Kebimbangan Steve

1099 Kata
Steve sedang sendirian di kamarnya. Dia memikirkan berbagai hal. Bagaimana kabar Deril, bagaimana kabar Jessi, dimana dia tinggal, dengan siapa dia pergi, dan kenapa dia pergi. Bukannya dia sudah memutuskan untuk menunggu Derik di lembah hijau. Steve memukul – mukul kepalanya. Masih banyak hari baginya untuk tinggal di lembah hijau. Angka dilengannya menunjukkan 16, sudah hampir separuh perjalanannya tinggal di lembah hijau. Kemudian dia teringat dengan gadis yang kemarin menemaninya berlari ke rumah Albapante. “Kemana gadis itu ya?” pikirnya tiba – tiba. Karena kemarin saati dia pulang dari sana, gadis itu sudah tidak ada di luar rumah Albapante. “Aku lupa menanyakan namanya. Belum berterima kasih juga.” Ahirnya Steve memutuskan untuk mencari gadis itu. Dia keluar kamar, langit masih berwarna merah. Waktu mandi masih belum selesai. Steve beruntung, dia sudah menyelesaikan bersih – bersih dengan cepat. Dia pun mendapat nomor antrian pertama waktu mandi.  Steve segera berjalan menuju kantin. Walaupun belum waktunya makan siang. Dia duduk di tempat biasa, di dekat showcase. Lazardi yang melihatnya merasa aneh. Dihampirinya Steve. “Kamu kok sudah disini? Kan masih belum waktunya makan siang.” Ucap Lazardi padanya. “Aku lagi nyari seorang gadis.” “Gadis yang mana?” “Kemarin dia mengikutiku, lalu pergi bersamaku ke rumah Albapante.” “Aku tidak melihat siapapun kemarin.” Ucap Lazardi. “Sepertinya dia tidak ikut masuk. Aku terlalu cemas pada Jessi. Hingga lupa sama dia.” “Terus hubungannya sama kamu disini apa?” “Aku akan melihat satu persatu dari mereka. Pasti dapat menemukan gadis itu.” “Semoga beruntung. Mencari dia ditengah ratusan orang. Hahaha.” Ucap Lazardi meledek Steve. Steve pun memanyunkan bibirnya. Kemudian dia berdiri mengambil nampan untuk makan. “Masih belum waktunya makan. Letakkan itu Steve.” Lazardi menyindirnya. “Iya iya.” Ucapnya sambil meletakkan kembali nampan makannan. “Daripada bengong. Mending bantu – bantu menyiapkan makanan.” “Kalau aku bantu, aku dapat apa?” “Makan sepuasmu.” “Itu mah sudah biasa. Yang lain dong.” “Kamu boleh bawa makanan ke kamar. Yang manapun.” “Nah, gitu dong.” Steve pun berdiri dan membantu Lazardi menyiapkan makanan di atas meja. “Zar. Apa mereka akan baik – baik saja?” “Kenapa kamu masih memikirkan mereka?” “Aku khawatir.” “Jessi itu vegyes. Dia bisa melakukan apapun. Sedangkan deril dalam masa bertugas. Semua pengurus lembah hijau di blue house pasti membantunya. Apa yang perlu kamu khawatirkan? Khawatirkan saja dirimu sendiri.” “Aku harus ngapain dong?” “Ya jalani saja masamu disini. Jalani saja nanti tugasmu. Ga usah mikir orang lain.” “Hemmmm.” “Eh sudah warna pink. Ayo cepat selesaikan. Sebentar lagi pasti mereka menyerbu kesini.” “Baiklah.” Ucap Steve tidak semangat. Steve segera meletakkan beberapa makanan di meja. Menatanya dengan rapi dan memberikan papan nama dimasing – masing makanan. Tak lama, beberapa orang datang dan mengambil makan. Steve pun ikut mengantri dengan mereka. Setelahnya dia kembali lagi duduk di tempat biasanya. Steve kadang merasa heran. Kenapa meja itu jarang ditempati orang lain. Padahal akses untuk mengambil minuman lebih dekat. Steve masih duduk dibangkunya. Dia memandangi siapa saja yang masuk ke kantin. Tapi tak juga dia menemukan gadis kemarin. Sampai – sampai makanan di nampannya menjadi dingin, gadis itu masih juga belum terlihat. Dia menunggu kantin sepi. Setelahnya, barulah dia bisa mengambil makanan yang sudah dijanjikan oleh Lazardi. Dia mengambil kotak makan dan mengisinya dengan beberapa ayam goreng dan kentang. “Aku balik dulu Zar.” “Sudah ketemu?” “Apanya?” “Gadis itu?” “Enggak. Entah dia kemana.” “Hahaha, aku bilang juga apa.” “Yasudah, aku balik dulu ya.” “Oke.”  Alih – alih kembali ke kamar. Dia malah melipir ke tempat Ibu dan Ayah pohon. Disana dia mencurahkan segala isi hatinya. “Halo semuanya.” Sapanya pada mereka yang sedang duduk santai. “Hai Steve. Tumben kemari?” tanya Ayah pohon. “Iya Yah. Aku butuh masukkan nih.” “Masukan tentang apa?” “Jadi begini Yah. Temanku Deril, dia sudah pergi bertugas.” “Lalu?” “Dia kan sedang ada hubungan dengan kurcaci pink.” “Jessi?” sahut Ibu pohon. “Benar bu. Deril dan Jessi saling suka.” “Lalu apa yang membuatmu resah?” tanya Ibu pohon. “Jessi menghilang.” “Benarkah?” Ibu pohon kaget mendengarnya. “Setelah aku desak Lazardi untuk mengatakan sejujurnya. Barulah dia bercerita, bahwa Jessi pergi ke dunia.” “Untuk mencari Deril?” “Entahlah. Lazardi bilang, Jessi berjanji tidak menemuinya.” Ucap steve. “Jadi kamu resah karena apa?” “Aku khawatir dengan kondisi mereka.” “Tenanglah.” “Aku mesti gimana ya bu? Aku khawatir sama mereka.” Ucapnya pada Ibu pohon. “Kalau Lazardi sudah bilang begitu. Maka percayalah, mereka baik – baik saja.” Jawab Ibu pohon. “Benar begitu bu?” “Benar. Tak perlu khawatir lagi.” Jawabnya meyakinkan Steve.  Kemudian Alfa, alma, alfred dan aldo yang sudah menanti dia selesai bicara, mengajaknya bermain. Steve tak punya alasan untuk menolak mereka. Mereka berlima bermain lomba lari. Siapa yang kalah harus meminum segelas air. Tentu saja alfa yang selalu kalah. Hingga dia merengek. “Sudah ah mainnya. Kenyang sama air nih aku.” “Hahaha. Kan kamu sendiri yang menentukan hukumannya.” Jawab Steve. “Main yang lain saja yuk.” Ajak alfred. “Main apa?” tanya Steve. “Main kelereng yuk.” Ucap alfred. “Tapi aku nggak punya kelereng.” Jawab steve. “Tenang. Aku punya banyak. Ayo kita bagi.” Mereka membagi kelereng tersebut. Masing – masing mendapatkan dua puluh lima kelereng. Mereka pun suit untuk menentukan giliran bermain. Deril terlarut dalam keceriaan mereka. Dia ahirnya lupa dengan kebimbangannya. Tentang kedua temannya dan apa yang bisa dia lakukan untuk mengetahui bagaimana kabar mereka. Langit mulai berubah menjadi oranye. Steve bersiap – siap pergi. “Aku kembali ke kamar dulu ya. Langit sudah mulai oranye.” Ucap steve. “Kenapa?” tanya anak – anak itu. “Nanti ada buto lewat. Aku harus cepat.” Ucapnya sambil berlari menuju kamarnya. Steve berusaha berlari sekencang mungkin. Saat dia akan memasuki kamar, dia melihat gadis yang kemarin bersamanya. Gadis itu masih di berdiri di depan tempat minum. Steve menghampirinya dan menyeret gadis itu masuk ke dalam kamarnya. “Loh, ada apa?” tanyanya. “Kamu ga tahu ya? Kalau langit oranye itu kamu harus di dalam kamar.” Steve menjelaskan padanya. “Aku tidak mengerti apa yang kamu sampaikan.” Ucapnya lagi. “Jadi setiap warna langit di lembah hijau punya aturan masing – masing.” “Ooooh begitu.” Jawabnya. Steve kemudian teringat pada Deril, yang kesal menjelaskan berbagai aturan pada Steve yang suka ngeyel. “Ingat warna – warna ini. Hijau waktunya membersihkan lembah hijau. Merah waktunya mandi. Pink waktunya makan siang. Oranye waktunya di kamar. Ungu waktunya makan malam. Abu – abu waktunya tidur.” “Ada lagi?” “Sudah itu saja. Kamu harus di kamar sebelum langit berubah menjadi sepenuhnya oranye.” “Kenapa?” “Pokoknya begitu. Taati saja aturan yang ada. Kamu pasti selamat.” “Baiklah.” “Kamu benar – benar orang baru ya?” tanya Steve. “Iya, baru kemarin aku disini.” Jawabnya. “Pantesan.” Ucap steve. Dia mengeluarkan kotak makan yang dia bawa dari kantin tadi. “Makanlah. Aku tidak melihatmu di kantin tadi.” “Terima kasih. Aku tadi di kamar saja. Baru keluar dan kamu menarikku kesini.” Jawabnya. Mereka berdua ada di dalam kamar selama langit oranye. Steve menjelaskan beberapa hal yang pernah Deril beritahukan padanga. Gadis itu pun mendengarkan Steve dengan memakan ayam pemberian Steve.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN