Dua Gadis

1477 Kata
Ketiga masih dalam suasana tegang. Nampak jelas aura ketakutan diwajah Tuan dan Nyonya Barconi. Sementara Deril masih juga belum mengerti akan situasi apa yang akan dia hadapi. Tiba – tiba teedengar suara. Sesuatu jatuh ke danau. Deril segera berdiri dan akan membuka pintu. Tapi Nyonya Barconi menghalanginya keluar. “Jangan keluar nak.” “Kenapa bu? Bukannya di danau terdengar ada suara ceburan? Bagaimana jika ada yang tenggelam disana?” “Itu semua hanya tipuan nak. Jangan mudah percaya.” “Penyihir?” “Benar. Bisa saja itu dia. Kita tunggu sampai srigala datang.” “Srigala?” “Iya, dia adalah penjaga hutan ini. Kita tunggu saja, jika terdengar suara lolongannya. Berarti suasana sudah aman, barulah kita boleh keluar rumah.” “Kalau srigala itu tidak melolog?” “Kita tunggu saja.” “Ibu, saya masih belum mengerti. Ada apa sebenarnya ini?” “Duduklah. Akan ku jelaskan.” Deril pun menurut, dia duduk di hadapan Tuan dan Nyonya Barconi. “Jadi begini. Penyihir itu bernama Falery. Dia mempunyai seorang anak perempuan, namanya margaret. Mereka hidup di dalam hutan Ark. Jauh dari jangkauan penduduk lain. Kami semua hidup dengan damai. Mereka tetap di dalam hutan, dan kami disinim tanpa saling mengusik. Tahun itu anaknya sudah berumur sepuluh tahun. Suatu hari dia mengajari anaknya untuk belajar sihir. Namun sayangnya, sang anak tak bisa menguasai sihirnya. Hingga api itu menyebar, saat itulah kebarakan besar terjadi. Hampir semua bagian hutan terbakar. Kami berusaha menghentikan penyebaran api sambil menunggu para pemadam datang. Penduduk desa pun juga ikut membantu. Hingga pada ahirnya mereka tahu, bahwa kebakaran itu adalah ulah sang penyihir. Maka diusirnya mereka berdua.” “Apakah rumahnya juga ikut terbakar?” “Ajaibnya tidak. Itu juga yang membuat warga desa marah. Jika dia bisa menyelamatkan rumahnya. Kenapa dia tidak menyelamatkan hutan juga. Awalnya para warga tidak tahu, bahwa mereka masih tetap tinggal di rumah itu. Mereka tak berani menampakkan diri. Karena takut dengan amukan warga. Namun, anaknya yang sudah bosan di dalam rumah ahirnya keluar. Lagi, dia membuat kesalahan yang sama. Membakar hutan lagi untuk kedua kalinya. Warga marah besar, dibakarnyalah rumah sang penyihir. Lalu diambilnya sang anak oleh walikota. Sampai saat ini, penyihir itu sering datang untuk mencari anaknya. Saat dia datang, hanya srigala yang dapat membantu kami. Kami hanya boleh keluar rumah jika sudah mendengar suara lolongannya. Kalau tidak, penyihir yang marah itu bisa mencelakai kita.” “Lalu dimana anak itu sekarang? Bukannya lebih baik dia dikembaikan saja ke ibunya?” “Tidak. Anak itu harus tetap terpisah dari ibunya. Karena bisa sana dia akan membuat anaknya menjadi penyihir juga sepertinya. Dan bisa membahayakan semua warga disini.” “Apa anak itu tidak mencari Ibunya?” “Dia telah dimantrai olehku. Kubuat dia lupa siapa dirinya dan asal usulnya. Tapi walikota membawanya entah kemana.” “Mantra? Bapak penyihir?” “Bukan, itu adalah doa. Doa yang dilakukan dengan ritual.” “Ritual apa?” “Menceburkannya ke danau.” “Hah? Diceburkan?” “Diceburkan, bukan ditenggelamkan. Dia akan dibiarkan terkena air danau selama semenit. Maka doa yang dilantunkan akan merasuk dalam tubuhnya. Lalu dia diberikan pertolongan untuk naik ke pinggir danau.” “Jadi gadis itu sedang dalam pengawasan walikota?” “Iya, tapi entah dimana dia berada.” “Jangan – jangan dua gadis yang aku lihat kemarin adalah anaknya?” “Tidak mungkin ada dua gadis di hutan itu. Tak akan ada anak gadis yang berani kesana. Kalau mereka ingin selamat.” “Sungguh aku melihatnya disana.” Sanggah Deril. “Hutan ini masih alami. Jarang didatangi warga apalagi orang luar. Karena banyak mitos yang beredar tentang danau itu. Danau lons sejak lama menjadi momok menyeramkan disini.” “Lalu kenapa kalian membangun rumah di dekat danau?” “Rumah ini sudah ada sejak lama. Kami mendapatkannya sebagai hadiah pernikahan dari kakek buyutnya Nina, istriku.” Ucap pak Barconi. “Kami juga awalnya takut tinggal disini. Tapi keluargaku meyakinkan kami, bahwa tidak ada apa – apa di danau ini. Dan memang benar. Selama kami tinggal disini, tidak pernah sekalipun ada sesuatu yang seperti banyak orang bicarakan. Lambat laun mereka juga mulai berani datang dan memancing disini.” “Tadi Ibu menyebut nama danau ini. Apa namanya?” “Danau Lons.” “Seperti pernah dengar. Tapi dimana ya?” ucap Deril sambil mengingat – ngingat. Tapi sayangnya dia tak bisa mengingat apapun. “Kau punya persediaan makanan dan minuman?” tanya Pak Barconi. “Ada. Sebentar saya ambilkan.” Jawab Deril, dia segera berdiri dan menuju dapur. Nyonya Barconi mengikutinya ke dapur. “Ada ini bu. Roti, ada ham, ada sosis, Ibu lihat sendiri deh.” “Buat burger saja yuk.” “Ayo. Ini makanan kesukaanku nih.” “Oh ya? Ini juga kesukaan cucu – cucuku.” “Mulai sekarang mau dong dibuatin ini juga bu.” Ucap Deril. “Iya.” Ucap Nyonya Barconi sambil mengusap rambut Deril. Mereka bertiga makan burger bersama. Mereka masih menanti lolongan srigala, yang masih belum juga terdengar. Deril mulai penasaran. Suara apa yang tercebur di danau tadi. Dia berjalan menuju jendela dan sedikit membuka tirainya. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar danau. “Apa yang kamu lihat?” tanya Pak Barconi. “Aku penasaran, suara apa tadi.” Jawabnya. “Sudahlah nak, cepat habiskan burgermu.” Perintah Nyonya Barconi. “Sebentat, sepertinya aku melihat seseoranh disana. Coba Bapak lihat.” Ucap Deril. “Dimana?” “Di samping danau. Dekat menuju hutan. Kemarin aku juga melihatnya disana.” “Kamu benar. Disana ada orang. Siapa mereka.” “Mereka?” tanya istrinya. “Iya bu, ada dua orang disana. Dari perawakannya sepertinya para gadis.” “Dua orang pak?” tanya Deril. “Iya, siapa mereka. Kenapa mereka begitu berani berada di luar rumah dalam kondisi ini.” “Apa jangan – jangan mereka orang baru pak?” tanya istrinya. “Waduh. Gawat, kita ga bisa keluar begitu saja. Bisa jadi itu adalah tipuan penyihir.” “Tapi sepertinya mereka adalah dua gadis yang pernah kulihat sebelumnya.” “Dimana?” “Di hari pertamaku pindah kesini. Di halte ujung kota. Dekat hutan besar. Aku melihat mereka berdua duduk, di seberang halte tempatku duduk. Tapi saat aku sudah naik bis, mereka sudah tak disana. Lalu kemarin saat memancing di danau. Mereka seperti sedang memperhatikanku. Dan sekarang mereka ada disana lagi.” “Sepertinya mereka mengikutimy nak.” Ucap Nyonya Barconi. “Jika memang mereka mengikutiku. Berarti mereka dalam bahaya. Bukannya ada penyihir di hutan itu? Dan srigala masih juga belum melolong.” “Kamu benar. Kita harus melihat kesana. Apakah mereka baik – baik saja.” Jawab Pak Barconi. Saat mereka ragu hendak membuka pintu. Tiba – tiba terdengar suara lolongan serigala. Mereka pun lega, dan segera menuju hutan dimana dua gadis itu berdiri. Mereka berlari secepatnya, supaya mereka bisa menemukan dua gadus tersebut. Mereka sampai di tempat dua gadis itu berdiri. Tapi tak ada siapapun disana. Sepi. Mereka berpencar untuk mencarinya. Kemana mereka berdua pergi. Pak Barconi menuju barat, Bi Barconi menuju timur, sedangkan Deril ke utara. Mereka berharap bisa menemukan gadis – gadis itu. “Haalloooooooo. Ada orang disana?” Teriak Deril. Tapi tak ada jawaban. Hening, seperti sebelumnya. Kemudian Deril kembali berteriak. “Haaaaaaaaaai, kalian dimana? Aku mau menolong.” Masih saja tak ada jawaban. Namun kemudian Deril melihat ada sekelebat bayangan menuju pohon besar. Tapi sast dihampiri, ternyata tidak ada siapa – siapa. Deril pun teringat dengan tugasnya. “Kan aku bisa minta tolong para tumbuhan.” Gumamnya. Lalu dia pun bersbisik pada tumbuhan dihadapannya. “Haaai, boleh minta tolong?” ucapnya pada bunga kamboja itu. “Minta tolong apa?” jawabnya. “Apa kau melihat dua orang gadis masuk kesini?” “Oh iya, aku tadi melihatnya. Sepertinya mereka masuk ke dalam hutan sana.” Jawabnya. ‘'Ah terima kasih. Aku harus segera menemukan mereka.” “Hati – hati, sang penyihir sudah datang.” “Baik, aku akan berhati – hatim terima kasih.” “Sama – sama.” Deril berjalan lagi, tapi langkahnya kemudian berhenti. Dia sedikit merasa takut. Dia teringat himbauan dari pohon kamboja tadi. Bagaimana jika dia bertemu dengan penyihir. Dia pun duduk sambil nyender ke pohon dibelakangnya. “Kalian bisa bantu aku ga ya?” ucapnya pada para pohon. “Bantu apa?” “Aku sedang mencari dua gadis. Apa kalian melihatnya?” “Aku akan memberitahu semuanya. Kamu disini saja. Berbahaya. Penyihir sudah kembali.” Para pohon saling berbisik. Menanyakan keberadaan dua gadis yang sedang Deril cari. Pencarian itu berjalan lumayan lama. Hingga Bapak dan Ibu Barconi datang menemuinya. “Bagaimana?” tanya mereka. “Belum. Aku kelelahan, jadi istirahat disini.” Kemudian salah satu pohon berbisik pada Deril. “Kami menemukan mereka. Jauh di dalam hutan. Mereka mendirikan tenda.” Deril berdiri dari duduknya. Dia sedang memikirkan cara bagaimana agar Bapak dan Ibu Barconi tidak mencurigainya. “Bagaimana kalau kita cari lagi. Ayo kesana.” Ucap Deril pada mereka. Bu Barconi memandangnya penuh curiga. Tapi Deril tak menyadari tatapan penuh telisik dari Bu Barconi. Belum juga mereka sampai di tempat yang disebutkan oleh pohon tadi, mereka melihat seorang gadis yang sedang memetik bery. “Kamu siapa?” tanya Deril. Gadis itu kaget dan menoleh. “Kalian siapa?” dia balik bertanya. “Kami warga sini. Kamu darimana?” tanya Bu Barconi. “Aku sedang memetik bery. Aku juga warga disini. Eh maksudku, aku tamu warga disini.” “Tamu siapa?” Belum sempat gadis itu menjawab. Terdengar lagi suara tawa dari dalam hutan. Segera Deril menarik tangan gadis itu. Bapak dan Ibu Barconi juga segera berlari. Mereka berlari secepat mungkin. Pikiran – pikiran terburuk menyelimuti mereka. Penyihir itu datang lagi. Kenapa begitu cepat kembali. Sesampainya di pondok tempat Derik tinggal, mereka segera menginterogasi gadis itu. “Kamu tamu siapa? Dan dengan siapa kamu ke hutan sana?” selidik Deril. “Aku tanu keluarga Dara. Aku sepupunya Dara.” “Lalu gadis yang bersamamu itu Dara?” “Gadis yang bersamaku? Aku sendirian kesana.” Deg. Lalu siapa yang Derik lihat waktu itu. Apa bukan dia? Lalu siapa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN