Deril berbincang cukup lama dengan keluarga Barconi dan pak Doni. Mereka pamit kepada Deril, agar Deril bisa istirahat. Deril merebahkan dirinya di kasur. Dia melirik berbagai barang yang sudah tertata rapi. Dia lagi – lagi beruntung, ada yang membantu menata barang – barangnya. Deril merasa sangat lelah. Tapi dia harus segera mandi, badannya sudah terasa lengket dan lesu.
Dia mengambil handuk di lemari yang sudah disiapkan oleh nyonya Barconi. Merek memberikan beberapa handuk, selimut dan peralatan masak. Deril segera menuju ke kamar mandi. Setelah melepas semua bajunya, dia segera menghidupkan shower dan menyetel air hangat pada kerannya. Air hangat itu mengguyur tubuhnya yang kekar. Tetes air membasahi rambut, wajah, d**a, hingga kakinya. Dia mengambil sampo dan membuat busa pada rambutnya. Kemudian dia mulai membasuh badannya dengan sabun cair. Digosoknya perlahan setiap bagian tubuhnya. Mulai dari tangan, hingga lipatan – lipatan tubuhnya yang lain. Tak cukup sekali, dia menggosok setiap bagian tubuhnya lagi dengan sabun. Setelah selesai semua ritual mandinya. Dia segera mengambil sikat dan pasta gigi. Deril punya kebiasaan, selalu menggosok giginya saat sudah selesai mandi.
Deril sudah merasa segar. Dia melanjutkan kegiatannya tadi, rebahan. Sambil rebahan dia mengambil buku catatan yang ada di dalam tasnya. Juga mengambil pena yang diterimanya saat menandatangi kontrak di lembah hijau. Dituliskannya disana.
“Day 1
Sunnguh beruntung, mendapatkan tempat tinggal gratis, tumpangan barang gratis dan sebuah ciuman”
Kemudian dia menutupnya dan melanjutkan rebahan lagi.
***
Di lembah hijau.
Semangat Steve untuk belajar masak sangat membara. Lazardi sampai kuwalahan mengajarinya. Banyak sekali resep yang ingin dia coba setiap harinya.
“Istirahat dulu Steve. Besok lagi.” Ucap Lazardi saat Steve mengajukan menu baru padanya.
“Yah, ayolah. Kan masih banyak waktu sampai makan malam zar.” rengeknya.
Lagi dan lagi Lazardi ahirnya mengalah. Dia segera menyiapkan bahan dan alat yang dibutuhkan untuk membuat donat.
“Bahan – bahannya apa saja Steve. Sebutkan, biar aku mudah mengambilnya.”
“Tepung terigu, gula, garam, mentega, ragi, air atau s**u cair, s**u bubuk, telur.”
“Kamu mau diberi toping apa nantinya?”
“Coklat, Capucino, keju.”
“Oke.”
Deril meletakkan bahan – bahan yang sudah disebutkan oleh Deril. Kemudian dia mengeluarkan mixer, wadah plastik, dan timbangan digital.
“Kita buat 250gr saja ya. Biar cepat.”
“Oke. Aku apa kata master saja.”
“Halah. Coba timbang tepungnya 250gr.”
“Sudah.”
“Sisihkan. Ambil wadah itu, masukkan gula 2 sendok makan dan 1 butir telur. Kocok hingga gula larut.”
“Mengocok ini boleh langsung pakai mixer ga?”
“Cukup pakai wisk, kalau ga ada ya pakai sendok juga gapapa.”
“Sudah larut nih gulanya. Lalu gimana?”
“Masukkan tepung, s**u bubuk, ragi, s**u cair. Kalau kita pakai air ditambah s**u bubuk juga gapapa. Tapi lebih enak lagi kalau pakai s**u cair dan juga s**u bubuk.”
“Bedanya dimananya?”
“Kalau kita pakai s**u, nanti hasilnya akan lembut.”
“Ini kok ga pakai kentang ya?”
“Kalau pakai kentang juga bisa. Tapi untuk suau cairnya harus dikurangi jumlahnya.”
“Oh begitu, kentang bikin lembek ya?”
“Soalnya kan kentang sudah mengandung air.”
“Bapaknya siapa zar?”
“Bapak? Apanya?”
“Katamu tadi kentang mengandung.”
“Eh, hahahaha. Ah suka – suka kamu deh Steve.” Lazardi baru menyadari dia dikerjai oleh Steve.
Steve masih mengaduk adonan.
“Kalau sudah kalis, tambahkan mentega dan garam sedikit saja. Lalu ulen lagi sampai kalis.”
“Sampai kapan ini diulen zar? Capek nih, pegel tanganku.”
“Hahaha, siapa suruh nantang – nantang buat donat. Nih lanjutin sama mixer saja.”
“Gitu dong dari tadi.”
“Biar kamu juga bisa walau tanpa alat nantinya.”
“Iya deh iya.”
“Nanti kalau sudah kalis istirahatkan adonannya. Taruh di wadah ini. Lalu tutup dengan plastik wrap.”
“Selain plastik wrap, apa lagi yang bisa buat nutup adonannya?”
“Pakai tutup apa saja bisa, termasuk serbet basah, daun pisang juga bisa. Asalkan semua permukaannya tertutup. Jadi adonannya enggak kering.”
“Oh begitu.”
“Apa itu sudah kalis?”
“Bagaimana caranya kita tahu adonan kalis atau tidak?”
“Adonan donat harus kalis elastis. Kalis elastis itu kalau kita tarik dia ga putus atau bolong. Coba matikan mixernya, kita lihat adonannya.”
Lazardi mengambil sedikit adonan lalu menariknya. Dan benar, adonan itu bisa menjadi sangat tipis tapi tidak robek.
“Ini namanya kalis elastis Steve.”
“Oooooh. Ditutup nih sekarang?”
“Iya, tutup sama plaatik wrap tuh. Nah sementara adonannya istirahat. Tim coklatnya.”
“Caranya?”
“Ambil saus pot, masukan air. Lalu panaskan hingga mendidih. Sementara menunggu mendidih, potong coklatnya kecil – kecil agar cepat meleleh.”
“Siap master.”
Mereka sibuk dengan memasak hingga tak menyadari langit sudah berubah menjadi ungu. Albapante menghampiri mereka
“Kalian masih belum selesai?”
“Sudah, ini cicipi.” Jawab Steve.
“Wah donat. Kesukaan Jessi nih.”
“Kalau gitu aku bakal ngasih ke dia deh nanti.”
“Besok saja. Palingan dia juga sudah tidur.” Sela Lazardi.
Lazardi memberi kode pada Albapante, agar menyuruhnya segera ke kantin.
“Steve, sudah waktunya makan malam. Segera ke kantin. Lalu kembalilah ke kamarmu.”
“Iya, kira – kira aku bakal dapet temen sekamar baru ga ya?”
“Tunggu saja. Kalau ada yang mau. Hahahaha.” Jawab Lazardi.
Steve cemberut, dia mengambil beberapa donat dan memasukkannya ke dalam kotak. Dia pun segera berpamitan pada Albapante dan Lazardi.
“Aku balik dulu. Besok lagi ya zar?”
“Besok aku sibuk!”
“Kok gitu?”
“Kalai kamu bosen, ya nyari kegiatan lain.”
“Bilang aja kamu ga mau bantuin.”
“Iya aku ga mau bantu. Sudah sana makan ke kantin.”
Steve pergi daru rumah Albapante dengan langkah malas. Dia merasa ada yang kosong darinya. Deril yang biasanya dia kerjai sudah bertugas. Lazardi pun menjadi sasarannya untuk mengisi hari. Namun masih saja Steve merasa kosong.
Steve sudah sampai di kantin. Kantin terlihat sudah mulai sepi. Setelah memganbil makanan, dia memilih duduk di samping showcase, tempat favoritnya dengan Deril. Dia mengambil minuman teh dingin dan sebotol s**u coklat. Deril makan dengan perlahan, dia terlihat frustasi karena sendirian.
“Kamu Steve ya?” tanya seseorang padanya.
“Iya, kamu siapa?”
“Aku boleh duduk disini?” tanyanya lagi.
“Boleh. Kamu siapa?” Steve menanyakannya lahi.
“Aku teman Jessi. Mikaila.”
“Mikaila? Kamu kurcaci juga?”
“Betul.”
“Kok ga seperti kurcaci lain?”
“Wujudku?”
“Iyalah.”
“Hahaha. Ini kan sudah bukan waktuku bertugas. Bebas dong mau seperti apa juga.”
“Oooooh.”
“Ooooompong.”
“Hahaha. Ada apa kamu kesini?”
“Makanlah. Masak berenang?”
“Ya sapa tahu ada keperluan sama aku?”
“Cuma mau bilang, mendingan kamu ga usah nemuin Jessi deh.”
“Kenapa?”
“Jessi butuh waktu buat sendiri dulu. Kamu kan tahu sedekat apa dia sama Deril.”
“Apa hubungannya sama aku?”
“Kalau dia lihat kamu, bisa jadi dia malah sedih keinget Deril.”
“Gitu ya? Kan aku mau hibur dia.”
“Ga perlu. Aku akan hibur dia. Kamu ga usah. Tenang saja, semua pasti beres.”
“Oh, okelah.”
Mikaila lega, ahirnya Steve bisa dibujuk agar tidak menemui Jessi. Bisa gawat kalau dia tahu soal Jessi.
“Ini apa Steve?”
“Oh ini donat. Mau ku kasih ke Jessi.”
“Biar aku saja ya yang kasih ke dia? Aku minta boleh ga?”
“Boleh, ambil saja. Jangan lupa kasih ke Jessi juga ya.”
“Makasih, siap laksanakan.” Ucap mikaila dengan lantang. Mikaila memberi kode pada Lazardi dengan mengangkat jempol. Ada rasa lega pada wajah Lazardi. Setidaknya Steve tidak akan menemui Jessi untuk sementara waktu.
***
Sore itu Deril keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju sebuah ruangan yang terhubung dengan danau. Ruangan itu dia beri nama “Bernau” (Beranda Danau). Dia duduk di tengah tangga. Dilemparkannya alat pancing yang sudah dia pasang umpan.
“Kalau Steve disini, pasti dia segera nyebur dan renang seharian di danau.” Ucapnya dalam hati.
Kedua sahabat itu saling merindu. Mereka larut dalam pikiran perandaian mereka. Deril masih menanti umpannya dimakan ikan. Beberapa menit berlalu, Deril menyandarkan alat pancingnya pada pagar kayu di bernau. Dia masuk ke rumah dan mengambil minuman dingin serta beberapa camilan yang dia beli bersama Meila. Dia melamun dan melijat jauh di seberang danau. Dia melihat ada dua orang yang sedang berdiri memandanginya.
“Siapa mereka?” Deril segera berdiri dan menajamkan pandangannya. Dia merasa pernah melihat keduanya, tapi dimana. Deril berpikir keras, kemudian dia mengingat dua gadis yang duduk diseberang halte saat dia menunggu bis.
“Sepertinya itu mereka.” Ucapnya.
“Heiiiiii.” Teriaknya pada dua gadis itu.
Kedua gadis yang dipanggilnya, malah berlari melesat jauh ke dalam hutan.
“Kenapa mereka berlari?”
Kemudian Deril dikagetkan dengan pancingnya yang bergerak.
“Strike. Ahirnya.”
Dengan sekuat tenaga Deril menarik pancingnya. Tarikan ikan sungguh kuat, pasti ikan besar yang menyambar pancingnya. Dia pun terlupa dengan keberadaan dua gadis tadi. Mereka kini beesembunyi sambil memandanginya dari jauh.