Insiden Kecil

1613 Kata
POV Safa Saat itu, aku hanya bisa mengintip sosok tinggi, putih dan rupawan dari balik kaca yang tertutup korden. Dia berjalan melewati ruang yang digunakan untuk bersembunyi. Langkahnya santai, dengan menyandang tas punggung di bahu kanan dan berjalan sambil mengantongi sebelah tangan. "Keren," ucap Karina dari belakang. Aku tersentak, ini yang kesekian kali aku kepergok mencuri pandang pada sosok pria familiar seatero SMA. "Gue mau kok, jadi comblang Lo sama kak Andreas," ucapnya. Ia duduk di kursi belakang aku berdiri. "Jangan ngaco!" kilahku. "Gue tau, Fa. Lo suka sama kak Andreas sejak masa orientasi. Sayangnya, dia sudah punya pacar." "Sayangnya, Gue gak papa, tuh!" Balasku sewot dan pergi meninggalkan Karina. Dan sayangnya, aku tak pandai berbohong bahwa aku memang menyukai cowok dua tingkat di atasku itu. Seorang pria idaman hampir seluruh gadis di SMA ini, Andreas Maulana Akmal. Setiap hari, aku akan mengekor jauh di belakangnya. Dia yang memang telah memiliki seorang kekasih yang sangat cantik, pintar dan kaya. Vidia, satu kelas dengannya. Tangan lentik dengan kutek kuku yang hampir berganti setiap harinya itu membuatku merasa terbuang. Sebab, ia akan bergelayut manja di lengan pria yang kukagumi. Aku mencoba membuang perasaan ini, tetapi tetap saja tumbuh meski mati-matian kubunuh. Hingga saat siang itu, di jam terakhir menjelang masuk, dia menemuiku dengan satu alasan, ingin masuk organisasi yang sedang aku tangani. Dari situlah petaka itu di mulai. Sore itu, di hari yang sama, ia memintaku menemani ke sebuah fotokopi. Menginginkan buku-buku sebagai ilmu dasar. Tak tahu apa yang merasuki pikiranku hingga tanpa curiga mengamini permintaannya untuk memasuki sebuah rumah. Perasaan mengagumi yang sudah ada lebih dulu, atau karena pesonanya yang tidak mungkin terbantahkan itu yang membuat aku memasuki rumah yang akhirnya mengubur semua mimpiku. Dia, lelaki yang kukagumi, telah merampas masa depanku dan membuangku masuk dalam kenistaan. Aku sangat membencinya. Hingga rasa kagum yang menggunung itu menguap dalam seketika. Sejak saat itu, aku benci diriku sendiri, benci perasaan ini, benci ruang kelas yang kugunakan untuk mengintipnya, benci lorong sekolah yang menjadi saksi bisu ketika diam-diam menguntitnya. Dan, yang paling membuat muak adalah, aku benci apapun yang berhubungan dengan pria itu. Sayangnya, Tuhan berkenan lain. Kami kembali dipertemukan dengan jalan yang tidak pernah kupilih. Setiap hari, aku harus menatapnya tanpa bisa mengelak. Aku bisa apa, jika takdir sudah menggariskan? Satu-satunya cara agar kesakitan ini sedikit mereda adalah memberi ruang pada diriku sendiri untuk membiarkannya melakukan tugas. Tugas saja, tetapi bukan hak. Dan aku, akan tetap seperti ini sampai ... entahlah. Mungkin sampai kesakitan ini menguap sendiri. Walaupun penuh dengan air mata, tetap kujalani satu atap bersamanya. Hingga sebulan ini, punggung itu masih juga membekas meninggalkan kenang kesakitan yang belum juga pulih. Setiap hari, bahkan aku sampai lupa seberapa banyak air mata yang tumpah di rumah ini. Namun demikian, dia masih bersabar menanti maafku. Dia juga tengah berjuang karena kebisuan yang panjang ini. "Dek." Aku menoleh. Sosok tak asing lagi muncul dari arah ruang tamu. Aku yang sedang berselancar di dunia maya segera menutup aplikasi biru dan menghadap Akmal. "Mas enggak bisa memutuskan sendiri. Kita tunggu keputusan teman-teman yang lain, ya?" Aku mengangguk, "kalau merepotkan, biar di rumah saja," ucapku dengan berat hati. Sejujurnya tidak masalah bagiku jika harus tinggal di rumah sendiri, tetapi sikap mbak Sita yang berlebihan itu membuatku gerah. Ia kerap kali datang di saat Akmal pergi bekerja. Menyuruh ini dan itu, mengatur rumah yang menjadi kewajibanku. Belum lagi ceramahnya yang panjang tak berjeda itu malah membuatku pusing. Semakin malam, Akmal belum juga masuk kamar. Ia berada di ruang tengah, sedang menyelesaikan pekerjaan yang harus dibawa besok. Aku meluruskan punggung dengan berbaring. Menunggu keputusan Akmal benar-benar meresahkan. Terbiasa dengannya membuatku takut jika jauh. Mungkin terdengar berlebihan. Benci tapi takut ditinggal sendirian. Perhatian yang tak kenal waktu itu, tanpa sadar sudah membuatku tertarik untuk mengenalnya. Bersama Akmal, suamiku, seharusnya bisa berbuat lebih tanpa batas. Namun, aku tidak mampu berlaku seperti itu, ada jarak yang sedari awal sudah membentengi. Pintu terbuka bersamaan dengan Akmal yang masuk, kemudian mengunci pintu dari dalam. "Dek," panggilnya. Aku mendongak. "Ya," balasku sambil menegakkannya badan untuk duduk. "Beneran mau ikut?" tanyanya. 'Kenapa, sih mesti bertanya lagi. Sudah jelas kalau aku benar-benar mau ikut.' Aku memberikan jawaban dengan anggukan. "Kalau boleh tau, kenapa kepengen ikut?" tanyanya yang tiba-tiba saja duduk di dekatku, di pinggir ranjang. "Malas ketemu mbak Sita," jawabku jujur. Memang itu alasannya. Akmal tertawa kecil. Aku malah jadi bingung, kenapa Akmal tidak marah? Seharusnya dia bisa saja marah karena memang ... aku sedikit pemalas, seperti yang dituduhkan mbak Sita. Setidaknya itu memang benar. "Cuma karena menghindari mbak Sita, nih?" tanyanya seperti tidak percaya. Apa aku tampak seperti pembohong? Dari mana Akmal tau kalau aku juga ... entahlah. Tiba-tiba perasaanku berkeinginan ikut ke manapun Akmal pergi. "Kalau keberatan, aku di rumah saja." Akhirnya jawabku. Mungkin Akmal bakal kerepotan membawaku bersamanya, sehingga sedari tadi hanya mengulang-ulang pertanyaan saja. "Bersiaplah?" Seketika itu juga, aku memandang wajahnya yang ternyata juga menatapku. Kami bersitatap dalam hitungan detik. Selengkung senyuman melintas di bibirnya. "Beneran?" tanyaku meyakinkan diri. "Kemasi pakaianmu," balasnya. Tanpa sadar, aku membalas senyumannya. Ada yang mengalir sejuk di dalam sini yang membuat perasaanku menjadi lega. "Siap." Aku langsung meloncat dari tempat tidur dan menuju lemari. "Tapi kita tak bisa membawa banyak pakaian. Jadi, kopernya satu saja," ucapnya memberikan syarat. Aku berbalik menatap Akmal yang masih bergeming di atas pembaringan. Satu koper bersama pakaiannya? "Iya." balasku. Tak masalah! Toh cuma pakaian. Akmal menyeret kopernya dan mengeluarkan beberapa helai pakaian. "Bawa yang sekiranya penting saja." Aku menoleh ke arah koper yang isinya sudah berkurang. "Iya," balasku. Hendak memasukkan beberapa pakaian, tetapi urung. Akmal masih berdiri saja di situ. Bagaimana aku bisa memasukkan pakaian ke kopernya? Sedangkan yang ada di tanganku ini, pakaian dalam semua. Seperti mengerti kecanggunganku, Akmal memundurkan langkah dan duduk di ranjang. "Bersiaplah. Anggap saja mas nggak liat." 'Tuh 'kan, dia seperti bisa membaca pikiranku.' Aku bergegas memenuhi koper itu dengan lima helai gamis, tiga jilbab instan dan barang pribadi wanita. "Sudah," ucapku sambil menarik resleting koper dan menyeretnya ke sudut ruangan. "Istirahatlah, besok di perjalanannya jauh. Kita berangkat agak siangan." Aku segera mengikuti sarannya, menaiki ranjang dan berbaring di sisi Akmal. Seperti biasa, aku akan memunggunginya karena ... malas bersitatap dengan Akmal yang seringkali terbangun tengah malam, lalu memandangi wajahku. Aku merasa ... belum siap diperlakukan seperti itu. *** Akmal sedang berusaha menghubungi rizal yang ada sedari tadi tidak tersambung. Sedangkan aku duduk di teras sambil terus memandangi punggung tegap itu. "Kita berangkatnya pakai mobil sendiri, Dek. Soalnya nggak muat kalau barengan dengan mereka." Akmal meraih koper dan memasukan ke bagasi. Dari nada ucapannya, aku merasa merepotkan Akmal. "Kalau merepotkan, biar aku di rumah saja." Akmal langsung menatapku, "nggak, kok. Lagian di sana nanti tempat kita terpisah dengan mereka." "Maksudnya?" "Mas sengaja menyewa rumah yang terpisah untuk kita tinggali di sana nanti." "Apa nggak merepotkan?" "Nggak. Kebetulan memang ada rumah yang di sewakan. Letaknya juga malah lebih dekat ke lokasi proyek. Buruan masuk!" Akmal menutup bagasi dan kamipun bergegas masuk ke mobil. "Kalian mau ke mana?" Tiba-tiba mbak Sita sudah berada di halaman. "Mau ke luar kota, mbak," jawab Akmal. "Ngapain?" tanya mbak Sita semakin mendekat. "Ada pekerjaan, kebetulan Safa ikut juga." "Kayak anak kecil aja kemana-mana ngikut." Aku mulai garah mendengar ucapan mbak Sita. Akmal melirikku yang mungkin saja menangkap gambar nyata bibir yang sedang mengerucut. "Sekalian bulan madu, Mbak." Hah! "Bulan madu?" Rupanya, mbak Sita sama terkejutnya denganku. "Iya 'kan, Sayang?" Tiba-tiba Akmal beralih pandang padaku. "I-iya." "Sudah sebulan menikah, masih nggak bosan kalian?" "'kan dekat puncak. Lagian, aku sudah menyewa villa untuk ditinggali berdua selama di sana. Semoga saja, proyeknya makin lama." Akmal berpikiran seperti itu? "Ya ... ya sudah, berangkatlah. Hati-hati di jalan." Mbak Sita akhirnya menyerah. "Bi Mirna bakal tinggal di sini. Jadi mbak Sita nggak perlu repot-repot bolak-balik ngurusin rumah ini." Akmal melajukan kendaraannya dengan perlahan, meninggalkan mbak Sita yang sebenernya masih ingin mengomel. Aku yakin, setelah ini, dia pasti merutuk berulangkali. "Rizal dan yang lainnya?" Aku memberanikan diri untuk bertanya dalam perjalanan. "Sudah berangkat. Tadi seharusnya kita bisa membawa tambahan pakain, ya, dek. Kok kelupaan, ya?" "Apa kita putar balik lagi?" tanyaku menimpali. "Nggak usahlah. Kalau kepepet, beli aja nanti." Aku meletakkan kepala yang mulai terasa berat. Sudah satu jam perjalanan, mobil yang dikemudikan Akmal mulai meninggalkan pusat keramaian kota. "Tidurlah, perjalanan masih panjang." Akmal memberikan sebuah bantal kecil ke pangkuan. Benar kata Akmal, perjalanan masih lama. Berkali-kali melirik google map yang sengaja Akmal letakkan di depan stir. Aku mulai menguap, rasa kantuk menyerang perlahan hingga membuatku terlelap. * "Dek …." Sebuah guncangan pada bahu memaksaku membuka mata. "Sudah sampai?" tanyaku sambil menutup mulut karena tiba-tiba menguap. "Sudah?" kejutku. Aku merasa baru saja memejamkan mata dan begitu membukanya, posisi sudah berada di atas ... puncak. Akmal turun lebih dulu. Aku merapikan pakain dan mengenakan sepatu yang sengaja kulepas. Ia membukakan pintu untukku. "Bagaimana?" tanyanya. Aku tercengang melihat objek di depan mata. Tanpa sadar kaki melangkah mendekati pemandangan itu. Sebuah rumah minimalis bercat coklat, keseluruhan kayu, samping kanan terdapat kolam ikan dan sebuah taman kecil yang bunganya tengah bermekaran. Tanpa aba-aba aku menaiki tangga teras dan langsung masuk pada rumah yang lebih mirip villa ini. Pintu yang memang sudah terbuka memudahkan aku masuk dengan leluasa. Pandangan menelisik ke seluruh isi rumah bergaya pedasaan ini. Sebuah kamar, dapur dan ruang tamu. Langkah langsung tertuju memasuki kamar. Ketika membukanya, pandang langsung tertuju pada sebuah ranjang yang luas dengan seprai putih yang bertabur kelopak mawar di atasnya. Kelambu putih terikat rapi di keempat sisinya. Di pojok ruangan, berderet rangkaian bunga mawar yang sengaja diletakkan dalam wadah seperti toples kaca. Wanginya memenuhi seluruh ruangan. Seketika aku membalikkan badan menghadap Akmal yang berdiri di ambang pintu. Senyum mengembang lebar. Lalu kutatap kembali keranjang di sana. Apakah Akmal benar-benar mengajakku berbulan madu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN