Pacar Baru

1132 Kata
Deril berada di sebuah toserba (toko serba ada). Sebelum dia masuk, dia mengambil hapenya dan mulai mengetik sebuah catatan. “Daftar belanja : 1. Peralatan mandi Sabun Shampo Sabun cuci muka Sikat gigi Pasta gigi 2. Peralatan makan Piring Gelas Sendok Garpu Mangkuk Pisau 3. Peralatan laundry Detergen Pewangi Hanger Penjepit 4. Peralatan diy Obeng Palu Mur + baut Berbagai kunci 5. Peralatan kebersihan Sapu Pel Kemoceng Pengharum ruangan Pembersih lantai Sikat wc” Setelah mengetik berbagai keperluannya. Deril segera masuk ke dalam toserba. Dia memulai dengan mengambil trolly belanja. Lalu mendorongnya menuju lorong tepat peralatan mandi berada. Diambilnya beberapa sabun, sampo, dan lainnya. Kemudian dia beranjak menuju lorong peralatan makan, peralatan kebersihan. Beberapa pasang mata melihat ke arahnya dengan tatapan menyelidik. Deril mengabaikannya, namun kemudian ada seorang gadis yang bertanya padanya. “Kakak belanja sebanyak ini sendirian?” tanyanya. “Memangnya kenapa?” “Bisa bawanya?” “Bisalah. Memangnya kalau ga bisa kamu mau bantuin?” “Hehe aku juga bawa banyak barang.” “Terus?” “Sebenernya, aku yang mau minta bantuan.” “Bantuan apa?” “Kakak mau bantu aku?” “Ya bantu apa dulu.” “Disana tuh ada cowok, yang pakai kemeja coklat muda.” “Terus?” “Dia tuh ngejar – ngejar aku terus kak. Kakak bisa ga pura – pura jadi pacarku?” “Kok aku?” “Soalnya kakak kan sendirian. Hehe.” “Terus kalau aku bantu kamu. Aku bakal dapat apa?” “Aku bisa bantu kakak bawa belanjaan ini. Atau sekalian naik mobilku.” “Wah tawaran yang bagus. Boleh deh.” “Makasih ya kak.” Ucapnya sambil memeluk Deril. “Eh, kok main peluk aja nih.” “Biar natural.” Deril menatapnya sinis. “Katanya mau bantuin?” ucapnya memelas. “Iya, tapi ga usah peluk – peluk lagi.” “Hehehehe.” Kemudian pria berkemeja coklat muda itu berjalan menghampiri mereka. Dengan wajah yang emosi dan mengepalkan tangannya. Sementara Deril dan gadis itu masih ngobrol dengan santainya. “Apa – apaan tadi meila?” “Apa sih? Ngurusin orang saja.” “Ngapain kamu peluk – peluk orang lain?” “Orang lain kamu bilang? Dia itu pacarku.” “Pacar? Hahaha. Ga usah bohong kamu. Sejak kapan kamu punya pacar.” “Aku kan sudah sering bilang sama kamu, kalau aku sudah punya pacar.” “Pacar dari mana? Ngapel aja ga pernah.” “Kamu tuh nguntit aku terus ya?” “Makanya ga usah ngarang – ngarang dia pacarmu.” “Kamk LDR kok selama ini.” Deril menyela obrolan mereka. Meila, gadis itu tersenyum dengan binar dimatanya. “Iya, kami LDR. Puas kamu?” “LDR? Lalu, kenapa baru sekarang ketemu?” Meila menggelengkan kepalanya pelan. Berharap Deril bisa memberikan alasan yang masuk akal. “Selamana ini aku kerja di luar kota. Sangat sibuk. Demi dia ahirnya aku pindah kerja disini. Mulai hari ini aku akan sering ngapelin dia. Kamu ga usah ganggu – ganggu dia lagi.” “Kamu ga usah sok ngaku – ngaku deh. Ga usah larang – larang aku buay ketemu dia.” “Aku sudah memberimu peringatan, lebih baik kamu menjauh. Daripada ini akan berahir runyam.” “Selama tidak ada bukti kalian pacaran, aku akan tetap mendekatinya.” Meila tiba – tiba memeluk Deril dan melumat bibirnya. Deril yang kaget hanya bisa mematung dan pasrah. Meila dengan lembut menciuminya. Deril yang semula merasa tegang, kini mulai membalas ciuman itu. Mereka saling menikmati setiap kecupan, tanpa sadar mereka semakin hanyut dalam ciuman itu. Sedangkan pria tersebut melotot marah melihat adegan itu. Lalu beranjak pergi dengan hati yang tercabik – cabik. Menyadari pria itu sudah peegi, Meila segera menghentikan adegan ciumannya. “Maaf ya kak, kalau ga gitu nanti dia ga percaya kalau kita pacaran.” “Gapapa kok.” Jawab Deril. “Kakak belanjanya sudah? Atau masih perlu ambil barang lain?” Meila bertingkah seolah tak pernah terjadi apa – apa. Dia bersikap seperti biasa, tak ada canggung ataupun malu. Sedangkan Deril masih tak menyangka. Di hari pertamanya bertugas, dia sudah mendapatkan kejutan yang menyenangkan. Siapa yang tak suka dicium oleh gadis cantik sepertinya. “Kak? Kok bengong?” “Eh iya, aku masih harus ambil beberapa barang lagi.” “Yaudah hayuk diambil kak.” “Ayo ayo.” Mereka mengambil beberapa barang yang dibutuhkan. Memasukkannya dalam trolly dan mendorongnya menuju meja kasir. Meila lebih dulu mengantri di depan Deril. Giliran Deril membayar semua belanjaannya. “Pengantin baru ya kak?” tanya si kasir. “Eh? Siapa? Saya?” “Iya, bukannya kalian pasangan?” ucapnya sambil menunjuk ke arah meila. Meila hanya tersenyum mendengarnya. Deril pun sama, dia hanya nyengir saja. Mereka membiarkan kasir itu menerka – nerka sendiri. “Totalnya Satu juta delapan ratus sembilan puluh lima ribu kak.” “Bayar pakai ini bisa?” tanya Deril sambil menunjukkan akun m - banking nya. Tentu m – banking yang sudah diurus oleh pihak blue house. “Bisa kak. Silahkan discan disini.” “Sudah.” “Iya kal sudah. Silahkan dibawa belanjaannya. Semoga langgeng ya kak.” Ucapnya sambil tersenyum ke arah mereka. Meila hanya menggelengkan kepala sambil tertawa. “Mobilku yang itu kak, warna biru. Kamu bisa nyetir?” “Bisa.” Mereka berhenti di depan sebuah mobil bugatti berwarna biru. “Wah tajir nih cewek” batin Deril. Mereka segera memasukkan barang – barang kedalam mobil. “Wah sepertinya bagasi mobilnya ga cukup ya kak?” ucap Meila. “Kayanya begitu. Apa disini ada penyewaan mobil?” “Ehm. Gini deh, aku telpon supirku dulu kak.” “Oke deh.” Tak lama sebuah mobil bak terbuka datang. Mobil itu berhenti tepat dihapadan mereka. “Mobilnya sudah siap nona. Barang mana yang akan dibawa?” “Itu pak, semuanya masukkan ke mobil ya.” “Siao nona.” “Kalau gitu aku seaa mobil bak mu boleh?” “Buat apa kak?” “Aku juga butuh mobil untuk membeli beberapa cat di toko sebelah sana.” “Bawa saja kak. Kembalikan kapanpun kalau kakak sudah tidak membutuhkannya.” “Eh tapi kan?” “Gapapa, anggap saja kita impas kak. Kakak diantar pama pak supir gapapa?” “Ah iya gapapa.” “Kalai gitu aku balik dulu kak. Makasih bantuannya.” “Sama – sama, makasih ya sudah dipinjami mobilnya.” Dia hanya melambai sambil mengemudikan mobilnya. “Semua barangnya sudah dinaikkan pak.” “Oh iya, mari berangkat.” Mereka berdua duduk di mobil dan siap berangkat. “Rumahnya di daerah mana pak?” “Jangan panggil pak dong, panggil Deril saja.” “Baiklah, mari kita berangkat. Rumahmu di mana?” tanyanya lagi. “Saya masih belum hafal daerah sini pak. Pokoknya rumahnya dekat danau.” “Oh rumah Barconi.” “Siapa Barconi?” “Pemilik rumah itu. Dia teman saya sejak kecil.” “Benarkah?” “Iya, mereka adalah pasangan palinh romantis yang pernah ku kunal. Sayangnya, anak – anak mereka memilih untuk pergi dari sana. Mereka membeli rumah di dekat tempat kerja mereka. Jadilah Barconi dan istrinya hanya tinggal berua saja di sana.” “Oooh iya sih, tadi mereka juga bercerita tentang anaknya yang jarang pulang.” “Memang benar. Jarang sekali mereka pulang. Padahal orang tuanya sangat ingin menikmati masa tua bersama – sama mereka.” Deril terdiam, dia ahirnya mengerti, mengapa keluarga itu menggratiskan biaya sewa baginya. Mereka benar – benar merasa kesepian. Deril berharap dengan dia tinggal disana, setidaknya dia bisa mengisi hari mereka menjadi lebih baik dan tidak kesepian lagi. Mereka pun sampai. Segera diturunkannya semua barang dari bak belakang mobil. Pak Barconi dan istrinya mendengar suara mobil datang, mereka pun segera keluar dari rumahnya. “Hai Bar, apa kabar?” sapa pak supir Meila. “Wah Doni, kabar baik. Bagaimana denganmu?” “Sangat baik Bar. Aku bekerja sebagai supir di rumah walikota.” “Selamat ya, ahirnya kamu bisa punya pekerjaan tetap.” “Bagaimana kalian bisa ketemu?” tanya Barconi pada mereka. “Tadi anak walikota memintaku untuk menjemputnya di toserba. Ternyata dia menyuruhku untuk mengantar pemuda ini.” “Iya betul pak.” “Bagaimana kamu bisa kenal dengan anak walikota Der?” tanya pak Barconi. Deril pun bingung harus menjawab apa. Dia hanya diam sambil senyum – senyum sendiri, lalu mengalihkan pembicaraan mereka. “Bagaimana kalau kita turunkan barang – barang ini sekarang pak? Sebelum semakin sore.” “Wah kamu betul. Ayo – ayo kita turunkan dulu barangnya.” Sahut pak Doni. Mereka menurunkan semua barang, lalu membawanya masuk ke rumah pondok yang akan Deril tempati. Mereka berbincang banyak hal. Sementara para lelaki memberekan barang – barang, Nyonya Barconi memasak untuk mereka. Setelah semua selesai, mereka duduk di atas karpet sambil menyantap masakan yang sudah dihidangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN