Malam ini, Lilith pergi ke sebuah swalayan untuk membeli kebutuhan bulanan dan barang pecah belah. Liam, yang memiliki waktu bebas, menemani Lilith, menawarkan tenaga tambahan.
Liam mendorong troler belanja, sementara Lilith sibuk mengambil barang-barang dari rak swalayan.
"Ini ambil yang kemasan besar aja!" Liam menunjuk minyak lima literan.
"Oke!" Meletakkan kembali kemasan kecil dari tangan, Lilith mengambil apa yang Liam sarankan.
"Gulanya mau yang mana?" tawar Lilith.
"Ini!"
"Kecap masih, kan?"
"Beli lagi aja!"
"Bumbu kemasan?"
"Nggak usah!" tolak Liam. Sebagian besar, yang memasak adalah Liam. Dia laki-laki penguasa dapur sehingga persediaan apa pun selalu dikonsultasikan pada Lilith.
"Saus tiram?"
"Ya." Liam mengangguk setuju. Keduanya berbelanja bersama, seperti sepasang suami istri pada umumnya, memiliki keakraban dan kedekatan yang baik.
"Detergentnya ambil yang ini aja!" Liam menahan Lilith saat dia mengambil salah satu merk detergent di rak paling bawah.
"Kenapa?"
"Ada diskon yang merk ini. Bahannya lebih lembut yang ini, lebih berbusa, dan lebih harum."
Diskon? Lilith melihat keterangan harga diskon di salah satu merk detergent yang Liam tunjuk. Harga normal sembilan belas ribu sekian. Harga hari enam belas ribu sekian.
Seorang Liam bahkan memilih produk hanya karena selisih tiga ribu?
Lilith menggeleng pelan, meraih apa yang Liam tunjuk. Tiga ribu tetap tiga ribu. Bagaimanapun juga, diskon adalah diskon.
Setelah selesai berbelanja, mereka berdua pergi ke salah sati restoran, memutuskan untuk makan malam di luar. Liam cukup lelah. Kasihan jika maalm ini dia masih harus memasak untuk Lilith.
"Kakak!" Lilith yang baru saja memarkirkan mobil di basement, menoleh ke belakang saat suara familier menyapanya.
"Kamu!" Lilith membeku, kekesalan jelas terlihat di wajah ayunya yang lembut.
Di belakang mobil Lilith, ada dua orang wanita bergandengan tangan. Fiska, adik tirinya, dan seorang wanita berusia ... empat puluh? Tiga piluh lima? Lilith tak bisa menebak usia sebenarnya. Wanita itu mengenakan kardigan lembut berwarna peach, rok kain pendek, dan hills panjang dua belas centi. Wajahnya indah, tetapi ada garis-garis tajam, seperti kekeraskepalaan di antara matanya.
"Ini Kakak kamu?" Wanita asing itu tersenyum, bibirnya yang dipulas merah membentuk kurva sempurna.
"Ah iya, Tante. Ini Kak Lilith, kakak Fiska. Kakak, ini Tante Vivian, salah satu rekan bisnis Papa."
Rekan bisnis? Rekan bisnis bisa memilki banyak definisi, batin Lilith penuh cibiran.
"Halo, Lilith. Tante udah sering denger kamu dari Fiska. Kamu—" Kata-kata Tante Vivian berhenti saat dia menatap seorang lelaki yang muncul di belakang Lilith. Tubuhnya kaku, bibirnya berkerut tegang.
Lilith merasakan perubahan suasana. Dia menatap Tante Vivian, dan berbalik mengamati Liam.
Mata mereka berdua tampaknya berubah menjadi dinamit yang siap meledak kapan saja. Aura permusuhan yang kuat nyaris mencekij Lilith. Suhu yang seharusnya hangat, kini turun drastis, seolah-olah membeku dalam sekejap.
Bukan hanya Lilith yang merasakan perubahan ganjil ini. Fiska yang berdiri di sisi Tante Vivian, terlihat bingung, merasa ada hal buruk yang akan terjadi.
"Tante kenal Kak Liam, Suami Kak Lilith?" Dengan hati-hati, Fiska bertanya.
"Suami?" Tante Vivian merespon kata ini dengan wajah yang semakin berkerut. Tampaknya tidak mudah baginya untuk menerima kenyataan ini.
Lilith mulai curiga Tante Vivian adalah salah satu pelanggan Liam. Mereka pasti saling kenal, bukan? Jika bukan pelanggan, lantas apa?
"Ya. Dia suami saya!" Lilith mengonfirmasi.
Wajah Tante Vivian jelas semakin tidak baik. Dia berbalik pergi, melangkah tergesa-gesa, tak lagi memperhatikan Fiska yag seharusnya ia temani.
"Tan. Tante Vian. Aduh, Tan. Tunggu Fiska!" Tak ingin ditinggalkan begitu saja, Fiska segera menyusul Tante Vivian dengan terburu-biru.
Lilith dan Liam masih dalam posisi berdiri, melihat kedua orang pergi tanpa tahu kenapa.
"Ayo kita masuk ke resto!" Sentuhan lembut hinggap di lengan Lilith, menyadarkan Lilith tujuan utama mereka sebenarnya ke tempat ini.
"Orang itu kenal kamu?' tanya Lilith, saat keduanya sudah duduk di salah satu meja restoran bergaya semi outdoor dengan banyak cahaya llilin di mana-mana.
"Ya." Liam tahu siapa yang dimaksud Lilith.
"Salah satu pelangganmu?" tebak Lilith, hati-hati.
"Ibuku!"
"Hah?"
"Ibu biologisku!" Liam mengulangi jawabannya.
Lilith tertegun. Tangan yang ia ulurkan untuk mengambil minuman, kini kembali ia tarik.
Ibu. Ibu biologis. Ini … bukankah maksudnya mertua Lilith?
"Dia hanya melahirkanku. Itulah fungsi utama dan satu-satunya. Setelah itu, semua yang aku dapatkan dari Ayah. Dari makan, minuman, tempat tinggal, atau pendidikan. Sebagai seorang ibu, dia telah gagal di awal langkah." Liam mencibir Tante Vivian, sama sekali tak ada perubahan dalam nada suaranya.
Ada kebencian. Ada kemarahan. Dan ada keterasingan.
Semua emosi-emosi itu sama sekali tak ada emosi yang baik.
"Jadi, dia nggak ada selama proses kamu tumbuh?" tanya Lilith hati-hati, takut ebtahbbagaimana menyinggung Lilth tanpa sengaja.
"Tidak. Dulu, ayahku berprfesi sebagai tukang pukul di salah satu tempat hiburan malam. Suatu hari dia melakukan kesalahan dan memiliki kisah satu malam dengan salah seorang pengunjung klub. Namanya Vivian." Suara Liam lembut, seolah-olah membawa ketenangan khusus bagi orang-orang di sekitarnya. Sayangnya, Lilith tak mudah tertipu. Dia melihat kedua mata Liam menunjukkam aura pembunuhan yang kejam. Niat yang telah Liam.sembunyikan sangat lama.
"Vivian hamil. Dia langsung mendatangi Ayah, menyalahkan Ayah mati-matian, dan berniat menggugurkan janin itu. Dia sudah punya tunangan. Hamil bukan situasi yang cocok saat itu!"
Lagi-lagi konflik kepentingan. Di mata orang seperti Vivian, tindakannya selalu dikendalikan oleh prospek untung dan rugi.
"Ayah memohon pada orang itu untuk mempertahakan kehamilanku. Aku nggak tau bujukan seperti apa Ayah lakukan, sehingga Vivian saat itu bersedia menjaga kehamilan.
"Jadi setelah lahir, Ayah yang merawatku. Di matq kami, kami selalu dua orang dalam.keluarga. Tak ada celàh bagi orang lain untuk masuk dan ikut campur!"
"Kehidupan kami tidal.bisa dikatakan mudah. Bayangkan saja. Seorang lelaki yang menjalani karir sebagai tukang pukul, terpaksa membawa anaknya kerja dan menempatkannya di ruang belalang, sebuah gudang kecil berbau apak demi keamanan!"
"Hanyq saja … suatu hari aku membuat kesalahan. Saat itu usiaku lima tahun. Aku tidak sengaja melihat mobil model kuno bagus dengan permukaan mengkilat. Karena tertarik, aku mendekati mobil itu, dan mengelus permukaannya dengan hati-hati. Sayangnya, pemiliknya datang dan marah melihat aku menyentuh mobil itu. Orang itu sdang mabuk, suasana hatinya buruk, dan dia langsung memukulku, mencaci maki dan menyebutkan istilah-istilah kotor.
"Kebetulan Ayah melihat itu. Dia membelaku mati-matian, meminta maaf untukku, dan berjanji akan membayar denda berapa pun yang orang itu minta!
"Bukannya memaafkan, orang itu justru menghajar Ayah. Salah satu bawahannya menembak kaki ayah, membuatnya cacat sepanjang hidupnya. Tapi mereka malah tertawa-tawa senang. Tak merasa bersalah sama sekali. Bahkan sengaja menjadikan semua itu sebagai tontonan."
Kemarahan menggelegak di dalam hati Liam. Saat itu dia masih anak kecil. Satu-satunya pelindung yang ia miliki terluka hanya karena Liam menyentuh permukaan mobil mahal.
Sebagian orang, bahkan rela menumpahkan darah hanya karena hal-hal sepele. Mereka tak pernah peduli kehidupan orang kecil seperti Liam dan ayahnya. Bagaimana nanti mereka bertahan hidup. Bagaimana nanti mereka menyambung napas.
"Sejak itu, Ayah beralih profesi sebagai tukang angkat barang di pasar. Hari-hari kami semakin buruk. Terkadang, kami tak ubahnya dengan gelandangan di pinggir jalan. Dan lihat apa yang dilakukan Vivian. Dia tak pernah sekalipun peduli. Bagiku, daripada memiliki ibu seperti itu, aku lebij suka menganggapnya mati!" Liam menyuarakan hatinya.
...