Steve masih menjelaskan beberapa aturan di lembah hijau. Gadis itu mendengarkan sambil memakan ayam goreng pemberian Steve.
“Kamu dengerin aku ga sih?” Tanya Steve. Dia mulai kesal, karena dia sudah menjelaskan panjang lebar, tetapi gadis itu malah enak makan.
“Iya, aku denger kok.”
“Inget apa saja yang sudah aku jelasin?" L
“Inget kok.”
“Bener?”
“Iya.”
“Coba ulangi penjelasanku tadi.” Tantang Steve.
“Oke.”
“Yaudah ayo jelasin.”
“Arti warna langit lembah hijau waktunya membersihkan lembah hijau. Merah waktunya mandi. Pink waktunya makan siang. Oranye waktunya di kamar. Ungu waktunya makan malam. Abu – abu waktunya tidur.” Mendengar itu Steve melongo. Dikiranya dia tidak dapat ingat semuanya. Tapi ternyata dia ingat.
“Baguslah kalau kamu ingat.” Ucap Steve sok cuek.
“Eh, nama kamu siapa?”
“Lah iya ya, dari kemarin kita ketemu tapi saling ga tahu nama masing – masing.” Jawab Steve.
“Jadi, nama kamu siapa?”
“Aku Steve. Kamu?”
“Bianka.”
“Coba lihat lenganmu.”
“Yang mana?”
“Kiri.”
“Kenapa?”
“Lihat saja.”
“Delapan belas.”
“Apa? Berapa?”
“Delapan belas.”
“Kamu ngerjain aku ya? Mana sini lihat.” Ucap Steve sambil menarik lengan kirinya. Dibukalah lengan bajunya, dan benar di sana tertuliskan Delapan Belas. Steve melongo lagi.
“Kenapa?” tanya Bianka.
“Terus ngapain kamu ga ngomong dari awal kalau kamu sudah lama disini?”
“Kamu gak nanya.”
“Aku sudah nanya waktu itu.”
“Kapan?”
“Yang kamu jawab “kepo”. Inget?”
“Oh iya, hehe.”
“Eh berarti kita masuk sini hampir barengan ya?”
“Kenapa emangnya?”
“Aku enam belas.”
“Oh.”
“Kok cuma Oh?”
“Kamu berharap aku jawab apa?”
“Ya jawab apa gitu yang agak panjang.”
“Ooooooh.”
“Dasar nyebelin. Tau ah.” Ucap Steve kesal.
“Yeeee, gitu aja ngambek.” Ucap Bianka.
“Aku tahu kok siapa kamu.” Lanjutnya.
“Maksudnya?”
“Kamu yang biasanya ngintil ke Deril kan?”
“Kok kamu tahu Deril?”
“Ya taulah.”
“Kok?”
“Kokokokkokok petok.”
“Kamu dekat sama Deril?”
“Enggak.”
“Lah terus?”
“Nabrak dong.”
“Seriusan ah. Kamu deket sama Deril?”
“Enggak. Kan sudah kujawab. Enggak.”
“Terus kamu kok tahu aku selalu sama Deril?”
“Ya siapa sih yang gak tahu? Kalian kemana – mana bareng kok.”
“Emangnya kamu merhatiin aku?”
“Jangan Ge Er.”
“Jadi kamu suka sama Deril?”
“Jangan fitnah.”
“Ya terus apa dong?”
“Kamu tanya deh sama yang lain. Tahu Deril apa enggak.”
“Deril terkenal?”
“Semua juga tahu siapa dia. Dia tuh suka bantu orang yang baru masuk sini.”
“Iya sih, dulu aku ketemu dia pas pertama disini.”
“Sama. Aku juga gitu. Beberapa yang lain juga gitu. Dibantu sama dia buat beradaptasi disini.”
“Jadi dulu kamu juga pernah deket sama dia?”
“Iya, sebelum ahirnya kamu datang. Dan ya sudahlah.”
“Kamu cemburu sama aku?”
“Bukan gitu maksudnya.”
“Terus?”
“Deril pernah bilang sama aku. Kalau ada orang baru yang buat dia merasa nyaman. Yaitu kamu. Makanya dia minta kamu sekamar sama dia kan?”
“Terus?”
“Sebelum dia berangkat bertugas kemarin. Dia bilang sama aku buat nemenin kamu disini.”
“Deril bilang gitu?”
“Iya, makanya pas aku lihat kamu kemarin aku ikuti saja. Deril pernah bilang, kalau kamu tuh ceroboh. Suka banget bikin kesalahan. Dan harus diawasin.”
“Jadi Deril nyuruh kamu buat ngawasin aku?”
“Begitulah.”
“Kayak bayi aja diawasin.”
“Kalau ga mau ya gapapa sih. Aku jugayk bisa nyantai seperti sebelumnya. Ga harus nurutin kemauanmu yang “GILA” itu.”
“Emangnya apa kemauanku yang gila?”
“Ke rumah Albapante contohnya.”
“Kok kamu tahu?”
“Deril cerita sama aku.”
“Ya tapi kan nyatanya dia baik.”
“Baik?”
“Oh jadi kemarin kamu ga masuk tuh karena takut sama Albapante ya. Hahahahahaha.”
“Apa maksudmu dia baik?”
“Nanti kamu akan ku kenalkan sama dia deh. Biar kamu tahu dia baik atau enggak.”
“Dia kan homo. Jangan – jangan kamu pasangan homonya ya?”
“Deril gak ngasih tahu kamu soal Albapante?”
“Enggak.”
“Oh, mungkin dia ingin rumor itu tetap ada. Hahaha.”
“Jadi?”
“Rumor itu salah. Ga bener. Sudah deh, nanti kamu aku kenalin. Biar kamu tahu kebenarannya.”
“Bukannya dia orang penting ya disini?”
“Ya memanglah. Tapi dia baik kok.”
Bianka masih diam. Dia sulit menerima bahwa Albapante itu baik, bukan seperti rumor yang beredar. Rumor itu begitu santer terdengar bahwa Albapante itu penyuka sejenis, kejam, dan tak berperasaan. Bagaimana bisa ternyata semua itu kebalikannya.
Pada ahirnya mereka saling diam. Sesekali Bianka mengintip ke luar jendela. Melihat apakah warna langit sudah beribah atau belum. Steve membiarkan Bianka larut dengan pikirannya sendiri. Steve juga pernah ada diposisinya. Bahkan dia memberanikan diri kesana hanya untuk sebuah informasi yang receh. Tapi dengan keputusan itu, dia ahirnya tahu, bahwa Albapante tidak seperti yang diomongkan semua orang. Dia baik, dia punya istri, dan dia malah menolong orang – orang yang ingin memperbaiki nasib mereka dengan berbagai macam pelatihan. Memang hanya orang – orang nekat yang pada ahirnya menemuinya. Termasuk dirinya.
***
Di dunia.
Setelah mengantarkan Gladis pulang. Mereka bertiga masih diselimuti pertanyaan. Lalu siapa yang mereka lihat dari jendela. Siapa kedua gadis yang mereka lihat dipinggir hutan? Pertanyaan – pertanyaan itu masih belum mendapatkan jawaban. Mereka ahirnya memutuskan untuk istirahat dan kembali ke rumah masing – masing.
Sesampainya di rumah, Deril merebahkan dirinya ke kasur. Sungguh hari yang melelahkan. Harus berlari kesana kemari.
Keesokan harinya Deril mengetuk pintu rumah keluarga Barconi. Tok. Tok. Tok. Kemudian pintu itu pun dibuka oleh Pak Barconi.
“Oh Deril, ada apa nak?”
“Saya mau pamit berangkat ke hutan dulu Pak. Ibu mana?”
“Itu sedang masak burger. Masuklah.” Ajaknya.
“Terima kasih Pak. Saya harus segera berangkat. Karena tugas saya semakin banyak kalau tidak segera dilakukan.”
“Siapa Pak?” tanya Bu Barconi.
“Deril bu. Dia mau berangkat katanya.”
“Loh, sebentar. Ini burgernya sudah matang.”
Tak lama Bu Barconi pun keluar dengan membawa sekantong burger.
“Katamu kamu suka burger. Nih dibawa buat sarapan.” Ucapnya pada Deril.
“Terimakasih Bu. Saya langsung berangkat dulu ya Pak, Bu.”
“Hati – hati.” Ucap mereka.
Deril pun segera berngakat menuju hutan. Dia berjalan dengan rasa was – was. Karena dia masih kepikiran tentang penyihir yang sedang mencari anaknya. Juga tentang dua gadis yang masih belum jelas siapa dan dimana mereka sekarang. Deril pun melangkahkan kakinya masuk lebih dalam lagi. Dia harus berkeliling hutan, untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan para tumbuhan disana.
Setelah berjalan cukup lama dan masih belum ada tumbuhan yang membutuhkan bantuannya. Dia pun memutuskan untuk istirahat dan memakan burger pemberian dari Bu Barconi tadi. Baru juga dia mengunyah satu gigitan, dia mendengar sebuah suara tawa lagi. Dia kaget dan bingung, suara tawa siapa itu? Penyihirkah? Pikirnya. Tapi suara tawa itu sudah tak terdengar lagi.
“Hey peri hutan. Kemarin kamu kemana saja?”
“Eh ada apa bunga mawar?”
“Kemarin ada dahan pohon yang patah. Disebelah sana. Semua mencarimu, tapi kau tak kesini juga.”
“Maaf, bukannya kemarin ada penyihir disini?”
“Ah iya kamu benar. Tapi semua sudah dibereskan oleh mereka.”
“Mereka siapa?”
“Dua gadis yang tinggal di dalam hutan sana.”
“Dua gadis?”
“Iya. Mereka sudah beberapa hari tinggal disana.”
“Mereka orang baru?”
“Sepertinya begitu. Eh, kamu cepat ke pohon yang dahannya patah. Kasihan dia. Banyak tumbuhan yang tertimpa dahannya.”
“Oh, baiklah aku segera kesana.”
Deril pun berlari menuju pohon yang dimaksud. Dia melihat sebuah dahan melintang dijalan. Menindih beberapa tumbuhan kecil disana. Dia segera memindahkan dahan itu. Walau dengan susah payah dan butuh waktu yang cukup lama, ahirnya dahan itu bisa dipindahkan.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Deril pada pohon yang patah itu.
“Aku baik – baik saja. Cepat tolong mereka. Mereka tertimpa dahanku cukup lama.”
“Bagaimana kondisi kalian? Apa yang bisa kubantu?”
“Aku butuh ditopang, tubuhku sudah tak bisa berdiri tegak.” Ucap salah satu tanaman.
“Baiklah, aku akan mencari rantig kering untukmu. Ada lagi?”
“Aku juga butuh ranting.”
“Aku juga.” Beberapa tumbuhan saling bersahutan.
“Baiklah, aku akan mengambil ranting untuk kalian semua.”
Deril mengambil beberapa ranting dari dahan yang sudah patah. Lalu mengikat tumbuhan – tumbuhan itu pada ranting tersebut.
“Terimakasih sudah membantu kami.” Ucap mereka.
“Sama – sama.” Jawab Deril.
“Apa kalian ada yang tahu, tentang dua gadis yang mengamankan penyihir?” tanya Deril pada mereka.
“Oh, iya aku ingat mereka. Mereka sangat cantik.” Ucap pohon pinus muda.
“Yang diingat cuma cantiknya.” Ucap bunga melati.
“Iya aku tahu siapa mereka.” Lanjut melati.
“Jelaskan padaku, siapa mereka.” Pinta Deril.
“Mereka baru beberapa hari disini. Mereka tinggal di dalam hutan sana. Sangat jauh, tapi mereka sangat cepat datang. Kemarin saat penyihir akan mengacau disini, mereka menghalanginya. Anehnya, penyihir itu langsung diam. Seperti ketakutan, mereka berdua membawanya masuk ke dalam hutan.”
“Kalian tahu siapa mereka?”
“Aku tidak tahu. Kalau kamu penasaran. Masuklah kedalam hutan. Cari rumah pohon disana.”
“Baiklah. Aku akan segera kesana terima kasih informasinya.”
Deril menyusuri hutan. Dia berjalan sambil mencari dimana rumah pohon itu berada. Dia pun menemukan rumah pohon itu. Rumah pohon itu dibangun diantara empat pohon tinggi. Keempat pohon menjadi pondasinya. Cukup besar dan kokoh. Kemudian Deril memanggil mereka “Apa ada orang disana?” tapi tidak ada jawaban. Tempat itu juga terlihat sepi. “Pergi kemana mereka?” gumamnya.