"Liam. Gue udah mendapat bukti penggelapan pajak Pak Bowo." Trisna, teman dekat Liam, memberi informasi melalui telepon.
"Itu aja?" Wajah Liam yang biasanya hangat dan penuh pesona, kini menggelap, menahan kemurkaan yang terpendam.
Dua puluh lima tahun telah berlalu. Kebencian itu tidak berkurang sama sekali, justru semakin membesar, menjadi-jadi. Seperti bom waktu. Akumulasinya hanya mendekatkan objek pada peledekan besar.
"Bukti anak kedua dan anak ketiga Pak Bowo menggunakan narkoba, pelecehan seksùal, dan melakukan banyak pelanggaran hukum juga udah gue dapet!"
"Ada lagi?"
"Pelencengan Pak Bowo pada anggaran proyek pemerintahan mulai gue ikuti petunjuknya. Ahh, loe bener. Orang ini tindakan kriminalnya seperti setumpuk buku berbab-bab. Adaaaa aja di mana-mana! Satu bab tamat, bab lain mulai lagi." Trisna mendesah panjang, teringat wajah gembul seorang lelaki tua dengan mata serakah yang suka menggoda wanita di mana-mana.
"Simpan semua bukti itu dulu!" Liam memerintahkan.
"Simpan? Loe nggak ingin mempublikasikannya dan melaporkannya secepat mungkin?" Tentu saja Trisna heran. Liam sering kali bertindak di luar prediksinya.
"Belum saatnya!" Senyum Liam seperti iblis.
Seperti halnya bom, sesuatu yang disimpan dan diakumulasikan dengan sabar, hasilnya akan lebih eksplosif.
"Oke! Gue denger loe udah nggak jadi anak kesayangan Mami Rena lagi!" Trisna menyebutkan topik ini.
"Um." Tidak ingin menjawab lebih detail, Liam memutuskan sambungan begitu saja. Di seberang sana, Trisna mulai mencaci maki.
"Siàl. Bangsàt. Selalu begini. Reject telepon sesuka hati. Liam keparàt!"
"Ada apa, Say?" Soni merengkuh bahu kekasihnya, menenangkan emosi Trisna yang siap meledak.
"Apa kakak kamu selalu sebrengsèk ini?" tanya Trisna, mengamati wajah Soni, mencoba mencari kemiripan antara wanita di sisinya dengan Liam.
Soni memiliki wajah blasteran Jawa dan China, sementara Liam cenderung seperti lelaki pribumi murni. Kemiripan mereka hampir tak ada sama sekali.
"Selalu." Soni membenarkan. "Beberapa waktu yang lalu aku hubungi Kak Liam, dia langsung putusin sambungan. Kesimpulannya, Kak Liam lebih lama berbincang sama kamu daripada sama aku. Sikapnya ke aku lebih mengerikan lagi." Wajah Soni dipenuhi keluhan yang nyata.
"Kamu masih aja kejar Liam sebagai kakak kamu?" Trisna keheranan. Dengan karakter Soni yang liar, sulit dipercaya wanita ini masih saja bertindak tak masuk akal mengejar Liam untuk menjalin hubungan baik.
"Lebih baik punya Kakak seperti Kak Liam daripada punya nyokap seperti Mama, kan?" Mengingat tentang wanita berusia awal lima puluhan tahun dengan penampilan wanita awal tiga puluhan yang karakternya sulit untuk dijabarkan, Soni meringis kecil.
"Kamu udah lama nggak pulang, kan? Nggak pengen ketemu Mama?" Trisna mengingatkan. Dia tahu dengan baik bagaimana komunikasi Soni dengan sang Mama. Bukannya Trisna tidak memahami keretakan hubungan mereka, tetapi ia berharap layaknya keluarga, hubungan mereka masih bisa diperbaiki. Trisna sendiri yatim piatu. Dia selalu memimpikan kehangatan keluarga dan tak ingin Soni membuang itu semua.
"Mama? Apa dia pantas disebut Mama?"Pandangan Soni melayang, memikirkan banyak hal. "Jika dia bisa hidup seratus kali, dia nggak akan pernah layak dipanggil Mama." Soni menunduk, dibalut kesedihan yang mendalam.
"Sudahlah. Apa yang sudah terjadi biarkan terjadi. Ngomong-ngomong, kamu bukannya bilang mau lembur kerja?" Trisna mengingatkan.
"Ya Loooooord!" Kedua tangan Soni menjambak rambutnya sendiri. "Aku harus ngelarin desain yang diminta Bu Lilith. Sialàn. Dua hari lagi." Soni beranjak ke ruang tengah apartemen, mengambil laptop dan setumpuk kertas untuk membuat sketsa kasar.
"Kerja yang rajin, ya, aku pulang dulu!" Trisna tertawa lebar, terhibur oleh ekspresi serius yang kini Soni tampilkan. Wanita itu biasanya tak pernah bersikap seserius ini. Siapa pun itu yang bermama Lilith, pasti telah herhasil mendorong Soni mengeluarkan skill terpendamnya.
"Ya. Ya. Ati-ati di jalan!" Soni melambaikan tangan, tak terlalu peduli saat kekasihnya beranjak pergi dari apartemen miliknya.
"Desain. Desain. Desain. Kerja demi sesuap nasi. Sesuap jajan. Seteguk minuman!" Soni berkeluh kesah. "Kenapa hidup semengenaskan ini? Hah? Ayo jawab! Iya, kamu! Ayo jawab!" Soni menuding-nuding laptop di depannya, memperlakukan seolah-olah benda di depannya ini adalah orang sungguhan. "Nah loooh, nggak bisa jawab kan? Kan?! Selalu deh begitu!" Kesal, Soni menekan keyboard laptop dengan asal-asalan.
Trisna yang telah berdiri di depan pintu, mendengar semua keluhan Soni yang tak masuk akal. Dia menggengkan kepala, merasa tak berdaya oleh sikap Soni yang seperti balita. Pantas saja Liam tak pernah mengakui Soni sebagai adiknya. Dengan kualitas otak yang diragukan seperti itu, siapa yang mau suka rela jadi kakaknya?
Di tempat lain, Liam, yang sedang berdiri di balik jendela kamar, menatap langit malam dalam keheningan. Mata yang biasa hangat, kini dipenuhi ketidakpedualian. Bibir yang biasanya tersenyum, kini kaku karena kebencian yang mendalam.
Ada jejak mematikan dari caranya menatap malam. Aura yang biasanya penuh pesona kini digantikan dengan aura kegelapan dan hasrat untuk menghancurkan segala sesuatu.
Dua puluh lima tahun. Dendam itu tersimpan lama, tapi tak pernah sekalipun melemah. Benar kata pepatah. Tak ada kata terlambat untuk sebuah dendam.
"Ayah, suatu hari nanti, Liam akan menghilangkan semua keluhanmu. Kamu akan beristirahat dengan damai, Ayah!" Suara Liam lirih, terbawa bersama angin malam, tersebar ke langit di atas sana.
Saat ini, Lilith tak tahu. Lelaki yang hidup mengandalkan pesona, kini menjadi lelaki mengerikan dengan dendam besar yang menggelegak. Sisi lain ini, hanya Liam yang mrnyadarinya dengan baik. Dunia tak pernah tahu segelap apa jiwa Liam sesungguhnya.
Liam. Seorang lelaki yang tumbuh dalam tekanan sosial, disiram dengan banyak penderitaan, dan kini, setelah dewasa, tenggelam dalam lumpur noda dunia malam.
Orang seperti itu … orang yang hati nuraninya diambang sekarat. Hidupnya antara gelap dan terang, lama-lama krisis akan cahaya.
Di kamar lain, Lilith yang sedang mempelajari rangkuman permintaan beberapa supplier dari manager pemasaran, mendapat telepon dari Mia.
"Ya, Mi? Ada apa?" tanya Lilith, membetulkan earphone bluetooth di telinga.
"Lith! Aku udah cari info tentang tempat di samping perusahaan kita. Tempat itu emang mau dijual. Cuma, orang yang punya tempat, masih belum mengonfirmasi mau dijual seperti apa. Apa lelang, atau tawaran pribadi, pake agen properti, atau apa. Gimana menurutmu? Mau aku hubungi orangnya dan kamu negosiasi secara langsung?" Mia menawarkan. "Kalau iya, nanti aku agendakan. Coba nanti aku cari cara buat minta waktu ke pemilik tempat itu!"
Lilith melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Dedikasi Mia benar-benar tak perlu dipertanyakan. Bahkan di jam seperti ini, dia masih mengurusi pekerjaan.
"Oke. Agendakan aja!" Lilith menyetujui usulan Mia.
"Tapi pemiliknya itu Pak Sudewo. Kamu denger nggak sih gosip tentang Pak Sudewo?"
"Bisnis adalah bisnis. Jangan campuradukkan dengan gosip."
"Tapi ini—"
"Buat aja agenda. Nanti kalau udah deal, kabari aku!" Lilith memutus sambungan.
Di tempat lain, Mia menatap ponsel dengan pandangan tak berdaya. Dia ingin menyampaikan sesuatu agar Lilith tak terkejut nantinya. Tetapi tampaknya Lilith tidak tertarik mendengar gosip apa pun tentang Pak Sudewo.
Yah. Jika nanti Lilith menghadapi orang itu secara langsung, semoga saja dia tidak menyalahkan Mia atas kurangnya informasi yang seharusnya diberikan.
…