"Gimana pertemuanmu dengan Pak Sudewo?" Opa menyebutkan masalah ini, saat keduanya duduk di ruang tengah rumah utama.
Pagi ini Lilith datang berkunjung ke kediaman utama. Bagaimanapun juga, Opa sebenarnya masih menduduki posisi sebagai komisaris perusahaan manufaktur meubel yang Lilith jalankan. Lilith perlu mengabarkan hal-hal penting pada beliau. Hanya saja selama ini, pertemuan mereka dalam membahas banyak hal lebih bersifat semi formal, bahkan informal.
"Nggak optimis!" Lilith menggelengkan kepala, tak terlalu antusias.
"Kenapa?" Opa mendorong bingkai kaca mata emas yang beliau kenakan, membuat benda itu lebih nyaman dipakai. Sebuah tabloid keuangan diletakkan di pangkuan Opa, terbuka di halaman yang membahas tentang artikel pergerakan saham dalam negeri.
"Pak Sudewo terlalu sulit diajak nego!" Tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, Lilith hanya bisa mengambil alasan acak.
Di depan Opa, Lilith masih memiliki sisa harga diri. Dia enggan menyampaikam fakta yang ada. Sulit baginya mengungkapkan apa yang terjadi dengan Pak Sudewo dua hari lalu. Bisakah Lilith berkata, "Ngomong-ngomong, Opa. Pak Sudewo bisa saja menjual tanah dan bangunan itu, tapi syaratnya Lilith memberinya beberapa malam kebersamaan."
Mengatakan hal itu? Jangan harap.
"Sama sekali nggak ada ruang untuk pembalikan?" Opa mencoba mencari celàh. Beliau tahu Lilith adalah negosiator yang hebat. Tidak mudah bagi Lilith menyerah di tengah jalan.
"Tidak." Kecuali menyerahkan harga diri, tidak ada cara untuk membalik negosiasi.
"Sama sekali? Sudewo tidak bisa dibujuk lagi untuk menjual tanah dan bangunan itu?" Opa masih kurang percaya.
"Sama sekali. Jangan berharap itu lagi, Opa!" Lilith menggeleng dengan lemah, malas untuk memperpanjang topik ini.
"Pagi, Kak Lilith. Opa." Suara manis seorang wanita menyapa mereka berdua di ruang tengah. Mendengar suara ini, membuat suasana hati Lilith yang buruk, semakin memburuk.
"Hm." Opa mengangguk kecil merespon Fiska, sementatara Lilith memilih tidak menjawab sapaan ini sama sekali.
"Fiska nggak sengaja denger kalian nyebut-nyebut tentang Pak Sudewo. Apa ini Pak Dudewo Hariyanto? Pemilik perusahaan sepatu ELC?" Dengan lembut, Fiska menatap kedua orang yang kini sedang menikmati secangkir kopi.
Lilith tak berniat menjawab. Apa gunanya Fiska masuk ke dalam pembicaraan ini? Sama sekali tak ada hubungannya dengan dia.
Opa pun tampaknya tak berniat menjelaskan. Rasa kepercayaannya pada Fiska tak sebesar kepercayaannya pada Lilith.
"Papa berkata Kakak lagi negosiasi untuk membeli tanah milik Pak Sudewo. Ini Pak Sudewo Hariyanto, kan? Kakak, kebetulan Pak Sudewo adalah ayah dari sahabat Lilith dulu semasa kuliah. Apa Kakak mengalami kesulitan untuk negosiasi ini? Mungkin Fiska bisa membantu Kakak bernegosiasi."
Jadi Papa memberi tahu wanita ini tentang niat Lilith membeli tanah Pak Sudewo? Pantas saja Fiska mulai cari muka. Papa dan anak sama-sama suka mencampuri urusan orang lain.
"Apa tanah dan bangunan itu bisa kita beli?" Papa muncul ke ruang tengah, ikut masuk ke dalam pembicaraan. Kemarahan dan kekesalan Lilith semakin menjadi-jadi.
Sejak bertahun-tahun lalu Lilith menyadari apa yang terjadi pada keluarganya, Papa berkhianat di luar dan membawa anak haram ke rumah ini, respek Lilith pada laki-laki yang menjadi ayah biologisnya tidak lagi seperti dulu. Di mata Lilith, lelaki itu berubah menjadi lelaki asing yang kebetulan berhubungan darah dengannya. Itu saja. Tidak lebih.
"Tidak. Negosiasinya sulit!" Opa yang menjawab Papa untuk mengurangi kecanggungan suasana. Jika Opa tak menengahi, kemungkinan situasi Lilith dan Papa akan semakin canggung lagi.
"Kebetulan Fiska sahabat dekat dengan putri Pak Sudewo. Gimana kalau Fiska mencoba membujuk dan bernegosiasi ulang?" Papa mendorong Fiska untuk berpartisipasi aktif dalam peran kali ini.
Semua orang di rumah tahu meskipun Opa menerima keberadaan Fiska, tapi cucu ini tak memiliki kedudukan setara dengan Lilith. Dia tidak diberi peran dalam perusahaan, dan hanya diberi jatah uang bulanan untuk digunakan sesuai kebutuhan Fiska.
Fiska sudah lulus beberapa tahun yang lalu dari perguruan tinggi. Opa tak memberinya kesempatan masuk dalam bisnis keluarga. Beberapa kali Fiska bekerja di luar, mengandalkan latar belakang pendidikan yang dimilikinya.
Namun, Fiska adalah orang yang tidak terlalu tahan dengan tekanan, terutama tekanan dan tuntutan pekerjaan berbentuk tim. Sering kali kinerjanya justru menghambat pekerjaan rekannya yang lain. Jadi, Fiska beberapa kali resign dan hanya bisa menjadi pengangguran dengan aktifitas terbatas.
Sekarang, melihat kesempatan untuk masuk dan berperan ke dalam bisnis keluarga, Fiska berniat mengambil kesempatan ini dengan baik. Bukankah masuk dalam bisnis keluarga lebih baik daripada bekerja di luar? Setidaknya, dia tidak akan digertak oleh orang lain dengan mudah.
Azrial, sang papa, tentu saja menjadi pendukung utama keinginan Fiska.
"Kamu pikir kemampuan Lilith rendah sehingga apa yang tidak bisa dia lakukan bisa dilakukan Fiska?" Opa menyesap kopi kental, kemudian meletakkan kembali cangkir berukir angsa di tatakan.
Kemampuan Lilith tidak perlu dipertanyakan lagi. Apa maksudnya Fiska ingin menggantikan negosiasi ulang? Meragukan kinerja Lilith? Huh.
"Bukannya gitu, Opa. Fiska mah enggak ada apa-apanya dibandingkan Kak Lilith. Ini cuma kebetulan Pak Sudewo Papa dari sahabat Fiska. Siapa tau, nanti sahabat Fiska bisa meluluhkan hati Pak Sudewo, biar nanti Fiska bujuk lewat putri Pak Sudewo.
"Fiska nggak bermaksud apa-apa, apalagi berniat mengambil peran Kak Lilith. Di sini Fiska cuma ingin membantu. Lagi pula, toh ini cuma sekadar usaha. Apa salahnya dicoba? Kan enggak ada kerugiannya sama sekali!" Fiska duduk di sisi Opa, ekspresi wajahnya melembut, kedua matanya penuh pengharapan.
"Apa salahnya mencoba, Pa?" Papa duduk di depan Opa, dengan serius menatap ayah yang telah merawatnya bertahun-tahun. Garis-garis lembut di sekitar mata Opa menunjukkan jejak usia, tetapi manik-manik matanya yang tajam dan jernih masih memberikan d******i dan intimidasi.
Opa terdiam sejenak. Lilith duduk diam, mencoba tenang, memutar-mutar cangkir keramik dalam genggaman tangan.
"Baik. Tiga hari. Itu waktu untukmu!" Opa menatap Fiska, kata-katanya tegas.
Senyum muncul di bibir Fiska. Matanya cerah dan bercahaya. Dia segera mengangguk, berterimakasih berulang kali, berjanji akan melakukan yang terbaik. Papa juga menunjukkan kebahagiaan. Dia bangkit, menepuk-nepuk bahu Fiska, memberi semangat dan beberapa nasehat standar.
Tak terlalu suka kebisingan, Opa melambaikan tangan, memberi isyarat pada orang-orang di sekelilingnya untuk segera pergi. Tak ingin menyinggung Opa, Papa dan Fiska segera pergi sesegera mungkin. Tinggallah Lillith yang masih duduk di sisi Opa. Bingung oleh keputusan Opa yang tidak disangka-sangka.
"Opa ngijinin Fiska bernegosiasi?" Sikap Lilith menunjukkan ketidaksetujuan.
"Apa salahnya memberi satu kesempatan? Lagi pula, apa yang tidak bisa kamu lakukan, belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain." Opa menepuk bahu cucu kesayangannya. "Hasil akhirnya kemungkinan besar kegagalan."
"Hm." Menyadari apa yang dimaksud Opa, suasana hati Lilith sedikit membaik.
"Opa membeli koleksi keris baru. Mau lihat?" Opa teringat dengan barang berharga yang dua hari lalu ia beli dari teman lamanya. Belakangan ini, Opa menyukai peninggalan-peninggalan tradisional. Keris, akik, alat musik, dan kidung-kidung Jawa. Katanya, barang-barang ini memiliki nilai filosofis yang tinggi. Sebagai generasi baru, sudah selayaknya kita menghargai peninggalan sejarah dengan baik.
"Boleh." Lilith mengikuti Opa ke ruang koleksi khusus, di mana beliau menyimpan semua benda-benda koleksi seperti keris, akik, tombak, dan jenis-jenis gamelan.
Tidak banyak orang yang tahu seorang pengusaha Haidar Akbar Syah yang dikenal memiliki pola pikir dan gaya hidup modern, adalah seseorang yang menjaga objek peninggalan tradisional dan menghargai nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Opa mengambil sebuah kotak kayu cendana berukuran sedang di salah satu rak lemari besar, membawanya ke depan Lilith, dan membuka benda itu pelan-pelan.
Di dalam kotak tersebut, terbaring sebuah keris panjang bergagang gading, dengan hiasan beberapa batu permata, membentuk pola yang teratur. Sarung keris terbuat dari bahan kayu berkualitas tinggi, dilapisi ukiran unik berwarna keemasan. Aroma bunga menguar di udara, tampaknya menjadi wewangian yang Opa gunakan pada benda tersebut.
"Indah, bukan?" Kedua mata Opa berbinar, mengelus sarung keris yang dipelitur. Beliau menarik gagang keris, menampilkan pedang keris berlekuk dari baja khusus bermata dua.
"Ya. Sangat indah!" Lilith tertarik dengan keris tersebut, tatapannya menunjukkan pujian yang tulus.
Keris di tangan Opa memiliki nilai keanggunan, kekuatan, keindahan, dan kesakralan.
"Ini nggak ada hantunya, kan?" Lilith mengernyitkan keningnya dalam-dalam.
"Apa kamu pikir keris itu berharga hanya karena berhantu?" Opa mendengkus kasar, sedikit tersinggung. "Pantas generasi sekarang tidak bisa menghargai warisan budaya. Pemikirannya terbatas dan selalu menganggap benda-benda warisan sejarah adalah benda-benda mistis yang hanya didiami hantu."
Opa menunjuk kursi berlapis kulit di sudut ruangan, mengisyaratkan Lilith untuk duduk di sana. Mengikuti keinginan Opa, Lilith mengusap permukaan kursi, menghilangkan selapis debu kotoran di atasnya, dan duduk dengan patuh.
"Keris kan memang dinilai punya kekuatan magis, Pa!" Lilith mengeluarkan pendapat pribadinya.
Opa menunjukkan benda di tangannya, ingin Lilith mengamati lebih cermat. Dengan serius, Opa mulai menjelaskan.
"Memang, keris memiliki nilai magis. Tapi bukan hanya itu nilanya. Sebagai benda pusaka, keris memiliki nilai simbolis, filosofis, dan estetis."
"Objek ini memiliki proses yang panjang. Kamu tau, empu, si pembuat keris ini bukan orang sembarangan. Empu dianggap sebagai orang linuwih. Profesi ini bukan hanya dituntut menguasai kemampuan metalurgi dalam mengekstrak logam dan mineral saja, tetapi juga mengetahui sastra, sejarah, pawukon, dan ilmu ghaib.
"Doa dan pengharapan yang disampaikan sang empu ke dalam keris, inilah yang membuat keris memiliki nilai magis. Prosesnya lama, butuh tirakat, dan kedekatan pada Yang Maha Kuasa.
"Orang Jawa itu, ya, kalau kamu ingin tau, leluhur mereka adalah leluhur yang mengedepankan tirakatan. Sebuah proses menahan diri dan keteguhan hati, berpantang pada sesuatu, untuk meraih tujuan sebenarnya. Pantas orang-orang dulu dikenal punya aji-aji. Sebenarnya, bukan aji-ajinya yang kuat, tetapi proses penempaan fisik dan psikis pelakunya yang penuh tekad dalam perjalanan meraih apa yang mereka inginkan.
"'Ojo wedi tirakat, ojo wedi prihatin' Itu salah satu pitutur orang dulu. Nasehat itu adalah nasehat yang dalam. Di mana kita dilatih untuk menjalani proses demi proses, pengukuhan tekad, demi meraih keinginan agung."
"Maka dari itu, Lilith. Opa berpesan sama kamu. Dalam hidup ini, jangan takut akan rasa sakit. Sering kali rasa sakit dan ketidaknyamanan itu adalah proses kamu untuk menjadi seseorang yang sebenarnya. Pelajaran yang sesungguhnya bukan pada seberapa besar kamu bisa duduk dalam prestasi dan nama baik, tetapi seberapa besar kamu menempa hatimu, sehingga kamu tetap memiliki kedamaian dalam semua kondisi hidup yang ada!"
Opa mengembuskan napas panjang, menutup wejangannya kali ini. Dia mengusap puncak kepala cucunya penuh kasih sayang, berharap wanita ini mampu mengambil setiap pelajaran yang ia berikan.
"Makasih, Opa. Lilith akan ingat nasehat ini." Sejatinya, hati Lilith cukup sensitif. Dia mudah menerima nasehat dan masukan yang diberikan orang lain, apalagi jika nasehat itu disampaikan dari hati.
"Dalam hidup ini, Lilith. Jangan selalu gunakan logika. Pola pikirmu selalu berubah, itu artinya logikamu memiliki ruang untuk berbalik arah. Jadi, gunakan ini, ingat?!" Opa menunjuk d**a, mengingatkan Lilith akan pentingnya kata hati.
"Ya, Opa. Lilith akan berusaha menilai sesuatu dengam hati!" janji Lilith sungguh-sungguh.
Opa yang mendengar respon Lilith, bersandar di sandaran kursi tinggi, ekspresinya penuh rasa puas.
…