Hari kedua.
Hari dimana Deril akan segera melaksanakan tugasnya. Disiapkannya beberapa peralatan yang diberikan Jessi padanya. Ramuan – ramuan, serta beberapa makanan dan minuman. Haru pertaman bertugas menjadi peri hutan. Deril mempersiapkan mentalnya dengan mantab. Semoga hari ini membawa keberuntungan baginya. Doanya pagi itu.
Deril sudah membersihkan rumahnya, dia membawa beberapa biskuit dan membawanya ke rumah keluarga Barconi. Dia mengetuk pintunya.
Tok. Tok. Tok.
Tapi tak ada balasan dari dalam rumah. Karena dia harus segera berangkat bertugas, maka biskuit itu dia letakkan begitu saja di meja teras rumah tersebut.
Deril melangkahkan kakinya dengan percaya diri. Dia mulai berjalan ke hutan dekat rumah yang dia tempati. Dia menikmati udara pagi yang sangat segar. Beberapa embun masih berada di atas daun dengan indahnya. Ikan – ikan di danau juga terlihat berenang kesana – kemari. Burung – burung berkicau dengan merdunya. Membuat semuanya mendjadi sangat nyaman. Waktu yang tepat untuk kembali tidur. Tapi Deril tetap teguh dan tetap berjalan untuk melakukan tugasnya. Dia mulai sampai di hutan sebeeang bernau rumahnya. Kemudian dia teringat akan dua orang gadis yang berdiri disini kemarin, waktu dia sedang memancing. Deril mulai berpikiran yang macam – macam. Bagaimana jika mereka itu penampakan. Buku kuduknya meremang. Dengan hati – hati dilangkahkan kakinya menuju hutan yang lebih dalam.
Disana dia melihat banyak sekali tumbuhan yang tumbuh subur. Saat Deril datang, tumbuhan itu bergerak. Padahal tak ada angin disana. Tumbuhan itu bergerak seakan memberikan salam selamat datang padanya. Deril pun menganggukkan kepalanya.
“Hai semuanya, hari ini aku akan mulai bertugas sebagai peri hutan. Namaku Deril Mahardika. Kalian bisa memanggilku dengan Deril.” Sapanya pada para tumbuhan.
Kemudian dia menyender pada sebiah pohon yang sangat besar.
“Maaf ya, aku nyender ke kamu. Boleh kan?”
“Boleh.” Jawab pohon itu.
“Namamu siapa?” tanyanya.
“Namaku pohon ke sebelas.”
“Eh kesebelas?”
“Iya benar, mereka memberikan nomor di setiao pohon – pohon besar. Dan itulah nama kami.” Jawabnya.
“Umurmu sudah berapa tahun?”
“Sudah hampir sembilan puluh tahun.”
“Wah harusnya aku panggil kamu kakek ya?”
“Hahaha. Ga perlu begitu, panggil saja sebelas.”
“Kamu suka tinggal disini?”
“Suka.”
“Kenapa?”
“Disini sangat nyaman. Jauh dari asap kendaraan. Kau tahu kan, asap – asap itu menghalangi cahaya matahari menyinari bumi. Hal itu bisa menghambat proses fotosintesis kami. Sungguh malang teman – temanku yang harus hidup di tengah kota. Mereka bertahan sekuat tenaga untuk melakukan fotosintesis disana. Bahkan mereka juga harus bekerja berkali – kali lipat lebih keras, karena mereka harus menghalau asap – asap tersebut. Dan memberikan udara segar bagi manusia.”
“Oh begitu.”
“Wilayah tugasmu disini ya der?” tanyanya.
“Iya di sekitar wilayah ini saja. Makanya aku mencari rumah di daerah sini, kebetulan juga ada rumah kosong disana. Di dekat danau.” Jawab Deril.
“Oh keluarga Barconi.”
“Kamu mengenalnya?”
“Tentu saja. Siapa. Yang tak kenal mereka. Meraka juga yang merawat kami disini. Bahkan sampai sekarang, mereka juga masih sering kesini. Memeriksa kondisi kami.”
“Oh ya? Wah sepertinya keluarga itu sangat berjasa pada kalian ya?”
“Tentu saja. Dulu pernah terjadi kebakaran disini. Gara – gara ulah manusia yang membuang putung rokoknya sembarangan. Lalu mereka lah yang pertama kali datang dan membantu memadamkan api, sebelum para pemadam kebakaran datang.”
“Oh begitu. Apa biasanya mereka kesini setiap hari?”
“Tentu saja. Itu mereka.”
Lalu hening. Deril kaget, dan merasa sedikit canggung. Dia takut keduanya mendengar obrolannya dengan pohon kesebelas.
“Loh Deril disini?” sapa nyonya Barconi.
“Iya bu. Pekerjaanku kan mengeliti tumbuhan disekitar sini.”
“Oh begitu. Ayo – ayo kami tunjukkan yang lainnya.” Ucap Pak Barconi.
Mereka mengajak Deril berkeliling. Melihat satu pohon ke pohon yang lain. Mereka juga menawarkan berbagai jurnal, tentang tumbuhan di hutan itu yang sudah mereka buat. Deril merasa begitu beruntung, lagi – lagi dia mendapatkan bantuan.
“Apakah disini ada tumbuhan yang memerlukan perlakuan khusus?” tanya Deril.
“Oh tentu ada. Disana, aku sengaja membudidayakan beberapa tumbuhan langka, juga tumbuhan obat – obatan.”
“Boleh saya melihat kesana pak?”
“Tentu boleh, ayo ke sana.”
Mereka berjalan lagi. Masuk lebih dalam lagi. Disana terlihat ada sungai kecil yang memisahkan hutan menjadi dua bagian. Disana juga ada jembatan kecil yang menghubungkannya. Sungguh indah setiap detil hutan itu. Semakin masuk ke dalam semakin nyaman dan terasa aman. Seperti ada energi lain, energi yang sangat besar melindungi hutan tersebut.
Setelah menyebrangi sungai, mereka berbelok ke kanan di pertigaan jalan setapak. Disana terlihat ada ssebuah ruangan hang ditutupi dengan paranet. Membentuk sebuah kotak besar. Seperti sedang berada di kebun bunga. Paranet itu ditungsikan agar tanaman terhindar dari berbagai hama. Serangga, ulat bahkan lalat.
Tuan dan Nyonya Barconi segera mengajak Deril masuk dan melihat – lihat ke dalam. Disana terlihat banyak sekali bunga anggrek yang cantik – cantik. Ada anggrek hitam, yang warnanya sangat elegan. Hampir seluruh kelopaknya berwarna hitam. Dengan sentuhan warna merah keunguan ditengahnya. Sungguh membuat anggrek hitam ini menjadi sangat elegan. Ada juga anggrek jamrud. Dengan garis – garis di kelopak bunganya. Sangat indah, menghipnotis semua yang memandangnya. Berbagai bunga lain juga ada disana. Ada pula tanaman obat, mulai dari kunyit, jahe, temulawak dan berbagai tanaman obat lainnya. Berbagai tanaman obat itu berjajar rapi. Dengan papan nama disetiap blok tanaman. Papan nama itu memudahkan mereka untuk menemukan tanaman yang mereka perlukan. Sebab setiap tanaman itu memiliki daun yang hampir mirip. Jika tidak biasa, malah bisa salah ambil nantinya.
“Kesini Der.” Panggil Pak Barconi.
“Ini adalah adenium, favortinya Ibu.”
“Wah indah sekali pak. Saya belum pernah melihat adenium dengan paduan empat warna seperti ini. Biasanya kan dua warna saja.”
“Iya, Ibulah yang menyilangkannya. Awalnya hanya dua warna, dari adenium dua warna itulah Ibu menyilangkannya kembali. Berkali gagal, hanya ini yang berhasil. Sampai sekarang Ibu masih mencoba menciptakan jenis baru dan meneliti bunga – bunga disini.”
“Wah sepertinya saya harus banyak belajar sama Ibu ya Pak?”
“Belajarlah, dia sangat mengerti setiap jenis tanaman.”
“Loh Ibu kemana pak?”
“Ah palingan dia sedang memetik beberapa daun sirih dan beberapa rimpang.”
“Untuk apa?”
“Untuk jamu nak. Nanti coba cicipi jamu buatan Ibu. Pasti ketagihan.”
Deril mendengar suara kecil, sangat kecil. Hingga dia sedikit kesulitan mencari sumber suaranya.
“Saya mau lihat – lihat kesana dulu ya Pak.”
“Oh iya, silahkan.”
Deril mencari asal suara itu. Ditajamkannya pendengarannya sambil menutup mata. Selangkah demi selangkah dia lebih dekat dengan suara itu.
“Suara tawa. Siapa yang tertawa di tengah hutan seperti ini.” Ucapnya sendiri.
“Mau kemana Der?” Ibu Barconi bertanya padanya yang akan segera keliar dari kebun bunga.
“Sepertinya saya mendengar suara disana.”
“Tidak ada orang lain selain kita disini nak. Tidak ada siapa – siapa disana.”
“Bagaimana Ibu tahu?”
“Karena saya setiap hari kesini, hanya saya dan Bapak yang disini. Dan sekarang bertiga denganmu.”
“Ehm baiklah.”
“Tunggu dulu. Suara apa yang kamu dengar?”
“Kenapa bu?”
“Jawab saja. Suara apa yang kamu dengar?”
“Suara tertawa.”
“Gawat. Ayo segera pergi dari sini.”
“Kenapa bu?”
“Ayo cepat pergi. Kita pulang dulu, nanti di rumah akan ku jelaskan semuanya.”
“Baik bu.”
“Ayo kita panggil Bapak.”
“Tadi bapak ada di tempat adenium bu.”
“Ayo kita kesana sekarang.”
Mereka berjalan setengah berlari. Untunglah Pak Barconi masih disana. Masih melihat bunga adenium yang sedang mekar.
“Pak ayo kita pulang.” Kata Ibu Barconi.
“Ada apa bu?”
“Wanita itu sepertinya kembali kesini. Dia datang lagi.”
“Kalau begitu ayo cepat. Ayo Deril, kamu juga harus segera pulang.”
Mereka berlari keluar dari hutan. Kedua orang itu meskipus sudah cukup tua, tapi tenaganya masih sangat bagus. Mereka tak terlihat lelah, padahal Deril sudah mulai engap karena berlari. Setelah beberapa menit berlari, ahirnya mereka sampai di pondok tempat Deril tinggal. Mereka segera masuk dan menutup pintu, jendela bahkan tirai pun mereka tutup.
“Sebenarnya ada apa ini Bu?” tanya Deril penasaran.
“Dulu pernah ada seorang penyihir wanita. Dia di usir dari hutan itu, karena dialah penyebab kebakaran hutan saat itu.”
“Penyihir?”
“Iya, dia mempunyadi darah penyihir di tubuhnya.”
“Lalu?”
“Kebakaran itu hampir melalap semua bagian hutan. Warga yang marah ahirnya mengusir dia. Tapi beberapa tahun lalu, dia datang lagi. Mengusik kedamaian penduduk di sekitar sini. Lalu mereka ada yang memilih pergi dari tempat ini.”
“Apa dia sangay berbahaya?”
“Entahlah nak, kami tak tahu persisnya seperti apa. Tapi pastinya, dia ingin membalas dendam.” Ucap Pak Barconi.
“Karena dia di usir?”
“Bukan hanya itu. Rumahnya juga dibakar. Dan dia dipisahkan dari anaknya yang masih kecil. Mungkin sekarang umurnya sepertimu.” Jelas Pak Barconi.
“Kalau tidak salah. Kemarin saat saya sedang memancing, saya melihat ada dua orang gadis berdiri di pinggir hutan.”
“Dua gadis?”
“Iya Pak, Bu. Tapi saat saya memanggilnya, keduanya berlari masuk ke dalam hutan.”
Keduanya terdiam, larut dalam pikiran mereka masing – masing. Sementara Deril bingung ada apa sebenarnya. Dua gadis yang dilihatnya di tepi hutan. Penyihir yang ingin balas dendam. Serta, siapa dan dimana anak penyihir yang dipisahkan itu berada. Semua terasa aneh bagi Deril yang baru saja memulai tugasnya. Kemudian dia membuka catatannya, dan menulis lagi.
“Day 2
Dua gadis dipinggir hutan, penyihir yang ingin balas dendam dan dimana anak penyihir?”
Deril menutup catatan dan memasukkannya lagi ke dalam tas.