PoV Safa Akmal mendekat, semakin mendekat dan semakin rapat. Kakiku serasa terpaku di tempat ini, tanpa bisa bergeser sedikit pun. Dia berdiri tepat di hadapanku, pandangan tak beralih. Sebenarnya, apa maunya? Kedua tangan terangkat dan mencengkeram bahuku, wajahnya menunduk dan terus menunduk. "Ma-mau ngapain?" Aku tergagap, tetap tidak bisa beranjak. "Buruan pindahkan pakaiannya, nanti Mas liat pemandangan luar biasa. 'Kan bajumu paling atas." Ia melepas tangan dan duduk di ranjang. Aku malu karena berpikir macam-macam. Koper di luar pintu segera kuseret, membawanya masuk dan mulai memindahkan beberapa pakaianku. Benar, pakaianku berada paling atas dan pastinya banyak barang pribadi. Eh, sebentar, kok Akmal tau kalau dibagian atas tempat barang pribadiku? Jangan-jangan Akmal ....

