Magang 2 part 1

1034 Kata
Waktu berlalu begitu cepat. Steve sudah tak sabar untuk segera bertemu Deril saat bertugas nanti. Hari ini sudah waktu dia untuk magang. Bianka sudah lebih dulu berangkat tugas. Dirinya benar – benar merasa sepi di lembah hijau. Hilangnya Jessi masih menjadi misteri baginya. Apa yang dilakukan gadis itu disana. Steve memantapkan hatinya untuk mencari mereka saat besok bertugas. Steve memasukkan beberapa barang miliknya. Makanan, minuman juga buku catatan. Sialnya tak satupun yang memberitahunya tentang apa tugasnya besok. Lazardi dan Albapante hanya senyum – senyum saat dia menanyakannya pada mereka. Begitu pula Bianka, sepertinya dia juga tahu apa tugas Steve. Tapi dia hanya diam dan senyum saat ditanya olehnya. “Menyebalkan.” Ucapnya saat dia hanya menerima senyuman dari Bianka atas pertanyaannya. Hari ini Steve pergi menuju kereta de – compound dengan risau. Ke gerbong mana dia akan masuk. Sial sekali nasibnya. Dia melihat satu persatu gerbong. Tapi dia merasa tak cocok dengan semuanya. Hingga para jonggyo lain datang dan masing – masing masuk ke gerbong pilihannya. Steve masih juga berdiri sambil megenggam tasnya. Langit biru sangat cerah hari itu. Beberapa pasang mata mengamatinya. Bodo amat pikir Steve. Dia akan masuk ngasal saja nanti saat kereta mau berangkat. Awan pertama sudah muncul. Peluit sudah ditiup. Para kurcaci yang kesal melihat Steve maaih saja di luar kereta, langsung mendorongnya asal masuk ke dalam gerbong. Steve cemberut, dia melihat sekeliling isi wanita semua. “Ini gerbong apa?” tanya Steve pada mereka. “Cupid. Peri cinta.” Jawab seorang gadis dengan pita ungu dirambutnya. “Sial.” Batin Steve. “Apa yang harus aku lakukan nanti disana.” Steve berbicara dengan pikirannya sendiri. Para wanita itu, tak menghiraukan tingkah Steve yang lelabakan sendiri. Dibiarkannya saja dia ribet sendiri. Pada ahirnya, Steveencoba bertanya lagi pada gadis itu. “Nanti disana tugasnya apa ya?” “Ya jodohin orang lah.” “Masak secepet itu jodohin orang?” “Ya kan namanya juga cupid.” “Tapi kan masih magang?” “Kamu ga mau jodohin orang ya?” “Bukannya gitu. Tapi...” “Terserah kamu deh.” Percakapan itu pun berahir. Steve yang sudah mendapatkan semua ingatannya semasa hidup, menjadi sedikit risau. Dia merasa sudah sangat buruk menjalani kehidupannya dulu. Dendam gadis semok memang betul adanya. Bagaimana mereka enggak dendam. Steve hanya membuat mereka sebagi pemuas nafsu. Setiap kali sudah bisa mengaja seorang gadis untuk tidur bersama, hilang sudah gadis itu keesokan harinya dari pikirannya. Beberapa dari mereka yang sama – sama tak menggunakan hati saat b******a. Merasa tak ada rasa kesal. Tapi bagi para gadis yang memang menginginkannya, sungguh sebuah penghinaan baginya. Segala sumpah serapah meluncur begitu saja pada Steve. Tapi Steve hanya lempeng saja dan nggak menggubris mereka. Dengan segala pengalaman itu, bagaimana mungkin dia bisa menjadi cupid. Orang yang selalu mencampakaan para gadis. Sekarang harus menjodohkan mereka. Bagaimana Steve bisa memilih, gadis seperti apa dengan pria seperti apa. Steve menjambak rambutnya dan sedikit berteriak. “Aaarrrggh.” “Bisa diam ga sih!” ucap gadia pita biru. Sementara yang lain melirik sinis ke arahnya. Steve hanya tersenyum kecut dan menyenderkan kepalanya. “Bodo amat ah.” Ucapnya lalu memejamkan mata. *** Deril sudah menunggu di blue house. Dia ingin menyambut temannya itu. Tapi tiba – tiba ada sebuah pesan yang dia terima dari petugas blue house. Bahwa dia harus segera membawa beberapa bibit tumbuhan yang akan ditanam di sekitar hutan ark. Dia pun pergi “pasti nanti juga ketemu.” Pikirnya. Steve turun dari gerbongnya. Para guide segera menghampiri mereka dan memberikan sedikit penjelasan. Setah itu mereka segera bubar dari barisan. Mereka pergi untuk menlakukan tugas magangnya masing – masing. Tapi Steve masih saja berdiri disana. Hal itu membuat guide nya bingung. “Kamu kenapa?” Steve hanya menggeleng. “Kenaoa ga berangkat?” Dia menggeleng lagi. “Kamu sakit kepala?” Dia menggeleng lagi. Karena kesal, guide itu menghampirinya. Lalu bertanya lagi. “Kamu kenapa?” “Aku...” “Aku apa?” “Huaaaaa.” Steve histeris. Lalu menangis sambil menghentak – hentakkan kaki seperti balita tantrum. “Lah kenapa malah nangis?” “Tadi ada yang mendorongku masuk ke gerbong cupid. Huaaaaaa.” Ucapnya sambil menangis tanpa keluar air mata. “Hahaha.” Guide itu tertawa. “Kok malah diketawain?” “Jadi kamu masuk gerbong tadi tuh karena gak sengaja? Bukan karena kamu mau?” Steve hanya mengangguk, masih dengan sedikit mewek. “Karena sudah terlanjur. Ya sudah sana pergi magang. Mau gimana lagi? Cepat ambil perlengkapanmu di sana.” ucap guide itu sambil berlalu meninggalkan Steve yang masih mewek. Setelah mengambil perlengkapannya, Stebve Mau tidak mau ahirnya dia pergi dari blue house. Anak panah dia letakkan dipunggungnya, sementara panahnya dia sampirkan di lengan kirinya. “Siapa coba yang mesti dijodohin?” pikir Steve. Dia berjalan keluar dari hutan blue house. Kemudian dia teringat akan Deril. “Dimana ya dia?” gumamnya. Namun tiba – tiba ada suara yang membuatnya mengurungkan niatnya menemui Deril. “Kamu kok masih disini?” tanya guide nya tadi. “Bingung mau kemana.” Jawabnya asal. “Yasudah ayo ikut aku.” Ajaknya. “Oke.” Mereka berjalan menuju sebuah jembatan. Disana banyak orang yang sedang piknik. Ada juga yang sedang memancing. Guide itu mengajaknya duduk di sebuah batu, dipinggir sungai tersebut. “Lihat mereka.” Ucapnya sambil menunjuk pada sepasang kekasih yang sedang memancing dipinggir sungai. “Iya, kenapa?” “Menurutmu mereka layak gak buat dipanah dengan panah cinta?” Tanyanya. “Gak tahu.” Jawab Steve. “Amati baik – baik. Aku gak mau jawaban gak tahu. Kamu harus mempunyai jawaban.” “Ehm. Sepertinya mereka tidak cocok.” “Kenapa?” “Mereka memang saling bermesraan. Tapi, mata si cowok sepertinya tidak bahagia.” Jawab steve. “Ehm begitu. Coba yang disana.” Ditunjuknya seorang gadis sedang duduk dengan membaca buku. Dipangkuannya ada seorang pria yang sedang membaca buku juga. “Sepertinya mereka juga tidak bisa.” Jawab steve. “Kenapa lagi?” “Karena buku yang mereka baca genrenya bertolak belakang. Para pecinta buku biasanya juga senang menonton film. Mereka akan selalu bersitegang tentang film mana yang harus mereka tonton bersama.” Jawabnya. “Wah, berarti kamu bukan hanya terdorong masuk ke gerbong. Itu namanya Serendipity. Kebetulan yang bagus. Hahaha.” Ucap guide nya. “Maksudnya gimana?” “Lan kamu tadi cerita, kalau ada yang mendorongmu masuk ke gerbong cupid. Tapi kenyataannya kamu bisa menilai hubungan mereka dengan jarak yang cukup jauh. Kamu sangat teliti dengan hal kecil. Mereka yang nantinya kamu jodohkan, pasti benar – benar akan jadi pasangab selamanya.” “Kenapa kamu malah menyuruhku jadi Cupid?” “Sudah kecemplung sekalian nyebur. Daripada cuma mainan air dipinggir. Nyelem sekalian.” “Maksudnya?” “Yaaudah terima saja jadi cupid. Kan besok pengumumannya belum tentu juga jadi cupid. Tapi kamu memang ada bakat jadi cupid sih.” “Tidak bisakah aku memilih sendiri besok?” “Emangnya kamu mau milih jadi apa?” Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN