Gadis itu sedikit bingung dengan apa yang sedang terjadi. Dilihatnya satu persatu wajah mereka. Mereka masih menyisakan tanya baginya. Dia sudah terbiasa memetik bery sendiran disana, setiap kali dia berkunjung ke rumah Dara. Karena sepupunya itu lebih memilih bermalas – malasan di kamar. Dia enggan terkena sinar matahari, karena akan merusak warna kulitnya.
“Lalu kamu disana dengan siapa?” Tanya Deril.
“Sendirian. Kenapa?”
“Kamu yakin? Aku melihat ada dua orang tadi disana.”
“Iya, jangan bohong. Kami melihat ada dua orang disana.” Sela Bu Barconi.
“Aku sendirian. Sungguh.”
“Baiklah, siapa namamu?” tanya Pak Barconi.
“Gladis.”
“Kami akan mengantarmu pulang.”
“Baiklah. Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Tak ada apa – apa. Ayo berangkat.”
Sementara itu di dalam hutan. Dua orang gadis sedang menikmati kelinci bakar. Sudah lama mereka tidak makan kelinci. Disebrang mereka ada seorang wanita. Dia hanya diam sambil memandangi keduanya.
“Apa lihat – lihat?” ucap salah satu dari mereka dengan ketus.
Wanita itu tetap diam. Tak berani menjawab, tak berani bersuara sedikitpun.
“Aku kasih tahu ya, jangan macam – macam lagi. Sekali lagi kau buat onar di hutan Ark ini. Kutebas kepalamu.” Ucapnya lagi.
Wanita itu semakin menunduk. Takut untuk menatap mereka. Kedua tangannya saling meremas. Wajahnya begitu pucat.
“Masih ga mau pergi juga?” ucapnya lagi.
Dia hanya menggeleng. Masih tak berani menjawab.
“Kenapa?”
“Anakku.”
“Anakmu? Kenapa?”
“Dibawa oleh mereka.”
“Siapa? Mereka siapa?”
“Warga desa sana.”
“Kamu yakin?”
“Sejak dia masih kecil. Mereka memisahkan kami.”
“Eh kayanya rumor itu bener.”
“Rumor apaan?”
“Ada anak yang dipisahkan dari ibunya. Gara – gara dia, hutan jadi terbakar.” Ucapnya sambil melirik ke arah wanita itu.
“Bener yang dia bilang?”
Wanita itu mengangguk dan semakin menunduk. Ada rasa takut yang sangat besar.
“Ga usah kesini lagi. Aku yang akan cari anakmu. Kalau masih ga mau pergi, setidaknya ga usah ngacau. Ga usah bikin rusuh. Aku bilang ke ayahku, dibakar sampe habis nanti kamu.”
“Aku boleh tinggal disini?”
“Boleh. Asal jangan kemana – mana.”
“Baik. Aku tidak akan membuat kalian marah. Aku akan diam saja disini. Ga kemana – mana.”
“Bagus. Aku yang akan urus. Ga usah khawatir.”
***
Di lembah hijau.
Steve sedang selonjoran di hamparan rumput hijau. Ada beberapa orang yang juha bersamanya disana. Tiba – tiba ada seorang gadis yang tersandung kakinya. Gadia itu jatuh tersungkur hingga wajahnya terkena rumput.
“Kamu nggak kenapa – napa?” Tanya Steve.
“Sudah jelas jatuh, ya pasti sakitlah.” Ucapnya sambil membersihkan badannya yang kotor.
“Oh, sakit.”
“Kok cuma oh?” tanya gadis itu sewot.
“Terus aku harus bilang wow gitu?”
“Dasar cowok nyebelin.”
“Oh.”
“Oh lagi.”
“Trus aku harus koprol gitu?”
“Terserah deh, dasar cowok ga berperasaan.”
“Oh.”
“Huuuuuuh, sebel.” Ucapnya sambil berjalan menjauh.
“Ada yang ketinggalan nih.”
“Bodo.”
“Ya, kalau mau jalan sama sandal sebelah saja sih silahkan.”
Gadis itu melihat kakinya. Dan hanya terpasang satu sandal saja, di kaki kirinya. Kemusian dia berjalan kembali ke aeah Steve. Masih dengan rasa kesal, dia datang dan segera mengambil sandalnya.
“Anak baru ya?” tanya Steve.
“Kepo.”
“Yaudah kalau ga mau jawab.” Steve berlalu pergi. Tapi gadis itu mengikutinya.
“Ngapain?”
“Nggak ada.”
“Ngapain ngikutin aku?”
“Siapa yang ngikutin. Aku juga mau kesana.”
“Oh. Silahkan duluan deh.”
“Kamu saja yang duluan, nanti kamu ngikutin aku.”
“Siapa juga yang mau ngikutin kamu. Ge Er.”
“Suka – suka aku dong.”
“Iya deh iya. Terserah. Sesukamulah.” Steve segera berjalan lagi. Dia ingin menemui Jessi. Sudah beberapa hari dia tidak melihatnya dimanapun. Steve merasa ada yang aneh dengannya. Dia takut Jessi kenapa – napa. Sesekali dia menoleh kebelakang. Gadis itu masih saja mengukutinya. Karena kesal, dibiarkan saja dia mengikutinya. Hingha sampailah dia di rumah pohon Jessi. Rumah pohon itu masih sama. Tapi terlihat seperti tidak ada siapa – siapa disana. Steve memutuskan untuk naik dan masuk ke dalam rumah pohon Jessi. Sementara gadis itu masih disana. Berpura – pura tak melihat apa yang sedang Steve lakukan.
Steve masuk ke dalam rumah pohon. Dilihatnya semua barang jessi berdebu. Seperti tidam pernah di urus. Separah itu kah kondisi Jessi? Batinnya.
“Jess.”
Tak ada jawaban.
“Jess, ini aku Steve.”
Masih juga tak ada jawaban.
“Jess, kamu dimana?” Steve ahirnya memeriksa setiap ruangan. Dan hasilnya nihil. Jessi tidak ada di sana. Rumah pohon itu kosong. Kemana Jessi pergi? Selama ini Steve selalu pergi ke rumah Albapante. Disanapun dia tidak peenah bertemu Jessi. Di perpus, di kantin, dimanapun Steve tidak pernah bertemu dengannya. Kemudian dia teringat tentang ucapan Lazardi. Tentang membiarkan Jessi sendiri untuk beberapa waktu. Itu adalah sebuah kesalahan besar. Steve merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia bisa membiarkan Jessi sendiri begitu lama.
“Argh.” Steve menggerang sambil menjambak rambutnya. Rambut Steve sudah tidak pink lagi. Pantatnya pun sudah tidak semok lagi. Wujudnya sudah kembali normal. Tapi telinganya menjadi runcing, seperti kucing. Steve segera keluar dari rumah pohon Jessi. Dilihatnya gadis itu masih disana. “Katanyanya ga ngikutin. Tapi masih berdiri disana.” Ucap Steve sambil mencibir. Dia pun turun dari pohon dan segera berlari menuju rumah Albapante. Gadis itu masih saja mengikutinya. Kini dia juga berlari mengikuti Steve. Kemudian Steve berhenti. Dia begitu kesal karena merasa dipermainkan.
“Kamu ngapain sih ngikutin aku?” bentaknya.
Gadis itu langsung berhenti berlari dan diam seketika.
“Kalau mau ganggu, jangan sekarang deh. Lagi ada urusan penting.”
“Tadi aku denger kamu teriak. Aku takut terjadi apa – apa sama kamu. Makanya aku ngikutin kamu.”
“Ga usah banyak alesan deh. Aku lagi cemas ini. Mendingan kamu pergi.”
“Nggak. Aku ikut kamu.”
“Yaudah ayok.”
“Eh?”
“Katanya mau ikut?”
“Iya.”
Mereka berlari lagi. Mereka berdua berlari menuju rumah Albapante. Steve sangat cemas. Kemana Jessi, dimana dia, dan bagaimana kabarnya. Semua itu terlintas dipikirannya. Sesampainya disana dia segera masuk dan mencari Lazardi. Sementata gadis itu hanya berdiri di depan pintu. Dia tidak berani masuk, karena dia tahu. Dirinya belum punya izin masuk ke tempat itu seperti Steve.
“Zar, kamu dimana?” ucapnya samb masuk menuju halaman belakang.
“Ada apa Steve?” Lazardi keluar dari dapur.
“Jessi zar. Jessi.”
Deg. Lazardi kaget melihat Steve yang cemas.
“Jessi kenapa?”
“Jessi ngga ada di rumahnya.”
“Di perpus mungkin?”
“Enggak. Dia ga pernah pulang ke rumahnya. Rumahnya kotor.”
“Kamu yakin?”
Steve merasa aneh. Kenapa Lazardi terlihat biasa saja. Sama sekali tidak kelihatan cemas.
“Aku yakin dia sudah ga pulang ke rumahnya. Rumahnya berdebu. Jessi yang tidak suka kotor, nggak mungkin melakukan itu.”
“Mungkin dia ke rumah temen deketnya?”
Steve menyelidik lebih dalam ke mata Lazardi. Dia memang terlihat sangat biasa. Tidak menunjukkan rasa cemas sedikitpun. Malah terlihat seperti sedang menutupi sesuatu.
“Teman yang mana? Kamu tahu? Ayo antar aku.”
“Aku sedang sibuk Steve. Kamu tenang dulu, apa kamu mau belajar masak lagi?”
“Kamu kok aneh sih Zar. Gak biasanya kamu setenang ini dalam kondisi seperti ini. Jessi menghilang, dan kamu malah ngajakin aku masak? Kamu nyembuiin sesuatu ya dari aku?”
“Enggak Steve, enggak. Aku cuma ga mau kamu terlalu khawatir. Biarkan saja dia sendiri dulu.”
“Ini sudah bukan khawatir tentang hubungannya dengan Deril. Tapi ini tentanh hilangnya Jessi. Jessi gak ada Zar. Dia hilang.” Steve meninggikan suaranya. Dia benar – benar dibuat kesal.
“Kamu tenang dulu Steve.”
“Mana bisa aku tenang, sementara Jessi nggak ada di rumahnya. Dan belum jelas keberadaannya.”
“Zar, kamu sudah dapat kabar dari Jessi? Dia keeasan nggak disana?” ucap Albapante saat dia masuk ruangan dimana Lazardi dan Steve berada.
“Apa? Kabar dari Jessi? Jessi kemana? Dimana dia?” telisik Steve.
Albapante kaget lalu memandang ke arah Lazardi. Lazardi hanya menggelengkan kepalanya. Seperti menyembunyikan sesuatu.
“Kalau kalian ga jawab. Aku akan disini, sampai kalian menjawabnya.”
“Begini Steve.”
“Nggak usah pura – pura kamu ga tau Jessi dimana. Jelaskan saja dia dimana dan bagaimana kondisinya!”
“Baiklah. Aku akan memberitahumu. Tapi kamu harus berjanji tidak membicarakan ini dengan siapapun.”
“Oke, aku janji akan menjaga rahasia ini.”
“Termasuk Deril.” Ucapnya lagi.
“Iya, termasuk Deril.”
“Jessi pergi dari lembah hijau Steve.”
“Kapan?”
“Saat hari pengumumman Deril.”
“Kemana?”
“Dunia.”
“Kenapa? Dia nyusul Deril?”
“Tidak. Dia tidak mungkin menemui Deril. Karena dia sudah berjanji tidak melakukan itu.”
“Dia sendirian?”
“Tidak. Dengan temannya.”
“Apa dia akan baik – baik saja disana?”
“Tentu. Dia adalah vegyes. Tentu dia akan baik – baik saja.”
“Siapa teman yang bersamanya?”
“Kamu tidak perlu tahu. Kamu hanya boleh tahu sebanyak ini saja.”
“Baiklah. Jika memang Jessi sudah tidak disini. Tapi bagaimana kondisinya? Apa dia masih sedih?”
“Dia pasti bisa melewati semuanya. Jangan khawatir.”