Dera

1217 Kata
Steve berjalan tanpa Arah. Dia melihat beberapa jonggyo sedang menunggu di halte bis. Kemudian dia ikut – ikutan duduk disana. “Hai.” Sapanya. “Hai.” Jawab mereka. “Sini duduk sini.” Panggil seorang wanita. Sekitar umur empat puluhan. Steve mendekat padanya. Belum juga dia duduk, gadis pita ungu sudah menduduki tempat yang tadi ditunjuk oleh wanita itu. “Dasar nyebelin.” Ucap Steve padanya. “Siapa cepat dia dapat.” Jawabnya. Namun tak begitu lama sebuah bus datang. Semua naik ke dalam bus itu. Steve segera duduk sebelum gadis itu kembali mendahuluinya. “Wleeee aku duluan.” Ledeknya. Mau tidak mau gadis itu harus berdiri. Karena semua kursi sudah penuh. Dia berdiri tepat dihadapan Steve. Hal itu membuat Steve merasa risih. Karena dia terus saja memandanginya. “Heh, ngapain lihat – lihat?” “Siapa juga yang ngelihatin kamu. Pede amat.” Jawab gadis itu. “Sana balik hadap sana. Jangan hadap sini.” Steve mulai risih, karena sesekali gadis itu menyenggolnya dengan salah satu bagian tubuhnya. Gara – gara guncangan bus yang berjalan. Empuk sih, tapi risih. Batin Steve. “Suka – suka aku dong. Mau menghadap kemana.” Jawabnya ketus. Demi menjaga kewarasan, juga menghindari adanya senggolan empuk lagi, Steve ahirnya memalingkan wajah dan menghadap ke jendela. Dia memperhatikan setiap jalan yang dia lewati. Siapa tahu dia melihat Deril, pikirnya. Namun, karena terlalu fokus. Matanya menjadi lelah, dia pun tertidur. Saking pulas tidurnya, dia sampai tidak kedengaran saat supir bus berkata bahwa ada jalan yang bergelombang, dan diharapkan para penumpang berhati – hati. Jalanan mulai bergelombang. Bus pun berjalan menjadi tak karuan. Oleng kanan oleng kiri. Hingga pada sebuah jalan yang berlubang cukup dalam, membuat seisi bus mengaduh. Lalu Plek. Steve merasa seperti sedang tidur dengan bantal. Dia pun menggesek – gesek wajahnya pada bantal tersebut. Kemudian dia teringat, “Aku kan sedang tidur di bus. Mana ada bantal?” ucapnya dalam hati. Steve mencoba membuka matanya sedikit. Melihat keadaan, tapi pandangannya tertutup sebuah gundukan. Lalu dia pun tersadar dan menengok ke atas. Dia melihat gadis pita ungu itulah yang menjadi tempatnya bersandar, yang dikiranya bantal empuk adalah d**a si gadis. Dengan nyengir Steve melihatnya sekali lagi. “Maaf.” Ucapnya sambil menarik dirinya menjauh. “Maaf maaf. Harusnya makasih.” Jawab gadis itu. “Kenapa memangnya?” “Kalo gak ada aku, palingan kamu sudah jatuh. Dan juga, empuk kan?” ucapnya sambil mengerlingkan mata. Membuat Steve menjadi salah tingkah dan wajahnya memerah. “Kenapa wajahmu merah? Iya kan empuk?” tanya gadis itu lagi. “Sudah ah gak usah dibahas.” “Makasih dulu dong.” “Iya makasih.” “Makasih buat apa?” “Makasih deh pokoknya.” “Makasih buat yang nolongin, apa karena empuk?” “Kamu bisa diem gak sih.” Steve mulai malu di dengar oleh orang lain di bus. “Tiggal bilang saja kok. Huh.” Lalu Steve berdiri tepat dihadapan gadis itu. Hal itu membuatnya kelabakan dan kaget. “Ngapain kamu?” ucapnya. Lalu Steve memegang pundaknya, menatap matanya dengan dalam. Gadis itu tiba – tiba memejamkan mata. Dia merasa itu adalah momen romantis, seperti di novel – novel yang pernah dibaca. Adegan dimana sang cowok akan mencium ceweknya. Sesekali dia menggigit bibir bawahnya dengan tetap menutup mata. “Duduk sana.” Ucap steve sambil mendudukkan gadis itu di kursi tempatnya. Gadis itu membuka mata sambil cemberut. “Kenapa? Ngarepin apa kamu?” ucap Steve sambil menahan tawa. “Gak ada.” Jawabnya jutek. “Oh.” Lalu Steve berjalan maju. “Mau kemana?” tanya gadis itu. “Mau turun.” Gadis itu mengikutinya berjalan ke depan. Lalu menarik ujung baju Steve. “Apa?” tanya Steve. “Ikut.” Ucapnya sambil memasang wajah terimut yang dia bisa. “Gak.” Ucapnya sambil menghempaskan pegangan gadis itu pada ujung bajunya. Tapi gadis itu tetap memegang ujung bajunya lagi. “Ikut.” Ucapnya lagi. “Anak ini apa benar – benar disuruh Deril buat ngintil ke aku ya?” ucapnya dalam hati. “Kamu disuruh Deril ya?” tanya Steve padanya. “Deril siapa?” gadis itu malah balik bertanya. “Kalau bukan disuruh Deril. Berarti kamu gak boleh ikut.” “Ikut.” Ucap gadis itu, kini dengan ekspreasi manja dan membuat mereka menjadi perhatian di dalam bus. “Enggak.” Ucap Steve cuek. Tanpa diduga oleh Steve, gadis itu tiba – tiba menjinjit dan mencium bibirnya. “Wuuuuuuuuuuu.” Ucap seluruh penumpang bus serentak. Steve yang kaget hanya bisa melotot dan tentunya menikmati ciuman itu. “Masih gak boleh ikut?” tanyanya setelah melepaskan ciumannya. “Berhenti di halte depan pak.” Ucapnya pada supir, dia menahan malu yang amat sangat. Wajahnya memerah seperti tomat. Saat bus berhenti, Steve langsung menarik tangan gadis itu keluar dari bus. Bus pun berjalan lagi, dengan segala omongan tentang Steve dan gadis itu. “Kamu siapa sih? Kenapa ngintilin aku terus?” ucap Steve kesal. “Aku Dera.” Jawabnya sambil tersenyum. “Ngapain ngikutin aku terus?” “Aku gak tahu mesti kemana.” “Memangnya kamu gak ada teman apa sesama cupid?” “Gak ada. Aku gak kenal mereka.” “Lalu temanmu yang sudah bertugas ada?” “Gak ada juga. Aku gak pernah dekat dengan siapapun di lembah hijau.” Steve menghela napasnya, mengatur emosinya. Dirinya belum juga bertemu Deril. Tapi malah diikutin terus sama gadis yang rada sangklek itu. “Aku masih harus mencari temanku. Aku sudah berjanji dengannya untuk berbagi rumah. Kami cowok semua. Kamu gak bisa ikut tinggal.” Jelas steve padanya. “Kenapa memangnya kok gak boleh ikut?” “Lah kamu kan bukan temanku.” “Kalau gitu, yuk temenan.” “Mana ada teman yang tiba – tiba nyium. Bikin malu saja.” “Yasudah ayo pacaran.” Ucap Dera sambil mengedip – ngedipkan matanya ke Steve. Steve yang kesal lalu menyentil keningnya. “Auuu.” Teriak dera. “Gak. Gak usah aneh – aneh. Benerin dulu deh itu otakmu. Kayaknya geser gara – gara kena guncangan bus tadi.” “Oh, kayaknya bener nih otakku geser. Tapi otak kamu amankan? Kan terselamatkan dengan keempukan ini?” ucapnya sambil mengelus – elus dadanya yang montok. “Yaudah iya. Kamu boleh ikut, tapi.” “Tapi apa?” “Tapi, yang bisa mutusin kamu boleh tinggal bareng atau gak adalah temanku. Kalau dia tidak setuju, kamu gak bisa tinggal bersama.” “Oh, gampang itu sih.” “Mau ngapain kamu?” “Ada deh.” Ucapnya masih terap dengan mengelus dadanya. “Jangan ngelakuin hal gila. Kalau gak.” “Kalau gak apa?” “Gak pa – pa.” *** Deril masih sibuk dengan beberapa bibit pohon gang harus dia tanam di sisi gunung. Dia tidak sempat pergi ke blue house untuk menjemput Steve. Dia mulai kepikiran temannya itu sekarang dimana. Masih sisa satu bibit lagi. Dengan cepat dia menanamnya dan segera pergi dari tempat itu. Dia berjalan dengan cepat. Dia pun keluar dari hutan Ark dan menuju blue house. Disana hanya ada beberapa jonggyo saja. Dan sepertinya mereka bukanlah jonggyo baru. Tapi jonggyo yang sudah bertugas. Deril menuju tempat administrasi dan menanyakan tentang Steve. Steve yang memang suka ceroboh, kelupaan untuk menanyakan dimana Deril tinggal. “Jadi Steve gak tanya apa – apa sama kamu jon?” “Gak. Dia cuma mengambil kartu dan perlengkapan lalu pergi. Aku juga lupa memberitahu tentang pesanmu padanya. Tadi sungguh sangat ramai. Aku sangat sibuk, jadi gak ingat sama pesanmu. Maaf ya Der.” “Gak pa – pa. Aku cari dia dulu.” Ucap Deril sambil berlalu pergi. Dia melihat ke halte depan blue house. Tapi disana sudah sepi. Baru saja dia akan duduk di halte, tapi dia mendapat notifikasi bahwa ditempatnya menanam tadi terjadi kekacauan. Dia pun segera berlari menuju gunung lagi. Disana dia melihat ada beberapa bibit yang seperti telah terinjak oleh hewan besar. “Kalian masih bisa bertahan? Apa perlu aku bawa kaluan ke balai dulu?” “Bisa kok. Kamu letakkan saja penanda disana. Agar tak sembarang orang menginjak kami.” Ucap salah satu bibit. “Orang? Kalian diinjak orang? Bukan hewan?” “Ada beberapa pendaki. Sepertinya mereka pendaki pemula.” “Baiklah aku akan berjaga disini.” Ucapnya sambil menyelonjorkan kakinya yang kelelahan habis berlari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN