BAB 2(Keluarga baru)

1106 Kata
"Jangan takut, ketika kamu memilih untuk jauh dari keluarga mu Maka saat itu pula kamu akan mendapatkan teman baru bahkan keluarga baru" -Meira Putri Adiwiguna- ••• Sudah sekitar 30 menit yang lalu setelah pembagian kamar, saat ini aku berada di kamar beo bersama 9 mahasiswi yang lainnya. "Halo guys, kenalin ane Eci Apriani. Kalian bisa panggil ane eci atau Apria atau Ani. Terserah kalian dah yang mana nyamannya aja", celoteh cewek putih cantik dengan rambut lurus sedikit pirang. "Eh, nama kita sama yak. Gue Eci Dwi Yanti btw", timbal cewek satu lagi yang mempunyai lesung pipi tentunya menambahkan kesan manis diwajahnya. Ditambah rambut yang ia kuncir dengan sembarang. "Kok bisa gitu yak, jangan-jangan kalian kembar yang terpisah", Geruh cewek yang berhijab tentunya tak mengurangi sedikit pun persen cantik di wajah nya. Kami pun terkekeh mendengarnya. "Oh iya saya Dewi khuswatun, panggil Dewi aja oke" lanjutnya. "Kenalin gue Della Yunita, panggil dedek aja soalnya gue kelahiran 2003" ucap cewek imut yang memiliki pipi gembul. "Wah mahasiswi termuda nih kayaknya", ujar cewek langsing yang berkuncir dua. kami pun mengangguk setuju "Oh iya gue Monic Handayani" lanjutnya memperkenalkan diri. "Giliran gue yak, kenalin gue Reaz Anisyah. Panggil nisyah aja ya" timbal cewek bergigi gingsul. "Gue Endank, E.N.D.A.N.K panggil endang aja ya Jan ngadi-ngadi" ucap nya dengan pengejaan nama. Sicewek hitam manis. "Saya Purnama Sari, panggil sari aja" giliran si cewek gemuk yang memiliki wajah imut. "Langsung aja ya, saya Sherly Atika. Serah Lo pada mau panggil saya apa", kenal sicewek pendek imut. Seketika suara menjadi hening, aku yang sedari tadi menunduk dengan berhati-hati mendongakkan kepala. Ternyata seluruh orang sedang menatap ku intens. Akupun tersenyum kik-kuk. "Diem-diem Bae Lo dari tadi, kenalan Napa. Selow ae gak usah grogi" cetus Apriani. "Eh iya maaf, kenalin aku Meira Putri Adiwiguna. Kalian panggil aku Meira aja" ucapku memperkenalkan diri dengan sedikit gugup. "Nahh gitu dong, mulai sekarang kan kita satu kamar yang auto bakal jadi keluarga baru. Nah mulai saat ini gak boleh dari kalian yang malu-malu lagi. Kalo ada ape-ape bilang yak Jan di Pendem doang, mulai detik ini kita udah jadi keluarga oke, no rahasia-rahasiaan, no u*****n, harus solidaritas tanpa batas", ujar dewi panjang lebar. Kamipun berpelukan sebagai tanda keluarga. Setelah sesi perkenalan selesai kami melanjutkan aktifitas asrama yang sudah di tetapkan oleh pengurusnya. ••• Jam menunjukkan pukul 03.00 WIB Aku yang sedang tertidur pulas merasa terganggu ketika mendengar aktifitas orang sekitar, mataku rasa nya berat untuk membukanya. Biarin ah aku masih ngantuk, 5 menit lagi dah batinku. Akupun kembali ke alam mimpi. "Meira.. Meira.. bangun gih udah jam 3, entar jam mandi nya habis baru tahu rasa" terdengar samar-samar suara Dewi yang membangun kan aku. "Bentar dew, 5 menit lagi", ucapku dengan mata tertutup. "Ihh.. bangun Mei, entar kakak tingkat datang dan Lo bakal kena marah" lanjutnya sambil menggegai tubuhku. "Dingin Dew, baru jam 3 juga" "Bangun gak, kalo gak bangun gue siram lo pake air" lanjutnya "Iya-iya bawel banget dah, udah kayak bunda aku aja" ucapku lalu berjalan gontai menuju kamar mandi. Brukk, "aw s**t, kenapa nih tembok udah ada di depan aja. Perasaan tadi gak ada di sini deh", umpatku sambil mengelus dahi yang tertumbur tembok. "Hahaha.. dasar Meira, mangkanya kalo jalan tuh mata dibuka. Biar kelihatan letak tembok di mana" kekeh-an dewi yang menertawakan ku. "Au ah males" jawabku lalu kembali berjalan menuju kamar mandi. Setelah ritual mandi dilanjutkan dengan kegiatan asrama, lalu lanjut dengan kewajiban sebagai umat Islam yaitu melaksanakan shalat subuh berjamaah di mushola asrama. Jam 13.00, di sini ditengah lapangan kami sedang berkumpul mendengarkan celotehan kakak tingkat yang sudah hampir satu jam berdiri dibawah terik matahari. "Tuh orang ceramah atau apa sih, ngoceh gak jelas dari tadi. Nih kaki udah pegel dari tadi berdiri, belom lagi panas banget. Dia mah enak teduh di koridor lah kita panas-panas an di bawah matahari" umpatku yng sudah bercucuran keringat. "Gak tau tuh senior enak-enak teduh, gak ngerasain apa yang kita rasain" jawab Henny anggota kelompok ku. "Iya betul banget, gak kasian ape sama anak orang. Gue udah susah-susah pake skin care malah di jemur tengah lapangan, bakalan belang dah kulit gue" timbal Tami salah satu kelompok ku. "Udah sabar aja, emang takdir kita jadi junior di giniin." Ucap Della yang ikut bicara. Dari sembilan mahasiswi yang se-kamar sama aku, hanya Della yang sekelompok denganku. "Hey itu yang ber empat di belakang maju sini" sentak senior yang berceloteh sedari tadi. Kami pun terlonjak kaget ketika di tunjuk oleh nya. "Iya kalian, sini maju kedepan" lanjutnya Dengan sejuta ketakutan kamipun berjalan kedepan sesuai perintah senior. "Ini contoh generasi yang gak bakal sukses" ucap senior itu ketika kami berbaris didepan. Kamipun tertunduk malu karena seluruh pasang mata sedang menatap kami dengan berbagai macam asumsi. "Sebagai hukumannya kalian joget sambil nyanyi didepan sini" lanjutnya ketika berdiri menghadap kami. "Eng..gak ada pilihan lain kah kak" ucapku Dengan sedikit gugup (bisa jadi lebih). "Gak terima bantahan, cepat lakukan perintah saya" tegas nya dengan sedikit nada keras. Air mataku tak terasa menetes, pasalnya aku tidak bisa mendengar suara bentakan. Sebab orang tuaku juga tidak pernah membentak ku sekalipun. "Kenapa nangis, mau di kasihani? Gak mempan percuma Lo nangis gak bakal ngurangin hukuman kalian semua", dengan segera aku menghapus air mata. "Eh karena Lo udah nangis hukuman nya saya tambah, buat Lo lari 5 keliling lapangan" lanjutnya sambil menunjuk wajahku. Dengan susah payah aku meneguk air liur, lalu dengan perasaan campur aduk kami melakukan hukuman senior itu. Dilanjutkan aku yang berlari 5 keliling lapangan. ••• "Lagian Lo sih Mei, udah tau senior itu dingin nya minta ampun. Pake di bantah segala, jadi berabe kan urusan nya", ucap Della. Saat ini kami sedang beristirahat di kamar karena kegiatan PKKMB sudah selesai. "Aku tuh gak bisa kalo dibentak gitu, orang tua aku juga gak pernah ngebentak gitu. Lah dia se enaknya bentak-bentak aku" jawabku dengan kesal. "Tapi ane juga kesel sama tuh senior, gara-gara nangis doang malah di tambah hukumannya. Dasar gak punya hati tuh bocah" timbal Apria. "Iya bener, apa lagi tadi tuh dia bilang kalo kalian gak bakal sukses. Emang nya dia siapa berani nya udah nge-judge masa depan kalian. Gak like gue mah" Sherly yang ikut bicara. "Mangkanya jadikan pelajaran buat kita semua, lain kali jangan gitu lagi. Kan kalian tau kalo senior itu gak pernah salah, jadi kita sebagai Junior harus terima kenyataan aja" ucap yanti. "Udah-udah gak usah ghibah, mending kita tidur aja. Capek banget sumpah badan gue seharian out door mulu", cetus dewi. Kamipun mengangguk setuju, dengan kembali ke tempat tidur masing-masing. "Ketika kalian melakukan kesalahan, jangan sekali pun beranggapan bahwa kalian tidak akan pernah bisa. Ingat jika kesalahan itu merupakan awal dari keberhasilan kita"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN