Hanya beberapa saat setelah memejamkan mata, tiba-tiba kepalaku terasa berat, sakit di kedua pelipis. Ada apa ini?
Kupaksakan diri agar bisa duduk dengan kaki menyilang. Kepalaku terus berputar. Kupijit perlahan, lalu berbaring kembali. Sebaiknya tidur, mungkin esok hari akan lebih baik.
Tak tahu jam berapa ini, aku mengerjab ketika terasa guncang kecil pada bahuku.
"Dek." Safa segera menjauh ketika mataku sepenuhnya telah menangkap sosok tubuhnya.
"Sholat Subuh. Aku tadi sudah duluan."
Aku terduduk, kepala masih terasa berat.
"Iya, makasih sudah dibangunkan." Aku beringsut ke pinggiran ranjang dan berusaha sekuat tenaga untuk berjalan tegak. Tidak hanya kepada yang sakit, tetapi juga perut terasa panas.
Usai sholat Subuh, aku berbaring kembali. Memejamkan mata, menahan sakit yang malah semakin menjadi.
"Dek Safa," panggilku.
"Ya." Safa mendekat.
"Tolong ambilkan obat di laci bawah." Tanpa protes ia mulai bergerak membuka laci dan mengangkat plastik putih.
"Ini," tunjuknya.
"Iya, sini. Tolong ambilkan air putih." Lagi-lagi Safa menurut tanpa berucap ataupun protes. Ia memberikan segelas air putih.
"Tapi belum makan," ucapnya mengingatkan. Apakah itu sebuah kekhawatiran? Ah, semoga.
"Gak apa-apa. Ini obat mag memang diminum sebelum makan." Masih sama, tanpa merespon juga ia lalu pergi meninggalkan aku.
Aku tetap berbaring dengan posisi miring. Berharap keadaanku menjadi lebih baik. Sebab, aku harus kembali bekerja setelah mengambil cuti. Di luar, terdengar suara orang menggeser meja dan entah peralatan apa lagi. Mungkin Safa sedang membersihkan ruangan depan, bekas pesta semalaman.
Setelah meminum obat, masih tidak ada reaksi apa-apa. Kepalaku malah bertambah sakit dan perut ini, sakitnya luar biasa.
"Dek!" panggilku dengan suara sekeras mungkin, tetapi malah terdengar seperti bisikan.
"Dek Safa!" Aku memanggil lagi, masih belum ada pergerakan dari pintu. Perut ini, seperti dicucuk ribuan jarum. Aku hanya bisa pasrah. Berharap Safa segera masuk ke sini. Aku menggeliat sambil terpejam. Terdengar pintu terbuka, Safa sudah berada di dalam sini.
"Dek," panggilku. Safa mulai merapat.
"Iya, aku baru masak nasi. Sebentar lagi sarapannya siap," ucapnya.
Sumpah demi apapun, aku sangat senang mendengar ucapan itu. Sayangnya, aku tidak bisa memberi apresiasi langsung padanya.
"Iya, makasih. Tolong telepon Rizal. Bilang, Mas nggak bisa kerja hari ini." Aku menunjuk handphone yang ada di atas nakas. Safa mengangguk mengerti dan meraih benda pintar itu.
Terdengar percakapan sederhana antara Rizal dan Safa. Sekitar dua menit, lalu ia meletakkan kembali benda pipih itu di tempat semula. Ia beranjak hendak keluar.
"Dek." Safa menoleh, " jangan jauh-jauh. Kayaknya mas sudah nggak kuat ini." Usai berucap, aku mengubah posisi tidur menjadi terlentang. Semua posisi tidur tidak membuatku nyaman. Keringat dingin mengucur, mendadak perut keram. Aku meringis menahan sakit.
"Kita ke dokter saja." Nada suaranya terdengar khawatir. Aku sudah tidak kuat lagi menangkap sosok Safa yang sepertinya sedang mengguncang lenganku. Mata sudah rapat terpejam.
"Ya Allah, rumah kok berantakan sekali. Penghuninya kemana saja, sih!" Terdengar rutukan dari luar kamar.
"Itu mbak Sita," gumam Safa.
"Akmal! Kenapa?" Tiba-tiba suara mbak Sita terdengar sangat dekat. Mungkin ia sudah melihat kondisiku.
"Nggak tau, Mbak. Tiba-tiba sakit perut," Safa menjawab.
"Sudah sarapan?" tanya Mbak Sita. Aku tak bisa menjawab apapun. Rasa sakit di perut ini benar-benar mematikan kekuatanku yang lainnya.
"Belum, baru masak."
"Jam segini belum masak. Memangnya kamu bangun jam berapa, Fa. Belum lagi di luar sana banyak sampah ...." Mbak Sita terdengar mengomel sambil keluar kamar. Suaranya masih terdengar, tetapi tak jelas berbicara apa.
"Belum sempat membersihkan, Mbak," balas Safa masih terdengar jelas, sepertinya masih berada di dekatku.
"Astagfirullah ... Akmal memakan makanan instan, Fa?" Mbak Sita masuk lagi ke kamar.
"Semalam ada acara kecil-kecilan. Jadi sengaja pesan good food."
"Kamu nggak tau kalau Akmal nggak bisa makan seperti itu? Jangan-jangan, dari kemarin dia nggak makan nasi."
"Kami makan beli, Mbak."
"Astagfirullah, Safa. Kamu kenal Akmal berapa lama, sih? Sampai-sampai nggak tau kebiasaannya."
"Mbak, sudah," ucapku lirih, sangat lirih. Mungkin tak akan terdengar karena kalah dengan keributan mbak Sita yang terus mengomeli Safa.
"Akmal itu nggak bisa makan makanan cepat saji. Kalaupun bisa, dia harus makan nasi dulu. Beberapa hari di sini, kamu nggak terlihat membeli belanja di mamang sayur. Jangan-jangan kamu nggak pernah masak."
Safa, tak lagi bersuara.
"Oh, pantes saja magnya Akmal kambuh lagi. Kamu sudah telepon dokter Faiz?"
"Belum."
"Ya Allah, Safa. Suami hampir sekarat begini kamu biarkan begitu saja."
"Mbak, sudah," lirihku. Tiba-tiba aku yang merasa sakit mendengar Omelan mbak Sita. Bukan salah Safa, tapi salahku Seandainya Mbak Sita tau lebih banyak masalah kami, tentu ia takkan menuduh Safa seperti tadi. Sayangnya aku tak dapat berbuat apa-apa.
"Bukan salah Safa, Mbak."
"Istri harus diajarin dong, Mal. Kasian kamu kalau apa-apa kamu bikin gampang."
"Bukan begitu Mbak. Aku sudah masak, tapi belum selesai. Mas Akmal minta di tungguin tadi."
"Halah, bangun itu pagian dikit, biar cepat beres pekerjaan rumah."
"Mbak ...." Aku berhasil membuka mata, tapi sayangnya Safa sudah berlari ke luar kamar. Sosoknya sudah menghilang. Kini tinggal aku dan mbak Sita.
"Kamu terlalu memanjakan Safa, Mal. Istri itu harus bisa segala hal. Dia 'kan nggak kerja, masa urusan rumah nggak beres juga. Apa jadinya nanti kalau kalian sudah punya anak? Mungkin gajimu itu habis untuk menggaji sopir, pembantu sama baby sitter."
"Sudah, Mbak. Sepenuhnya bukan salah Safa."
"Kamu bela saja terus. Lama-lama kamu yang sengsara, Mal."
"Mbak--"
"Mbak telepon dokter Faiz dulu." Mbak Sita terlihat menyambar handphoneku, lalu terdengar berbicara dengan seseorang.
"Sebentar lagi dokter Faiz mampir ke sini. Tunggu aja, Mbak mau membersihkan ruang tamu. Sudah kayak gudang aja, sampahnya juga banyak banget. Emang Safa ngapain saja, sih! Rumah berantakan, jangan-jangan ...." Mbak Siti terus mengomel sambil berjalan keluar. Hingga suaranya semakin menjauh.
Aku berbaring dengan nyaman. Setelah meminum obat dari dokter Faiz, sakit di perut sudah mulai mereda. Perlahan sudah mampu bergerak bebas di atas ranjang.
Safa masih tak terlihat. Dari pagi tadi, padahal sudah dua jam ia berkutat di luar sana. Mbak Sita tidak terdengar lagi, sebab sudah berpamitan usai memberi sarapan bubur padaku. Kenapa bukan Safa yang menyerahkan bubur tadi? Kenapa Safa tak tampak, lama sekali?
Mata mulai terasa berat. Mungkin efek obat-obatan atau karena kekenyangan. Perlahan, kantuk menyerang.
**
Aku menggeliat setelah terlelap beberapa saat. Aroma sup membuat pandanganku terbuka sempurna. Safa.
Begitu menelisik seluruh kamar, aku mendapati Safa sedang duduk di karpet bulu. Kakinya di tekuk, posisi memeluk lutut. Sesekali tangannya mengusap wajah. Safa menangis.
"Dek," panggilku. Ia terkejut, buru-buru mengelap sisi air mata yang merembes, "kenapa? Ada masalah." Safa berusaha tidak terisak, tapi gagal. Ia tak menjawab.
"Kenapa duduk di bawah, sini!" Aku menepuk tempat di sampingku. Safa menolak dengan gelengan.
"Mbak Sita memang seperti itu. Suka mengomel. Tak usah dimasukkan ke hati." Aku berusaha bangkit dan duduk.
"Dek," panggilku lagi karena ucapanku tak juga mendapat respon. Safa sedikit menoleh.
"Makan siangnya sudah siap," ucapnya.
Aku menoleh ke meja, sebuah nampan berisi dua mangkok yang ditutup teronggok di sana.
"Mau makan sekarang?" tawarnya sambil menegakkan tubuh. Ia bergerak mengangkat nampang. Wajahnya tertunduk, enggan menunjukkan semburat bekas tangisannya.
"Adek sudah makan?" Aku balik bertanya.
Safa menggeleng. Aroma sup terlanjur masuk ke indera penciuman. Membuat keinginan untuk menyantap semakin bertambah.
"Kita makan sama-sama saja di luar." Kuturunkan kaki ingin beranjak, "Adek duluan, biar Mas cuci muka dulu."
Aku bergerak ke kamar mandi. Mencuci wajah lalu mengganti pakaian yang sudah basah oleh keringat.
Kuayunkan kaki menuju dapur yang terhubung langsung dengan meja makan. Rumah ini tidak terlalu besar. Hanya berisi satu kamar, ruang tamu, ruang keluarga yang sering kujadikan ruang kerja juga dan dapur yang menyatu dengan meja makan.
Sebenarnya bisa saja membeli rumah yang lebih dari ini, tetapi nantinya aku tak memiliki tabungan jika memaksa. Aku baru saja menyelesaikan studi strata 2 sehingga tabungan banyak teralihkan ke sana. Untuk kedepannya, butuh menabung lagi dan mungkin nantinya akan meminta pendapat Safa untuk rencana membeli rumah yang baru.
Safa sudah bersiap di meja makan. Nampan dari dalam kamar tadi teronggok di atas meja. Tangannya mulai membuka sup yang masih mengepul. Lalu memasukkan nasi dan sup itu ke dalam satu piring. Dan ... meletakkan di hadapanku.
Aku ternganga, Safa menyiapkan ini semua untukku?
Tanpa bicara lagi, aku langsung menyendok nasi.
"Enak. Adek pinter masak," pujiku sambil menyuapkan sendok kedua.
"Beli."
Aku hampir tersedak, tapi berusaha menahannya agar tidak menyembur keluar. Aku menatapnya seketika.
"Adek kok nggak makan?" Baru menyadari ternyata Safa belum menambahkan sesuatu apapun di piringnya.
"Iya, ini baru mau diambil." Tangan Safa bergerak membuka tudung saji.
"Lah, itu ada banyak makanan?"
"Yang ini masak sendiri."
"Kenapa yang dikasihkan mas malah yang beli?" Safa tak menjawab. Aku meletakkan sendok dan menggeser piring menjauh. Lalu berdiri, beranjak mengambil piring dalam lemari. Safa memperhatikan setiap pergerakanku tanpa pertanyaan.
Kupindahkan nasi dan menambahkan sayur sup buatan Safa.
"Aku nggak bisa masak," terangnya.
"Mas nggak nanya, loh," ucapku sambil memindahkan telur dadar yang ternyata bagian bawahannya ... gosong.
Begitu menyuap sendokan pertama, mulut seperti enggan mengunyah. Sup yang pertama dan yang kedua sungguh berbanding terbalik, rasanya ... tak karuan. Hambar, kurang asin, ada rasa pahitnya juga. Mungkin berasal dari bawang goreng yang gosong. Sebab, supnya mengapung hitam-hitam yang kurasa dari sinilah rasa pahit itu berasal. Meskipun begitu aku tetap mengunyah tanpa melihat Safa yang hanya bergeming, menghindari ekspres ini agar tidak mengecewakannya.
Ketika menyendok tulur dadar yang bagian bawahnya gosong, lidahku kembali berhenti bergoyang. Sepertinya, Safa terlalu semangat memasak sehingga terlalu banyak menambahkan garam, pun tidak merata. Pas di dalam mulut, yang kurasa bongkahan garam itu pecah. Rasanya ... bisa dibayangkan sendiri. Tapi tetap kutelan juga, toh tak akan mati hanya dengan memakan satu sendok garam begini.
"Kok nggak di makan, Dek?" tanyaku pada sosok bidadari di hadapan.
"Masakanku ... nggak enak," jawabnya. Jujur, aku ingin tertawa, tetapi kutahan.
"Siapa bilang?" Aku meletakkan sendok setelah usai suapan terakhir.
Sepiring nasi dengan sup hambar ditambah telur dadar gosong plus asinnya sampai terasa pahit ini sudah masuk dalam perut.
Selanjutnya, kutatap wajahnya lekat. Aku ingin tau, bagaimana responnya setelah ini?
••••