Ciuman

1292 Kata
"Sibuk?" Liam datang ke ruang duduk, membawa dua cangkir kopi panas, memberikan salah satunya pada Lilith. Sejak beberapa malam yang lalu mereka sempat melempar kata-kata yang menyinggung satu sama lain, keesokan harinya, Liam bersikap lebih hangat daripada biasanya, menjalin komunikasi dengan Lilith secara alami. Lilith menilai tindakan Liam sebagai isyarat perdamaian. Dia tak ingin meributkan banyak hal, ikut menganggap apa yang telah mereka katakan malam itu tak pernah ada. "Nggak terlalu. Cuma ngecek hasil desain salah satu karyawan!" Lilith menatap desain dalam proposal di tangannya dengan tatapan puas. Hari ini, tiga hari sesuai perjanjian, Soni berhasil memberikan hasil yang memuaskan. Desain yang Lilith inginkan jadi. Tapi kondisi Soni lumayan mengenaskan. Dua mata panda yang memiliki lingkaran gelap, wajah kuyu, lemah, dan lunglai tanpa daya. Yah, Lilith tak akan terkejut jika Soni mengaku sekarat saat ini. Lilith menutup mata mengenai kondisi Soni. Orang itu sekali-kali harus dibiarkan bekerja keras. Tanpa dipaksa, karyawan seperti Soni hanya akan memakan gaji buta. Apa salahnya sesekali memaksanya? "Ini desain sofa dan kursi santai?" Liam mengikuti pandangan Lilith, tertarik oleh topik ini. "Ya. Mau lihat?" Lilith mengangsurkannya pada Liam. Bagaimanapun, Liam toh orang Lilith sendiri. Dia tak perlu khawatir Liam akan membocorkan desain pada pada orang lain. Lagi pula untuk apa? Toh karir Liam bukan karir yang sama dengan yang dijalani Lilith, seharusnya tidak ada bentrokan dan saingan di antara mereka. "Ini yang buat salah satu karyawanku. Ide-idenya brilian, desainnya kreatif dan unik, sering kali sesuai dengan selera pasar. Bahkan, ide-idenya bisa menyaingi manager atasannya sendiri. Tapi karyawan satu ini cukup liar. Sulit dikendalikan. Semaunya sendiri. Dia baru mau kerja kalau udah dipaksa, ditekan, dan disudutkan!" Lama-lama Lilith curiga Soni punya jiwa masokis. Hanya akan menikmati sesuatu setelah ia dipaksa dan disiksa. Lilith mempertimbangkan akan membeli dan menggunakan tongkat listrik untuk memaksa Soni bekerja. Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya hal ini tidak layak, jadi ia urungkan. Bagaimanapun juga, Lilith masih memperhatikan hak asasi manusia. "Desainnya bagus!" Liam berkomentar. "Tapi …." Liam tampak ragu-ragu. "Tapi apa?" tanya Lilith, mulai penasaran. "Bisa memberi masukan? Hanya sekedar masukan dari mata awamku sih ini," jelas Liam, tak ingin terlalu memaksa. "Ayo. Bilang aja. Terbuka dengan semua kritik saran, kok!" Inilah yang selalu Lilith terapkan sebagai pengusaha yang baik. Setiap kali dia melakukan sesuatu, Lilith sering kali meminta feedback dari bawahannya, rekan bisnis, dan orang-orang di sekeliling mereka. Setiap kali ada yang memberi masukan, saran, kritik, Lilith selalu menampungnya dengan baik dan memilah-milah mana yang patut diterapkan dan mana yang tidak. Pribadi Lilith blak-blakan, terus terang, dan apa adanya. Begitu juga dalam menerima masukan. Lilith sebenarnya memiliki karakter open minded dalam banyak hal. "Desain ini udah bagus. Cuma … gimana kalau bagian armrest dirombak dengan begini!" Liam mengambil kertas kosong, menggambar bagian sandaran tangan kursi, kemudian menyerahkannya pada Lilith. "Sebelummya sudah bagus sih, tapi jika dikombinasikan dengan desain sandaran yang berukir ini, lebih masuk kalau armrestnya begini. Tapi ini pendapatku pribadi. Mungkin juga penilaianku kurang profesional!" Lilith mengamati coretan tangan Liam dengan hati-hati, membandingkannya dengan desain Soni, kemudian tertawa lebar. "Jadi selain main piano kamu juga bisa desain?" Apa yang diusulkan oleh Liam sangat berguna. Lilith mengaplikasikan usulan Liam, menyadari desain kali ini jadi lebih baik daripada sebelumnya. "Ini cuma masukan asal aja sih." Liam mengibaskan tangannya, menolak menerima pujian Lilith. Mungkin ini hanya kebetulan masukannya sesuai selera Lilith. "Coba kamu liat yang ini! Ada masukan lagi nggak?" Lilith mengangsurkan desain lain, membiarkan Liam mencorat-coret di selembar kertas, memberikan beberapa saran di sana sini. Satu jam ke depan, Lilith dan Liam membahas tentang desain furniture dengan asik. Lilith tak pernah menyangka Liam memiliki intuisi yang sangat baik dalam hal desain. Pengetahuan akan istilah-istilah desain memang tidak tinggi, tetapi caranya menangkap sesuatu dan ide-idenya cukup baik dan hampir menyamai Soni. Liam bahkan menutupi beberapa lubang kekurangan yang ada dalam desain Soni. "Ini ceritanya mau diekspor?" tanya Liam kemudian. "Yang ini, iya." Lilith menunjuk sebuah desain. "Kalau yang ini, ini paling lokal. Kalau pun ekspor, paling sekitar mancanegara. Desain yang ini lebih masuk ke desain lokal! Coba amati desain ukiran dan potongannya. Ini mengambil tema tradisional." Liam mengangguk, menunjukkan pemahaman. "Liam. Kayaknya intuisi kamu dalam hal furniture cukup peka. Gimana kalau kamu coba desain keseluruhan?" "Nggak. Kemampuanku belum cukup untuk itu!" Liam langsung menolak. Dia bisa memberikan masukan sesekali, tapi jika membuat desain keseluruhan, Liam sendiri tak yakin. "Aku bisa ngasih saran sesuai seleraku, tapi belum mampu kalau harus desain full!" Tak ingin memaksa Liam, Lilith menerima kondisi Liam dengan baik. "Kamu bisa ngasih saran dan masukan di desain-desain selanjutnya. Nanti aku kasih bonuslah untuk itu sesuai item yang kamu beri saran. Gimana?" Lilith adalah orang yang tidak pernah ingin memeras tenaga seseorang tanpa memberikan imbalan dan rasa terimakasih. Baginya, bisnis adalah bisnis. Transaksi jual beli yang jelas. Baik tenaga maupun produk jadi. "Nggak perlu. Ini cuma saran," tolak Liam. "Tapi—" "Kamu udah terlalu banyak bayar aku kan di awal pernikahan. Anggap aja ini salah satu kontribusiku dalam pernikahan." Liam meraih tanyan Lilith, mengusapnya pelan, dan mengguncangnya dengan hati-hati. "Nggak semua hal perlu dibayar dengan uang, Lilith!" Tertegun oleh sentuhan tiba-tiba Liam di tangannya, Lilith tak bisa berkata-kata untuk sesaat. Jari-jemari Liam yang besar dan kuat menutupi punggung tangannya, menyalurkan kehangatan dan getaran samar yang perlahan-lahan menyusup melalui pori-pori tangan Lilith. Lilith linglung. Matanya yang biasanya jernih, kini berkabut kebingungan. Getaran yang Liam kirimkan dari sentuhannya menyebar ke sekujur tubuh, masuk ke dalam kesadaran Lilith, sulit untuk disingkirkan begitu saja. Seolah-olah sentuhan ini adalah sesuatu yang hidup. Menjalar, bergerak cepat ke segala arah. Liam, yang telah lama berkecimpung dalam dunia malam, telah melihat banyak wanita berbagai macam dengan ratusan jenis ekspresi dan bahasa tubuh. Namun, dia belum pernah melihat wanita yang seanggun Lilith, seangkuh Lilith, sekuat Lilith, tetapi memiliki kemurnian, keluguan, dan kepolosan. Kedua mata Lilith layaknya mata air jernih yang paling murni, tidak ternoda dan tidak terkotori oleh dunia. Tapi kedua mata itu menunjukkan jejak kedewasaan, pengetahuan akan kehidupan, dan kekeraskepalaan. Seolah-olah wanita itu adalah kontradiksi itu sendiri. Dua hal yang bercampur menjadi satu. Putih dan hitam yang saling melebur. Terang dan gelap yang membaur dalam satu wadah. Liam mencondongkan tubuh ke depan, memerangkap Lilith dalam sekejap. Dia tak tahu apa yang melatarbelakangi tindakannya. Mungkinkah itu karena mata Lilith yang murni, tetapi menawan. Atau bibir Lilith yang sensual, tetapi bergetar polos. Atau mungkin aura Lilith yang menggodanya dengan cara yang belum pernah wanita lain lakukan. Liam semakin mendekati Lilith, menyentuh bibir wanita itu dengan bibirnya sendiri. Lilith tersentak, tetapi Liam menolak melepaskan. Dia mencecap bibir itu, lama, seolah-olah menikmati prosesnya nano detik demi nano detik. Waktu berlalu. Angin malam berembus. Detik jam berjalan. Tapi di sini, di tempat ini, Liam merasa semuanya membeku. Hanya dia, Lilith, dan ciuman mereka. Hanya dia, Lilith, dan emosi mereka. Hanya dia, Lilith, dan keterjeratan mereka. Terkejut, seluruh tubuh Lilith kaku seperti tiang listrik. Dia ingin mengatakan sesuatu sebagai penolakan. Tetapi saat bibirnya terbuka, Liam justru menciumnya semakin menjadi-jadi. Mata Liam yang terkendali, kini membara oleh keinginan. Lilith ingin mendorong Liam dan menghindarinya. Tetapi belum sempat ia melakukannya, Liam telah melepaskan Lilith, membiarkan ciuman mereka terhenti begitu saja. Hening. Sunyi. Baik Liam dan Lilith, tak ada yang bersuara. Tidak ada pertanyaan, tidak ada tuduhan, dan tidak ada keributan sama sekali. Dua orang, wanita dan laki-laki, tenggelam dalam pemikiran masing-masing. "Aku mungkin telah membuat kesalahan, tetapi aku tidak akan meminta maaf untuk ini!" Liam berbalik pergi, meninggalkan Lilith seorang diri di ruang tengah. Sepanjang hidup Liam, tak terhitung lagi dia mencium seorang wanita. Tetapi baru kali ini ia merasakan kemurnian dari sebuah ciuman. Tidak ada rasa jijik. Tidak ada rasa kotor. Tidak merasa ternoda. Di belakang Liam, Lilith masih membeku. Wajah Lilith memerah, emosinya bercampur aduk. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN