Di tengah kegamangan, terbesit pikiran untuk menyerah saja dan mengatakan pada mereka bahwa Safa tak bisa ikut serta. Lalu, apa alasan yang mesti kuutarakan?
Tiba-tiba pintu terbuka dengan sangat perlahan. Safa muncul setelahnya.
"Dek," sapaku begitu ia tau aku sedang berdiri di depan pintu.
"Jilbabnya tadi lupa digosok. Jadi, nyetrika dulu."
Aku ternganga. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah kudengar. Alasan yang sempurna. Terus aja lagi berbicara, Safa. Walaupun salah, aku tak akan pernah menghakimimu.
Aku merasa ada mengalir sejuk di dalam sini, hanya dengan mendengar beberapa kata yang tersusun rapi itu saja sudah membuatku merasa kepayahan mengatur rasa senang yang tiba-tiba meriap memenuhi isi hati.
"Nggak pa-pa." Malah aku yang akhirnya tercekat dan tak bisa mengeluarkan kata-kata. Terlebih penampilan Safa yang tidak biasa. Maksudnya, malam ini terlihat cantik. Ah, berlebihan, tetapi memang sangat cantik.
Gamis warna merah bata yang menutupi hingga mata kaki, pasmina berwarna navi dengan ujung yang ditekuk ke bahu, warna pekat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Terlihat simpel tetapi tampak anggun. Tak ada aksesoris lainnya. Pun dengan wajahnya. Terlihat natural dengan sentuhan lipstik yang hanya tampak samar-samar saja.
"Ayo." Aku memberinya jalan agar bisa berjalan lebih dulu, tetapi aneh, Safa menggeleng.
"Aku nyusul aja," ucapnya dengan wajah ditekuk.
"Ya sudah. Mas duluan." Aku beranjak meninggalkan Safa yang masih mematung di depan pintu. Jalan pikirannya tak bisa kutebak. Tak ingin keluar bersamaan denganku karena alasan sungkan mungkin, atau malu pada yang lainnya sehingga mengumpulkan keberanian terlebih dahulu. Aku hanya bisa menebak-nebak. Melihatnya keluar kamar saja sudah membuatku sangat senang. Itu saja, tak ingin menuntut lebih.
Rizal dan yang lainnya menatap heran ketika aku keluar melenggang seorang diri. Tatapan mereka menuntut jawab.
"Masih bersiap-siap," ucapku. Tak perlu dengan pertanyaan, pandangan mereka sudah penuh tanda tanya. Mereka mengangguk, Kemudian melanjutkan lagi acara makan bersama.
Aku kembali disibukkan dengan obrolan seputar urusan kantor yang sempat kulewatkan selama lima hari karena mengambil cuti. Rasanya rindu dengan mereka, dan suasana kantor yang sudah memberiku kenyamanan hingga bisa bertahan lebih dari tiga tahun.
Tiba-tiba saja Rizal menyenggol lenganku. Pandangannya lekat ke arah belakang. Semua orang yang hadir pun mendadak diam. Pandangan mereka terfokus ke satu arah, ternyata ... Safa.
Aku terkesiap, sama seperti mereka. Di bawah pencahayaan yang lebih terang, ternyata Safa terlihat jauh lebih cantik, lebih anggun dan ... pesonanya lebih terpancar. Aku buru-buru menghilangkan kekaguman, jangan sampai terlihat seperti mereka. Tiba-tiba terbengong-bengong dengan kedatangan bidadari di rumah ini.
"Sini, Dek," ajakku sambil berdiri mendekatinya. Sebisa mungkin kuusir kecanggungan. Ingin garuk-garuk kepala, tetapi tampak seperti orang bodoh. Sama bodohnya seperti mereka yang masih tampak mengagumi sosok Safa.
Aku mengajak Safa mendekati teman-temanku dan mulai memperkenalkan satu persatu. Kemudian mengajaknya duduk di antara mereka.
Rizal beranjak dari tempat duduk dan mempersilahkan aku dan Safa untuk menggantikan posisinya. Safa menurut saja ketik kuajak duduk berdampingan. Awalnya ia merasa canggung. Mungkin karena berada di tengah-tengah orang asing. Safa hanya diam saja, tak memberi respon apapun.
Tiba-tiba Widia berdiri dan duduk di samping Safa. Keadaan kursi yang hanya muat untuk dua orang akhirnya terpaksa di tambah Widya. Walaupun badannya kurus, tetap saja membuat kami harus duduk berdesakan. Itu yang membuat Safa akhirnya menggeser duduknya, berhimpitan denganku.
Widia seorang teman yang asik, luwes dan mudah bergaul sehingga dalam hitungan menit, Safa bisa membaur. Mereka tampak klop. Dari obrolan seputar masalah perempuan, masalah pekerjaan bahkan membahas pendidikan.
Sesekali tanganku dan Safa bersinggungan, lalu sama-sama berada dalam kecanggungan. Meskipun begitu, kami berusaha menutupinya agar semua tampak sempurna.
Awalnya Safa hanya menimpali sesekali ucapan Widia dan Rizal. Karena di antara kami semua, mereka berdua yang memiliki selera humor yang tinggi. Terbawa suasana, Safa terlihat tertawa, walaupun hanya kikikan kecil dengan tangan menutupi bibir. Kemudian tertawa lepas ketikan menanggapi kelucuan Widia.
Tidak hanya itu, ternyata Safa juga asik. Nyatanya, ia bisa menimpali dan mengimbangi obrolan mereka. Bahkan ia terlihat mulai berani mengutak-atik handphone milik mereka, menunjukkan beberapa aplikasi tertentu, entah apa itu. Safa memang ahli di bidang itu. Ia baru saja di wisuda dari kampusnya dan mendapat gelar sarjana teknik informatika.
Ia juga bertukar nomor handphone dengan Widia dan beberapa yang lainnya. Kata mereka, ingin diajari cara penggunaan aplikasi tertentu.
"Bapak nggak pernah ngomong kalau nyimpan emas." Kata Widia begitu keluar terakhir kali saat mereka berpamitan.
"Emas apaan?" tanyaku tidak paham.
"Halah, pura-pura, lo!" Rizal menimpali.
"Kalian berdua memang cocok. Suka bikin orang penasaran," ucapku karena memang benar-benar tidak mengerti.
"Maksudnya ... itu, Pak, Mbak Safa ...." Akhirnya Santi berucap sambil tersenyum pada Safa. Aku melirik seseorang yang berdiri anggun di sampingku. Netra kami beradu. Seperti biasa Safa akan langsung menunduk.
"Oh, bisa aja kalian!"
"Tapi cocok loh, Pak." Widia berucap. "Mbak Safa pinter ITE dan bapak ... ah taulah!" Widia kembali berucap yang disertai riuh gelak tawa kesemuanya. Membuat kami menjadi salah tingkah.
"Daag Bapak ...! Kapan-kapan saya pinjem mbak Safa buat tutorial!" teriak Widia sebelum mobil yang dikendarainya benar-benar melaju. Aku melambaikan tangan, begitu pun dengan Safa.
Selanjutnya, suasana kembali seperti semula. Penuh dengan kecanggungan, keseganan dan ... kesenyapan.
"Masuk, Dek." Ajakanku membuat Safa terkejut, hanya sesaat, kemudian berjalan di depanku.
Aku menutup pintu luar dan menguncinya. Safa membereskan piring dan gelas yang berserakan.
"Sudah malam, Dek. Dibersihin besok saja. Biar mas suruh Mirna datang pagi-pagi untuk membersihkan rumah."
"Nggak usah, nggak usah nyuruh orang. Aku bisa membersihkannya." Aku ternganga mendengar dua kalimat dalam sekali ucap.
"Oke." Lagi-lagi, aku yang kehilangan kata-kata. Sepertinya, aku perlu menyewa Rizal dan Widia agar sering datang kemari, untuk membuat Safa banyak bicara, eh bukan. Sejenis terapi, tetapi bukan juga.
Safa menatapku heran karena keterkejutan ini. Sekarang, aku yang tampak bodoh. Tak apa-apa, aku sudah kehabisan kata-kata malam ini. Demi mendengar beberapa kalimat yang keluar dari bibirnya.
Aku menyusul Safa yang sudah berjalan lebih dulu memasuki kamar. Ia tak tampak lagi di dalam, tetapi suara gemericik air terdengar jelas. Dua menit kemudian, Safa keluar dari sana dengan mengenakan piyama.
Sedikit kecewa, karena aku masih ingin memandangnya lebih lama yang mengenakan gamis merah bata tadi. Rasanya kurang puas.
Setelah lama menyadari, ternyata Safa sudah naik ke atas ranjang. Bersiap merebahkan diri dan mulai menarik selimutnya. Aku sendiri segera ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Menatap punggungnya sudah menjadi pemandangan setiap malam selama seminggu ini. Entah sampai kapan Safa betah memiringkan badannya. Apa tidak kebas sebelah tangannya karena semalaman tidur dengan posisi yang sama? Sepertinya, stok kesabaran harus kutambah lagi. Sebab, berada sedekat ini, Safa tetap tidak ingin kusentuh.
Andai semua berjalan normal, seperti mereka yang menjalani pernikahan pada umumnya, tentu aku tidak akan pernah mengeluh dan sesedih ini. Namun, semua yang terjadi saat ini, sudah kusiapkan sadari dulu. Sebelum benar-benar meniatkan diri untuk menebus dosa akan kemaksiatan yang pernah kulakukan pada Safa.
Pintaku di setiap waktu, pintu hati Safa segera terbuka. Semoga.
••••