Magang 2 part 2

1044 Kata
“Yasudah terima saja jadi cupid. Kan besok pengumumannya, belum tentu juga jadi cupid. Tapi kamu memang ada bakat jadi cupid sih.” “Tidak bisakah aku memilih sendiri besok?” “Emangnya kamu mau milih jadi apa?” “Entahlah. Pingin langsung hidup kembali sajalah.” Pletak. Guide itu menukul kepalanya. “Enak aja. Mana ada modelan begitu.” “Ya sapa tahu bisa?” “Kamu harus nemuin batu biru dulu, sebelum jam pasir kamu meneteskan pasir terahirnya. Baru kamu bisa terlahir kembali. Kalau tidak....” “Kalau tidak kenapa?” “Ya kamu mesti balik lagi ke lembah hijau.” “Selamanya?” “Sudahlah gak usah dibahas. Temukan saja batu birumu saat kamu mulai bertugas. Pergi sana, yang lain sudah pada magang malah kamu masih disini.” “Iya deh iya.” Steve berjalan menuju jembatan. Kemudian menuruninya. Disana dia berkeliling. Mencari siapa yang menurutnya bisa dijodohkan. Bukan asal manah dengan panah cintanya. Karena dia sudah sadar, bahwa hubungan tanpa cinta bukanlah hal yang mudah dijalani. Seperti dirinya saat hidup, mempermainkan para wanita. Dia benar – benar menyesal telah melakukan hal itu. Tapi semua sudah terlambat. Semua sudah terjadi. Dia bertekad untuk mencarikan pasangan yang benar – benar cocok untuk satu sama lain. Dia memandangi setiap pasangan disana. Tempat itu seperti taman cinta. Banyak pasangan sedang memadu kasih disana. Mereka saling menyuarakan cinta. Tapi tidak semua dari mereka benar – benar tulus dalam mencintai. Steve kini mengamati sepasang kekasih yang sedang makan. Mereka duduk di atas tikar yang mereka gelar dibawah pohon besar. Mereka membawa berbagai makanan dan minuman. Steve mengamatinya sambil duduk nyender ke pohon. “Sayang, cobain nasi kepalnya. Aku buat sendiri loh.” “Benar kah? Mana biar ku coba.” Kemudian gadis itu memberikan sebuah nasi kepal padanya. “Hemmm, isi ikan ya? Ikan apa ini? Biar kutebak, ikan salmon ya?” “Wah kamu hebat bisa tahu.” Gadis itu menjawab dengan binar dimatanya. “Halah begitu saja dibilang hebat.” Ucap Steve pelan, masih dengan tetap mengamati mereka. “Masakanmu selalu enak mama.” “Hah mama?” Steve kaget. “Iya, kamu suka kan?” jawab si gadis. “Ada yang gak beres nih.” Ucap Steve. Dia pun mencoba lebih dekat ke mereka. “Mama, aku mau beli permen.” Ucap si cowok. “Loh kan masih makan. Ini makannya masih belum habis.” Belum selesai si gadis bicara. Si cowok sudah pergi berlarian. Dia pun mengejarnya. Steve yang masih mengamati mereka tiba – tiba dikejutkan dengan sebuah tepukan dipundak kirinya. “Heh.” Steve pun menoleh. Dia melihat gadis dengan pita ungu dibelakangnya. “Ada apa?” tanya nya pada gadis itu. “Kamu ngapain? Lihatin mereka?” ucapnya sambil menunjuk pada pasangan tadi. “Iya, kenapa memangnya?” “Aku juga sedang mengamati mereka.” “Terus?” “Aku juga baru diberitahu sama guide. Kalau mereka itu sudah lama pacaran.” “Tapi?” “Tapi si cowok punya gangguan mental. Gara – gara habis terjatuh dari loteng saat dia berdebat dengan mamanya.” “Berdebat soal apa?” “Hubungan mereka. Mamanya tidak setuju dengan gadis itu. Mereka berdebat hebat, sampai Mamanya hilang kendali dan menampar cowok itu. Tanpa sengaja dia terpeleset dan jatuh.” “Terus?” “Dia dirawat di rumah sakit. Tiga hari koma. Dan setelah sadar, seperti itulah dia.” “Gila?” “Bukan. Dia terjebak di masa lalu.” “Maksudnya?” “Dia mengalami gegar otak, hal itu membuatnya lupa ingatan dan terjebak dalam ingatan masa kecilnya.” “Dia pacarnya kan?” “Iya.” “Tapi kok manggil Mama?” “Sejak dia lupa ingatan. Mamanya ikutan stres dan juga dirawat di RS. Jadi tiap kali pacarnya datang, dia mengira dia adalah Mamanya.” “Rumit banget. Kirain bisa manah mereka berdua.” “Heh enak saja mau manah mereka. Mereka itu incaran aku.” “Heh aku duluan.” “Aku.” “Aku.” “Aku.” “Aku.” Kemudian, blast. Keduanya menoleh pada pasangan tersebut. Ada sinar oranye mengelilingi mereka. Cupid lain yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka, mendahului mereka memanahkan panah cintanya pada pasangan itu. Keduanya melotot melihat cupid lain tersenyum pada mereka seolah berkata “Aku duluan.”. “Gara – gara kamu nih.” Ucap Steve kesal. “Kamulah, nanya mulu dari tadi. Kan aku jadi ga fokus lihat mereka.” “Kamu yang duluan nepuk pundakku terus cerita kok.” “Halah, pokoknya kamu tuh pengacau.” “Kamu yang pengacau.” “Kamu.” “Kamu.” “Kamu.” “Kamu.” “Aduuuuuh.” Keduanya berteriak kesakitan. Mereka menoleh pada orang yang menjewer telinga mereka. Lalu keduanya hanya meringis, saat tahu siapa yang menjewer telinganya. Guide yabg sedari tadi melihat pertengkaran mereka menjadi gemas. “Makanya saat bertugas jangan ngobrol sendiri. Hilang kan kesempatan buat selesai tugas magang. Pergi sana cari pasangan baru.” Ucap sang Guide sambil melepas jewerannya. Keduanya mengusap telinga masing – masing. Lalu mereka saling melotot dan pergi ke arah yang berlawanan. “Harus cepet dapet pasangan baru nih.” Gumam Steve. Dia berjalan melewati beberapa pasangan. Tidak digubrisnya mereka, menurutnya mereka belum cocok untuk dipanah cinta. Lalu dia memanjat pohon apel. Duduk di salah satu dahannya dan memetik sebuah apel, lalu menyantapnya. Dari tempatnya duduk, dia bisa melihat taman yang luas itu. Dia mengedarakan pandangan. Mencari pasangan mana yang cocok untuk dijodohkan. Kemudian pandangannya tertuju pada pasangan yang sedang bertengkar di salah satu bangku taman. Dia mencoba mendengarkan pertengkaran mereka. “Aku gak bisa terus – terusan bohongi papaku.” Ucap sang gadis. “Lalu kita harus gimana?” “Kita kabur saja.” “Jangan. Kita harus dapat restu.” “Papaku gak akan mau merestui kita. Percuma saja.” “Kita coba sekali lagi.” “Lalu kalau tetap tak di restui?” “Pasti direstui.” “Bagaimana kamu bisa yakin? Setelah kamu diusir dan dihina seperti itu? Aku lebih sakit melihatmu dihina. Aku gak mau lagi pulang ke rumah.” “Kamu harus pulang. Papanu pasti mencarimu. Pasti dia khawatir. Ayo aku antar pulang.” “Gak mau.” “Ayolah. Cinta kita pasti dapet restu. Aku antar kamu pulang sekarang.” Steve yang mendengar itu langsung turun dari pohon dan mengikuti mereka. Tak butuh waktu lama, Steve memanahkan panah cintanya pada mereka. Sinar oranye sudah mengelilingi mereka. Apapun yang mengahalangi cinta mereka pasti akan luruh. Mereka kini telah terikat panah cinta. Tak akan ada yang mampu mengahalau cinta mereka. Steve tersenyum puas melihat kebahagiaan dimata mereka. Steve baru menyadari, ternyata menjadi cupid seru juga. Tapi dalam hatinya, dia tetap tak ingin menjadi cupid. Karena menurutnya menjadi cupid itu ribet. Harus mengamati tiap pasangan. Sedangkan sendirinya gak punya pasangan. Kan melas. Steve masih mengikuti mereka berdua. Mereka pun sudah sampai di sebuah rumah besar dan megah. Dengan halaman yang luas. Serta taman bunga yang bermekaran. Ada seorang pria yang sedang duduk diambang pintu. Jelas ada kekhawatiran diwajahnya. Lalu dia pun menoleh ke arah pasangan itu. Lalu dia berlari dan merangkul mereka. Mereka bertiga hanyut dalam tangisan. “Sepertinya panah cinta ini benar – benar sakti.” Ucap steve pelan. Lalu berbalik pulang ke blue house. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN