri aja kalian semua, bocah di bawah umur gak boleh ikut-ikutan" jawabku yang menyindir Della.
"Dewi liat nih Meira bilang gue bocah, padahal kan udah cukup umur" rengekannya kepada Dewi.
"Udah-udah gak usah debat ya, plis sehari aja gak debat apa susahnya sih. Gue pusing denger kalian debaaat Mulu" ujar Dewi yang memegang kepala.
"Lagain mereka kepo banget dew, asalkan kalian tau kalo gue tuh lagi bahagia karena habis ketemu pangeran ganteng yang dikirim Allah buat jaga aku" ucapku dengan hiperbola.
"Emang ada pangeran yang mau sama loh yang manja gini, adanya mereka eilfeel liat loh Mei" cetus Sherly. Sedikit tuh kata tapi sakitnya udah kayak mau mati.
"Kalo iri bilang bos" putusku lalu berlenggang pergi meninggalkan mereka.
Akupun langsung pergi menuju Mushola untuk melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah, sebenarnya ketika Dzuhur tidak harus shalat di mushola tapi itu sudah jadi kebiasaan ku ketika dirumah kalau sholat selalu berjamaah dengan keluarga ku. Berhubung sekarang aku sedang jauh dengan keluarga ku jadi mereka semua sudah saya anggap selayaknya keluarga ku sendiri.
Setelah melakukan kewajiban, akupun pergi menuju dapur untuk makan bersama. Sudah tradisi di asrama ketika makan harus bersama-sama di dapur dan tidak ada satupun yang membawa makanan ke dalam kamar.
"Selamat makan Ra" tegur diva yang memilih duduk di depanku.
"Hey, selamat makan juga div", kamipun mulai menikmati makanan.
"Jangan lupa dia div" ucapku saat melihat diva yang langsung makan.
"Eh iya lupa, makasih loh udah ingetin", akupun mengangguk lalu kembali menikmati makanan yang sangat lezat ini.
15 menit kami berkutat dengan kegiatan makan kami tanpa ada yang memulai pembicaraan, kamipun pulang ke kamar masing-masing.
"Aku duluan ya div" ucapku ketika berdiri dari tempat duduk.
"Iya Ra, hati-hati ya" balasnya yang tak lupa dengan senyum manisnya itu.
Akupun berlalu meninggalkan diva dengan senyum tanpa henti, mungkin ini sudah ke seribu kalinya aku dibuatnya gila seperti ini. Tapi aku bahagia
•••
"Awal dari kebahagiaan ku semoga kamu benar-benar baik"