BAB 3(Tatapan itu)

733 Kata
"Kata orang gulali itu manis, namun bagiku senyum mu tak kalah manis daripada gulali" -Meira Putri Adiwiguna- ••• Seminggu sudah aku melangsungkan program pengenalan kampus mahasiswa baru atau biasa disebut PKKMB. Ini hari pertama Aku dan mahasiswa lainnya menjalani kegiatan kampus dengan normal tanpa adanya tekanan dari senior. Jam menunjukkan pukul 06.30, aku telah sampai di kampus 5menit yang lalu. Saat ini aku tengah berjalan menyusuri koridor, teman sekamar ku sudah lama menyebar yang tinggal lah aku sendiri. Di depanku tampak segerombolan wanita yang berjalan berlawanan arah, aneh nya mereka malah melambaikan tangan kepada ku. Siapa sih, kok kayak gak asing lagi ya. Batinku "Hey diem-diem Bae loh" cetus cewek tinggi dengan penampilan ala Korea. "Biar aku tebak, pasti Lo lupa dengan kita" timbal cewek lainnya yang berambut pirang merah maroon. Aku menaikkan satu alis, sembari mengingat mereka. "Aelah busyet loh Mei bener-bener lupa ama kita" umpat cewek berkulit hitam namun tak mengurangi kesan manis diwajahnya, tambah lagi lesung pipinya itu. "Bentar kalo kita bilang ini loh pasti inget" timbal cewek gembul nan imut dengan berponi. Ia pun memetik kan jari seakan mengisyaratkan ketiga cewek lainnya. "No comot, no baper, no ambyar" ucap serempak mereka di iringi kekeh-an. Akupun menganga seakan tak percaya, "cuyung" teriakku sembari memeluk hangat mereka. Mereka pun membalas pelukan ku, "aelah belum tua udah pikun aja loh Mei" ucap Meliyza sicewek gembul yang memecahkan suasana. "Iya loh jadi temen gimana sih, lupa diri loh ya" timbal mauli sicewek hitam manis. "Hehe, maaf loh bukan nya lupa diri. Tapi sumpah kalian tuh beda banget sekarang ya, sampe aku gak ngenalin kalian tadi" gumamku dengan cengingisan. "Aelah alasan klasik loh" cetus indah sicewek berambut pirang. "Beneran deh, kalian udah pada ngerti style. Gak kayak dulu dekil and the kumel banget" tawaku yang mengundang perhatian sekitar. Semua orang menatap kami dengan berbagai macam tanggapan. Akupun mengangkat dua jari sebagai tanda damai dengan cengiran kuda. "Loh ya gak ada berubah nya dari dulu ketawa Lo besar banget, kalo gue laki udah eilfeel denger ketawa loh itu swear" gumam Indriani sicewek ala Korea. "Sans dong kayak baru kenal aku aja, gak tau kenapa udah mendarah daging banget ketawa besar" "Berubah dong Mei, siapa tau dengan perubahan sikap Lo itu si Dia bakal suka sama Lo" cetus Meliyza, diangguki setuju dengan lainnya. Raut wajah ku pun seketika berubah, "udah lah ya gak usah bahas, lagi males mikir tentang dia" "Btw kalian ambil jurusan apa nih?" Tanyaku yang mengalihkan pembicaraan. "Kita mah yang mudah aja ya gak cuy" ucap mauli "Iyaps kita ambil jurusan keperawatan" timbal Indriani. "Biar gue tebak Lo ambil jurusan apa" tanya indah, "pasti kedokteran kan" lanjutnya memastikan. Akupun mengangguk. "Eh tapi kalo gak salah dia juga kuliah di sini deh, ambil jurusan kedokteran" ucap indah. "Lah berarti sejurusan dong sama Lo Mei" ucap Meliyza. Akupun terdiam tanpa kata. "Udah ah gak usah sedih gitu, harus senyum dong biar cantiknya gak hilang" hibur mauli. "Yok ke lapangan bentar lagi Apel, masa lalu gak boleh di ingat lagi. Sekarang fokus ke masa depan aja oke" ajak Indriani. Kamipun berbaris kelapangan sesuai dengan jurusan dan kelas masing-masing. ••• Sudah Satu jam berdiri di tengah lapangan mendengarkan amanah dari direktur utama kampus. Kaki ku yang sudah mulai keram karena lama berdiri, tak sedikit mahasiswa yang berceloteh karena pak direktur yang lama memberikan amanah. "Apa gak capek ya tuh mulut dari tadi komat-kamit, kaki gue udah pegel banget sumpah" gumam kertin salah satu teman satu kelasku. Akupun hanya terkekeh mendengarnya, tak berniat untuk menjawab karena trauma akibat PKKMB kemarin. Sampai saat ini Aku masih kesal dengan senior itu, tak jarang dia memberikan senyuman padaku tapi aku hanya membuang wajah karena tak ingin melihat wajahnya lagi. Tiba-tiba mataku bertemu dengan sosok wajah yang sangat menarik perhatian Meira, laki-laki itu tersenyum manis ketika mata kamu bertemu. Manis kata yang terlontar di batinku, entah kenapa Meira merasa nyaman ketika menatap wajahnya. Seakan ada sesuatu yang sulit untuk diungkapkan, tapi apa? Sedetik kemudian Meira memutuskan pandangan nya itu dan tertunduk malu. "Subhanallah, tadi itu pangeran dari mana sih" gumamku. "Ha, apa Mei?" Ikut kertin yang mendengar ucapan ku. "Eh.. gak kok, gak apa-apa" cengengesan ku. "Dasar loh gak jelas banget" Akupun terkekeh melihat wajah kertin yang nampak kesal, pasalnya ia capek karena berdiri ditambah penasaran dengan ucapan ku tadi. ••• "Entah rasa apa itu aku sangat tidak mengerti, tetapi aku benar-benar nyaman ketika melihat mu"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN