Penyihir

1066 Kata
Deril masih mencari dimana mereka. Tapi nihil, sia – sia saja usahanya mencari kesana kemari. Sayangnya dia tak bisa naik ke rumah pohon tersebut. Karena rumah pohon itu tanpa tangga. Tidak seperti rumah pohon milik Jessi. Entah naik dengan cara apa mereka untuk masuk kesana. Apa jangan – jangan mereka bukan manusia? Pikir Deril.  Deril pada ahirnya memutuskan untuk duduk di bawah rumah pohon itu. Siapa tahu mereka kembali pulang. Deril mengeluarkan buku catatan tugasnya. Dia mencatat segala tugas yang telah dia lakukan tadi. Dan siapa saja yang sudah dia tolong. Deril masih sibuk dengan catatannya. Dia tak menyadari ada dua pasang mata yang sedang mengamatinya. Mereka memperhatikan Deril dari balik semak – semak. “Gimana nih? Dia malah duduk disitu.” Ucap salah satu gadis itu. “Iya nih. Gimana ya buat dia pergi dari sini?” jawab gadis satunya lagi. “Kamu ingat ga dia takut apa gitu?” “Enggak. Hahaha.” Suara tawa gadis itu membuat Deril berjaga. Keduanya langsung otomatis menutup mulut dan berjalan mundur. Deril masih mencari sumber suara yang dia dengar. Tapi dia sudah tak mendengar apapun lagi. Dia pun melanjutkan menulis catatan. Sementara itu, kedua gadis tadi sedang menyusun rencana. Mereka berkompromi dengan beberapa hewan dan tumbuhan untuk mengerjai Deril. Agar dia segera pergi dari sana. Tiba – tiba seekor kelinci melompat ke arah Deril. Hingga membuatnya kaget dan berteriak. Kelinci itu masih saja berlarian di sekeliling Deril, hingga membuatnya merasa sedikit terganggu. “Aku bikin sate, baru tahu rasa kamu.” Ucapnya kesal. Kelinci yang mendengar perkataan Deril pun merasa takut dan kabur. Tak lama beberapa pohon saling bergesekan. Deril merasa curiga, “Ada apa?” teriaknya. Tapi para pohon tetap bergesekkan hingga membuat beberapa daunnya jatuh dan menimpa Deril. “Kalian butuh apa? Bilang. Aduh banyak banget lagi daunnya.” Ucapnya kesal. Masih juga belum ada jawaban dari mereka. Ahirnya Deril pun berkata “Kalau masih diem aja, yaudah aku ga bakal nolong kalau kalian butuh.” Ucapnya sambil berdiri menghadap mereka. Pada ahirnya mereka pun menghentikan gesekkan itu. “Ini kenapa jadi aneh begini?” Ucapnya sambil menggaruk kepalanya. “Apa jangan – jangan mereka mau ngasih tahu bahwa...” “Siapa kamu?” tanya sang penyihir. “Ka... Kamu... Si... siapa?” jawab Deril tergagap karena takut. “Ditanya kok balik nanya!” ucapnya sambil mengacungkan tongkat sihirnya. Deril pun berlari kencang menuju pondoknya. Dengan sesekali terjatuh dan beberapa barangnya tercecer. Dia juga sesekali menoleh, mengecek apakah Penyihir itu masih mengikutinya atau tidak. “Kalian kenapa sembunyi disitu?” tanyanya pada kedua gadis itu. “Yeeee. Gara – gara ada dia aku ga bisa naik.” Jawab seorang gadis berambut panjang. “Ya kenapa ga manggil aku?” “Mana kepikiran!” jawab gadis rambut panjang itu lagi. “Sudah – sudah ayo naik. Munculkan tangganya!” perintah gadia rambut pendek pada sang penyihir. *** Di lembah hijau. Steve mengajak Bianka untuk berkenalan dengan Albapante. Steve memegang tanggannya dengan erar sambil terus berjalan. Gadis itu sedikit memberontak, masih ada rasa takut pada dirinya. “Lepasinlah. Sakit tahu.” “Mana ada sakit. Ga kenceng juga megangnya.” “Eh ada kecowa.” Ucapnya sambil teriak. Tapi Steve tak bergeming. “Gak takut.” Jawabnya. “Kapan – kapan sajalah kenalannya. Yaaaa?” ucapnya memelas. “Sekarang saja. Sekalian aku ada urusan sama Lazardi.” “Urusan apa sama dia?” “Kamu kenal?” “Cuma tahu. Gak kenal. Yang membuat makan di kantin itu kan?” tanyanya. “Betul.” “Memangnya kamu mau ngurusin apa sama dia?” “Ada deh. Mau tahu saja. Kepo!” Gadis itu memanyunkan bibirnya. Dia masih berusaha melepaskan pegangan tangan Steve. Tapi sia – sia saja. Genggaman Steve begitu erat. *** “Kamu kenapa nak?” tanya Bu Barconi saat melihat Deril berlari dengan kencang. Diapun meletakkan nampan berisi makanan yang dia bawa di teras. Lalu berlari menuju Deril. “Kamu kenapa?” tanyanya lagi. Deril mengatur napasnya. Dia masih belum bisa menjawab pertanyaan darinya. “Ayo, kerumah dulu. Duduk dulu. Tenangin diri kamu. Pelan – pelan. Minum, bawa minum kan?” Deril hanya mengangguk, lalu langsung mengambil botol minuman di tasnya. Dia menenggak hanis isi botol tersebut dalam sekejap. Setelah dirasa dudah agak tenang. Bi Barconj menanyainya lagi. “Ada apa?” “Penyihir.” Jawabnya singkat. Lalu dia menkleh ke arah hutan memastikan dia tak diikuti. “Penyihir?” “Iya. Dia mengacungkan tongkatnya padaku.” “Kamu yakin?” “Yakin. Wanita itu berkulit pucat, rambutnya panjang dengan sedikit keriting di ujung – ujungnya.” Jelasnya. Bu Barconi pun kaget dengan penjelasan Deril. Itu memang ciri – ciri penyihir itu. “Tenanglah. Biar Bapak yang akan mengurusnya nanti. Masuklah, makan dan istirahat. Aku akan memberitahu Bapak sekarang.” Ucap Bu Barconi.  Deril segera masuk ke dalam rumahnya. Dia langsung menutup dan mengunci pintu. Menutup jendela dan juga tirainya. Dia seidkit lega. Setidaknya penyihir itu tidak mengikutinya. Tapi malah jadi aneh. “Kenapa dia tidak mengikutiku ya? Bukannya mereka bilang penyihir itu berbahaya, dan tak segan melukai siapapun. Karena dendam pada penduduk yang memisahkannya dengan anaknya.” Ucapnya sendiri. “Apa jangan – jangan anaknya sudah ketemu?” pikirnya lagi. Deril masih saja larut dalam pikirannya sensdiri. Tiba – tiba pintu rumahnya ada yang mengetuk. Tok. Tok. Tok.  “Der, ini Bapak.” Ucap seseorang di luar rumah. Deril yang masih was – was tak langsung membuka pintu. Tapi dia mengintipnya dari jendela. Setelah dia yakin bahwa itu Pak Barconi, maka dibukalah pintu itu olehnya. “Kenapa tadi mengintip?” tanya Pak Barconi. “Aku masih was – was pak.” Jawabnya. “Baiklah. Tenang dulu. Bapak boleh masuk?” “Eh iya pak, silahkan masuk.” “Jadi bagaimana ceritanya kamu bisa ketemu dengan penyihir itu?” “Jadi tari waktu aku melakukan penelitian. Aku mendengar suara tawa itu lagi. Tapi setelahnya semuanya hening. Ada beberapa kelinci lompat dihadapanku lalu aku mengikuti mereka. Sampailah aku pada sebuah rumah pohon di tengah hutan. Rumah itu cukup besar, dengan empat pohon sebagai pilarnya.” Deril mengatur napasnya. Dia mulai merinding mengingat kejadian tadi. Dan juga sedang mencari celah untuk melanjutkan cerita karangannya itu. Tidak mungkin dia bercerita bahwa, para tumbuhan yang memberi tahu tentang lokasi rumah pohon itu padanya. “Lalu?” tanya Pak Barconi. “Lalu, aku mengamati rumah itu. Siapa tahu aku menemukan dua gadis yang waktu itu kita lihat dipinggir hutan. Tapi....” “Tapi apa?” “Tapi anehnya, rumah itu tidak memiliki tangga.” “Oh ya? Kok aneh?” “Karena itu. Aku menunggu disana. Siapa tahu gadis itu datang ke rumah tersebut. Tapi dalam penantian itu. Bukannya mereka yang datang. Malah penyihir itu datang dengan tongkatnya gang menakutkan.” “Sepertinya ada yang aneh.” “Apa pak?” “Biasanya. Dia tidak akan melepaskan siapapun yang melihatnya.” “Tapi aku melihat dia tidak mengikutiku.” “Benarkah? Ini benar – benar aneh. Ada apa sebenarnya dengan penyihir itu. Apa memang benar ada dua gadis ya di dalam hutan?” “Sepertinya memang begitu pak.” “Bagaimana kamu yakin?” Deril kelabakan, dia bingung mau menjawab apa. “Kan kita melihatnya waktu itu.” Kilahnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN