"Soni!" Lilith menatap seorang wanita dengan rambut yang diwarnai merah dan telinga bertindik ganda di depannya. Jejak keliaran jelas terlihat di kedua matanya yang sipit. "Saya memberi kamu cukup waktu untuk membuat desain dan belum ada hasil sama sekali?"
Lilith duduk dengan kaki disilangkan. Sebuah kacamata berbingkai emas menambah kesan serius dirinya. Kuku jarinya mengetuk ujung meja, seperti bom waktu yang sedang menunggu hitungan mundur.
Soni yang duduk di depan Lilith, tersenyum kaku. Dia sudah menghindari pertemuan ini dari empat hari yang lalu. Ngumpet di Mushola, kedai belakang kantor, sampai di gudang produksi. Tetapi benar kata pepatah. Jangan takut dengan lawan seperti dewa, tetapi takutlah dengan rekan seperti babì. Secerdas-cerdasnya Soni bersembunyi, Pak Ilham, atasannya, lebih suka mengkhianatinya. Dia menyeret Soni pagi ini ke hadapan Lilih. Sumpah demi langit. Pak Ilham telah tega menjual bawahannya sendiri seperti ini. Mari kita lihat seperti apa akhir hidup Pak Ilham nanti. Mungkin kuburan Pak Ilham tidak akan menerimanya dengan baik.
"Saya kemarin sibuk, Bu!" Soni menyapu ke sekeliling ruangan, tampak tertekan oleh suasana kaku di tempat ini.
Bukannya menjawab, Lilith justru menatap Soni semakin tajam. Soni semakin mengutuk dalam hati. Seandainya tatapan bisa membunuh, tubuhnya saat ini pasti tercerai berai mati berulang kali.
"Nanti saya kerjain, Bu!" Soni tak bisa lagi mengelak.
"Deadline lusa!" Lilith tak berkompromi.
Soni hampir memukul kepalanya saat ini juga ke lantai. Lusa? Iblis macam apa yang menuntut desain furniture jadi dalam dua hari? Dua hari? Dua hari?
Dunia pasti kiamat.
Soni seharusnya hari ini menjatuhkan dirinya sendiri dari jendela apartemen lantai dua belas, sehingga dia bisa mengambil cuti karena sekarat dan tidak harus mengambil beban pekerjaan sebesar ini.
"Du-dua hari? Bagaimana jika seminggu?" Soni masih mencoba menawar.
"Tiga hari!" Lilith melepas kacamatanya, menatap Soni dengan tatapan tegas. Blazer hitamnya membalut erat tubuh Lilith, dipadukan dengan rok span hitam dan hills hitam. Secara keseluruhan, penampilan Lilith mewakili definisi d******i.
Di depan atasan seperti ini, Soni yang kelakuannya tak bisa dibilang baik, terpaksa menundukkan kepala sebagai penyerahan diri.
"Lima hari?" Soni menatap Lilith, wajahnya dia atur semengenaskan mungkin. "Bu, saya baru saja mendapat cobaan berat dalam keluarga. Mama sekarat, Papa stroke, Opa koma. Saya harus mengurus mereka! Konsentrasi saya sering terpecah belah. Lima hari mungkin saya bisa menyelesaikan desain ini. Tapi tidak tiga hari!"
"Jadi setelah bulan lalu Mama kamu kanker, dan mendapat tumor, sekarang sekarat?" Lilith meraih bolpoin di kotak kecil, memutar ujungnya, dalam hati mengagumi kebohongan tak manusiawi yang diciptakan Soni.
"Iya, Bu. Mama saya mungkin hidupnya hanya tinggal dua hari lagi!"
Tak ada yang bisa menebak jika Mama yang Soni bicarakan saat ini, sedang menjalani pertemuan bisnis untuk proyeknya di Filipina. Seandainya Mama tahu dia dikatakan sebagai wanita sekarat yang akan mati dalam dua hari, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan Mama lakukan untuk menghukum putrinya yang durhaka.
"Papa kamu stroke dan Opa koma? Bukankah mereka sudah meninggal setahun yang lalu?" Lilith menekan ujung bolpoin, membiarkan bagian paling rentan patah di atas meja. Soni membeku. Gerakan itu sungguh sadis. Apakah nasib seperti itu yang akan Soni hadapi selanjutnya?
"Kamu sudah mengambil cuti saat papa kamu meninggal, saat opa kamu meninggal, saat oma kamu meninggal. Katakan pada saya! Berapa kali mereka akan meninggal? Dua kali? Tiga kali?Empat kali?! Mereka mrninggal, bangkit, dan meninggal lagi?" Lilith menggebrak meja, membuat Soni hampir kehilangan jantungnya saat ini juga.
Soni menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Sepertinya dia pernah membuat alasan cuti dengan sebab opa dan oma meninggal. Soni sendiri lupa hal ini. Ah. Seharusnya dia menulis di buku note semua alasan-alasan yang pernah dia buat di masa lalu. Jadi kan tidak ada ketimpangan seperti ini.
Di tempat lain, opa dan oma Soni, yang pernah dikatakan meninggal dunia, sedang duduk di halaman belakang rumah, bermain catur. Wajah mereka meskipun sudah sepuh, tapi masih sehat dan penuh vitalitas. Mereka tak pernah menyangka saat ini cucu mereka sendiri menganggap mereka meninggal. Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan pasangan itu lakukan pada Soni atas kebohongannya seandainya mereka tahu.
"Aduh, itu, itu opa tetangga yang pernah meninggal dulu. Opa Soni sekarang lagi sekarat." Di tempat lain, Opa yang sedang minum teh, menyemburkan minumnya dengan mendadak. Lelaki sepuh itu merasa telinganya memanas.
"Tiga hari. Itu deadline kamu. Jika telat lagi, saya akan pindahkan kamu ke bagian pemasaran!"
Dengan karakter Soni yang semaunya sendiri, dia pasti akan lebih tertekan jika dipindah di bagian itu. Pak Setya, manager bagian marketting, dinilai sangat killer dan dianggap titisan iblìs. Siapa yang bersedia jadi bawahannya?
"Bu—"
"Tiga hari!"
"Tapi—"
"Keluar!"
Tak bisa berkutik, Soni beranjak pergi, mencaci maki semua generasi leluhurnya sendiri. Dosa apa yang leluhurnya lakukan sehingga nasib Soni seperti ini?
"Gimana? Kamu sudah denger perintah dari Bu Lilith sendiri?" Pak Ilham yang berdiri di balik pintu direktur utama, melihat wajah Soni yang kusut masai. Dalam hati, ia tertawa, sangat bahagia oleh kesulitan yang Soni hadapi. Inilah karma.
"Pak. Saya akan melakukan romusha sampai tiga hari ke depan. Jika saya meninggal karena kelelahan, Bapak bisa pesankan peti buat saya. Ngomong-ngomong, saya suka yang dari kayu jati berukir motif dedaunan!"
Soni pergi begitu saja, meninggalkan Pak Ilham tertegun bingung. Dia melirik pada Mia yang kebetulan mendengar percakapan mereka, bertanya karena tak mengerti. "Apa maksudnya?"
"Maksudnya, tiga hari kemudian, mungkin bawahanmu akan bunuh diri!" Mia menjawab dengan santai, membawa setumpuk dokumen, menggunakan bahunya untuk mendorong pintu, dan mengedipkan sebelah matanya pada Pak Ilham sebelum akhirnya memasuki ruangan Lilith, meninggalkan Pak Ilham yang masih tertegun sendirian.
"Lilith, ini laporan yang perlu kamu tinjau. Ngomong-ngomong, bagian pemasaran ingin mengadakan beberapa perombakan pada strategi market online. Coba tinjau lagi laporannya!"
Lilith menerima setumpuk dokumen, membukanya sekilas, dan menutupnya kembali untuk mengambil secangkir kopi yang hampir dingin.
"Bagaimana denga Soni?" Mia bertanya.
"Sudah bisa ditangani!" Lilith mengambil remote AC, menurunkan suhu ruangan beberapa derajat, dan bersandar ke belakang kursi putar.
"Lilith!" Mia duduk di kursi di hadapan Lilith, wajahnya menunjukkan keseriusan. "Tanah dan bangunan di sebelah perusahaan kita katanya mau dijual."
"Bangunan di sisi ini?" Lilith menunjukkan jarinya ke sebelah kiri. Di mana ada bangunan besar yang dulu pernah dijadikan sebagai pabrik sepatu, tetapi sekarang terbengkalai tak digunakan.
"Ya. Bukannya kamu pernah bilang ingin meluaskan pabrik kita?"
"Ya. Tentu!" Dari dulu, salah satu kendala yang Lilith alami di perusahaan ini adalah pabrik yang butuh perluasan, tetapi terhambat oleh kondisi lokasi yang sempit.
"Aku akan carikan info dan kontak. Mari kita lihat, apakah kita bisa menawar tempat itu!"
"Ya, Mia. Tolong, ya!"
…