Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh malam. Jalanan kompleks yang didiami Lilith telah sepi. Lampu-lampu semakin melembut, membentuk asap samar di sekeliling cahaya.
Malam ini Lilith baru saja menyelesaikan lembur untuk proyek yang sempat tertunda. Dia pulang dalam keadaan letih, lemah, dan terbayang untuk bisa sesegera mungkin berbaring di atas ranjang dengan nyaman.
Lampu ruangan utama di rumah Lilit telah dipadamkam satu jam yang lalu oleh Nathan. Lilith meraba-raba sebentar dalam gelap, menghidupkan lampu di beberapa titik.
Mandi di malam hari tak terlalu baik dalam kesehatan, terutama di jam selarut ini. Lilith memutuskan untuk mencuci muka dan membasuh kaki serta tangannya, membuat mie instan untuk mengganjal perut, dan beegegas masuk ke kamar, mengistirahatkan badan.
Namun, suara ganjil di kamar Nathan menarik perhatian Lilith. Terdengar suara-suara berisik seperti geraman, yang semakin lama semakin keras.
Gerakan Lilith tertahan. Apakah Nathan sedang melakukan hal-hal kotor? Tak ingin menodai pikirannya sendiri, Lilith mendesah panjang, menjauh dari pintu kamar Liam.
Namun, suara Liam semakin berisik dan menghebohkan. Beberapa teriakan tertahan semopat Lilith tangkap.
"Liam?" Lilith mengetuk pintu Liam, merasa ada yang tak beres.
"Liam? Apa semuanya baik-baik aja?" Lilith mengetuk pintu Nathan lebih keras lagi, tapi tak kunjung mendapat jawaban.
"Liam! Liam!" Kali ini, bukan hanya mengetuk. Lilith bahkan menggedor pintu kamar Liam, menambah kebisingan.
"Liam! Li—" Karena terlalu keras menggedor, daun pintu terdorong ke dalam, terbuka membentuk celàh kecil.
Sepertinya Liam memiliki kebiasaan tidur tanpa mengunci pintu kamar. Lilith mengernyitkan kening, terlihat ragu-ragu untuk sejenak. Mendengar teriakan Liam yang tertahan lagi, Lilith membuat keputusan cepar, masuk ke dalam kamar Liam dengan langkah-langkah tanpa suara.
Lilith bukan orang yang suka menginvasi wilayah orang lain. Kali ini adalah pengecualian. Dia masuk ke dalam kamar Nathan untuk melihat apakah semuanya baik-baik saja.
Dengan cahaya samar lampu tidur di meja nakas, Liam terbaring kacau di atas ranjang, napasnya tak teratur, seluruh tubuhnya gemetar, dan keringat transparan muncul di sudut dahinya.
Mata yang biasanya bersinar lembut penuh godaan, kini terpejam erat, terlihat tertekan, dengan kerutan di dahi yang mendalam.
"Tidak. Jangan!" Liam berteriak, mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, meninju ranjang beberapa kali. Napas Liam semakin cepat, tak teratur.
"Liam! Liam!" Lilith mengguncang bahu Liam, merasakan kulit di bawah kain kaos yang ia sentuh terasa lembab oleh keringat.
Tak merespon, Lilith mengguncang bahu Liam lebih keras lagi.
"Liam! Bangun!"
Mungkin guncangan Lilith terhadap Liam berpengaruh, atau mungkin kedatangan Lilith di kamar ini memberi Liam sebuah jejak. Mana pun itu yang benar, Liam akhirnya membuka mata, terlihat linglung untuk sesaat.
Kelopak mara Liam bergetar, bulu matanya seperti sayap kupu-kupu yang indah. Kelopak mata itu terbuka, menunjukkan mata sekelam tinta.
Tatapan mata Liam linglung. Dia bergegas duduk, menyapukan seluruh pandangan ke seluruh kamar. Saat matanya bersirobok dengan Lilith, ada keterkejutan yang nyata dari lelaki tersebut.
"Lilith?" tanyanya bingung.
"Maaf. Aku masuk kamar tanpa ijin. Aku tadi nggak sengaja denger kamu gelisah, berteriak-teriak nggak nyaman. Waktu aku ketuk pintu nggak ada respon. Jadi aku dorong buka. Kayaknya kamu nggak nyaman banget di dalam tidur. Mimpi buruk?" tanya Lilith, melihat napas Liam yang sebelumnya liar kini terdengar mulai teratur.
"Ya. Mimpi buruk!" Liam mendongak ke langit-langit, mayatanya membayang samar.
Sudah beberapa waktu ini Liam tidak lagi bermimpi buruk tentang masa lalunya. Liam kira keadaan psikisnya mulai stabil sehingga dia merasa nyaman dan tenang. Siapa sangka mimpi itu datant lagi malam ini?
"Minum?" Lilith meraih segelas air di meja nakas, mengangsurkannya pada lelaki yang kini masih duduk di ranjang dengan sikap bingung.
"Makasih!" Tak ingin menyia-nyiakan niat baik Lilith, Liam menerima gelas tersebut dan meneguk isinya hingga habis.
"Udah lebih baik belum?" tanya Lilith kemudian.
"Ya. Mendingan." Liam membuang selimut dari ujung kakinya, bangkit dari ranjang, berjalan pelan menuju jendepa besar dan menarik tirainya dengan pelan.
Bintang bertebaran di langit malam, mengitari renbulan agung di porosnya. Malam ini cerah. Langit seolah menampilkam diri sebagai cahaya kehidupan yang menawan.
"Biasanya mimpi ini datang kalau situasi batin lagi nggak stabil. Aku kira semuanya baik-baik aja. Tapi kayaknya malam ini pengecualian!" Mendorong jendela agar memiliki celah untuk menukar udara, Salah satu tangan Liam meraba bagian atas jendela, berhasil menemukan sebungkus rokok.
"Biasanya? Kamu punya kebiasaan mimpi buruk?" Lilith melihat rasa tidak nyaman pada diri Liam, diam-diam bersimpati membayangkan laki-laki itu dipaksa menghadapi teror melalui mimpi berulang kali.
"Bukan mimpi buruk sih ini. Lebih ke kilasan-kilasan masa lalu. Sumbernya datang dari diri sendiri." Menyiksa hati Liam sendiri hingga ia lelah dan suasana hatinya memburuk dengan cepat.
"Kilasan-kilasan masa lalu?" tanya Lilith, tak terlalu suka membayangkan Liam dihantui oleh masa lalunya sebegitu dalam. Masa lalu seperti apa yang laki-laki itu peroleh sehingga gambaran-gamnbaran buruknya datang tanpa diundang seperti ini.
"Ya. Aku udah pernah bilang, kan. Ayahku seorang kuli angkat pasar yang cacat. Hidupku dulu nggak mudah. Banyak olokan, bullyan, dan serangan verbal di mana-mama yang aku dapatkan. Beberapa kali bahkan, Ayah mendapatkannta juga!" Situasi Liam sulit saat itu. Lemah, tak berdaya, menjadi objek olok-olok orang lain, dan dianggap sampàh.
"Liam. Kita bisa memilih masa depan seperti apa kita ke inginkan. Karir seperti apa yang akan kita geluti. Profesi seperti apa yang kita dambakan. Hidup seperti apa yang ingin kita ciptakan. Tapi Liam, kita tak akan pernah bisa memilih latar belakang dan identitas diri. Itu modal Tuhan memberikan apa yang Dia inginkan pada kita." Lilith berkata serius, menatap Liam dari sisi ranjang, sospknta terlihat indah dan menawan seperti peri. Ditambah dengan sepasang mata jernih yang murni, Lilith semakin terlihat tinggi dan tak tersentuh.
"Lilith!"
"Ya."
"Lama aku tidak mendapat dukungan dan hiburan dari orang lain. Bantu aku dengan sesuatu!"
Kening Lilith berkerut dalam. "Apa?" tanyanya ragu-ragu.
"Bisakah kamu memelukku? Sekali saja?"
Lilith tampak ragu-ragu. Sepanjang hidupnya, belum pernah ada orang yang memintanya dengan permintaan seperti ini. Bahkan, Fiska yang selalu pura-pura lembut pun belum pernah melakukan hal seperti ini.
"Lilith!" Liam menyadarkan Lilith dari lamunannya. "Beri aku sebuah pelukan, apakah itu sangat sulit?" Suara Liam dipenuhi pengharapan dan kerapuhan. Mendengar ini, Lilith tak kuasa menolak.
"Ya. Aku akan memberimu pelukan!"
…