Menjalani kehidupan memang tak ada yang mudah. Bagaimanapun tetap akan ada usaha untuk mencapai apapun yang kita inginkan. Jangankan yang hidup. Mereka yang telah mati pun masih melakukan usaha untuk menjadi lebih baik dalam kelahiran selanjutnya. Seperti Steve dan semua yang ada di lembah hijau. Mereka berusaha menjadi lebih baik. Mereka mendapatkan balasan. Mereka pula mendapatkan tugas untuk dapat terlahir kembali. Tak ada yang gratis. Semua dilakukan dengan usaha.
Kali ini Steve sedang menanti pengumuman tugasnya. Dia masih juga kepikiran tentang kedua temannya Deril dan Jessi. Dimana mereka, apa yang mereka lakukan, apa mereka baik – baik saja? Banyak sekali hal yang dia pikirkan. Hal yang paling membuatnya pusing adalah, akan ditugaskan sebagai apa dia nanti. Setelah mengalami hal yang tidak menyenangkan, karena didorong masuk secara paksa ke dalam gerbong. Sialnya gerbong itu geebong para cupid. Bagaimana tidak didorong paksa, dia hanya diam mematung tak bergerak. Padahal kereta de – compound sudah akan berangkat. Steve memang selalu membuat orang disekitarnya kesal. Entah apa yang membuat Deril mau dan mampu berlama – lama dengan segala sifat konyolnya.
Steve masih bersiap dikamarnya. Sebentar lagi dia akan menuju lapangan berpagar. Tempat dimana setiap jonggyo akan mendapatkan tugasnya. Sebuah pengumuman yang harus dijalaninya, jika ingin terlahir kembali. Dia segera berangkat kesana. Setelah mengemas beberapa barang dan dia masukkan ke dalam ranselnya. Steve masih kesal dengan kejadian kemarin. Dia berharap tidak bertemu lagi dengan gadis pita ungu itu. Karena gara – gara dia, pasangan yang akan dipanahnya malah dipanah lebih dulu oleh cupid lain. Menyebalkan.
Steve memasuki lapangan berpagar. Disana sudah banyak yang berdiri dan menunggu pengumuman. Beberapa jonggyo terlihat sangat bahagia menunggu pengumuman. Sedangkan Steve hanya datar saja. Mereka disiapkan untuk berbaris rapi. Kemudian satu per satu nama mereka dipanggil dan diumumkan apa tugasnya. Steve hanya fokus dengan namanya. Dia tak memperdulikan tugas jonggyo lain. Hingga ada seorang gadis yang maju dan melambai ke arahnya. “Dia lagi.” Ucapnya dalam hati. Dia gadis berpita ungu. Steve hanya cuek, ahirnya gadis itupun cemberut dan berpaling muka.
“Steve Simpony, ditugaskan untuk menjadi cupid. Silahkan maju dan mengambil perlengkapan.” Steve tercengang mendengar pengumuman itu. Bagaimana mungkin dia harus menjadi cupid. Menjalani tugas yang begitu rumit. Mengamati pasangan. Mencari tahu masa lalu pasangan. Mencari pasangan yang tepat. Menyingkirkan segala halangan tiap pasangan. Steve masih berdiri ditempatnya. Hingga namanya disebutkan kembali. Lalu gadis berpita ungu itu berlari ke arahnya.
“Ayo.” Ucapnya sambil menarik tangan Steve dan mengajaknya berlari menuju ruangan.
“Eh. Kamu lagi. Apa sih, lepasin.” Ucap steve sambil mencoba melepaskan pegangan tangan hadis itu.
“Ayo.” Ucapnya ketus, masih dengan menarik Steve.
Steve ahirnya pasrah. Tak ada hal yang bisa dia lakukan kecuali pasrah. Tugas sudah diumumkan. Mau tidak mau dia harus menerima. Sial memang teman – temannya tak ada yang memberitahu tentang tugasnya sebelumnya. Mana dia sudah membaca tentang tugas lain. Sia – sia semuanya. Kini Steve harus belajar lagi. Mengasah kemampuannya untuk bisa memeriksa sebuah hubungan. Dia menurut saja ditarik oleh gadis itu. Lalu dia menuju meja administrasi dan mengambil jam pasir, pena dans sebuah kontrak. Setelah menandatangani kontrak. Mereka dikumpulkan di senuah ruangan untuk menunggu keberangkatan.
“Heh. Bengong saja.” Ucap gadis pita ungu pada Steve. Tapi Steve hanya meliriknya, tak menggubris perkataannya sama sekali. Rasa kesalnya masih terasa. Kini yang dia pikirkan adalah seberapa malunya dia jika ketemu dengan Deril. Lalu saat Deril tahu bahwa dirinya menjadi cupid. Steve meremas rambutnya.
“Kenapa? Gak suka jadi cupid?” tanya gadis itu. Steve hanya diam tak menjawab.
“Budeg ya?” lanjutnya. Steve masih tak bergeming.
“Oh beneran budeg. Kasihan sudah jelek budeg pula.” Ucapnya sambil berdiri dari kursi dan akan pergi. Tapi Steve mencegahnya. Dia pegang tangan gadis itu sambil berkata “Apa kamu bilang tadi?”
“Yang mana?”
“Yang barusan.”
“Yang bagian mana?”
“Budeg?”
“Oh jelek budeg?”
“Jelek katamu?”
“Memangnya kamu ganteng?”
“Pergi sana deh. Males debat sama kamu. Udah jelek, katarak juga.”
“Apa kamu bilang?”
“Budeg juga ya? Oh ternyata kamu tuh sudah jelek, katarak, budeg pula.”
Gadis itu melotot melihat Steve. “Kamu tuh nyebelin banget sih.” Ucapnya.
“Kan kamu yang mulai.”
“Nyebelin.” Ucapnya sambil menghentakkan tangannya yang masih dipegang oleh Steve. Lalu dia berjalan pergi dari tempat duduknya.
Steve hanya tersenyum puas, karena dia sudab mengerjai gadis itu hingga dia kesal. “Makanya jangan bawel jadi orang.” Ucapnya pelan.
***
Blue house begitu ramai hari itu. Banyak para jonggyo mengurusi berbagai hal disana. Ditambah kedatangan para jonggyo. Riuh suasana disana. Steve mengedarkan pandangannya. Mencari apakah ada Deril diantata ratusan orang itu. Saat dia sedang fokus mencari temannya. Gadis itu datang padanya lagi. Menarik tangannya lagi. Lalu membawanya menuju administrasi blue house. Mendapatkan beberapa barang dan segera memasukkannya pada ranselnya.
“Ngapain sih narik – narik mulu?” Ucap Steve pada gadis itu.
“Kenapa memangnya? Gak suka?” dia balik bertanya.
“Jangan ngeselin jadi orang. Nanti cantiknya ilang.”
“Katanya jelek? Kok sekarang cantik?” sindir gadis itu.
“Hahaha. Terserah deh. Kenapa kamu bantu aku terus?” tanyanya lagi.
“Kamu tuh seperti anak kecil yang gak punya arah. Kasihan saja.”
“Kasihan? Anak kecil? Gak punya arah?”
“Memang bener kan?”
“Bener darimananya?”
“Pas mau magang gak tahu mau masuk ke gerbong mana. Terus tadi sudah dipanggil malah bengong saja. Sudah sampai disini juga malah celingak celinguk gak jelas.” Jelasnya pada Steve.
“Pas mau masuk gerbong tuh aku masih bingung mau masuk mana. Pas tadi tugas diumumin tuh aku syok, kok bisa jadi cupid. Dan barusan itu aku bukan celingak celinguk gak jelas. Tapi aku nyari temenku.”
“Oh.”
“Cuma oh?”
“Trus apa?”
“Terserah deh terserah.”
“Kamu mau pergi kemana sekarang? Nyari rumah sewa dimana?”
“Bukan urusanmu.” Ucap steve ketus, lalu dia pergi meninggalkan gadis itu. Karena kesal tidak dijawab. Gadis itu pun mengikuti Steve.
Steve yang merasa diikuti pun merasa kesal. Dia menoleh dan mengomel. “Kamu tuh ngapain sih ngikutin aku?”
“Siapa yang ngikuti kamu. Ge er.”
“Trus kenapa kamu jalan kesini juga?”
“Lah memangnya ada larangan jalan kesini?”
“Gak ada. Tapi kan.”
“Gak ada kan. Yasudah.”
“Yasudah sana kamu jalan duluan.”
“Gak mau. Nanti kamu yang ngikuti aku.”
Steve merasa de javu dengan kondisi itu. Dia ingat dengan Bianka yang pernah mengikutinya ke rumah Jessi. Ternyata dia adalah suruhan Deril untuk menemaninya. Apa jangan – jangan gadis pita biru itu suruhan Deril juga ya? Batinnya. Diapun membiarkan gadis itu mengikutinya. Karena dia merasa, gadis itu adalah suruhan Deril juga. Makanya dia ngintil terua ke dirinya.