Harapan Kecil

1209 Kata
"Kukatakan suka walaupun pahit, karena menyenangkan hatinya adalah sebagian dari upaya menebus dosa." POV Akmal •••• "Enak, kok. Ini, buktinya habis." Aku masih enggan mengalihkan pandangan dari wajah yang hampir selalu menunduk. Walaupun begitu, tetap terlihat cantik sempurna. "Sekarang gantian." Usai berucap, aku bergerak ke arah kulkas, membukanya dan mengambil beberapa bahan di sana. "Dek, tolong kupasin bawang," pintaku. Walaupun tak yakin Safa mau, tapi tak ada salahnya dicoba. "Mana?" Aku tersentak ketika mendapati Safa sudah berdiri tegak di samping. "Ini." Aku menyerahkan tiga butir bawang merah. "Sekalian baksonya, ya?" Kusodorkan mangkuk yang di dalamnya berisi bakso. "Ini di apakan?" tanyanya sambil memegang sebutir bakso. "Di belah jadi empat bagian." Safa mengangguk dan mulai mengupas bawang. Sesekali, gerak tangannya kuperhatikan. Kali ini, ia sedang mengiris bakso. Nasi, bumbu halus, dan beberapa bahan tambahan sudah siap di samping kompor. Tak menunggu lama, aku cepat mengeksekusi sumua bahan ke dalam wajan. Aroma wangi mulai menguar. Tanpa diperintah, Safa menyiapkan dua piring. "Satu saja cukup. Mas 'kan tadi sudah makan." Safa mengembalikan piring tadi ketempat semula dan menyisakan satu piring di hadapanku. "Ini namanya ... nasi goreng bakso. Tanpa telur tetep enak, kok." Kulirik seseorang yang tak sengaja menyungging senyum ... manis. Duh, ada yang berbunga-bunga di dalam sini. "Ayo!" Aku menuju meja makan dan meletakkan sepiring penuh nasi goreng yang masih panas. Safa menghampiriku sambil membawa dua gelas air putih. Kenapa dua gelas? Bukankah sepiring nasi ini hanya untuknya? Oh ... terlintas sebuah ide. "Mas ambil sendok dulu." Safa sudah duduk depan sepiring nasi goreng. Aku membawa dua buah sendok. "Habis masak tadi, kayaknya laper lagi." Kursi yang jauh, kugeser demi berdekatan dengan Safa, memapas jarak hingga kami duduk sejajar. Dua buah sendok kuletakkan di atas piring. "Ayo, Adek tadi belum makan, loh." Walaupun terlihat ragu, Safa meraih salah satu sendok dan mulai menyuap. Aku pun sama, mulai menyendok sambil sesekali mencuri pandang. "Bagaimana, enak? Kapan-kapan Adek yang praktek masak, Mas yang ajarin." Safa menghentikan kunyahannya, melirikku dengan ekor mata tanpa berucap apapun "Maaf, aku nggak bisa masak," celetuknya tiba-tiba, setelah piring dan sendok yang beradu gaduh itu berhenti karena sudah habis. "Nggak pa-pa. Sementara, makan pake telur ceplok sama kecap juga sudah enak kok." Aku jadi merasa bersyukur diberi sakit untuk hari ini. Setidaknya, hubunganku dengan Safa malah semakin membaik. Safa juga lebih santai, tidak tertekan seperti sebelumnya. Semoga ini pertanda yang baik. *** Pagi ini, kuayunkan sabit memapas rerumputan liar di halaman samping. Kegiatan rutinku di hari Minggu. Tak terasa, sudah sebulan aku dan Safa tinggal bersama. Ia mulai terbiasa berinteraksi denganku, walaupun masih dalam kecanggungan. Keputusan untuk tidak mengambil pembantu memang tepat. Sedikit melelahkan sebenarnya, karena aku harus membagi tugas rumah dengan Safa. Tak jarang, pekerjaan Safa, aku yang mengambil alih. Kehidupan di pondok membuatnya tidak terbiasa berinteraksi dengan peralatan dapur. Karena pastinya, masalah makan sudah disediakan oleh pihak pondok. Saat kuliah, Safa memilih membeli sayur matang. Lebih murah dan praktis katanya. Pantas saja, hampir semua menu makanan tidak bisa diolahnya. Terkecuali mi instan. Sudah dua jam aku beradu dengan rerumputan. Saatnya sarapan, sepertinya Safa sudah selesai memasak. Menu yang dibuatnya sudah bisa tertebak, ayam goreng dan telur ceplok. Kalaupun ada sayurnya, pasti sayur bening bayam dicampur tauge. Sebagai pelengkapnya kadang ada tahu goreng dan kerupuk. Setiap hari menu yang sama, tetapi tidak membuatku mengeluh. Bisa bersamanya saja, aku sudah sangat bersyukur. Aku mencuci tangan pada wastafel di dapur. Kondisi rumah sepi dan dapur pun masih rapi seperti tadi pagi. Aneh, tidak ada Safa di sini. "Dek!" panggilku mulai mengitari rumah. Tak ada jawaban ataupun suara-suara sebagai tanda kehidupan lainnya, selain aku. Ke mana Safa? Pikiranku sudah buruk dan langsung menerka sesuatu yang mungkin dilakukan Safa. Aku berlari ke kamar untuk membuka lemarinya. Ternyata, semua pakaian masih tersusun rapi. Laptop, tas dan peralatan milik Safa lainnya masih tersimpan di tempat biasa. Aku mencari handphone dan menghubunginya, tersambung tapi tidak diangkat. Aku berpindah ke bagian depan sembil terus memanggil nama Safa. "Adek!" Kali ini hingga halaman depan. Ternyata kosong. Aku meremas kasar rambut sendiri, merasa frustasi. Jangan-jangan Safa kabur. "Mas Akmal!" Seseorang memanggil. Aku menoleh, Bu Hana, tetangga sebelah rumah. "Nyariin mbak Safa?" tanyanya seperti menangkap kecemasanku. "Iya Bu, Ibu tau?" "Di rumah saya lagi belajar masak. Nah, ini orangnya!" Bu Hana menunjuk ke arah seorang wanita dengan membawa sebuah mangkuk kaca. Safa. Melihat sosoknya, mendadak di dalam sini menjadi lega. Sekilas matanya berbinar. "Sarapannya sudah siap," ucapnya santai. Tak menyadari bahwa aku hampir saja frustasi mencarinya di setiap sudut rumah. "Opor ayam!" serunya. Padahal aku tidak bertanya. Akhir-akhir ini, Safa memang sudah banyak bicara. Di waktu-waktu tertentu, seperti ini misalnya. Aku mengekor di belakangnya. Ingin sekali merangkul, mengungkapkan kelegaan bahwa betapa aku sangat bahagia walau hanya dengan melihatnya saja. "Sebentar, sambal sama tumisannya belum diambil." Aku sudah duduk di depan meja, menunggu Safa. Ia pun muncul dengan membawa dua mangkuk di tangannya. Ia mengambil piring, gelas dan sendok. Sudah terbiasa, Safa paham akan tugasnya. Suasana seperti ini yang sebentar lagi akan aku rindukan. Tiba-tiba dalam hati menjadi sunyi. "Adek yang memasak?" tanyaku saat ia mengisi dua piring di hadapan. "Iya, diajari sama Bu Hana." "Kenapa nggak minta diajari sama mbak Sita saja?" tanyaku iseng. Aku yakin, Safa kurang cocok dengan mbak Sita. "Cerewet." Aku hampir tertawa mendengar jawabannya. "Boleh saja minta diajarkan memasak sama mbak Hana atau pun siapalah, yang penting jangan keseringan. Nanti menganggu." "Hem," jawabnya sambil mengunyah. "Enak," ucapku sambil meliriknya ... lama. Ingin tahu juga, responnya saat masakannya kupuji. "Sering-sering aja masak begini," tambahku. "Iya." jawabnya singkat. "Oh ya, Dek. Mas mau ngomong penting." "Apa?" tanyanya cepat. "Habiskan dulu makannya." Aku meletakkan sendok di dalam piring yang sudah kosong. Beberapa saat kemudian, Safa pun menyusul. "Mas ada proyek di luar kota. Jadi, harus berangkat ke sana bersama team." "Kapan?" "Hari Selasa," jawabku. "Nanti setiap hari, Bi Mirna akan datang ke sini buat bersih-bersih rumah." "Berapa lama?" tanyanya lagi. "Satu bulan, bisa lebih cepat juga bisa lambat tergantung kondisi di sana. Nggak pa-pa 'kan?" tanyaku mastikan. Ah, untuk apa kupastikan. Sudah pasti Safa tidak berkeberatan. *** Malam menjelang keberangkatan, aku berkemas di kamar. Untuk persiapan selama satu bulan, pakaian satu koper penuh sepertinya sudah cukup. Pakaian kerja juga untuk harian. Sepatu dan perlengkapan lainnya masih berserakan di lantai. Sepertinya pakaian harus dikurangi karena tidak akan muat jika di masukkan seluruh perlengkapan ini ke dalam satu koper. Safa terlihat di samping pintu kamar mandi. Sadari tadi, kulihat ia bolak-balik di sana. "Adek sakit? Kok, bolak-balik ke kamar mandi?" Safe menggeleng. "Kenapa?" tanyaku, pandangannya menelisik ke seluruh barang-barang yang masih berserakan. Safa menggeleng lagi. Sudah menjadi kebiasaan kalau ditanya, responnya hanya gelengan. Aku kembali berkutat dengan pakaian. Safa masih memperhatikan dengan pandangan ... entah, tak bisa kutebak. "Kenapa, sih, Dek?" tanyaku lagi karena sepertinya ada yang ingin disampaikan. "Di sana nanti yang masak siapa?" Pertanyaan yang menurutku aneh. Kenapa mesti mengkhawatirkan makanku. Aku berangkat bersama team, soal makan pastinya sudah menjadi tanggungan perusahaan. "Ada yang memasak," jawabku sesederhana mungkin. Ya, pasti akan ada yang memasak. Tapi tunggu dulu, kami merasa ada maksud lain dari pertanyaan Safa. Aku menghentikan aktivitas berkemas, kemudian memandang Safa tanpa berkedip sedikitpun. "Ada apa sebenarnya?" Pertanyaan kali ini, aku benar-benar serius ingin mengetahui keinginan Safa. Ia masih bergeming, tangannya tampak meremas handuk. "Kenapa?" tanyaku lagi demi memastikan sesuatu. "Aku ikut." ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN