BAB 4 (Sebuah percakapan)

893 Kata
"Kamu itu bagaikan permainan lotere, haram sih. Tapi orang-orang masih tetap bermain, begitu pula aku. Haram jika aku terus memikirkan kamu tetapi aku masih ingin untuk melakukan nya" -Meira Putri Adiwiguna- ••• Hari ini adalah jadwal mata kuliah pak Fery yang pastinya grade A dan B jurusan kedokteran akan gabung. Kabar buruknya aku adalah penanggung jawab dalam mata kuliah ini sehingga membuat ku telat masuk dalam ruangan karena sebelumnya aku harus mengkonfirmasi dosen yang bersangkutan. Kabar buruk kedua aku harus duduk di barisan paling belakang karena hanya kursi itu yang tersisa, akupun berjalan lesu. Kalian mau dengar kabar baiknya? Pasti kalau kalian jadi aku bakal senang banget dan rasa lesu itu langsung hilang seketika. Saat aku duduk di kursi pojok kanan tak sengaja menatap seorang laki-laki yang duduk di samping kursiku. Demi apa itu kan laki-laki yang Tempo hari, batinku Laki-laki yang saat ini aku pandang lekat, mendongakkan kepala dan kembali menatap ku. "Hai" dia yang angkat bicara dengan senyum manisnya itu. "Ha..hai juga" jawabku yang sedikit gugup. "Kenalin aku Muhammad Dirga Diva Setiawan" ucapnya yang menjulurkan tangan. "Eh iya, a..aku Meira Putri Adiwiguna" jawabku yang menerima juluran tangannya, untuk yang kedua kalinya aku merasa gugup. 1..2..3..4..5 tatapan dan tangan itu masih di posisi yang sama, sedikit pun tak bergerak dan tak beralih. Akupun menaikkan satu alis, dia yang tersadar langsung melepaskan tangannya. "Maaf ya" ucapnya yang menggaruk tengkuknya yang di balas dengan anggukan ku. "Oh iya kamu dari Grade A ya" lanjutnya. "Iya aku dari grade A" "Pantesan gak pernah lihat kamu di kelas ku" jawabnya sambil tersenyum lagi. Entah yang keberapa kali aku di buatnya tersipu oleh senyumnya itu. "Hey, kamu kenapa" ucapnya yang menyadarkan ku. "Eh.. anu, gak apa-apa kok" aku yang sedikit gugup (mungkin lebih) karena ketahuan menatap nya. "Salam kenal ya, semoga kita bisa jadi partner belajar ya" cetusnya. "Iya semoga aja" Kamipun lanjut memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi. ••• Setelah percakapan singkat itu rasanya ada yang beda dari diriku, suka senyum-senyum sendiri. Grup Wa +62852xxxxxxxx menambahkan anda di grup CHUYUNK♥️ +62852xxxxxxxx: selamat datang di grup tercinta ? Anda : grup apaan ini -_- +62812xxxxxxxx : hai every body +62899xxxxxxxx : ava-avaan sich, grup gajelas +62887xxxxxxxx : woy menuhin isi cht gue aja si Lo pada, banyak bet dah grup. Sampe hp gue nge-hang +62852xxxxxxxx : udah banyak bacot loh pada, Mei save nomor kita-kita kalo masih mau temenan Ama kita. Anda : ogah bayar kalo mau minta save nomor sama artis. +62899xxxxxxxx : idih najis +62812xxxxxxxx : 2 +62887xxxxxxxx : 3 +62852xxxxxxxx : 4 +62899xxxxxxxx : woy dasar pemalas Lo pada, bisanya ngikut ae +62887xxxxxxxx : hehehe ambil yang simpel aja lah +62812xxxxxxxx : udah woy gue laper tau gak, lagain kalian ngebacot di grup padahal sampingan juga. +62852xxxxxxxx : tauk tuh mauli sama indah gajelas banget, yok ah makan. +62852xxxxxxxx : Mei kuy kantin, Lo lagi gak ada jam kuliah kan? Anda : yok otw Read 4 "Kurang ajar tuh bocah-bocah, cuma di read doang", gumamku ketika mengirimkan pesan di grup WA. Akupun segera berjalan menuju kantin yang terletak di lantai bawah. Ketika aku sampai di depan pintu masuk kantin tiba-tiba langkah ku terhenti saat melihat seorang laki-laki yang sangat aku hindari. "Hai apa kabar" tegurnya kepadaku. Aku bergegas menjauh darinya, pasalnya hatiku belum siap untuk menerima kenyataan. Dengan cepat laki-laki itu mencegah jalanku. "Uti, kamu mau kemana" ucapnya lagi yang sedang memegang tanganku. "Lepas gak" tegasku. "Kamu kenapa, aku salah apa sampai kamu ngejauh dari aku" jawabnya dengan santai. "Lo pikir sendiri" tegasku sekali lagi dan melepaskan tanganku yang sedang di cekalnya. Dia pun menatapku aneh dengan seribu pertanyaan yang ada di pikirannya. ••• "MEIRA", aku yang merasa terpanggil berjalan menuju sumber suara. "Lo kenapa Mei, kok kayak habis di kejar-kejar rentenir aja" cetus Meliyza saat melihat ku bercucuran keringat. "Gak apa-apa kok" jawabku sambil mengatur nafas. "Yaudah lupain kita lanjut makan aja, udah laper nih. Kalian mau pesan apa? Biar aku yang pesankan",timbal mauli. "Gue nasi goreng aja ya satu, sama minuman nya es teh manis", ucap indah. "Gue samain sama indah aja", jawab Indriani. "Gue juga samain kayak mereka", ikut meliyza. "Lo mau apa Mei?" Tanya mauli. "Kayak biasanya, nasi goreng seafood tapi gak usah pakai udang. Minumnya es teh manis", jawabku. Mauli pun pergi untuk mengantri, Setelah beberapa menit mauli pun datang membawa pesanan kami. Dengan lahap kami menyantap makanan tersebut. "Eh btw gue kepo nih, Lo tadi kenapa Mei?", Tanya meliyza ditengah keheningan. "Iya loh tadi kenapa Mei, cerita lah sama kita", timbal mauli sambil menikmati makanan. Akupun terdiam. "Mei, gak apa kok kalo Lo belom siap buat cerita. mending Lo nunggu waktu yang tepat aja sampe Lo bener-bener udah siap untuk cerita ke kita", tenang indah yang mengelus pundak ku. "Iya gak apa-apa kok Mei, kita juga ngerti kok perasaan loh sekarang", timbal Indriani. "Maaf ya guys aku belom bisa cerita ke kalian", ucapku kepada mereka. "Iyaa selow aja kali Mei, kayak sama siapa aja Lo Sekarang. Udah ah gak usah melow lagi, mending kita lanjut makan bentar lagi ada kuliah nih" gumam meliyza yang diangguki setuju oleh kami. ••• "Ketika kalian berusaha keras untuk tidak bertemu dengan masa lalu, maka dengan kerasnya juga masa lalu itu akan mendekati kita. Karena selama kamu dan masa lalu masih berada di satu rotasi yang sama maka akan ada kesempatan itu untuk dipertemukan kembali."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN