Harmoni

1149 Kata
"Love, a miracle that I found when i meet you. As if I was created just to love you. Love, I give all my soul to you. I share the beauty of the world with you. Because for you, love, I have meaning" Sebuah melodi dari petikan piano terdengar mengalir dari ruang utama, mengiringi nyanyian seorang lelaki bernada tenor, terbawa angin, hinggap di telinga Lilith yang berdiri di teras rumah. Senja menyapa. Langit bergulung-gulung dalam warna jingga, semburatnya perlahan-lahan masuk ke dalam peraduan. Beberapa burung liar terbang melintasi langit, melawan angin dengan kedua sayapnya yang kokoh. Suara jangkrik dan dedaunan yang saling bergesekan membentuk harmoni baru, menjadi backsound bagi lagu yang kini tengah dibawakan Liam. Setibanya di ruang utama, pemandangan seorang lelaki menekan tuts piano akustik ditangkap oleh Lilith, menampakkan punggung kokohnya sebagai objek utama. Senja mulai pudar. Cahaya di luar pun semakin tipis. Bayang-bayang di dalam rumah berubah membesar, menciptakan lusinan siluet. Lilith bersandar nyaman di dinding kayu, merasakan hangatnya sentuhan jati di punggung rampingnya, enggan menghentikan adegan yang tengah berlangsung. Tangan Liam menari indah di atas tuts piano, tubuhnya sesekali bergoyang sesuai irama, seolah-olah ia berada dalam dimensi tersendiri. Prok. Prok. Prok. "I was born to be loving you. Lagu balada dari band lawas." Lilith bertepuk tangan, memberikan apresiasi pada permainan piano Liam yang luar biasa. "Ditulis oleh Marc Brown. Musiknya disusun oleh sang gitaris, Carl Mark. Kamu penggemar heavy metal?" Ada kekaguman yang nyata dari suara Lilith. Wanita itu berjalan mendekat ke sisi Liam, ujung stilettonya mengetuk nyaring di lantai kayu. "Kamu pianis?" "Masih amatir." Liam memutar tubuhnya, menatap Lilith yang masih mengenakan blazer formalnya. "Seorang Nyonya Akbar Syah tau riwayat lagu ini rupanya. Selera kita mungkin sama? Heavy metal?" "Aku … semua genre aku suka, selama nyaman dan enak didengar." Lilith duduk di kursi kayu tak jauh dari Liam, menatap piano akustik di depannya seperti anak kecil melihat permen. "Ini piano kamu?" Mata Lilith berbinar serakah, seolah-olah objek di depannya adalah benda berharga yang membuatnya terpesona. "Ya. Aku memiliki benda ini di apartemenku sebelumnya. Aktifitasku tidak banyak sekarang. Daripada sepi di sini, jadi aku bawa benda ini ke sini." Liam menjelaskan. Dia mengusap sudut body piano, gerakannya penuh rasa sayang dan pemujaan. "Maaf, aku tidak mengatakan sebelumnya. Apakah nanti benda ini akan mengganggumu? Jika kamu tidak suka kebisingan, aku nggak akan sering memainkannya!" "Tidak. Tidak akan mengganggu sama sekali." Pada dasarnya, Lilith suka melodi. Suka musik. Dan suka hal-hal yang memiliki nilai seni. Selain itu, permainan Liam tidak buruk. Setidaknya, tidak akan membuat telinga Lilith sakit. "Ayo mainkan simfoni beethoven yang kelima!" Lilith menunjuk tuts piano, meminta Liam untuk memainkannya. Bukannya langsung bermain, Liam malah tertawa lebar. Dia menatap Lilith yang dipenuhi rasa ingin tahu, menyentil ujung hidungnya yang sensitif. "Apa ini tantangan?" tanya Liam, suaranya renyah dan merdu. Siapa pun yang mengetahui seluk beluk pianis tahu nada yang Lilith minta adalah nada yang melegenda dan memiliki tingkat kesulitan tinggi. Tidak mudah memainkannya dengan sempurna. Lilith yang masih terkejut oleh sentilan Liam, tertegun untuk sesaat. Dia mengedipkan matanya beberapa kali, mengusap ujung hidungnya tanpa sadar, masih merasakan jejak hangat jari telunjuk Liam. "Bukan tantangan. Murni request!" jelas Lilith yang terdengar tidak tulus. Sebenarnya, ini memang tantangan. Lilith ingin tahu sejauh mana keahlian Liam. Meskipun Lilith berkecimpung dalam dunia bisnis, bukan berarti dia tak tahu musik sama sekali. "Nanti. Akan ada waktu lain kali. Kamu mandi dulu, ini sudah malam." Liam merapikan taplak piano yang kusut, menjaga alat musik itu dengan hati-hati. "Sepertinya aku memiliki ibu tambahan!" komentar Lilith, segera berjalan ke kamar utama untuk mandi dan membersihkan diri. "Tidak ada ruginya sesekali diingatkan!" Liam mendesah panjang, menatap punggung Lilith yang semakin menjauh. … Aroma nasi goreng menggoda indera penciuman Lilith. Dia yang baru saja selesai mandi, langsung menuju meja makan. Kepalanya masih terbelit handuk. Aroma sabun dan shampoo menguar di udara mengikuti gerakannya. "Selain pemusik, tukang masak juga rupanya!" Lilith memperhatikan Liam yang sibuk membagi nasi goreng ke dalam dua piring saji. Untuknya dan untuk Lilith. "Skill adalah salah satu nilai yang akan mendongkrak harga lelaki malam sepertiku!" Liam mengedipkan sebelah matanya, membiarkan pesan nakalnya tersampaikan pada Lilith yang kini berdiri tak jauh darinya. "Semakin banyak skill, semakin tinggi tarifnya!" "Apa memasak juga termasuk?" Menerima sepiring nasi goreng, Lilith segera mengambil sendok, mulai makan perlahan tanpa memperhatikan tingkat kepanasan. "Jangan terburu-buru. Masih panas!" Liam menahan lengan Lilith, dengan tegas menghalangi wanita itu untuk makan. Sebagai wanita karir, Lilith cukup disiplin. Tetapi sebagai individu, Lilith bisa di2katakan ceroboh. "Sebenarnya, tidak setiap wanita menyewa seorang lelaki hanya untuk berhubungan fisik!" Liam menjelaskan. Dia mulai sibuk lagi untuk membuat minuman dingin. "Ada di antara para wanita menyewa lelaki hanya untuk ditemani. Murni ditemani. Sekadar ngobrol, butuh pendengar, butuh orang yang ada di sisinya. Nah, momen-momen seperti itulah yang membuat skill memasakku bisa sedikit berguna. Tidak tepat disebut memasak juga sih sebenarnya. Masih jauh dari layak. Tapi jika hanya sekadar membuat sesuatu untuk dimakan, aku masih bisa!" "Jadi kamu pernah menemui tipe wanita seperti itu?" "Belum, sayangnya." Lilith tak bisa menahan tawa. "Terus apa gunanya skill memasakmu?" "Untuk bertahan hidup, setidaknya!" "Ya. Ya. Bertahan hidup. Jadi kalau suatu hari nanti kamu nggak jadi laki-laki malam, kamu bisa alih profesi jadi penjual nasi goreng!" Lilith mulai melahap nasi goreng dengan semangat. "Ngomong-ngomong, sebenarnya rasanya nggak buruk. Bolehlah." "Serius?" "Lumayan." "Skor satu sampai sepuluh, berapa?" Liam mendorong es jeruk ke arah Lilith, yang segera dusambut dengan baik. "Lima!" "Hanya lima? Kalau gitu, besok kayaknya mending nggak usah masak!" "Oke oke. Tujuh!" Lilith mengalah. Dia tak memiliki pembantu. Jika Liam bersedia memasak, itu pasti keuntungan tambahan. "Tujuh? Masih kurang memuaskan!" "Oke. Depalan. Tidak bisa lebih." Lilith berhasil menghabiskan nasi gorengnya, menumpuknya di bak cuci piring, dan mencucinya secara manual. "Tidak perlu. Biar aku yang mencuci!" Liam meraih lengan Lilith, tetapi segera ditolak oleh wanita itu. "Kamu sudah memasak, biar aku yang mencuci." "Jangan merendahkan dirimu sendiri, Lilith. Di sinilah aku orang yang dibayar dan menikmati keuntungan. Biarkan aku yang melakukannya!" Mendengar ini, Lilith yang sedang membilas peralatan makan, menghentikan gerakannya. Dia menoleh ke belakang, menatap kedua mata Liam yang sewarna malam, mengarahkan telunjuknya ke d**a Liam. "Berhenti merendahkan dirimu sendiri! Berhenti meremehkan dirimu sendiri! Oke?" Lilith melihat sarkasme Liam yang ia peruntukkan untuk dirinya sendiri. "Liam, terlepas dari apa kamu dan siapa kamu, setiap orang itu unik dan setiap orang memiliki nilai." "Siapa? Aku? Apa kamu bermaksud memotivasiku, Lilith? Lupakan saja! Mereka yang memotivasiku biasanya nanti membutuhkan selangkangànku!" Lilith membeku. Dia membilas tangannya, tak lagi melanjutkan mencuci alat makan, dan berjalan cepat menuju kamar. Kemarahan dan kemurkaan tampak jelas dari tindakannya. Di belakang punggung Lilith, Liam mengusap pelipisnya, dalam hati mengutuk mulutnya yang tak bisa dikendalikan. Di depan pintu kamar, Lilith berbalik, menatap Liam, mengatakan sebuah kalimat yang sangat menusuk, "Aku sering kali lupa siapa lelaki yang kujadikan suamiku. Kamu mengingatkan posisimu dengan sangat jelas!" Semua melodi indah. Semua nyanyian merdu. Semua suasana hangat di makan malam. Hancur oleh sebuah kalimat. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN