Ke Luar Kota

1088 Kata

PoV Safa Akmal mendekat, semakin mendekat dan semakin rapat. Kakiku serasa terpaku di tempat ini, tanpa bisa bergeser sedikit pun. Dia berdiri tepat di hadapanku, pandangan tak beralih. Sebenarnya, apa maunya? Kedua tangan terangkat dan mencengkeram bahuku, wajahnya menunduk dan terus menunduk. "Ma-mau ngapain?" Aku tergagap, tetap tidak bisa beranjak. "Buruan pindahkan pakaiannya, nanti Mas liat pemandangan luar biasa. 'Kan bajumu paling atas." Ia melepas tangan dan duduk di ranjang. Aku malu karena berpikir macam-macam. Koper di luar pintu segera kuseret, membawanya masuk dan mulai memindahkan beberapa pakaianku. Benar, pakaianku berada paling atas dan pastinya banyak barang pribadi. Eh, sebentar, kok Akmal tau kalau dibagian atas tempat barang pribadiku? Jangan-jangan Akmal ....

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN